Tuesday, February 18, 2020

Modul Model Pembelajaran Teks Fabel


MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH PADA TEKS FABEL
DENGAN MUATAN PERSATUAN DAN KESATUAN

Modul Pembelajaran






Penulis 
  Seni Asiati, M.Pd
Guru Bahasa Indonesia SMPN 231 Jakarta

  





Prakata

Alhamdulillah, dengan mengucapkan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wata'ala, buku yang ditulis dengan tujuan memberikan masukan dalam model dan strategi dalam pembelajaran bahasa Indonesia terselesaikan dengan baik. Penulis yakin masih ada kekurangan dalam mengembangkan model pembelajaran sesuai tuntutan Kurikulum 2013. Buku ini memuat Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi yang penulis sesuaikan dengan muatan persatuan dan kesatuan.
Ada berbagai hal yang perlu dipahami oleh guru bahwa buku ini bukan buku teks pelajaran melainkan buku pengayaan untuk mengimplementasikan Kurikulum 2013 dalam bentuk pengembangan model-model pembelajaran. Guru mengupayakan untuk melakukan penguatan dalam pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik pada setiap pembelajaran; guru dapat menggunakan media yang sesuai pada setiap pembelajaran; guru dapat mengembangkan strategi pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan; serta guru melibatkan semua peserta didik dalam proses pembelajaran.
Proses pendidikan tidak hanya menjejali peserta didik dengan berbagai teori secara akademis, yang melahirkan peserta didik yang cerdas dan terampil. Proses pendidikan harus mampu membangun peserta didik yang memiliki nilai-nilai dan karakter hidup yang baik, menyadari hak dan kewajibannya, serta memiliki perilaku atau akhlak yang mulia terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Untuk itulah perlu adanya muatan yang dapat menanamkan karakter yang kuat bagi peserta didik.
Semoga kehadiran buku ini  dapat memberikan kontribusi yang terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan, khususnya bagi mata pelajaran Bahasa Indonesia.


Penulis

 Daftar Isi
Prakata            ................................................................................................................
Daftar Isi         ................................................................................................................
Daftar Tabel    ................................................................................................................
Daftar Gambar ...............................................................................................................
Peta Konsep
A.  Pendahuluan
B.  Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran Teks Fabel
C.  Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Teks Fabel
D.  Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah  pada Teks Fabel
E.   Tujuan Penerapan Pembelajaran dengan Muatan Persatuan dan Kesatuan
F.   Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Muatan Persatuan dan Kesatuan pada Pembelajaran Teks Fabel
Glosarium
Daftar Pustaka
Biodata Penulis

 Daftar Tabel

Tabel 1        Kompetensi  Inti Pengetahuan dan Kompetensi Inti Keterampilan
Tabel 2        Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi Teks Fabel
Tabel 3        Telaah Struktur Teks Fabel    
Tabel 7       Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Teks Fabel
Tabel 8       Telaah Teks dengan Muatan Persatuan dan Kesatuan pada Teks Fabel
  
A.  Pendahuluan
Kurikulum 2013 yang telah diberlakukan saat ini harus dapat mendorong peserta didikuntuk belajar mengeksplorasi kemampuan dan rasa keingintahuannya terhadap ilmu pengetahuan. Kegiatan belajar diartikan sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan mengubah sikap peserta didikberdasarkan aspek spiritual, aspek sikap (afektif), aspek pengetahuan (kognitif), dan aspek keterampilan (psikomotor) peserta didik menjadi lebih baik melalui kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mendorong peserta didik agar lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mempresentasikan apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Objek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan Kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya.
Kemampuan yang dihasilkan melalui proses belajar akan diperlukan oleh peserta didik tersebut untuk kehidupannya dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, suatu kegiatan pembelajaran seharusnya mempunyai arah menuju pemberdayaan semua potensi peserta didik agar dapat menjadi kompetensi yang diharapkan.
Untuk mewujudkan hasil belajar yang telah ditentukan, dibutuhkan keterlibatan peran guru di dalamnya. Kunci keberhasilan penerapan Kurikulum 2013 adalah guru. Peran guru ini sifatnya strategis karena guru berhadapan langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru harus mampu menjadi fasilitator dan motivator bagi peserta didik agar mereka senang dalam pelajaran dan ilmu pengetahuan.
Buku ini memberikan uraian tentang strategi dan model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran teks narasi fabel dan praktik untuk mengembangkan ide dalam teks narasi fabel. Pembelajaran bahasa Indonesia selalu bersentuhan dengan teks, tetapi pembelajaran berbasis teks baru dikenalkan dalam kurikulum 2013. Dari implementasi pembelajaran berbasis teks  dengan pendekatan saintifik, diharapkan mampu memberikan warna baru dalam pembelajaran bahasa Indonesia dan relevan dengan  era milenial sekarang.  Kompetensi dalam pembelajaran berbahasa merupakan kemampuan produktif, artinya peserta didikmampu menghasilkan karya yang diharapkan bermanfaat bagi peserta didik, baik manfaat akademik maupun sosial ekonomi.
Model pembelajaran yang digunakan oleh guru sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses yang menyatakan bahwa prinsip pembelajaran yang digunakan:
1.    dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2.    dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
3.    dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
4.    dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
5.    dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6.    dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
7.    dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8.    peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
9.    pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10.              pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
11.              pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;
12.              pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;
13.              Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14.              Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.
Untuk itu guru perlu kiranya memahami model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Guru dapat menggunakan media dan sumber pembelajaran alternatif yang tesedia di lingkungan sekolah disertai kearifan lokal yang diterapkan di daerahnya.

B.  Kompetensi Dasar dan Indikator Pembelajaran Teks Narasi Fabel
Kurikulum 2013 kompetensi dinyatakan dalam KI (Kompetensi Inti) dan KD (Kompetensi Dasar). Kompetensi Inti (KI) merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai SKL (Standar Kompetensi Kelulusan) yang harus dimiliki peserta didik pada setiap tingkat kelas yang menjadi landasan pengembangan kompetensi dasar.
Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual, yaitu “Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial, yaitu “Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi,gotong royong), santun, dan percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”. Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.
Tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi sikap spiritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan. Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan/atau ekstrakurikuler. Berikut adalah Kompetensi Inti pengetahuan dan Kompetensi Inti keterampilan;
Tabel 1 Kompetensi Inti Pengetahuan dan Kompetensi Inti Keterampilan
Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan)
Kompetensi Inti 4 (Keterampilan)
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait
fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang)
sesuai dengan yang dipelajari di  sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
Sebelum menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru harus mengetahui Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang terdapat di dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII ( lihat Permendikbud No. 37 tahun 2018). Guru membuat Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) yang disesuaikan dengan ranah pengetahuan dan keterampilan yang ingin dicapai dan pengembangan silabus.
Berikut Kompetensi Dasar dari materi teks narasi fabel serta contoh Indikator Pencapaian Kompetensi dengan muatan persatuan dan kesatuan. Guru dapat mengembangkan Indikator Pencapaian Kompetensi disesuaikan dengan memperhatikan kondisi daerah, kearifan lokal, dan sarana serta prasarana di sekolah. Peserta didik diharapkan dapat mengembangkan diri dengan penggunaan model pembelajaran  dan strategi pembelajaran yang bervariasi dari guru.

Tabel 2 Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompentensi
Kompetensi Dasar (KD)
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
3.11   Mengidentifikasi informasi tentang fabel/ legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.






3.12   Menelaah  struktur dan kebahasaan fabel/ legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar
3.11.1    mengidentifikasi informasi yang menjadi ciri unsur cerita fabel/legenda dengan muatan persatuan dan kesatuan pada teks yang dibaca/didengar;
3.11.2    Memerinci kata/kalimat  sebagai ciri cerita fabel/legenda dengan muatan persatuan dan kesatuan pada teks yang dibaca/didengar;
3.11.3    Menunjukkan cerita fabel/legenda yang memuat cerita tentang persatuan dan kesatuan.

3.12.1    membedakan karakteristik bagian-bagian  struktur cerita fabel/legenda;
3.12.2    menelaah struktur dan kebahasaan  fabel/legenda dengan muatan persatuan dan kesatuan;
3.12.3    melengkapi cerita fabel/legenda sesuai struktur dan kaidah bahasa yang berwawasan kesatuan dan persatuan;
3.12.4    menentukan dan memperbaiki kesalahan penggunaan tanda baca/ejaan pada teks cerita fabel/legenda yang dibaca;
3.12.5    Mengaitkan cerita fabel dengan semangat cinta tanah air dan persatuan bangsa di masa sekarang.
4.11    Menceritakan kembali isi fabel/ legenda daerah setempat







4.12    Memerankan isi fabel/ legenda   daerah setempat yang dibaca dan didengar
4.11.1    Menyesuaikan  ragangan isi cerita fabel/legenda dengan muatan persatuan dan kesatuan;
4.11.2    menceritakan kembali cerita fabel/legenda  yang dibaca dan didengar dengan muatan persatuan dan kesatuan serta memperhatikan pilihan kata, kelengkapan struktur, dan kaidah penggunaan kata kalimat/ tanda baca/ejaan;

4.12.1    Mengubah isi cerita fabel dengan mengaitkannya dengan muatan persatuan dan kesatuan berdasarkan ragangan cerita yang telah disusun;
4.12.2    memerankan isi fabel dengan intonasi, gestur, dan aspek pemeranan lain yang sesuai dengan teks yang berkaitan dengan muatan persatuan dan kesatuan.

C.      Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Teks Fabel
Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik. pendekatan yang mampu membudayakan peserta didik untuk belajar secara aktif dengan mengasah afektif dan mengembangakan kognitif tingkat tinggi.  Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan saintifik. Penerapan pendekatan saintifik di kurikulum 2013 dan kontekstual untuk memperoleh kemampuan kreatif melalui proses mengamati (observing), menanya (questioning), mengeksplorasi (explorating), mengasosiasi (associating), dan mengomunikasikan (communicating) memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan siswa.
Berikut strategi dalam pembelajaran teks fabel dengan pendekatan saintifik.
1.    Pembelajaran Teks Fabel  dengan Membandingkan Teks Model
Berikan beragam teks model untuk memahami isi bacaan dan mengonstruksi bacaan. Teks yang diberikan adalah teks yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.
Kegiatan mengamati : peserta didik membaca teks yang disiapkan oleh guru.  Guru memberi kesempatan pada peserta didikuntuk mencari tahu lebih banyak. Secara bergiliran peserta didik membaca teks dan peserta didik lain mendengarkan. Guru  meminta peserta didik untuk membaca satu paragraf dan bergiliran paragraf  berikutnya dengan peserta didik lain. Strategi ini dapat menumbuhkan keterampilan berbicara siswa.  Guru juga harus menyiapkan beragam teks sebagai model. Teks fabel dengan muatan persatuan dan kesatuan dapat menjadi bahan diskusi dalam pembelajaran teks narasi fabel. Siapkan lembar kerja yang digunakan sebagai instrumen untuk mennelaah struktur teks fabel. Perbandingan teks model ini dapat menggali struktur teks narasi fabel dengan terukur. Arahkan peserta didik untuk berdiskusi mengenai isi teks narasi.Berikut beberapa contoh teks model sebagai contoh.
 Teks 1

