Thursday, October 31, 2013

KONGRES BAHASA X DI HOTEL GRAND SAHID JAKARTA

PENGUATAN BAHASA INDONESIA DI DUNIA INTERNASIONAL

Saya akan menceritakan atau tepatnya bercerita pengalaman saya mengikuti Kongres Bahasa X selama 4 hari ditambah 1 hari registrasi peserta.
Hari itu inggu 27 Oktober 2013, aku memang tak ada berminat ketika suami dan anak-anakku mengajak pergi bersama keluarga besarnya. Hari itu aku menunggu ada undangan untuk menghadiri Kongres Bahasa X yang memang aku tunggu-tunggu. Alhamdulillah seorang teman Evaliesti, guru SMA 114 mengajak untuk menemaninya registrasi dan dengan harapan ada tempat kosong untuk aku di Kongres tersebut.
Akhirnya dengan harap-harap cemas, bisa juga aku menjadi peserta Kongres Bahasa X. Isi formulir dan kembalikan untuk besok mengikuti Kongres.
Hari ke-1, Senin 28 Oktober 2013

Hari ini pembukaan Kongres Bahasa X yang dilaksanakan di hotel Grand Sahid Jaya. Kami bertiga, aku, Evaliesti, dan ketua MGMP kami Teh Euis Sulastri sampai di tempat acara pukul 09.00. Untungnya acara belum dimulai masih registrasi dan mencari bangku kosong. Hari itu peserta dan para tamu undangan hampir 2000 orang memadati Puri Agung tempat berlangsungnya acara. Aku dan Teh Euis masih berlari eksana kemari untuk meminta hak kami tas dan makalah kongres yang dijanjikan oleh panitia. Tapi dengan raut kesal setelah kesana kemari mengadu, panitia Kongres mengatakan pada kami bahwa peserta susulan tidak berhak mendapat makalah dan tas kongres! apapula ini kan kami menggantikan peserta yang memang berhalangan. Kemanakan makalah dan tas yang memang seharusnya sudah disediakan panitia kongres untuk semua peserta kongres. Padahal jelas-jelas kami lihat dan bertanya pada panitia apakah banyak peserta yang mengundurkan diri? di setiap kelompok ( ada 8 kelompok di kongres) ada puluhan peserta yang mengundurkan diri. Kesal dan kecewa dengan ulah panitia, akhirnya kami masuk ruang aula Puri agung tempat berlangsungnya acara.
Pembukaan Kongres dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Prof.DR.M.Nuh, ditandai dengan pemukulan gong.
Hari pertama Kongres aku bertemu dengan guru besar UNJ dan Uhamka, ibu Prof Dr. Sabarti Akhadiah. Beliau masih modis saja nih.
Acara di hari pertama dimulai dengan beberap Pleno yang memang belum begitu menarik.Namun acara ini menjadi ajang silahtuahmi para guru dan siswanya. Seperti aku yang bertemu Prof Sabarti, dan berkesempatan mengenal guru dan dosen dari berbagai daerah. Bahkan aku berkesempatan berfoto bersama Uly Sigar Rusadi yang hari itu memboyong pasukan Vini Vidi Vici ujuk kebolehan menyanyikan dua lagu ciptaannya tentang bahasa dan Bangga menjadi orang Indonesia.

Hari ke-2, Selasa, 29 Oktober 2013

Hari ini rombongan kami bertambah satu orang lagi yaitu Uni Marneli seorang guru bahasa Indoensia dari SMA 92 Jakarta. Uni Marneli juga kami paksa datang karena memang namanya sudah kami daftarkans ebagai peserta cadangan.
Jadilah kami hari kedua ini berempat, pasukan dari utara. Acara di hari pertama diawali dengan Pleno yang entah pemakalahnya didengar atau tidak, karena aku lihat peserta seminar banyak yang tidak datang di ruang sidang utama atau Puri agung.

Kebiasaan kalo ada waktu sengang apalagi tempat acara kosong, kami manfaatkan untuk foto bersama. Kapan lagi bisa narcis dan exis yah.


Hari ke-3, rabu 30 Oktober 2013
Hari ketiga aku berangkat dari Sawangan tempat suhu berada. Naik taksi dari rumah pukul 09.00 sampai hotel Grand Sahid pukul 11. Aku tidak langsung ke ruang sidang Pleno tapi mampir dulu di stand UKBI yang dijaga oleh Ibu Eva, karyawan Badan Bahasa yang mewadahi UKBI. Berbincang tentang pelaksanaan UKBI yang akan kami selenggarakan di SMPN 266 nanti.
hari ketiga ini bertambah personil kami Mamah Dedeh Turidah, guru SMA 83. seru kalau ada guru yang satu ini.
Hari ketiga ini, kami merencanakan untuk merasakan kemegahan hotel sahid,. Yah kami berempat akan menginap disini dengan cara patungan. hahahah seru sekali menginap di hotel bintang 5.





