Wednesday, September 25, 2013

Politeknik Media Kreatif Jakarta Srengseng Sawah





Sudah lama tidak menulis di blog, bukan malas justru kebanjiran job menulis. Rasanya tahun 2013 ini dikejar dateline menulis, dihantui keinginan menulis, dan nafsu untuk menulis, hahahaha yang terakhir lebay dot com. Tahun ini adalah tahun kedua Prodi Broadcast di Polimedia. Tahun pertama mahasiswa Polimedia prodi Broadcast sukses dengan nilai yang memuaskan, walau tentu saja ada yang susah mendongkrak nilai karena malas bertemu diriku yang kece ini di kelas. 
Mahasiswa Broadcast tahun kedua cukup banyak ada tiga kelas dengan setiap kelas harus berbagi napas dengan 30 orang. Luar biasa antusias mahasiswa tahun ini sangat jarang yang terlambat. Aku yang biasanya suka kesal dengan mahasiswa terlambat jadi ikut hanyut semangat pagi. Tahun ini pula harus aku lepas prodi Fotogarfi, bukan malas karena mahasiswanya malas juga, tapi karena si 'Waktu' yang tidak bisa berbagi. Yah waktu aku hanya dua hari di Polimedia berbeda dengan tahun kemarin yang tiga hari.
Ada cerita seru dan mungkin mengesankan atau mungkin mengesalkan bagi mahasiswa dan dosen. Ruang kelas dengan gedung megah di Tower ternyata minim fasilitas dan benar-benar menyuruh dosen 'Stand Up Comedy'. Untungnya para dosen sudah piawai jadi stand up 4 jam pun tak ada masalah. Minggu ketiga perkulihan dengan prasana yang juga belum tersedia, ada aksi dari mahasiswa broadcast, mereka berganti kostum dengan kostum main alias benar-benar tak pantas untuk dipakai kuliah. Sayangnya saya tak punya dokumen tersebut. Padahal inilah sejarah pergelutan mahasiswa yang menuntut hak dengan cara berbeda, cara "Broadcast'.


Aku sebagai dosen miris juga melihat aksi mereka, karena menurutku harusnya aksi mereka di hadapan pimpinan kampus bukan pada dosen. Harapan muncul ketika Direktur melihat aksi mereka dan akan memenuhi tuntutan mahasiswa. Aku sendiri sebagai dosen beraksi juga tidak memberikan modul kuliah, hehehehehe.

Monday, June 10, 2013

EDITOR YANG LONG TIME


Ini ceritaku seorang editor yang tercebur di kurikulum 2013. Hari itu di bulan Februari 2013 sore pukul 16.00 HP berdering kulihat dilayar nomor ponsel temanku Kristin seorang dosen dan pegawai Puskur. Dia mengajakku untuk datang ke Polimedia membantu Kristin mengedit buku pelajaran tematik SD. Awalnya aku ragu karena harus ke Polimedia untuk menginap. Tapi karena naluri seorang guru yang KEPO buanget ingin tahu 2013 akhirnya walau tanpa kesepakatan bagaimana nilai upah yang kuterima, akhirnya aku minta ijin Kepsek yang dengan legowo (apa terpaksa ) mengijinkan aku untuk cuti 2 hari (Kamis dan Jumat) itupun dengan senyum manis minta ijin dengan Dasto sang Sidikor agar biasalah titip jariku.

Sehabis Magrib dengan seijin suami aku pacu si Moni ke Polimedia tepatnya ke Wisma Polmed. Di sana sudah menunggu rekanku Dardji si Embah yang tadinya bangga dengan ditunjuknya dia menjadi editor. Bagaimana yah perasaannya ketika tahu aku juga ikutan jadi editor? di ruang atas wisma sudah ada Direktur Polimedia Bapak Bambang, Inggris dosen editor, dan Kristin. Jadilah malam itu aku membantu Kristin mengedit tematik SD kelas IV. Hari kedua di Wisma datanglah rombongan para penulis buku mata pelajaran. Mereka yang nantinya akan menjadi penulis. Awalnya tidak ada namaku di deretan editor buku mapel. Direktur Polimedia mengenalkan para penulis dan namaku ada untuk menjadi editor buku Seni Budaya katanya karena  namaku sama SENI (bisa aja).