Kupu-Kupu Berhati Mulia

Dikisahkan pada suatu hari yang cerah ada seekor semut berjalan-jalan di taman. Ia sangat bahagia karena bisa berjalan-jalan melihat taman yang indah. Sang semut berkeliling taman sambil menyapa binatang-binatang yang berada di taman itu.
Ia melihat sebuah kepompong di atas pohon. Sang semut mengejek bentuk kepompong yang jelek yang tidak bisa pergi ke mana-mana. 
“Hei, kepompong alangkah jelek nasibmu. Kamu hanya bisa menggantung di ranting itu. Ayo jalan-jalan, lihat dunia yang luas ini. Bagaimana nasibmu jika ranting itu patah?” 
Sang semut selalu membanggakan dirinya yang bisa pergi ke tempat ia suka. Bahkan, sang semut kuat mengangkat beban yang lebih besar dari tubuhnya. Sang semut merasa bahwa dirinya adalah binatang yang paling hebat. Si kepompong hanya diam saja mendengar ejekan tersebut. 
Pada suatu pagi sang semut kembali berjalan ke taman itu. Karena hujan, di mana-mana terdapat genangan lumpur. Lumpur yang licin membuat semut tergelincir ke dalam lumpur. Ia terjatuh ke dalam lumpur. Sang semut hampir tenggelam dalam genangan itu. Semut berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan. “ Tolong, bantu aku! Aku mau tenggelam, tolong…, tolong….!
Untunglah saat itu ada seekor kupu-kupu yang terbang melintas. Kemudian, kupu-kupu menjulurkan sebuah ranting ke arah semut. 
“Semut, peganglah erat-erat ranting itu! Nanti aku akan mengangkat ranting itu.” 
Lalu, sang semut memegang erat ranting itu. Si kupu-kupu mengangkat ranting itu dan menurunkannya di tempat yang aman. Kemudian, sang semut berterima kasih kepada kupu-kupu karena kupu-kupu telah menyelamatkan nyawanya. Ia memuji kupu-kupu sebagai binatang yang hebat dan terpuji. 
Mendengar pujian itu, kupu-kupu berkata kepada semut. “Aku adalah kepompong yang pernah diejek,” kata si kupu-kupu. Ternyata, kepompong yang dulu ia ejek sudah menyelamatkan dirinya.
            Akhirnya, sang semut berjanji kepada kupu-kupu bahwa dia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di taman itu. (https://www.teks-cerita-fabel/diunduh Sabtu, 6 Juli 2019).

Teks ke-2
Beni yang Malas
(Bunda NaRa)