Hari ke-4 , Kamis 31 Oktober 2013

Hari ini kami berangkat dari kamar tempat hotel kami menginap yaitu :GRAND SAHID JAYA. Hotel bintang 5 yang harga sewanya Rp 1.270.000/ malam. Kalau untuk bayar sendiri malas sekali hanya untuk numpang tidur harus membayar semahal ini. Tapi apapun itu hidup harus dinikmati, walau kantong habis terkuras.
Menu makan pagi yang kaya dan juga bervariasi, ada bubur ayam, omelet, roti keju, air mineral, orange jus, dan buah-buahan yang akahirnya dua apel dan satu belimbing masuk tas aku. hahahahahahha kebiasaan .

Thursday, October 24, 2013

DAGING QURBAN MEMAKAN KORBAN

Iedul Adha 1434 H Qurban




Iedul Qurban kali ini benar-benar membawa cerita tersendiri. Rencananya karena aku mendapat rezki aku ingin berkurban untuk Bapak, semoga Bapak sehat. Tapi nyatanya ketika diumumkan malah kurban itu atas namanku. Wah Bapak pasti marah nih.
Karena banyak mendapat daging kurban, maka Mama berinisiatif meminta iga sapi untuk disop. Kebetulan Mama punya panci Presto yang memasak lebih cepat. Aku tak tahu mengoperasikan panci tersebut, sehingga ada insiden dibalik Panci Presto tersebut.
Iga yang direbus dipresto agak banyak untuk ukuran presto. setelah beberapa lama direbus, Mama merasa iga tersebut kelebihan air. Akhirnya aku berinisiatif membuka presto tersebut,karena susah aku minta bantuan adikku Budi. Ternyata Presto tersebut "mleduk" dan berhamburan iga dan air panas yang lumayan 200 derajat menimpa muka, tangan aku serta adikku Budi. Panasnya membuat kami berdua mencoba menyelamatkan diri dengan menyiram tubuh menggunkan air.
Aku meminta anakku Natasha membeli Bioplacenton, dengan mejamkan mata aku merasakan aliran panas menjalari muka dan tanganku.



Pasrah dan berbaring di kamar orangtuaku, itu yang bisa aku lakukan. Berharap semoga wajahku tak begitu parah. Cerita yang mengajarkan padaku untuk bersabar dan selalu belajar. Ternyata produk canggih pun harus selalu dipelajari.
Kini dengan perawatan dan pengobatan wajah dan lenganku sudah membaik. Wajah tidak banyak berubah masih Seni yang dulu, malah kata teman-temanku semakin 'Cantik' . hahahahaha kalo ini mah Vietman bangets yah.

Wednesday, October 16, 2013

Karya Diakhir 2013

BUKU BAHASA INDONESIA PEMINATAN KELAS  X



Akhirnya bukuku lahir juga. Setelah selama sebulan kurang tidur, susah makan, maunya ngomel-ngomel. Peran seorang 'Suhu' lahirnya buku ini tak pernah lepas. 'Suhu' yang cerdas cendikia, dan mau sabar menampung semua keinginanku untuk mempunyai buku sendiri. Terima kasih ini tak terhingga untuk 'Suhu'.

Semoga buku Bahasa Indonesia Peminatan untuk kelas X ini dapat diterima di masyarakat. Buku ini memuat tentang "Bangga Berbahasa Indonesia' yang tentu saja dipelajari oelh mahasiswa dari semua jurusan.
Walau belum diedit dan diselia namun dengan bangga saya berinisitaif menempatkan buku karya pertama saya ini di sini.
 Senangnya dalam hati mempunyai karya yang nanti bisa dinikmati oleh orang banyak. SEMOGA.