Awalnya kami para editor penuh semangat menjalankan tugas negara yang katanya dikejar Dealine. Tidurpun  kurang, bahkan kadang lupa untuk pulang. Pernah aku pulang pukul 23 WIB, sudah dipastikan yah sampai berapa aku di rumah. Bahkan tetanggaku mengira aku baru pulang kampung karena sampai rumah sudah menjelang pagi. (aduh... malu banget). Mulai saat itulah waktuku tercurah untuk menjadi editor  buku kurikulum 2013. Penulisku yang awalnya 4 orang yang datang dari berbagai lapiran penulis, ada yang guru, penulis di penerbitan, hingga pelatih seni. tinggal mereka juga tidak ada yang di Jakarta. Penulis awal Seni Budaya yaitu: Seni Rupa :Harry Sulastianto, Seni Musik : Encep Seni Tari : Nana Supriyatna (yang kini sudah almarhum), dan Seni Teater : Sekar Galuh. Mereka datang dengan konsep penulisan yang berbeda-beda yang membuat aku dan bu Ratni (Supervisor Editor) sakit kepala. Ada di antara penulis yang tidak bisa diajak kerjasam dalam satu tim, maunya keinginan dia saja. Kalau sudah begini aku serahkan pada mereka maunya bagaimana.

Tidak berapa lama, aku mendapat tugas tambahan menjadi editor PJOK yang awalnya dipegang oleh Pak Purnomo Pudir I. Pekerjaanku yang ini sia-sia karena ternyata yang aku kerjakan bukan buku PJOK yang akan dipakai. (alamak apa pula ini). Tapi tak ada yang sia-sia, karena dengan menjadi editor PJOK aku banyak belajar tentang ilmu kesehatan dan menjaga kesehatan.
 Menjadi editor buku kurikulum 2013 membuatku mengenal para epjabat Kemdiknas, mulai dari Kepala Puskur bapak Ramon. Staf ahli menteri bapak Alkaf Alkatiri (yang ini punya cerita sendiri, nanti yah aku ceritakan di story berikut).Juga aku mengenal bapak Cipto (ini jabatannya apa yah?). Tidak itu saja aku juga banyak terlibat dengan para epjabat dan staf dari Puskurbuk, bahkan Pak Eri Utomo yang tadinya aku ga tahu apa jabatannya menjadi teman yang asyik dikala kejenuhan melanda. ternyata pa Erry yang aku eknal itu adalah Kepala Puskur Dikdas (nah Loh nanti aku banyak ini minta bantuan beliau).
 Editor yang andal adalah editor yang selalu mengedepankan penulis sebagai satu-satunya pemberi konsep. Itulah yang aku pegang selama aku menajdi editor buku kurikulum 2013. Satu kata pun yang aku rasa kurang pas selalu aku diskusikan dengan penulis. Baik melalui telepon atau kami berbincang langsung membahas buku. Tapi kejadiannya tidak demikian dengan buku Prakarya yang akhirnya menjadi tanggung jawabku karena aku ditugaskan menjadi editor Prakarya. Para penulsinya hanya ramah di depan, di belakang ia menghina, menjatuhkan aku di depan para setter yang mereka adalah mahasiswa Polimedia. Gerombolan penulis prakarya itu adalah : Suci (yang katanya lahir di jepang dan anak diplomat yang tidak bisa berdiplomasi) penulis Pengolah, ada Dewi Handayani penulis Kerajinan. Erni guru Semut-semut yang gayanya manis banget ketika berbicara yang ternyata di belakang mengatakan akau ga becus ga bisa mengedit yang benar. Istilah yang mereka gunakan saja terjadi miskomunikasi, kalau mereka memang saling menghormati harusnya mereka membahasnya bersama denganku bukannya malah menghujat dari belakang.
 Nona atau Christina Tulalessy adalah editor andal yang mengajarkan banyak hal padaku tentang bahasa. terima aksih yah Nona, ilmunya selalu aku ingat. Kata beliau kalau ada kata masing-masing maka