  Pagi itu sinar mentari belum menampakkan diri. Beni beruang hitam tidur di bawah pohon. Matanya masih mengantuk dan badannya yang besar berbulu hitam terlihat tertidur di dahan pohon  beringin tua di depan rumahnya di pinggir hutan.
Pagi itu suasana hutan masih belum ramai hanya burung-burung pipit kecil sudah bertengger di dahan-dahan pohon dan terlihat asyik bercerita dengan temannya.
Rumah Juned jerapah yang terletak di depan pohon tempat Beni tidur saja belum tampak ada tanda-tanda kalau penghuninya sudah bangun. Juned jerapah selalu bangun ketika Opik si burung onta sudah lewat depan rumahnya dan selalu berteriak memanggil Juned jerapah untuk mengambilkan daun-daun muda.
Angin pagi waktu itu berhembus pelan dan sejuk, sehingga membuat Ken kancil  yang baru bangun tidur  merebahkan diri lagi  di tempat tidurnya. Tak lama Ken  kancil pun  tertidur lagi. Rumah Ken kancil pun belum sempat dibersihkan. Piring-piring kotor berserakan di meja makan. Semua penghuni hutan terlihat masih bermalas-malasan padahal hari sudah pagi. Pita pipit kecil  dan teman-temannya sudah sibuk berkicau membangunkan penghuni hutan.
“Aduh bagaimana ini semua penghuni hutan masih belum bangun.” Pita pipit kecil mengeluh. Pita tahu bahwa teman-temannya malas bangun pagi. Padahal kalau kita bangun pagi pasti tubuh jadi segar dan sehat. Sudah sering Pita mengatakan itu pada teman-temannya penghuni hutan. Pita pipit sangat suka bangun pagi karena udara masih segar dan embun-embun di daun membuat Pita bersemangat.
 Beni masih tidur dengan nyenyaknya tidak dihiraukannya seruan ibunya untuk bangun dan membersihkan rumah. Kemarin Beni membuat layang-layang bersama Juned jerapah dan Muji musang. Banyak layang-layang dibuat Beni beruang dan Juned jerapah sebagian layang-layang sudah mereka mainkan dan sebagian terlihat berserakan di teras rumah dan di kamar Beni beruang. Selain itu sisa-sisa kertas untuk membuat layang-layang bertebaran di seluruh ruangan, benang gelasan, dan lem memenuhi rumah Beni. Tadi malam ibu sudah mengingatkan Beni untuk membersihkan semua itu dan Beni beruang yang kelelahan berjanji akan membersihkannya esok hari. Pagi-pagi ibu sudah membangunkan Beni dengan menyiram wajah Beni beruang dengan air. Beni dengan terpaksa bangun dan mengambil sapu lidi yang disodorkan ibu. Namun, setelah ibu pergi ke pasar, Beni beruang tidur lagi  benar-benar malas.
 “Beni, bangun.!” Suara Pita si burung pipit di telinga Beni. Suara Pita yang nyaring membangunkan Beni yang masih mengantuk. Pita tahu kalau tidak segera dibangunkan pekerjaan Beni beruang akan terbengkalai dan ibu Beni akan marah.
Pita pipit kecil adalah sahabat Beni beruang. Bila Beni beruang bermain layang-layang Pita akan membantu Beni beruang menerbangkan layang-layang dengan menjepit ujung layang-layang dan membawanya terbang. Ketika angina sudah berhembus layang-layang Beni beruang akan dilepaskan Pita pipit dan layang-layang itu akan mengangkasa.
“Ada apa sih Pit, kamu mengganggu saja.” Kata Beni, kembali menutup matanya kembali  ketika tahu yang membangunkan dirinya dari tidur yang indah adalah Pita sahabatnya. Burung pipit kecil yang selalu cerewet kalau melihat teman-temannya di hutan masih bermalas-malasan. Pita pipit senang bersahabat dengan Beni beruang karena Beni sangat baik dan jujur. Selain itu Beni suka membantu teman yang kesusahan.
“Beni, lihat pekaranganmu masih penuh sampah, lem dimana-mana dan plastik bekas layang-layang menumpuk.” Pita mematuk plastik sampah dan melemparkan ke tempat Beni tidur. Pita pipit memang marah tapi ia terlihat sibuk memunguti sampah kertas dan menempatkannya di tong sampah.
“Pita, sudahlah nanti kamu dimarahi.” Kata Dudung monyet sambil asyik makan pisang ambon kesukaannya. “Pita lebih baik kita petik pisang di pinggir hutan sudah banyak yang matang.” Dudung monyet mengajak Pita.
Pita pipit masih sibuk membangunkan sahabatnya Beni beruang dengan cara mendekatkan mulutnya ke kuping Beni dan terdengar suara Pita yang merdu. Rupanya Pita membangunkan Beni beruang sahabatnya dengan nyanyian burung pipit yang terdengar merdu. Wah mendengar suara Pita pipit jangankan bangun, Beni beruang malah tambah mendengkur.
“Hahahahahaha, Pita, Pita lihat Beni beruang malah semakin nyenyak tidurnya.” Dudung monyet tertawa sambil memegangi perutnya melihat Beni semakin nyenyak tertidur.
“Dung, kalau sampah berserakan seperti ini, nanti mengundang lalat dan kuman.” Pita si burung pipit yang cantik menerangkan pada Dudung bahayanya sampah bagi kesehatan. Pita terlihat sudah putus asa karena sahabatnya tidak bangun-bangun. Suaranya sudah habis bernyanyi untuk Beni.
“Oh begitu yah Pita, kalau begitu ayo kita bantu Beni membersihkan sampah yang berserakan.” Dudung mulai memuguti sampah yang berserakan. Sampah kertas layang-layang dan sampah benang menumpuk  dimana-mana. Pita pipit dan Dudung  monyet meninggalkan Beni yang masih belum bangun juga. Mereka bersama-sama menuju pinggir hutan untuk memetik pisang yang kata Dudung monyet sudah masak.
Sementara itu Ken kancil terlihat sudah bangun dan membuka pintu rumah, matanya masih mengantuk.  Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan di hutan sambil berjalan Ken kancil melihat teman-temannya yang akan diajaknya bermain layang-layang.
Sambil berjalan Ken kancil berteriak-teriak,”Siapa yang tak kenal Ken kancil. Si pintar, si cerdik, dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku”. Kemarin layang-layang yang dimainkan Ken kancil selalu menang itulah sebabnya hari ini dia membangunkan penghuni hutan dengan berteriak menyombongkan dirinya. Ketika sampai di depan Beni beruang yang masih tertidur, Ken kancil segera membangunkan Beni beruang.
“Beni beruang bangun ayo kita main layang-layang lagi.” Suara Ken kancil terdengar nyaring di telinga Beni beruang. Suara Ken kancil yang tepat di telinga membuat Beni beruang terkejut dan terbangun. Penghuni hutan tahu kalau Beni beruang tak pernah marah walaupun badannya besar hitam dan menyeramkan.
“Ken kancil tidak usah teriak-teriak di telinga, aku dengar.” Kata Beni beruang sambil duduk dan bersungut-sungut. Wajahnya yang hitam terlihat makin hitam karena tidur nyenyaknya sudah terganggu.
“Kalau tidak di telinga pasti kamu tidak akan bangun.” Ken kancil menjelaskan. Kali ini ia duduk dekat Beni beruang yang masih setengah mengantuk.
“Ayo kita bermain layang-layang lagi.” Ajak Ken kancil pada temannya yang memang sangat senang bermain layang-layang.
“Aku belum membersihkan rumah, Ken.” Suara Beni beruang terdengar lemah. Mata Beni beruang mengitari sekelilingnya. Wajahnya terlihat cerah ketika dilihatnya sampah yang harus dibersihkannya sudah tidak ada. Beni beruang tidak tahu kalau sahabatnya Pita pipit yang membersihkan.
“Aku lihat rumahmu sudah bersih Ben.” Kata Ken kancil.
“Iya benar, wah ibuku memang baik hati yah.” Beni beruang langsung beranjak mengambil layang-layang yang ia simpan di pojok pekarangan. Kemudian Beni beruang dan Ken kancil pergi ke lapangan untuk menerbangkan layang-layang. Beni beruang dan Ken tidak sarapan pagi. Mereka tidak menghiraukan perut yang belum terisi makanan. Di lapangan sudah banyak berkumpul penghuni hutan yang memiliki hobi sama dengan Beni dan Ken.
Sementara itu di kebun pisang di pinggir hutan. Pita pipit dan Dudung monyet terlihat asyik mengitari pohon pisang mencari pohon yang sudah masak.
“Wah, ranum benar pisangmu!” teriak Pita pipit dari atas pohon pisang. Dudung monyet yang sudah lebih dahulu di atas pohon pisang terlihat bangga. Pohon pisang itu ditanam Dudung monyet dan dirawat dengan baik. Setiap panen Dudung monyet akan mengundang teman-temannya para penyuka pisang untuk makan bersama. Pita pipit sering diajak kalau pohon pisang Dudung monyet panen.
“Kamu boleh makan sesukamu, Pit.” Dudung monyet mengambil satu tandan pisang yang sudah kuning ranum dan memberikan pada Pita.
“Wah, terima kasih yah, Dung. Kebetulan aku memang belum sarapan pagi. Kata Pita.
“aku menanamnya sendiri. Sering aku ajak teman-teman untuk menanam, tapi mereka sibuk bermain.” Dudung monyet mengeluh.
 Aku boleh minta aku bawa untuk Beni?” Pita pipit si burung kecil yang selalu mengingat Beni beruang yang pasti belum makan. Satu, demi satu dimakannya pisang tersebut oleh Pita pipit tak lupa kulit pisang dikumpulkan Pita dan dibuang di tempat sampah. Dibantu Dudung monyet, Pita pipit membawa tandan pisang ke rumah Beni. Sepanjang jalan mereka bertemu teman-teman yang duduk-duduk bermalas-malasan di depan rumah dan meminta pisang yang mereka bawa. Juned jerapah tak luput meminta pisang yang mereka bawa. Tanpa terasa pisang satu tandan yang mereka bawa dari kebun pisang Dudung monyet tinggal satu sisir.
“Wah kemana yah Beni beruang?” Tanya Pita pipit ketika dilihatnya Beni sahabatnya tidak ada di rumah.
“Mungkin Beni beruang sedang membersihkan rumah.” Kata Dudung monyet.
“Benar, ayo kita masuk rumah Beni.” Pita mengajak Dudung untuk masuk ke rumah Beni beruang.
Pita pipit dan Dudung monyet hanya bertemu ibu dan bapak Beni beruang. Kedua orangtua Beni juga tidak tahu kemana Beni bermain.
“Kami pulang, Beni sudah tidak ada.” Kata ibu Beni.
“Anak itu kerjanya hanya bermain saja, diminta membantu mencari madu ke hutan selalu tak mau.” Bapak Beni terdengar mengeluh.
“Beni suka lupa makan kalau sudah bermain layang-layang.” Ibu Beni menambahkan.
Pita tahu Beni beruang  sahabatnya pasti ke lapangan untuk bermain layang-layang. Pita suka mengingatkan Beni jangan lupa makan.
Tiba-tiba terdengar suara rebut-ribut di luar rumah Beni beruang. Terlihat Beni beruang digotong oleh penghuni hutan. Beni beruang memegangi perutnya sambil meringis kesakitan.
“Aduh, sakit.” Rintih Beni beruang.
Pita dan Dudung segera keluar rumah. Beberapa teman mereka seperti Muji musang menggotong tubuh Beni yang lumayan besar.
“Ada apa ini?” Tanya Pita pada Juned.
“Aku pun tidak tahu, tiba-tiba Ken kancil berteriak dan memanggilku.” Jawab Juned jerapah.
“Ayo dibawa masuk rumah.” Perintah ibu Beni beruang.
“Ibu sakit perutku Bu.” Terdengar suara Beni yang merintih. Beni memegangi perutnya.
Rasanya Pita tidak tega melihat sahabatnya mengaduh kesakitan seperti itu. Segeralah ia pergi ke rumah Koko srigala yang menjadi dokter di hutan ini.
“Hanya Pak Koko srigala  yang bisa mengetahui sakit apa Beni.” Gumam Pita dalam hati. Terbanglah ia dengan cepat menuju rumah Koko srigala.
“Nah Beni sekarang kamu istirahat, makan yang teratur jangan asyik main sehingga lupa makan.” Pesan Pak Koko srigala. “Selain itu selalu menjaga kebersihan yah. Buang sampah di tempatnya jangan berserakan.” Kali ini pak Koko srigala mengedipkan mata pada Pita pipit.
Yah tadi sebelum ke rumah Beni beruang, Pita pipit meminta pak Koko Srigala untuk menasihati Beni beruang dan semua penghuni hutan agar menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
“ Tuh, benarkan apa kataku.” Kata Pita pipit pada Beni.
“Benar apa Pit?” Tanya Muji  musang dan Ken kancil bersamaan.
“Kalian sering lupa makan, malas bangun pagi, dan tidak menjaga kebersihan.” Kata Pita.
“Kata siapa kami tidak menjaga kebersihan? Setiap hari kami mandi.” Kata Ken kancil.
“Bukan mandi saja dalam menjaga kebersiha, tapi jangan membuang sampah sembarangan karena sampah itu sumber penyakit.” Pita pipit menjelaskan.
Rupanya Beni beruang sakit perut karena sering terlambat makan bahkan lupa makan. Penghuni hutan tidak mau sakit perut seperti Beni. Pisang sesisir yang dibawa Pita jadi bahan rebutan dan habis seketika. Pita pipit kecil dan Dudung monyet tertawa senang. Apalagi penghuni hutan berjanji akan rajin bangun pagi dan berolahraga. Mereka juga akan menjaga hutan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau tidak mereka yang menjaga hutan siapa lagi.
Beni beruang senang sekali memiliki sahabat sebaik Pita pipit yang baik hati dan selalu mengingatkan. Beni beruang kini rajin membersihkan rumah dan tidak membuang sampah sembarangan. Setiap pagi Pita pipit dan burung-burung pipit lain bernyanyi di dahan dengan riang gembira mengiringi penghuni hutan berolahraga. Kemudian mereka membantu Dudung monyet merawat kebun pisang. Alangkah indahnya kebersamaan.
( http://www.bundaseni.blogspot.com).
Kegiatan menanya: peserta didik dapat bertanya  jawab dengan peserta didik lain atau guru apa yang membedakan kedua teks tersebut? Jawaban peserta didik dicocokkan dengan apa yang terdapat di buku teks pelajaran mengenai struktur teks fabel.  Pada kegiatan ini guru juga dapat  menanyakan tentang isi bacaan dan peserta didik saling melemparkan pendapatnya. Peserta didik dapat menanyakan mengenai informasi yang tidak dipahami dalam teks. Selain itu guru juga dapat memberikan pertanyaan yang mengarah pada telaah struktur teks. Ajak peserta didik untuk mendiskusikan struktur teks. Berikut bahan diskusi yang dapat diberikan pada peserta didik.
Diskusikan hal-hal berikut!
a) apa ciri orientasi?
b) apa ciri komplikasi?
c) apa ciri resolusi?
d) apa ciri koda?
Kegiatan mengeksplorasi: peserta didik dapat mencari  tahu tentang pertanyaan yang diajukan guru tentang struktur teks naratif  fabel di buku-buku referensi di perpustakaan atau di buku teks. Guru membimbing peserta didik untuk mengeksplorasi tentang telaah struktur teks fabel. Kegiatan ini mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, dan menghargai pendapat orang lain dalam kegiatan berdiskusi tentang struktur dan isi teks fabel yang dibaca.
Kegiatan mengasosiasi: Berikan peserta didik kemampuan untuk menganalisis berdasarkan teks yang meliputi struktur teks dan kebahasaan dalam teks. Peserta didik menemukan keterkaitan dari beberapa teks yang dijadikan model untuk mencari tahu isi dan struktur teks naratif fabel. Berikut kemungkinan jawaban peserta didik.
Tabel 3 Telaah Teks Febel
Teks
Peserta didik A
Peserta didik B
Peserta didik C
Peserta didik D
Teks ke-1
Ada tokohnya
Tokohnya binatang kupu-kupu dan semut
Tokohnya bukan manusia
Tokohnya hanya binatang.
Cerita dimulai dari kupu-kupu yang diejek oleh semut
Kupu-kupu yang menolong semut
Kesombongan semut
Kupu-kupu yang penolong
Akhir cerita ada pesan kalau kita tidak boleh sombong
Ada dialog antara tokoh yang diakhir pesan untuk pembaca
Tokoh semut yang sombong akhirnya mengetahui kalau hidup harus tolong menolong
Pesan yang disampaikan untuk pembaca agar jangan sombong
Teks ke-2
Tokohnya seekor beruang, burung pipit, kelinci dan beberapa binatang di hutan
Tokohnya binatang
Tokohnya beruang dan teman-temannya
Tokohnya para binatang
Cerita tentang seekor beruang yang bernama Beni yang pemalas.
Cerita tentang seekor beruang yang selalu bangun kesiangan
Ceritanya tentang burung pipit yang kesal melihat hutan kotor dan teman-temannya yang pemalas
Ceritanya tentang kejadian di hutan dengan tokoh utamanya Beni beruang yang pemalas
Cerita diakhiri dengan pesan untuk pembaca agar tidak malas
Kita harus memperhatikan lingkungan karena lingkungan yang kotor menyebabkan penyakit
Senangnya memiliki teman yang selalu memperhatikan kita
Hidup rukun dan damai itu dengan saling mengingatkan

Berikut contoh lembar kerja untuk telaah struktur teks narasi fabel dengan kemungkinan jawaban siswa.
Struktur teks fabel
Kelompok 1
Kelompok 2
Kelompok 3
Orientasi
Diawali dengan menggambarkan latar
Diawali dengan  tokoh-tokoh dalam cerita
Diawali dengan latar dan kegiatan tokoh-tokoh dalam cerita
Komplikasi
terjadinya masalah
Ada masalah yang dialami tokoh
Ditandai dengan adanya masalah
Resolusi
masalah dapat diselesaikan
Pemecahan masalah
Masalah selesai oleh para tokoh
Koda
Pesan pengarang dalam cerita
Berupa kesimpulan, pesan atau amanat dari penulis
Pernyataan penulis tentang pelajaran apa yang dapat diambil  dari cerita

Telaah tentang teks narasi dapat dilakukan dengan menganalisis teks berdasarkan ciri khusus dari teks. Teks ke-1 dengan tokoh binatang mencirikan teks narasi fabel. Sedangkan teks kedua merupakan cerita narasi dengan para pelakunya binatang. Isi cerita yang berbeda memungkinkan peserta didik untuk menelaah pada ciri khusus dan struktur teks.
Kegiatan mengomunikasikan: hasil telaah peserta didikdapat disajikan di kelompoknya atau di depan peserta didiklain. Kegiatan ini dapat menjadi bahan untuk lebih paham terhadap isi teks. Hasil dari pengamatan dan diskusi yang disampaikan oleh tiap kelompok dapat mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Selain itu melatih keberanian untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat terhadap suatu informasi atau masalah dalam hal ini menelaah sebuah teks.
2.        Pembelajaran teks fabel dengan melengkapi isi cerita
Teks cerita fabel dapat diajarkan dengan cara melengkapi isi cerita. Kegiatan pembelajaran ini dapat mengembangkan penalaran peserta didikterhadap isi bacaan. Media teks tetap digunakan. Perbedaannya ada pada teks yang dirampungkan. Peserta didik dapat melanjutkan cerita dengan berdiskusi apa yang dapat dimasukkan menjadi bagian dalam cerita.
Kegiatan mengamati: peserta didik membaca teks yang diberikan guru. Teks tersebut belum selesai atau dirumpangkan pada beberapa bagian cerita. Peserta didik ditugaskan menyelesaikan cerita fabel. Peserta didik membaca dengan saksama contoh teks berikut.
Teks ke-1
Kisah Buaya Yang Serakah