Wednesday, September 25, 2013

Puisi Stop Bullying


Kita bukan Kita
(by Bunda NaRa)


Jalan ini penuh sesak oleh airmata
Airmata pengiring sahabat tercinta
Laksana lagu ada irama dalam tangisnya
Karena sahabat tak pantas ada di sana
Kau terlanjur ada dan memaksa
Ketika tak kau beri apa yang kau punya
Kau tertegun tak percaya
Ketika tangan kukuh mengangkat wajah
Menghantam dada dan kepala
Tak ada kata untuk menjawab
Tak ada waktu untuk melawan
Tak ada tenaga untuk membalas
Karen dikeliling ada perisai lawan
Membuat ciut nyali diraga
Walau dalam daerah yang berkawan
Semua dibilang atas nama pendidikan
Semua dikata atas nama pembinaan
Pukulan tak pernah diajarkan
Bentakan tak pernah ditugaskan
Hantaman tak pernah dikurikulumkan
Tapi ada uian atas nama disilin dan peraturan
(untuk kekerasan di dunia)

APRESIASI SASTRA

Mari belajar menganalisis dan Mengapresiasi sastra

1. Baca dan cermati hikayat diberikut ini !


Hikayat Bakhtiar



Ada seorang raja, terlalu besar kerajaannya dari segala raja-raja. Syahdan maka baginda pun beranak dua orang laki-laki, terlalu amat baik parasnya, gilang gemilang dan sikapnya pun sederhana. Hatta maka berapa lamanya, dengan kodrat Allah, subhanahu wa ta'ala, maka baginda pun hilanglah, kembali ke rahmatu'llah. Arkian maka anakda baginda pun tinggallah dua bersaudara. Setelah demikian, maka mufakatlah segala menteri dan hulubalang dan orang kaya-kaya dan orang besar-besar menjadikan anak raja, menggantikan ayahanda baginda. Setelah sudah naik di atas tahta kerajaan dan berapa lamanya, maka berpikirlah saudaranya,katanya: "Jikalau kiranya saudaraku ini kubiarkan menjadi raja, bahwasanya aku ini tiadalah menjadi raja selama-lamanya. Maka baiklah aku menyuruh memanggil segala perdana menteri dan hulubalang dan orang besar-besar dan orang kaya-kaya sekaliannya." Setelah berhimpunlah segala menteri dan hulubalang, rakyat hina dina sekaliannya, maka baginda pun bertitah: "Hai, segala menteri dan hulubalang dan orang besar-besar dan orang kaya dan tuan-tuan sekaliannya, pada bicaraku ini, jikalau kakanda selama-lamanya menjadi raja di dalam negeri ini, bahwa aku pun tiadalah menjadi raja selamalamanya, melainkan marilah, kita langgar dan kita keluarkan akan kakanda, supaya negeri itu terserah kepadaku".