Thursday, March 7, 2013

PASCASARJANA-KU

AKU SEKARANG M.PD (Makin Percaya Diri)


Alhamdulillah ya Rabb, akhirnya perjuangan dua tahun tuntas sudah, penantian 4 jam menunggu detik-detik sidang tesis yang mendebarkan sudah berlalu. Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.30 Wib aku lulus menjadi magister pendidikan atau M.Pd. Nilainya juga tidak menegcewakan 86.78 atau A-.
Ada cerita dibalik M.Pd yang berhasil aku raih. Mau tahu ceritaku??? Ini ceritanya

Ini ceritaku ketika menjalani sidang tesis. Setelah satu bulan setengah menunggu karena aku mendaftar sidang tgl 29 Januari, baru tgl 1 Maret 2013 ada SMS yang isinya briefing untuk sidang tgl 6 Maret 2013 nanti. Tadinya seorang teman yang mendaftar sidang sebelum aku kok sudah di SMS untuk sidang, karena aku penasaran maka, Rabu 29 Februari siang setelah mengajar di Poltek, aku ke Kampus. Menyebalkan juga bertanya dengan staf TU di Pasca, seorang wanita dengan wajah tanpa senyum membuatku kesal juga awalnya. Aku masuk ke ruang TU Pacasarjana dengan maksud mencari tahu kok aku belum dipanggil untuk sidang. Ada beberapa staf TU di sana karena yang pria sibuk maka aku bertanya dengan seorang wanita berambut panjang bertahi lalat (belakangan aku baru tahu namanya). “Mbak maaf mau tanya saya belum dipanggil sidang yah”, tanyaku.
Dengan datar dan tanpa senyum si Mbak menjawab,” Namanya siapa Bu?”. Aku jawablah namaku, kemudian dia mengatakan bahwa dirinya kebetulan sedang ingin memberi kabar lewat SMS untuk aku agar datang Jumat nanti untuk briefing. 
Karena merasa aku sudah hadir di sana maka aku katakan, “ ga usah di SMS mba kan saya dah ada apa sih isi SMS nya?”, 
Dengan ketus dan juga tanpa senyum si Mba menjawab,” Nanti Bu, baca aja SMS nya”. Alamak mahal kali, tak mau ia rupanya membagi informasi langsung maunya menggunakan teknologi yang selalu ia genggam.
Tak berapa lama HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk. Aku baca isinya tentang jadwal sidang dan briefing hari Jumat pukul 13.00, katanya juga kalau sudah terima SMS mohon konfirmasi. Karena aku ada di sana, maka aku konfrmasi secara lisan aku katakan pada si Mba Jutek, “Mba aku konfirm yah”,
Esok harinya kamis, aku dikejutkan dengan dering HP, dan kulihat  no si Mbak yang SMS kemarin katanya ‘Bu dah terima SMS belum?”, 
Aku jawab “Sudah”.
Terus katanya lagi,”Kok belum konfirm?”
Aku jawab lagi ,”Kan saya ada di sana waktu itu dan secara lisan aku jawab ,”Mba aku konfirm yah”. 
Terus kata si Mbak,”Harusnya SMS balik Bu”. O.. alaalallallallllaaaa... ternyata hari gini birokrasi masih aja dipakai. Yah sudahlah dengan jengkel dan mangkel, aku SMS aja, yang isinya: “Mba yang terhormat setelah mendapat SMS saya konfirmasi untuk kehadiran saya nanti briefing sidang tesis yah, terima kasih.” Hahahahahhah mau tertawa rasanya dengan kelakuan si Mba. Kata temanku mungkin dia hanya melaksanakan prosedur saja biar ada bukti fisik kalau sudah mengirim dan dapat konfirmasi dari peserta sidang. Ah masak sih apa mungkin SMS di HPnya ditunjukkan ke koordinator? Menurut pembaca mungkinkah? Karena saya lihat dia selalu mainkan HP di TU di sela-sela kerjanya, entah siapa yang dia kirimkan SMS kan tidak mungkin tiap hari sidang.