Di pinggiran sungai ada seekor buaya yang sedang kelaparan, sudah tiga hari Buaya itu belum makan perutnya terasa la sekali mau tidak mau hari ini dia harus makan sebab kalau tidak bisa-bisa ia akan mati kelaparan. Buaya itu segera masuk ke dalam Sungai ia berenang perlahan-lahan menyusuri sungai mencari mangsa.
Buaya melihat seekor bebek yang juga sedang berenang di sungai, Bebek tahu dia sedang diawasi oleh Buaya, dia segera menepi. Melihat mangsanya akan kabur Buaya segera mengejar dan akhirnya Bebekpun tertangkap.
Ampun Buaya, tolong jangan mangsa aku, dagingku sedikit, kenapa kamu tidak memang sa kambing saja di dalam hutan,” ucapnya seraya menagis ketakutan
“Baik, sekarang kau antar aku ke tempat persembunyian Kambing itu,” perintah buaya dengan menunjukkan taring yang sangat tajam.
Berada tidak jauh dari tempat itu ada lapangan hijau tempat Kambing mencari makan, dan benar saja di sana ada banyak Kambing yang sedang lahap memakan rumput.
“Pergi sanah, aku mau memangsa Kambing saja,” Bebek yang merasa senang, kemudian berlari dengan kecepatan penuh.
Setelah mengintai beberapa lama, akhirnya Buaya mendapatkan satu ekor anak Kambing yang siap dia santap. “Tolong, jangan makan aku, dagingku tidak banyak, aku masih kecil, kenpa kamu tidak makan gajah saja yang dagingnya lebih banyak, aku bisa mengantarkan kamu ke sana.”
................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
                            

Teks ke-2
Rusa dan Kura-Kura
Pada zaman dahulu, hidup seekor rusa yang amat pemarah dan juga sombong. Ia bahkan kerap meremehkan kemampuan hewan yang lain. Suatu ketika sang rusa berjalan di pinggir danau. Ia tidak senjaga berjumpa dengan kura-kura yang tampak mondar mandir saja. Melihat hal itu, sang rusa pun bertanya, “Kura kura, apa yang tengah engkau lakukan?”
Mendengar itu, sang rusa tiba-tiba marah, “Kau jangan berlagak. Kau hanya mondar mandir dan berlagak mencari sumber kehidupan”.
Kura-kura pun berupaya untuk menjelaskan akan tetapi rusa tetap saja marah. Rusa juga mengancam akan menginjak tubuh kura-kura. Akhirnya, kura kura merasa jengkel dan menantang rusa untuk adu kekuatan dari betis kaki mereka.
.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Kegiatan menanya: peserta didik melakukan tanya jawab seputar isi dari cerita fabel.
Kegiatan mengeksplorasi: peserta didik menggali ide sebanyak-banyaknya untuk merampungkan cerita fabel yang diberikan oleh guru.
Kegiatan mengasosiasi: peserta didik melakukan telaah isi dari teks cerita fabel yang terimanya.
Kegiatan mengomunikasikan: peserta didiks ecara bergiliran bercerita tentang teks cerita fabel yang belum selesai.
3.        Pembelajaran teks fabel dengan cerita berantai
Tujuannya untuk melatih kecepatan berpikir, seka­ligus untuk membangun interaksi sosial yang kooperatif di antara siswa. Kegiatan ini dapat dilakukan di luar kelas atau halaman sekolah. Guru menyiapkan kertas karton yang berisi kalimat tentang sebuah cerita.
Misalnya: di hutan yang lebat hiduplah seekor harimau yang kelaparan.
Harimau itu terlihat kurus sekali
Peserta didik akan menggali kosakata yang dimiliki untuk merangkai sebuah kalimat.
Kegiatan mengamati: Semua peserta didik berbaris dan membentuk lingkaran. Guru mengawali sebuah cerita, kemudian menepuk pundak peserta didik untuk melanjutkan cerita sesuai dengan jalan pikirannya. Demikian seterusnya hingga semua peserta didikmendapat giliran ber­cerita.
Kegiatan menanya: Setelah permainan selesai, semua berkelompok berang­gotakan 4 orang untuk melakukan diskusi, tentang manfaat permainan cerita berantai tersebut bagi proses pembelajaran teks fabel.
Kegiatan mengeksplorasi: dalam kelompoknya peserta didik mencari tahu apa ada kesalahan bercerita yang dilakukan peserta didiklain.
Kegiatan mengasosiakan : peserta didik mencatat apa saja cerita yang tidak runtut atau salah.
Kegiatan mengomunikasikan: Kelompok yang sudah selesai, meneriakkan yel-yel ke­lompoknya, kemudian membacakan pendapat kelompoknya. Untuk memperlancar pembelajaran teks fabel ini, guru melengkapi dengan lembar kegiatan siswa.
D.           Sintak Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Teks Narasi (fabel) 
Kurikulum 2013 menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran utama (Permendikbud No. 122 Tahun 2016) yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial serta mengembangkan rasa ingin tahu. Ketiga model tersebut adalah: model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning), dan model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning)Disamping model pembelajaran di atas dapat juga dikembangkan model pembelajaran Production Based Education (PBE) sesuai dengan karakteristik pendidikan menengah kejuruan. Model pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kerangka konseptual dan operasional pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan budaya.
Model pembelajaran Pembelajaran Berbasis Masalah dapat menjadi salah satu model dalam pembelajaran teks deskripsi. Guru dapat memilih model pembelajaran lain yang sesuai dengan materi pembelajaran. Guru perlu mengembangkan model pembelajaran yang menjadi rujukan dalam kurikulum 2013 dengan sintaks yang sesuai.
Tabel 4 Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Teks Narasi Fabel
Fase
Indikator
Aktivitas/Kegiatan Guru
1.
Orientasi peserta didikkepada masalah
Guru menginformasikan tujuan pembelajaran, mendeskripsikan hal-hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran, serta memotivasi peserta didikagar terlibat dalam pemecahan masalah yang sudah dipilih.
2.
Mengorganisasikan peserta didikuntuk belajar
Guru mengatur peserta didikdalam mengatur tugas-tugas yang berhubungan dengan masalah yang akan dipecahkan
3.
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru mendorong peserta didikuntuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksaksanakan eksperimen, mencari penjelasan dan solusi.
4.
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu peserta didikdalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan seperti laporan, video, model, dan membantu peserta didikuntuk berbagi tugas dengan kelompoknya.
5.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu peserta didikmelakukan refeleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.

E.      Tujuan Penerapan Pembelajaran dengan Muatan  Persatuan dan Kesatuan

            Muatan persatuan dan kesatuan  dalam pembelajaran dapat  memberi pemahaman kepada peserta didik untuk menciptakan suasana yang aman, damai, dan tenteram dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini karena setiap orang menunjukkan sikap solidaritas, setia kawan, dan toleran yang tinggi. Pergaulan antar sesama akan lebih akrab dan rukun. Muatan ini juga dapat terwujudnya kehidupan yang seimbang, selaras, dan serasi antarsesama. Peserta didik dapat bekerjasama dan saling tolong-menolong di kehidupan sehari hari. Selain itu belajar untuk menjaga kerukunan dan menjalin silaturahmi. Agar tidak timbul konflik dalam kehidupan bermasyarakat dan menghindari pertengkaran dan permusuhan.
            Muatan persatuan dan kesatuan mengajarkan peserta didik untuk kuat menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Kehidupan dengan orang lain hanya bisa dijalankan lewat persatuan dan kesatuan. Tidak mungkin kita hidup bersatu tanpa adanya rasa semangat rela berkorban; persatuan dan kesatuan.
            Pengembangan karakter terhadap peserta didik untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara dapat dilakukan dengan memberikan peserta didik bacaan dengan muatan persatuan dan kesatuan.  Salah satu penerapan dalam pembelajaran adalah menggunakan teks-teks dengan muatan  kebangsaan. Setelah peserta didikmemahami dan dapat mengidentifikasi teks naratif berbentuk fabel, selanjutnya peserta didik dapat diberikan teks yang isinya muatan persatuan dan kesatuan.
Contoh teks narasi fabel dengan muatan persatuan dan kesatuan. Guru dapat mengambil dari contoh dalam cerita-cerita yang terdapat di laman GLN Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa atau dari buku-buku cerita fabel.


Teks 1
Kalah oleh Si Cerdik
(Atisah)