Setelah demikian sembah mereka sekalian itu, maka baginda pun berpikirlah di dalam hatinya, katanya: "Benarlah seperti kata menteri sekalian ini dan siapakah lagi kudengarkan katanya?" Setelah sudah berkata demikian di dalam hatinya, maka baginda pun masuklah ke dalam istananya. Maka sekalian mereka itu pun masing- masing pulang ke rumahnya. Hatta maka berapa lamanya, maka kedengaranlah kepada baginda tuan wartanya itu. Maka ia pun berpikirlah di dalam hatinya: "Tiada berkenan rupanya saudaraku ini akan daku. Jikalau ia hendak jadi raja, masakan dilarangkan dia, niscaya akulah, yang merayakan dia. Tetapi apakah akan daya aku ini. Jikalau demikian, baiklah aku pergi membuangkan diriku barang ke mana membawa untungku ini." Setelah sudah ia berpikir demikian itu, seketika maka hari pun malamlah. Maka baginda pun sembahyanglah. Setelah sudah, maka ia pun lalulah masuk ke dalam tempat peraduan hampir isterinya, seraya bertitah kepada isterinya: "Hai, adinda, adapun akan hamba ini sangatlah bencinya saudara hamba akan hamba. Maka oleh karena itu, maka hamba hendak pergi membuangkan diri barang di mana ditakdirkan Allah ta'ala. Maka tinggallah tuan hamba baik-baik memeliharakan diri tuan-hamba". Maka bercucuranlah air mata baginda. Kelakian maka sahut isterinya: "Mengapatah maka kakanda berkata demikian itu?" Maka titah istrinya: "Adalah hamba ini mendengar kabar bahwa saudara hamba itu memanggil segala menteri, hulubalang dan orang besar-besar dan orang kaya, diajaknya mufakat melanggar kakanda ini, karena ia hendak menjadi raja di dalam negeri ini. Maka itulah sebabnya, maka hamba hendak membuangkan diri barang ke mana. Maka tinggallah tuan baik-baik". Setelah isterinya mendengar kata suaminya demikian itu, maka isterinya pun segeralah bangun menyembah kaki baginda, serta dengan air matanya bercucuran, serta katanya: "Walau ke langit pun kakanda pergi, adinda ikut juga." Setelah demikian, maka titah baginda: "Segeralah adinda berkemas-kemas, pagi-pagi esok hari kita berjalan barang ke mana dikehendaki Allah ta’ala, kita pergi membawa untung kita. Tetapi akan tuan jangan menyesal kelak." Maka sahut tuan puteri itu: "Jangankan demikian, jika kalau kelautan api sekalipun, hamba pergi juga, lamun dengan kakanda." Syahdan maka kedua suami isteri itu pun berkemas-kemaslah. Setelah hari siang, maka keduanya pun berjalanlah, seraya menyerahkan dirinya kepada Allah, subhanahu wa ta'ala, keluar negeri, masuk hutan, masuk padang, terbit padang, masuk rimba belantara, terbit rimba belentara. Hatta maka berapa lamanya baginda dua suami isteri itu berjalan, maka ia pun sampailah kepada suatu padang yang luas. Maka baginda dua suami isteri pun berhentilah di sana. Adapun tatkala baginda dua suami isteri berjalan itu, bahwa isterinya itu telah hamil delapan bulan. Kelakian maka genaplah bulannya itu. Maka pada ketika yang baik dan hari yang baik maka tuan puteripun hendaklah bersalin, maka katanya: "Aduh, kakanda, lemahlah rasanya segala tulang sendi hamba ini, kalau-kalau genaplah gerangan bulannya hamil hamba ini." Hatta baginda pun berdebarlah hatinya mendengar kata isterinya Itu. Seraya disambutnya isterinya, maka katanya: "Allah, subhanahu wa ta'ala juga, yang amat menolong akan hambanya itu!" Maka dengan kodrat Allah, subhanahu wa ta'ala, maka seketika Itu juga berputeralah tuan puteri itu seorang laki-laki dengan indahnja juga. Sebermula adapun anaknya itu terlalu amat baiknya dan gilang gemilang warna mukanya dantiadalah dapat ditentang nyata lagi. Sumber : Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952 (dengan penyesuaian ejaan) 
1. Apakah isi Hikayat Bakhtiar tersebut? 
2. Ubahlah hikayat tersebut ke dalam bentuk cerpen. 
Baca dan cermati teks drama berikut!, kemudian ubahlah ke dalam bentuk cerpen! 
Sobrat Bagian Enam Di bukit kemilau. 
Terdengar suara kentungan dibunyikan sebagai tanda para kuli penambang emas mulai bekerja. Tampak masuk para kuli penuh semangat. Mereka bertelanjang dada. Mandor Bokop : (teriak) Kalian antre yang tertib! Sudah ambil duit, ambil blincong dari bakul! (kepada Mandor Burik) Panggil satu-satu! 
Mandor Burik : (memanggil) Samolo! Sentono! Kartijo! Kardun! Marjun! Duweng! Kamran! Sobrat! Doyong! Sadang! Epeng! Damirin! (memanggil terus) Semua kuli telah memegang blincong dan bakul Mandor Bokop : (teriak) Dengarkan semua! Aku Mandor Bokop, penjaga Bukit Kemilau. Bukit Kemilau ini milik Tuan Balar. Kalian beruntung menjadi pekerjanya. Nanti kalian masuk kawasan Bukit Kemilau! Tetapi, jangan terlalu jauh sebab ke selatan masih ada Hutan Burun yang masih perawan. Banyak binatang buas, babi hutan, dan harimau! Juga, banyak rawa berlintah! Lintahnya sebesar ibu jari! Ngerti? 
Para Kuli : (serentak) Ngerti! 
Mandor Bokop : (kepada Mandor Burik) Kamu jaga mereka. Aku mau tidur! (berbisik) Tadi malam aku berjudi sampai pagi! 
Mandor Burik : (teriak) Jangan berhenti sebelum kentungan bunyi! Para kuli menyanyikan semboyan mereka. 
Para Kuli : (serempak) Sekali kerja, tetap kerja. Biji emas di mana-mana! Namun, Doyong tampak meringis-ringis. Ia menepi, ia dibentak Mandor Burik. 
Mandor Burik : (membentak) Hei! Kembali ke tempatmu! Kuli! Apa kamu tuli? Kembali ke tempatmu! Doyong : Sebentar, istirahat! 
Mandor Burik : Apa? Istirahat? Enak saja kamu, apa kamu sudah lupa perintah Mandor Bokop, heh? Jangan berhenti sebelum kentungan bunyi! 
Doyong : Sebentar saja, Mandor! Mandor Burik : (menendang Doyong) Enak saja sebentar-sebentar! Cepat kerja, kuli!Sobrat melihat kelakuan kasar Mandor Burik terhadap kawan sekampungnya. Ia memburu mendekat. 
Sobrat : Mandor, jangan ditendang-tendang begitu! Dia kawanku, Mandor! (mendekati Doyong) Kamu tidak apa-apa, Yong? 
Doyong : Agak mulas, mana aku agak mencret. Mandor sialan! 
Mandor Burik : Apa kamu bilang? 
Doyong : Dia dengar, Brat! 
Mandor Burik : Ayo, kembali kerja! Orang lain juga kerja! 
Sobrat : Dia sakit perut, Mandor. Dia agak mencret 
Mandor Burik : Alah, alasan saja! Dasar pemalas! 
Doyong : Saya sakit perut, Mandor! Mandor burik : Kembali kerja, atau kulecut dengan cambuk ini! (mengeluarkan cambuk dan hendak mengayunkannya) 
Sobrat : Jangan, Mandor! Biarkan saja dulu, Mandor. Apa Mandor tidak pernah sakit perut? 
Mandor Burik : Apa kamu bilang? (melecut) Jangan bilang begitu! Di kampungmu kamu bisa bilang apa saja, tetapi di sini lain.... Ini tanah Bukit Kemilau dan aku penjaganya! Kembali ke tempatmu, kuli! 
Sobrat : Tidak mau! 
Mandor Burik : (marah) Itu bukan kata yang pantas, kuli kontrak. Mampus kamu! (melecut) SOBRAT MENCOBA MELAWAN 
Sobrat : Kita bertarung secara jantan, Mandor! Mandor Burik : Apa kamu bilang? Sobrat : Kita bertarung secara jantan, Mandor! 
Mandor Burik : Boleh saja... apa maumu? Sobrat : Beri aku cambuk! Mandor Burik : Enak saja! rasakan! (melecutkan cambuk) 
Doyong : (berteriak) Sobrat sama Mandor berkelahi!!! Mandor burik dan sobrat berkelahi. Kuli-kuli berkumpul, melingkar, sambil menyanyikan semboyan. Awalnya, Mandor Burik berjaya dengan cambuknya. Namun, cambuknya berhasil direbut Sobrat. Dengan satu kali ayunan dan pitingan, Mandor Burik tak berkutik. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Pause (Tukang warung memandang tajam) 
Tukang warung : Apakah kau tidak gembira, (Ibu pergi ke kursi dan berkata). Ibu : Ia berteriak "ibu" (lalu duduk) 
Tukang Warung : Tentu dia akan berbuat sesuatu. Ayah : (jalan, tiba-tiba) Sesuatu telah terjadi. (Ibu tiba-tiba berteriak) 
Gadis : Berhenti, Ibu! T
ukang Warung : Ada apa ini, apa yang telah kalian lakukan? (tukang warung dan anaknya mundur)? Kenapa kau memandang seperti itu? Apakah dia tidak menceritakan bahwa dia anakmu? 
Gadis : Tidak. 
Tukang Warung : Apa yang telah kalian lakukan? Di mana dia sekarang? 
Ayah : Jangan ada suara! (pause) 
Ibu : Dia berteriak "ibu". Kau terus saja memukulnya! 
Tukang Warung : Apa yang kalian telah lakukan? Kalian telah .... (tukang warung memandang, terus mundur mau pergi) 
Anak : (melihat Gadis) Lihat di tangannya, Ayah! Tukang Warung : Kau telah ... (lari) Gadis : Berhenti. Ibu! Ayah : Tenang-tenang, jangan ribut. (jatuh) 
Gadis : Mereka akan memasukkan saya dalam penjara. 
Sumber: Buku drama Orang Asing, judul asli Irthunia, karya Rupert Brook, disadur oleh D. Djajakusuma 
3. Jelaskan watak-watak tokoh berdasarkan dialog yang diucapkan setiap tokoh. 
4. Tuliskan hubungan latar dengan watak para tokoh dalam penggalan drama tersebut 
Bacalah penggalan drama berikut. 
Adun : "Betul Lin. Aku masih punya orang tua dan adik-adik. Namun, aku pun ikut merasakan kesedihanmu dan satu hal itu aku tidak setuju, jangan menganggap pamanmu sebagai orang yang tidak adil." 
Tini : "Ah ... bohong. Aku memang menumpang di rumah paman. Aku tak punya orang tua. Aku merasa selalu disakiti karena pamanku membedakan perlakuan kepadaku dan kepada anaknya. Kalau ada masalah antara aku dan Mila, anak pamanku itu, selalu dia yang dimenangkan paman ..." 
Nita : "Tenanglah, Tin. Aku merasakan kesedihanmu. Aku tahu, kamu terlalu menuruti perasaanmu. Belum tentu pamanmu seperti yang kamu duga karena kesedihanmu, engkau membayangkan yang tidak-tidak." Andri : "Benar, Tin, kamu harus bersabar."