Di sebuah hutan ada sumber air yang tidak pernah kering. Airnya jernih dan mengalir ke sebuah telaga. Semua binatang yang menjadi warga di hutan itu minum dari sumber air yang sama. Setiap golongan binatang sudah mempunyai jadwal tidak tertulis untuk bergiliran minum. Pada saat itu kebetulan musim kemarau. Semua binatang merasa sangat haus, tetapi tidak ada yang berani minum di luar jadwalnya. Semua binatang taat pada aturan. Pada Suatu pagi yang cerah banyak binatang menuju sumber air. Sesampainya di pinggir telaga mereka tidak mau turun. Airnya kotor karena digunakan untuk berkubang oleh seekor badak.
Binatang-binatang itu mengelilingi telaga. Mereka memperhatikan tingkah laku sang Badak. Tidak satu pun yang berani menegurnya. Mereka takut karena Badak badannya besar dan bercula. Di pihak lain, Badak merasa bangga menjadi pusat perhatian dan tontonan. Ia tidak peduli pada binatang lain yang menahan rasa haus. Pada hari berikutnya, Badak masih berada di telaga. Binatang-binatang lain sudah tak tahan lagi ingin minum. Mereka bermusyawarah mencari jalan keluar supaya Badak pergi dari telaga. “Teman-teman, bagaimana jalan keluarnya?” tanya Harimau. “Hem, Babi Hutan, kamukan punya sihung, coba digunakan,” kata Kerbau. “Bukan aku tak mau, tapi sihung-ku tidak akan kuat menembus kulit Badak. Bisa-bisa sihung-ku rontok!” jawab Babi Hutan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hem, aku punya tanduk, tetapi …,” gumam Kerbau.
“Kerbau, Kerbau, kalau tak sanggup, bilang saja,” kata Monyet.
“He he, kamu? Berani, Nyet?” tanya Kerbau.
“Sama, ... takut,” jawab Monyet.
“Aku juga tak sanggup,” kata Kerbau.
“Kalau begitu, Ular Sanca, jangan cuma bergantung di akar. Cepat cari cara untuk mengalahkannya,” kata Burung.
“Aduh, aku minta maaf. Aku tak sanggup. Dia begitu besar. Tubuhku tak akan bisa membelitnya,” kata Ular Sanca.
Suasana menjadi sepi sebab tidak ada lagi yang berani melawan sang Badak. Mereka hanya bisa saling memandang.  Tiba-tiba Harimau berkata, “Jika kita tidak sanggup, kita minta tolong pada sang Kancil saja. Walaupun badannya kecil, otaknya pintar.
Setuju?” “Setuju!” jawab binatang yang lain serempak.
“Bagaimana, Kancil?” tanya Harimau sambil melihat Kancil.
“Lo, kalian ini bagaimana? Tidak punya malu. Aku ini tak punya kemampuan dan tidak punya kekuatan apa-apa,” jawab Kancil.
“Jangan pura-pura, Kancil. Kami percaya kamu bisa mengalahkan si Badak,” kata Banteng.
“Ya, Cil. Kami percaya. Keluarkan kepintaranmu,” kata binatang yang lain.
“Baiklah, akan kucoba asal kalian percaya,” kata Kancil. 
“Kami percaya,” jawab binatang yang berkumpul itu berpikir keras. Ia mencari cara yang tepat untuk mengalahkan Badak yang badannya besar dan kuat. Ia berjalan mondar-mandir. Tiba-tiba ia tersenyum sendirian. Ketika melihat Kancil tersenyum, binatang yang lain ikut senang. Itu pertanda masalah mereka akan dapat diatasi oleh Kancil. Kancil segera pergi menemui Badak. Pada saat itu sang Badak tengah berkubang.
“Selamat siang, Tuan yang sangat kami hormati, yang gagah perkasa, yang tidak ada bandingannya. Hamba memberanikan diri mengganggu kegiatan Tuan karena ada kabar penting yang perlu hamba sampaikan,” kata Kancil dengan kata-kata yang lembut dan sopan.
Badak pun segera bangun. Ketika mendengar ada binatang lain memujinya, ia merasa tersanjung. Ia kemudian bangkit sambil  berkata, “Kabar penting, Kancil? Cepat bicara, aku ingin mendengarnya,” kata Badak sambil tersenyum.
Kancil mendekat ke arah Badak. Ia berpura-pura ingin menyampaikan sesuatu secara rahasia. “Hamba kasihan sama Tuan. Badan besar berkubang di selokan kecil. Kulahnya sebesar tempurung. Tidak pantas, Tuan. Oh ya, ada makhluk yang berkhianat kepada Tuan. Jalan airnya ditutup supaya tidak mengalir. Sayang, makhluk itu tidak kelihatan oleh mata kita, dia makhluk gaib,” kata kancil.
“Apa? Ada yang jahil? Siapa? Di mana?” tanya Badak dengan emosional.
“Tenang, Tuan. Tenang,” jawab Kancil. Suara Badak yang menggelegar membuat Kancil terkejut dan gemetar. Kancil mencari jalan bagaimana agar Badak bisa secepatnya dikalahkan.
“Tuan, makhluk gaib itu berada di dalam pohon teureup-teureup,” kata Kancil sambil menunjuk sebatang pohon di depan Badak. 
“Ah, yang benar?” tanya Badak.
“Benar, Tuan. Tuan harus mengawasi mereka dengan cara berdiri di bawah pohon teureup itu setengah hari, kemudian setengah hari lagi barulah Tuan berkubang di telaga. Kalau tidak demikian, air telaga cepat atau lambat akan surut dan Tuan tidak memiliki tempat berkubang lagi ,” jelas Kancil.
“Awas! Kalau kamu bohong,” ancam Badak.
“Percayalah, Tuan,” bujuk Kancil. Tanpa berpikir lagi, Badak segera naik ke atas dan berjalan menuju pohon teureup. Ia pun mengawasi pohon itu selama setengah hari. Sementara itu, binatang yang lain satu per satu berdatangan untuk minum air telaga. Ketika Badak telah selesai mengawasi pohon teureup, ia kembali menuju telaga. Sementara, binatang yang lainnya meninggalkan telaga.
Dengan demikian, sejak saat itu ada jadwal tidak tertulis yang cukup adil bagi semua binatang yang memerlukan air telaga. Akhirnya, mereka mengucapkan terima kasih kepada sang Kancil yang cerdik itu. Berkat kecerdikannyalah masalah di lingkungan mereka dapat diatasi. (Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa buku GLS).
Teks ke-2
Ki Mandahong Raja Monyet
(Atisah)
Di tengah hutan belantara terdapat sebuah sungai, tempat minum para penghuni hutan. Di hutan itu ada raja monyet (kera) yang bernama Ki Mandahong. Tubuhnya tinggi besar, berbeda dari monyet lainnya. Ki Mandahong sedang duduk termenung di tepi sungai. Ia menyendiri sambil merenung memikirkan perjalanan hidupnya. Sebagai raja monyet, Ki Mandahong harus turun dari jabatannya, dilengserkan oleh rakyatnya sendiri karena usianya sudah tua. Sementara itu, Ki Mandahong masih ingin menjadi raja monyet di belantara itu. Ki Mandahong bangun, kemudian berjalan pelan menyusuri tepi sungai. Tidak lama kemudian, ia naik pohon mangga limus yang tengah berbuah (limus sejenis mangga bacang  bahasa Betawi, pakel  bahasa Jawa). Buahnya ranum dan sudah ada yang masak.
“Mmm… tidak jadi  juga, makanan banyak,” kata Ki Mandahong menghibur hati.
Tangannya memetik mangga limus yang sudah masak, kemudian mangga itu digerogotinya. Lama kelamaan Ki Mandahong merasa kenyang, tetapi ia terus mengambilnya. “Ah, ini kecil!” Kata Ki Mandahong sambil melempar mangga itu ke tanah. Tangannya memetik lagi, “Ah, peot!” Ki Mandahong pun melempar mangga itu ke sungai. “Plung! Plung! Kecemplung,” suara mangga jatuh ke sungai. “Mmm …suaranya enak juga, seperti suara gong dan kenong. Kalau begitu akan aku goyang-goyang pohonnya supaya buahnya jatuh, dan bunyinya lebih lengkap,” Ki Mandahong bicara sendirian.
Drrr…rrr…Plung!…Plung!...Plung… Degdeg Plung! …Aduhhh…suaranya seperti bunyi angklung, nikmat sekali.”
Di bawah pohon limus ternyata ada seekor kura-kura yang sedang istirahat. Kura-kura itu lelah sehabis mencari makanan sepanjang sungai, tetapi tidak mendapatkan hasil. Mendengar suara ramai kura-kura itu bangun sambil melihat-lihat apa yang terjadi.
“Mmm…dasar rezeki, kalau sudah datang tak perlu diundang, seperti air yang sedang banjir. Namun, kalau sedang naas, seperti sungai yang kering, tak ada air sedikit pun, walau hanya untuk sekadar cuci muka. Emmm… Terima kasih ya Allah Yang Maha Pengasih. Kebetulan saya sedang lapar, melihat limus di darat dan di sungai begitu banyak,” kata Kura-kura penuh syukur.  Sambil mengambil mangga, Kura-kura pun melihat ke atas pohon limus. Ia sangat terkejut, melihat Monyet yang sangat besar tengah bermain-main di antara dahan pohon limus. Mulanya Kura-kura takut melihat besarnya badan kura-kura. Tetapi dilihatnya betapa riangnya Kura-kura diberanikan diri untuk menyapa.
“Pemurah juga Monyet itu, tahu kalau aku sangat lapar,” kata Kura-Kura dalam hatinya. Kura-kura menengadah sambil terus berkata, “Juragan yang duduk di atas pohon, yang saleh dan berbudi, mudah-mudahan bisa turun sebentar karena saya ingin berterima kasih.”
Ki Mandahong melihat ke sana kemari takut ada makhluk lain yang dipanggil. Di sisi lain, ia juga merasa bukan makhluk soleh, apalagi berbudi. Setelah merasa tidak ada makhluk lain, Ki Mandahong pun merasa tersanjung. “Si Bodoh ini, tidak tahu kalau aku sudah dilengserkan oleh rakyatku sendiri. Ia masih takut dan bicaranya santun. Hemm…dasar!!!” kata Ki Mandahong pada kura-kura sambil ia pelan-pelan turun dari pohon limus. 
“Ada apa Kura-kura?”
“Aduh…Aduh, pantesan… Juragan (Tuan) Mandahong. Begini… Tuan, saya mau berterima kasih karena merasa disambung umur. Saya sedang haus dan lapar, tiba-tiba diberi limus banyak sekali.”
“Ya….ya, Kura-Kura. Harus banyak bersyukur. Hidup di dunia ini kan katanya harus gotong royong, kalau ada rezeki harus saling berbagi. Jangan seperti bangsa monyet, tidak mempunyai perasaan.”
“Memangnya kenapa Juragan?”
“Mentang-mentang aku sudah tua, aku dilengserkan dari mandah.”
“Ooo begitu …. sabar Juragan. Gantian dengan yang muda, yang muda banyak ide.” Sudah waktunya Tuan beristirahat dari kekuasaan, tinggal kita menjaga persatuan dan memantau jalannya pemerintahan.” Kura-kura menasihati dengan bijak.
“Aku juga masih mampu, Kura-Kura.” Ki Mandahong tidak terima nasihat Kura-kura.
“Percaya Juragan, tapi kalau umur sudah tua lebih baik siap-siap cari bekal untuk ganti alam.”  Hutan ini perlu kita jaga persatuannya karena hutan ini berbagai jenis binatang dan berbagai rupa keinginan, jaga jangan sampai terjadi perpecahan.” Kura-kura tetap bijaksana menasihati.
“Kura-Kura... Kura-Kura..., tingkahmu seperti manusia saja. Berkata bijak. Bersikap sebaliknya.”
“Hehehe…kelakuan manusia yang baik bolehlah kita tiru Juragan.”
“Yayaya…akan kupikir-pikir,” kata Ki Mandahong sambil cemberut. Sejak saat itu mereka menjadi teman baik. Ki Mandahong senang karena ada Kura-Kura yang bisa disuruh-suruh. Begitu pula Kura-Kura merasa senang karena diaku oleh mantan seorang raja. Mereka sering bicara di bawah pohon limus. Kadang membicarakan masalah pribadi. Kadang membahas masalah kerajaan. Mereka menjadi penasihat kerajaan yang baik. Kerajaan hutan menjadi makmur sentosa. (Buku GLS Badan pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemdikbud).

Telaah mengenai persatuan dan kesatuan pada setiap peserta didik mungkin berbeda. Guru dapat membentuk kelompok sehingga lebih memaknai nilai persatuan dan kesatuan yaitu dalam bentuk kerjasama antarsiswa. Nilai karakter untuk disiplin dan mau bekerja sama sudah merupakan pembelajaran dalam muatan persatuan dan kesatuan. Contoh telaah persatuan dan kesatuan dalam teks fabel.
Tabel 5 Telaan Teks dengan Muatan Persatuan dan Kesatuan
Contoh Teks
Muatan persatuan dan kesatuan
Kalimat pendukung
Teks ke-1
Disiplin dan taat aturan lingkungan
Di sebuah hutan ada sumber air yang tidak pernah kering. Airnya jernih dan mengalir ke sebuah telaga. Semua binatang yang menjadi warga di hutan itu minum dari sumber air yang sama. Setiap golongan binatang sudah mempunyai jadwal tidak tertulis untuk bergiliran minum. Pada saat itu kebetulan musim kemarau. Semua binatang merasa sangat haus, tetapi tidak ada yang berani minum di luar jadwalnya. Semua binatang taat pada aturan.
Musyawarah
Mereka bermusyawarah mencari jalan keluar supaya Badak pergi dari telaga.
Keadilan dan berani
Dengan demikian, sejak saat itu ada jadwal tidak tertulis yang cukup adil bagi semua binatang yang memerlukan air telaga. Akhirnya, mereka mengucapkan terima kasih kepada sang Kancil yang cerdik itu. Berkat kecerdikannyalah masalah di lingkungan mereka dapat diatasi.
Teks ke-2
Bijaksana
“Ya….ya, Kura-Kura. Harus banyak bersyukur. Hidup di dunia ini kan katanya harus gotong royong, kalau ada rezeki harus saling berbagi. Jangan seperti bangsa monyet, tidak mempunyai perasaan.”
“Memangnya kenapa Juragan?”
“Mentang-mentang aku sudah tua, aku dilengserkan dari mandah.”
“Ooo begitu …. sabar Juragan. Gantian dengan yang muda, yang muda banyak ide.” Sudah waktunya Tuan beristirahat dari kekuasaan, tinggal kita menjaga persatuan dan memantau jalannya pemerintahan.” Kura-kura menasihati dengan bijak.

Menjaga persatuan
“Percaya Juragan, tapi kalau umur sudah tua lebih baik siap-siap cari bekal untuk ganti alam.”  Hutan ini perlu kita jaga persatuannya karena hutan ini berbagai jenis binatang dan berbagai rupa keinginan, jaga jangan sampai terjadi perpecahan.” Kura-kura tetap bijaksana menasihati.


F.   Implementasi Model pembelajaran Berbasis Masalah dengan Muatan Persatuan dan kesatuan

Berikut ini adalah contoh pengembangan model pembelajaran berbasis masalah pada teks narasi fabel dengan muatan persatuan dan kesatuan. Guru dapat menggunakan model pembelajaran lainnya disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta kearifan lokal daerah tempat mengajar.

Contoh Model Pembelajaran berbasis masalah Materi Teks Narasi (Fabel)
dengan Muatan Persatuan dan Kesatuan


Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester            : VII / Ganjil
Materi Pokok             : Struktur dan Kebahasaan Teks Narasi (Fabel) dengan Muatan Persatuan dan Kesatuan
Alokasi Waktu            : 4 pertemuan  ( 8 x 40 Menit

A.  Kompetensi Dasar
3.12    Menelaah struktur dan kebahasaan fabel/ legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.
4.12  Memerankan isi fabel/ legenda   daerah setempat yang dibaca dan didengar
B. Indikator  Pencapaian Kompetensi
3.12.1    membedakan karakteristik bagian-bagian  struktur cerita fabel/legenda;
3.12.2    menelaah struktur dan kebahasaan  fabel/legenda dengan muatan persatuan dan kesatun;
3.12.3    melengkapi cerita fabel/legenda sesuai struktur dan kaidah bahasa yang berwawasan kesatuan dan persatuan;
3.12.4    menentukan dan memperbaiki kesalahan penggunaan tanda baca/ejaan pada teks cerita fabel/legenda yang dibaca;
4.12.1    Mengaitkan cerita fabel dengan semangat cinta tanah air dan persatuan bangsa di masa sekarang.Mengubah isi cerita fabel dengan mengaitkannya dengan tema persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan ragangan cerita yang telah disusun.
4.12.2    Memerankan isi fabel dengan intonasi, gestur, dan aspek pemeranan lain yang sesuai dengan teks yang berkaitan dengan nilai persatuan dan kesatuan;
C.  Tujuan Pembelajaran
Melalui diskusi kelompok peserta didikdiharapkan dapat:

1.    Membedakan karakteristik bagian-bagian  struktur cerita fabel dengan tepat;
2.    Mengidentifikasi struktur fabel dengan tepat;
3.    Melengkapi struktur cerita fabel dengan tepat;
4.    Memperbaiki kesalahan penggunaan tanda baca/ejaa  dalam teks fabel yang dibaca dengan benar;
5.    Mengaitkan cerita fabel semangat cinta tanah air dan persatuan dan kesatuan di masa kini dengan penuh percaya diri;
6.    Mengubah cerita fabel dengan mengaitkannya dengan tema persatuan dan kesatuan  berdasarkan ragangan cerita yang telah disusun;
7.    Memerankan isi fabel dengan intonasi, gestur, dan aspek pemeranan lain yang sesuai dengan teks yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan.
D.  Materi Pembelajaran.
Faktual:
  • Struktur teks narasi fabel
  • Contoh penggunaan kata/ frasa benda, kata / frasa sifat, kata keterangan tempat, kata sambung yang berkaitan dengan waktu (seketika, seraya, sambil, kemudian, setelah itu, akhirnya) , kata sambung sebab-akibat (karena, karena itu), syarat dan kondisi (jika, seandainya).
Konseptual
  • Prinsip dan contoh penggunaan kebahasaan dalam teks narasi (fabel)  dengan nilai persatuan dan persatuan.
  • Prinsip perencanaan penulisan teks narasi (fabel) .
Prosedural
  • Melengkapi bagian struktur teks narasi (fabel).
  • Penulisan teks narasi (fabel) bertema persatuan dan kesatuan.
Metakognitif
  • memvariasikan alur (awal, tengah, akhir cerita).
  • memvariasikan kalimat dialog/ kalimat narasi pada cerita.
  • Menelaah  kemenarikan isi dan bahasa ceritadengan mengaitkannya dengan semangat persatuan dan kesatuan di masa sekarang.
E.       Metode Pembelajaran
Pendekatan                 :  Scientific Learning
Model Pembelajaran   :  Pembelajaran berbasis masalah
F.   Sumber
1.    Titik Harsiati, Dkk. Buku Teks Pelajaran untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia edisi Revisi 2017
2.    Kosasih, Engkosh dan Restuti. 2016. Mandiri Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII Berdasarkan Kurikulum 2013 (Edisi Revisi 2016). Jakarta: Erlangga.
3.    Tim Penyusun. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan (Luring) KBBI Offline 1.5 Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

G. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran/ Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah
v Kegiatan Inti : Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase  1. Menyadari/menemukan masalah
Peserta didikdiberikan Lembar Aktivitas Peserta didik(LK)
Mengamati
1.    Peserta didik  mengamati gambar sampul buku cerita fabel atau gambar bagian depan tayangan video cerita fabel yang disajikan oleh guru;
2.    Peserta didik diminta merumuskan pertanyaan terkait dengan judul dan kemungkinan cerita berdasarkan gambar buku atau gambar bagian depan tayangan video;
3.    Peserta didik menuliskan tokoh dan masalah apa saja yang dapat terjadi dari cerita tersebut dengan bahasa sendiri;
4.    Peserta didik mengidentifikasi isi cerita
Mendengar/ menyimak
1.    Peserta didik diminta mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan oleh guru tentang judul cerita yang terdapat dalam sampul buku atau bagian awal tayangan video yang dilihat peserta didik.
2.    Peserta didik menyimak dengan saksama apa saja yang berhubungan dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam bekerja sama.
Menanya
1.    Guru menanyakan pada setiap peserta didik tokoh apa saja yang dapat ditampilkan dalam cerita.
2.    Peserta didik menanyakan hal yang terkait dengan semangat persatuan dan kesatuan.

Fase 2. Mendefiinisikan/merumuskan masalah
1.    Ketua kelas membagikan lembar aktivitas kelompok (LK) pada setiap kelompok. Setiap kelompok memilih ketua kelompok untuk memimpin diskusi, juga sekretaris yang mencatat hasil diskusi. Setiap kelompok membuat pertanyaan berdasarkan cerita fabel yang disaksikan.
2.    Guru meminta peserta didik bergiliran membacakan  teks cerita atau menayangkan video cerita fabel secara lengkap.
3.    Pertanyaan yang dibuat oleh peserta didik  dalam kelompok mengenai cerita yang dibacakan atau disaksikan antara lain:
a.         Bagaimana sifat bangau?
b.        Bagaimana bagau dapat bersaing dengan kepiting?
c.         Apa perbedaan sifat bagau dan kepiting?
d.        Manakah yang dapat diteladani dari sifat kedua binatang dalam tayangan video?
e.         Bagaimana strutur cerita yang ditayangkan?
f.         Apakah cerita yang ditayangkan sudah membahas tentang persatuan dan kesatuan?
g.        Adakah kaitannya cerita tersebut dengan persatuan dan kesatuan di masa sekarang?
Aktivitas peserta didik
1.    Membaca dan mencatat hal-hal yang terdapat dalam tayangan narasi (fabel) berdasarkan informasi/referensi yang terdapat dalam buku teks pelajaran.
2.    Pertanyaan yang diusun oleh siswa dapat digunakan untuk menggali lebih dalam tentang isi cerita yang telah dibuat dan cerita yang sebenarnya berdasarkan hasil bacaan atau tayangan..
Guru dapat membuatnya menjadi sebuah permainan dengan menggunakan bola kertas. Contohnya ;
a.         Lempar bola ke salah seorang peserta didik dalam salah satu kelompok, sambil bertanya apa judul fabel yang ditonton,
b.        Jika peserta didik bisa menjawab kemudian peserta didik tersebut dapat melempar bola kertas ke kekelompok lain dan bertanya dengan pertanyaan yang telah disiapkan oleh kelompoknya.
c.         Guru sebagai pengoreksi benar atau tidaknya jawaban siswa.
d.        Begitu seterusnya hingga setiap kelompok mendapat satu pertanyaan.
e.         Kelompok dengan jawaban benar mendapat poin 10.

Fase 3. Mengumpulkan fakta dan berbagi informasi
Mengumpulkan data (Eksperimen/Mengeksplorasi)
Setiap kelompok mencari fakta dan data/keterangan hal-hal yang merupakan struktur dari teks narasi (fabel) dalam buku teks pelajaran atau saling berdiskusi.
1.    Orientasi cerita dalam cerita fabel.
2.    Nilai persatuan dan kesatuan yang terdapat dalam cerita fabel.
3.    Keterkaitan persatuan dan kesatuan  dengan situasi dan kondisi sekarang.
Mengasosiasikan
4.        peserta didik saling bertukar informasi dengan peserta didik lain  dalam kelompoknya mengenai jawaban-jawaban dari permainan bola kertas yang telah dilakukan.
5.        mengolah infirmasi yang sudah dikumpulkan dari hasil berdiskusi dan bertukar informasi dengan mengembangkan sikap jujur, teliti, bertanggung jawab, dan kerja keras.
6.        Mengaitkan isi fabel dengan persatuan dan kesatuan sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang.
7.        Menuliskan informasi yang didiskusikan dalam lembar kerja kelompok.

Fase 4. Menyusun hipotesa (dugaan sementara)
Mengasosiasikan
Dalam kelompok:
8.    Peserta didik menyusun dugaan sementara terkait dengan struktur  teks narasi (fabel) yang terdapat dalam  teks yang dibacakan atau tayangan video;
9.    Salah satu anggota dalam kelompok menuliskan dugaan sementara yang didiskusikan dalam kelompok terhadap isi cerita dengan muatan persatuan dan kesatuan.
Catatan:
Selama pembelajaran berlangsung, guru mengamati sikap peserta didik dalam pembelajaran yang meliputi sikap: disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggung jawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan)
60
Menit
Fase 5 : Melakukan penyelidikan/studi dokumen
Mengomunikasikan
1.   Peserta didik mendiskusikan dengan anggotanya isi dan struktur cerita fabel yang dibaca atau disaksikandalam tayangan video;
2.   Mengaitkan data yang satu dengan data lain merdasarkan sumber referensi yang ada.
3.   Menganalisis keterkaitan persatuan dan kesatuan yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang yang terdapat dalam tayangan video narasi fabel.
4.   Menuliskan hasil dari diskusi kelompok yang telah dilakukan dalam kertas karton yang disiapkan guru.
5.   Membaca sumber referensi lain yang relevan dengan materi

10
menit
Fase 6: menentukan solusi terbaik
Mengomunikasikan
Setiap kelompok
1.   Menentukan solusi dari permasalahan penentuan struktur teks narasi (fabel) yang terdapat dalam  teks atau tayangan video.
2.   Menyimpulkan dan mempresentasikan di depan kelas.