a. Ungkapan kekecewaan diungkapkan oleh tokoh …. ...... 
b. Jelaskan dengan kalimat pendukung! 
Bacalah petikan novel berikut. 
Si Jamin terpelanting ke sisi jalan trem, kepalanya berlumuran darah. Beberapa orang yang menaruh kasihan mengangkat Si Jamin akan dibawa ke rumah sakit miskin di Glodok. Anak itu pingsan. Polisi cepat memeriksa asal mula kecelakaan itu. Nomor trem dan nama-nama pegawai yang mengemudikan dicatat. Setelah itu trem meneruskan perjalanannya. Orang banyak pun bubar. Unsur utama yang terdapat dalam penggalan novel tersebut adalah …. Bacalah cupilkan cerpen "Setrum" berikut. Cik Ledo sukar menerima itu. Walau kadang ada teror atau ada bujukan, ia tetap tak mau menerima kenyataan rumah dan kampungnya ditenggelamkan. "Apa pun yang terjadi, aku tak akan pindah. Demi Tuhan, titik! Aku tak rela!" kata Cik Ledo pada orang-orang berseragam dinas yang menyarankannya secepatnya meninggalkan kampung untuk pindah ke tempat yang disediakan sebagai kediaman pengganti atau ke tempat yang bisa dipilih sendiri. 
5. Unsur instrinsik yang menonjol dalam cerpen tersebut adalah ....