Fase 7: membuat kesimpulan dan alternatif pemecahan masalah
Dalam kelompok
1.    Setiap anggota kelompok merencanakan solusi alternatif dari solusi yang sudah didiskusikan;
2.    Alternatif pemecahan dalam penentuan struktur dan ciri kebahasaan teks fabel yang telah didiskusikan.

v Kegiatan Penutup
Peserta didik :
1.      Menyimak informasi tentang langkah-langkah pembelajaran pertemuan berikutnya.
2.      Membuat resume dengan bimbingan guru tentang hal-hal yang penting yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan.
Guru :
1.      Memeriksa pekerjaan peserta didik yang selesai langsung diperiksa dan diberi nilai. Peserta didik yang  selesai mengerjakan soal dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat,  untuk penilaian portofolio.
2.      Guru memberikan catatan penilaian sikap seluruh peserta didik atau perkelompok.
3.      Mewajibkan peserta didik untuk membaca buku yang berkaitan dengan cerita fabel yang bertema persatuan dan kesatuan sebagai pembelajaran karakter untuk mencintai lingkungan. Hasil bacaan peserta didik dituangkan pada jurnal harian. Sikap yang ditekankan adalah minat baca yang tinggi, rasa tanggung jawab, dan kejujuran dalam melakukan tugas.
4.      Memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.
5.      Bersama peserta didik, guru melakukan kegiatan refleksi dari materi yang telah dipelajari.
6.      Guru memberikan tugas membaca materi pelajaran berikutnya.


H.  Penilaian
1.        Penilaian Sikap
a.              Teknik           : Pengamatan Sikap
b.             Bentuk          : Lembar Pengamatan
c.              Instrumen

       
No
Nama Peserta didik
Religius
Jujur
Percaya Diri
skor
Nilai
Konv
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4

1.

















2.

















3.

















….


















Rubrik
Rubrik
Skor
sama sekali tidak menunjukkan usaha sungguh-sungguh  dalam melakukan kegiatan
1
menunjukkan sudah ada  usaha sungguh-sungguh  dalam melakukan kegiatan tetapi masih sedikit dan belum ajeg/konsisten
2
menunjukkan ada  usaha sungguh-sungguh  dalam melakukan kegiatan yang  cukup sering dan mulai ajeg/konsisten
3
menunjukkan adanya  usaha sungguh-sungguh  dalam melakukan kegiatan secara terus-menerus dan ajeg/konsisten
4

Pedoman penilaian sikap:

Skor = jumlah perolehan angka seluruh aspek
   Nilai =      skor yang diperoleh  X   100
 

                             skor maksimal

2.    Penilaian Pengetahuan

a.    Teknik         : Tes Tertulis
b.   Bentuk        : uraian
c.    Instrumen   : Guru dapat merancang soal pengetahuan berdasarkan materi yang telah diajarkan.

3.    Penilaian Keterampilan
Guru dapat menyusun instrumen soal berdasarkan materi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Berikut contoh instrumen soal yang dapat disusun untuk teks keterampilan menulis teks fabel dangan merumpangkan paragraf dan peserta didikmelanjutkan cerita sesuai dengan struktur teks fabel.

Bacalah kutipan teks berikut dan lanjutkan teks cerita naratif fabel berikut dengan muatan nilai persatuan dan kesatuan serta sesuai struktur teks cerita fabel.
Bengkarung, Sang Penguasa Rimba Belantara
(Menuk Hardaniwati)

Suara gemercik air hujan masih terdengar pagi ini. Udara dingin sekali di sekitar danau. Burung-burung enggan berkicau. Mereka bersembunyi di bawah dedaunan yang lebat. Kelinci pun enggan beranjak dari tempat persembunyiannya. Biasanya, danau itu ramai oleh angsa dan itik yang berenang sambil berkejar-kejaran, tetapi pagi ini tak tampak seekor pun yang hadir.
Alam seakan sedang murung karena sinar matahari tak menampakkan diri. Di balik sebuah pohon yang besar dan rindang tinggallah Bengkarung yang sangat disegani seluruh rimba belantara. Ia sedang menikmati suasana pagi itu dengan duduk santai. Tempat tinggal Bengkarung memang terlihat indah dengan bunga-bunga yang tampak teratur dan terawat. Konon pada zaman dahulu Bengkarung serupa binatang yang sangat berbisa dan tidak ada tandingannya di antara binatang berbisa lainnya. Bisa Bengkarung sangat mematikan binatang yang digigitnya. Bisa itulah yang menjadikan dirinya disegani semua binatang di rimba belantara. Ia pun menjadi binatang yang sangat dihormati. Semua binatang tunduk dan patuh kepadanya. Selain karena bisa yang sangat mematikan, ia juga sangat disegani karena kebaikannya. Binatang-binatang pun merasa aman tinggal di rimba belantara yang indah dan menawan itu.
Sudah menjadi kebiasaan, sebelum matahari tenggelam, Bengkarung selalu berjalan-jalan di sekeliling danau tempat para binatang berkumpul. Ia pun menyapa satu demi satu binatang yang ditemuinya. “Selamat sore, Kijang yang baik. Apa kabar?”
 “Kabar baik, Tuan,” jawab Kijang dengan penuh hormat.
Bengkarung melanjutkan perjalanannya kembali. “Selamat sore, Kuda Poni yang cantik.”
“Selamat sore juga, Tuan.”
”Mengapa wajahmu murung?”
“Saya sedang merenungkan betapa nikmatnya hidup kami tinggal di rimba ini”. “Tuan seorang pemimpin yang sangat disegani oleh seluruh warga rimba. Kami semua hidup rukun tanpa permusuhan, sedangkan keadaan saudara-saudara kami di rimba sebelah mengalami kesusahan,” kata Kuda Poni dengan semangat”.
“Kesusahan? Kesusahan apa rupanya sehingga membuatmu iba kepada saudara-saudara di rimba sebelah?” tanya Bengkarung lagi. Kuda Poni pun mulai menceritakan pengalamannya ketika melihat binatang-binatang yang hidup dalam ketakutan karena kekejaman Ular Tedung. Bengkarung mendengarkan dengan serius kata demi kata yang diucapkan Kuda Poni.
Setelah itu, Bengkarung meninggalkan Kuda Poni yang masih berada di pinggir danau. Ia menelusuri danau sambil sesekali menyapa binatang yang dihampirinya. Ia memikirkan cara untuk menolong warga rimba sebelah yang sedang dalam ketakutan karena kekejaman pemimpinnya. Ketika malam tiba, rimba menjadi tenang. Sesekali terdengar suara kelelawar yang sedang mencari makan.
Terdengar pula suara pekikan Siamang saat mencari tempat untuk merebahkan badan setelah seharian bermain dengan kawan-kawannya. Ketika malam semakin larut, kunangkunang tampak menerangi gelapnya malam di rimba belantara sebelah utara itu.
 “Pengawal, apa kamu mempunyai ide, bagaimana cara untuk menghentikan kejahatan Ular Tedung di rimba belantara sebelah selatan itu?” tanya Bengkarung.
“Kami belum mempunyai ide bagaimana caranya menaklukkan penguasa di rimba itu. Kami merasa kasihan mendengar binatang-binatang di sana hidup dalam ketakutan dan tekanan karena kekejaman Ular Tedung.”
“Aku dapat merasakan betapa binatang-binatang di sana ingin juga merasakan situasi yang kita rasakan di rimba ini. Sungguh malang nasib mereka, Pengawal.”  
Musuh Dalam Selimut Ular Tedung menjadi penguasa yang sangat ditakuti di antara binatang-binatang di lereng gunung yang berhutan lebat itu. Semua binatang buas dan binatang melata takut akan kekejaman sang penguasa rimba itu. Tidak ada satu pun binatang yang berani membantah perintahnya. Ular Tedung merasa sangat iri terhadap ketenaran sang Bengkarung.
“Apa sebenarnya kelebihan Bengkarung jelek itu?” tanya Ular Tedung kepada dirinya sendiri. ”Sisiknya  tidak semulus kulitku yang licin ini. Ia tidak bisa berganti kulit seperti diriku,” katanya lagi sambil mendesis keras karena hatinya geram. Karena keirian itu, Ular Tedung berencana untuk mengadu kekuatan bisanya dengan Bengkarung. “Aku akan mendatangi rimba sebelah utara yang dipimpin Bengkarung itu. Aku ingin menjajaki sejauh mana kekuatan Bengkarung yang membuat namanya begitu disegani setiap binatang.” ”Konon bisa Bengkarung lebih hebat daripada bisa bangsa ular. Semua binatang tunduk kepada Bengkarung. Namanya sudah dikenal di dunia binatang. Aku akan membuktikan semua itu.” Niat itu yang selalu ada di dalam pikiran Ular Tedung.
Sebuah Tantangan Pagi-pagi buta, sebelum ayam jantan berkokok, rombongan Ular Tedung sudah bersiap-siap. Rombongan akan mengadakan perjalanan menuju tempat tinggal Bengkarung. Pagi ini kabut masih menyelimuti seluruh permukaan alam sehingga udara sangat dingin. Suara binatang buas pun masih terdengar sesekali. Lolongan serigala terdengar menyayat hati seakan serigala sedang kelaparan, tetapi enggan untuk keluar dari tempat tinggalnya karena udara di luar sangat dingin.  Rombongan Ular Tedung mulai menuruni tebing, lalu satu per satu menyeberangi sungai yang panjang dan lebar. Bagi ular, menyeberangi sungai seperti itu tidak menjadi halangan. Akan tetapi, kalau kurang hati-hati, mereka bisa terbawa arus dan akan terpisah dari rombongan. Selain itu, ada musuh yang tak kalah berbahayanya, yaitu buaya yang dapat menelan ular setiap saat. Bengkarung tidak menaruh curiga bahwa kedatangan Ular Tedung dan rombongannya akan mencelakakannya. Bengkarung memerintahkan para pengawalnya untuk menjamu rombongan itu.
Kedatangan Ular Tedung disambut dengan pesta yang meriah. Bengkarung menyuruh para pengawalnya untuk membuat hidangan yang paling istimewa untuk menyambut kedatangan tamu dari jauh itu. “Pengawal, siapkanlah makanan yang paling enak untuk menyambut tamu-tamu kita ini!” perintah Bengkarung kepada pengawalnya.
.............................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................
........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................... ...........................................................................................................................................................................................................................................................................................................
Contoh rubrik penilaian yang dikutip dari buku teks pelajaran bahasa Indonesia. Guru dapat mengembangkan sendiri sesuai dengan materi dan kompetensi yang ingin dicapai.
ISI
Deskriptor isi adalah keterpahaman tentang subjek, fakta/data/rincian pendukung, pengembangan gagasan/pikiran/tesis yang cermat, sesuai dengan tema karangan.
Kriteria penskoran dan penjabaran deskriptor sebagai berikut.

Skor
Kriteria
Deskripsi
30 – 27
Sangat Baik
Terpahami, banyak fakta pendukung, pengembangan tesis/pikiran/gagasam yang cermat, sesuai dengan tema karangan
26 - 22
Baik
Banyak mengetahui subjek,pengembangan memadai, pengembangan gagasan terbatas, pada umumnya sesuai dengan tema hanya terbatas.
21 - 17
Sedang
Tidak menunjukkan Pengetahuan tentang subjek terbatas, sedikit data pendukung pengembangan tema kurang memadai
16 -10
Kurang
Pengetahuan tentang subjek, tidak ada data pendukung, tidak berkaiatan dengan tema
ORGANISASI
Deskriptor organisasi adalah kelancaran pengungkapan, ide dibatasi dan didukung dengan jelas, ringkas, susunannya baik, urutan cerita logis, dan padu (kohesif).
Kriteria penskoran dan penjabaran deskriptor sebagai berikut.

Skor
Kriteria
Deskripsi
30 – 27
Sangat Baik
Pengungkapan cerita lancar, ide dibatasi dan didukung secara jelas, ringkas, tersusun dengan baik, urutan logis, dan padu.
26 - 22
Baik
Pengungkapan cerita berombak, susunan longgar, tetapi ide dasar tetap menonjol, pendukung terbatas, logis, tetapi urutan cerita tidak sempurna
21 - 17
Sedang
Tidak lancar, gagasan membingungkan atau tidak berhubungan, kurang urutan, dan pengembangan logis
16 -10
Kurang
Tidak mengomunikasikan apa-apa, tanpa organisasim satau tidak padu.

KOSAKATA
Deskriptor kosakata adalah keakuratan pemilihan dan penggunaan kata/idiom secara efektif, penguasaan bentuk kata, laras bahasa yangs esuai.
Kriteria penskoran dan penjabaran deskriptor sebagai berikut.

Skor
Kriteria
Deskripsi
20 – 19
Sangat Baik
Akurat, penggunaan dan pemilihan kata/idion efektif, menggunakan jenis kata yang tepat penggunaan laras bahasa yang sesuai.
18 – 16
Baik
Cukup memadai, terkadang penggunaan atau pemilihan kata bentuk kata/idiom keliru, tetapi tidak mengaburkan arti.
16 – 11
Sedang
Penggunaan atau pemilihan kata bentuk kata/idiom sering keliru, arti kata membingungkan atau kabur.
10 – 8
Kurang
Penggunaan atau pemilihan kata bentuk kata/idiom sangat keliru, arti kata tidak jelas.



PENGGUNAAN BAHASA
Deskriptor penggunaan bahasa adalah bangun kalimat yang efektif, penggunaan unsur-unsur kalimat, jenis kalimat, penggunaan kata, dan frasa.
Kriteria penskoran dan penjabaran deskriptor sebagai berikut.

Skor
Kriteria
Deskripsi
20 – 19
Sangat Baik
Konstruksi kalimat efektif, sedikit kesalahan tentang unsur kalimat, jenis kalimat, penggunaan kata, dan frasa.
18 – 16
Baik
Efektif tetapi konstruksi kalimat sederhana, sedikit kekeliruan dalan hal: unsur kalimat, jenis kalimat, kata, dan frasa, kata depan, tetapi arti kabur.
16 – 11
Sedang
Banyak kesalahan dalam konstruksi kalimat, kekeliruan dalan hal: unsur kalimat, jenis kalimat, kata, dan frasa, kata depan, makna kalimat tidak jelas.
10 – 8
Kurang
Tidak menguasai konstruksi kalimat, kalimat banyak yang salah, tidak mengomunikasikan apa-apa.

PEMBOBOTAN
Jacobs dkk. (1981) memberikan bobot pada setiap kompetensi dasar sesuai tingkat kesukaran setiap kompetensi dasar. Itu berarti nilai yang diperoleh merupakan nilai akhir atau jenjang ketuntasan.
Jenjang ketuntasan sebagai berikut.

%
Organisasi
Isi
Kosakata
Penggunaan Bahasa
Total
100
30
30
20
20
100
90
27
27
18
18
90
75
24
24
15
15
75
50
19
19
11
11
50
25
14
14
8
8
25







(Sumber Buku Guru Pelajaran Bahasa Indonesia halaman 25)
Cerita dengan muatan persatuan dan kesatuan
Skor
1)             Terdapat kalimat secara implisit dan eksplisit muatan persatuan dan kesatuan
2)             Terdapat pesan moral mengenai persatuan dan kesatuan
3)             Isi terhindar dari sara
4)             Tokoh-tokohnya berperan dalam muatan persatuan dan kesatuan

5                    = terdapat  4 unsur
3          = terdapat 3 unsur
2         = terdapat 2 unsur
1         =  terdapat 1 unsur
            Penghitungan Skor
            Skor akhir =  skor yang diperoleh X  100
                                     Skor maksimal


Glosarium

Afektif:           berkenaan dengan perasaan.
Akhlak:           budi pekerti; kelakuan.
Alternatif :      pilihan di antara dua atau beberapa kemungkinan.
Basis:               asas; dasar.
Deskripsi:        pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci;uraian.
Dimensi:          ukuran (panjang, lebar, tinggi, luas, dan sebagainya); matra.
Efisien:            tepat atau sesuai untuk mengerjakan (menghasilkan) sesuatu (dengan tidak membuang-buang waktu, tenaga, biaya).
Ejaan:              ukuran (panjang, lebar, tinggi, luas, dan sebagainya); matra.
Evaluasi:          penilaian.
Fabel:              cerita dengan pelaku binatangyang berisi nilai moral
Faktual:           berdasarkan kenyataan; mengandung kebenaran.
Fasilitator:       orang yang menyediakan fasilitas; penyedia.
Fenomena:      hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah (seperti fenomena alam); gejala.
Gudeg:            masakan yang dibuat dari buah nangka muda diberi bumbu bersantan (masakan khas Yogyakarta).
Identifikasi:     tanda kenal diri; bukti diri.
Implementasi: pelaksanaan; penerapan.
Indikator:        sesuatu yang dapat memberikan (menjadi) pe-tunjuk atau keterangan.
Inovatif :         bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru; bersifat pembaruan.
Kompetensi:    kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu).
Kontribusi:      uang iuran (kepada perkumpulan dan sebagainya).
Kreatif:            memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan.
Kognitif:         berhubungan dengan atau melibatkan kognisi.
Konsep:           ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.
Kurikulum:      perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan.
Logis:              sesuai dengan logika; benar menurut penalaran; masuk akal.
Media:             alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk.
Mental:            bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.
Model:            pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan.
Objek:             hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan.
Objektif:         mengenai keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi.
Observasi:       peninjauan secara cermat.
Parsial:             berhubungan atau merupakan bagian dari keseluruhan.
Presentasi:       penyajian atau pertunjukan.
Psikomotor:     berhubungan dengan aktivitas fisik yang berkaitan dengan proses mental dan psikologi.
Religi:              kepercayaan kepada Tuhan; kepercayaan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia; kepercayaan (animisme, dinamisme); agama.
Saintifik:         pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari, dan sebagainya.
Sintaks:           langkah-langkah kegiatan.
Sosial:              berkenaan dengan masyarakat.
Spiritual:          berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).
Teknologi:       keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Teks:                naskah yang berupa a kata-kata asli dari pengarang.
Verbalisme:     ajaran (pandangan) dalam dunia pendidikan (pengajaran) yang mendidik anak untuk banyak menghafal.
Wawasan:        hasil mewawas; tinjauan; pandangan.











Daftar Pustaka

Atisah. 2017. Kalah Oleh Si Cerdik. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Bernie Trilling and Charles Fadel. 2009. 21st century skill: learning for life in our times. Penerbit : San Francisco: Jossey-Bass
Budiningsih, C Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dumiyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Hardaniwati, Menuk. 2016. Bengkarung Teperdaya. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Kosasi, E Dkk. 2017. Buku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Keraf, Gorys 2001. Diksi Dan Gaya Bahasa. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Mahsun. 2014. Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Permendikbud No. 22 Tahun 2016
Permendikbud No. 37 Tahun 2018
Permendikbud No. 103 Tahun 2014
Permendikbud Nomor 53 Tahun 2015
Oon-Seng Tan. 2009. Pembelajaran Berbasis Masalah dan Kreativitas. Singapura : Cengage Learning Asia Pte Ltd.
Semi, M. Atar. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis . Bandung : Angkasa, 2007. 
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta. Slavin, Robert E. 2005. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sukardi, Edy. 2012. Pembelajaran Menulis. Jakarta: Uhamka Press.
Suryanti, dkk., 2008. Model-Model pembelajaran Inovatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.
Zabadi, Fairul dan Sutejo. 2015. Bahasa Indonesia Wahana pengetahuan untuk SMP/MTs kelas VII. Jakarta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudaryat, Yayat. 2009. Makna dalam Wacana. Prinsip-Prinsip Semantik dan Prakmatik. Bandung: Yrama Widya.
Trianto. 2009. Mendesign Model Pembelajaran Inovativ Progresif. Jakarta : Kencana.
______. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Hastuti, Tri Iryani. 2017. Beungong Meulo Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Buku GLS.
https://bundaseni.blogspot.com (diunduh 12 Juli 2019).
https://thegorbalsla.com/cerita-fabel/ diunduh 20 Oktober 2019)


























Biodata Penulis
Nama : Seni asiati, M.Pd
Telepon: 081399119669
Email : seniasiati@gmail.com
Alamat Kantor : Jln. Karang Kendal Rt 01/08 No.109 Rorotan Cilincing Jakarta Utara
Bidang Keahlian : Penulis
Riwayat pekerjaan/profesi (10 Tahun Terakhir):
1. 1990 – 2015 : Guru Bahasa Indonesia SMA Yappenda Jakarta Utara.
2. 1995 – 1998 : Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 120 Jakarta Utara.
3. 1998- 2018 : Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 266 Jakarta Utara.
4. 2010 – 2015: Dosen Bahasa Indonesia Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta.
5. 2015 – 2018 : Dosen Bahasa Indonesia STIKES Mitra Keluarga Bekasi Timur
6. 2018 - Sekarang : Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 231 Jakarta Utara.
5. 2010- 2017 : Editor Buku Teks Pelajaran Puskurbuk Kemdikbud
6. 2017-2018 : Penilai Buku Teks Puskurbuk Kemdikbud
7. Instruktur Literasi Nasional
Riwayat Pendidikan
S1 : Fakultas Bahasa dan Seni IKIP Muhamamdiyah Jakarta
S2 : Pendidikan Pascasarja Bahasa Indonesia Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
Judul Buku dan Tahun Terbit (10 tahun terakhir):
Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (2015)
Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks (2016)
Literasi untuk Semua (2018)
Novel NaRa (2017)
Novel Rumah (2018)
Antologi Cerpen (2018)

Judul Penelitian dan Tahun Terbit (10 tahun terakhir):
Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi dengan Model Pembelajaran Example nonexample pada peserta didikkelas VII  (2016)
Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerpen Pocetok  (2017)
Peningkatan Keterampilan Membacakan Berita dengan Camtasia Studio (2017)

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...