Politeknik Media Kreatif Jakarta Srengseng Sawah





Sudah lama tidak menulis di blog, bukan malas justru kebanjiran job menulis. Rasanya tahun 2013 ini dikejar dateline menulis, dihantui keinginan menulis, dan nafsu untuk menulis, hahahaha yang terakhir lebay dot com. Tahun ini adalah tahun kedua Prodi Broadcast di Polimedia. Tahun pertama mahasiswa Polimedia prodi Broadcast sukses dengan nilai yang memuaskan, walau tentu saja ada yang susah mendongkrak nilai karena malas bertemu diriku yang kece ini di kelas. 
Mahasiswa Broadcast tahun kedua cukup banyak ada tiga kelas dengan setiap kelas harus berbagi napas dengan 30 orang. Luar biasa antusias mahasiswa tahun ini sangat jarang yang terlambat. Aku yang biasanya suka kesal dengan mahasiswa terlambat jadi ikut hanyut semangat pagi. Tahun ini pula harus aku lepas prodi Fotogarfi, bukan malas karena mahasiswanya malas juga, tapi karena si 'Waktu' yang tidak bisa berbagi. Yah waktu aku hanya dua hari di Polimedia berbeda dengan tahun kemarin yang tiga hari.
Ada cerita seru dan mungkin mengesankan atau mungkin mengesalkan bagi mahasiswa dan dosen. Ruang kelas dengan gedung megah di Tower ternyata minim fasilitas dan benar-benar menyuruh dosen 'Stand Up Comedy'. Untungnya para dosen sudah piawai jadi stand up 4 jam pun tak ada masalah. Minggu ketiga perkulihan dengan prasana yang juga belum tersedia, ada aksi dari mahasiswa broadcast, mereka berganti kostum dengan kostum main alias benar-benar tak pantas untuk dipakai kuliah. Sayangnya saya tak punya dokumen tersebut. Padahal inilah sejarah pergelutan mahasiswa yang menuntut hak dengan cara berbeda, cara "Broadcast'.


Aku sebagai dosen miris juga melihat aksi mereka, karena menurutku harusnya aksi mereka di hadapan pimpinan kampus bukan pada dosen. Harapan muncul ketika Direktur melihat aksi mereka dan akan memenuhi tuntutan mahasiswa. Aku sendiri sebagai dosen beraksi juga tidak memberikan modul kuliah, hehehehehe.

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...