Nah itu cerita sebelum sidang, mau tahu kelanjutan cerita sidang tesisiku...??? baca lagi yah semoga ga bosen.
Hari itu Rabu, 6 Maret 2013, pagi itu aku berangkat dengan semangat yang deg-degan, mampir dahulu ke rumah orangtua memohon restu. Kebetulan ada adik ayahku yang datang dari Palembang untuk menengok ayahku yang sudah sebulan ini sakit. Restu dan doa aku mohonkan agar aku dapat lancar menghadapi sidang nanti.
Si Moni yang perkasa membawaku melaju ke Depok, yah pagi nya aku masih mengajar di Poltek sekaligus masih jadi tim editor buku teks kurikulum 2013. Pukul 10.00 setelah mengajar, aku lanjutkan mengedit buku di ruang aula lantai 3. Pukul 12 aku pamit karena perjalanan ke kampus takut macet, padahal aku peserta ke 18 dari 20 peserta sidang. Sampai di kampus masih pukul 12.30, setelah registrasi perutku yang keroncongan meminta diisi. Aku ajak satu kawanku tapi karena lagi etgang tak ada niatnya untuk makan. Jadilah aku pergi makan seorang diri. Menu soto ayam aku pilih sambil tidak lupa membelikan penganan untuk teman yang tegang.
Masih pukul 13.00 sehabis sholat dan memohon petunjuk Allah SWT, aku berkumpul dengan sesama rekan di ruang perpustakaan. Satu persatu dipanggil untuk sidang, ada yang etrtawa bahagia, ada yang menangis, ada yang tersenyum simpul. Rekan-rekanku yang belum sidang sibuk menghapal, mencatat, dan berlatih. Aku sendiri bingung, mau ngapain yah. Akhirnya kuputuskan untuk mengademkan hati aja biar tidak bertambah tegang.
Akhirnya saat itu datang juga tepat pukul 15.30 aku maju sidang. Setelah berdoa Bismillah aku mulai prsesntasi, suaraku mantap dan lugas, pertanyaan pertama dari pak Supeno, dekan Bahasa katanya”Eksperimen apa yang Anda lakukan?” aku jawab dengan jelas dan pasti. Selesai. Pertanyaan selanjutnya dari Prof Maryoto, katanya” Anda belajar SPSS dari siapa? Aku ajwab prof Suparman dan baca buku. Trus katanya, kok angkanya tidak relevan, coba diteliti lagi mungkin ada yang salah dalam memasukkan data yah”. Aku menurut dan mengangguk karena hanya itu senjata selanjutnya.
Setelah semua peserta sidang selesai waktunya Yudisium. Semakin deg... deg...an nih. Ya Allah semoga sukses minimal dengan nilai yang tidak memalukan. Maklumlah ada 6 orang temanku yang aku buatkan Tesisnya , masa nilaiku di bawah mereka malunya nanti.
Setelah pesan dan kesan dari Bapak - bapak Profesor penguji dengan harapan agar kami dapat mengamalkan ilmu yang kami miliki, akhirnya ibu Sumaryati selaku sekretaris Pasca mengumumkan nilai kami. satu persatu diumumkan dan akhirnya tiba nilaiku. "Seni Asiati dengan nilai 86.78 predikat A-. Alhamdulillah Ya Rabb akhirnya aku lulus juga. Puji syukurku padaMu Zat yang Maha Mengetahui.
Nah bagaimana dengan pembaca? semoga pengalaman ini dapat memotivasi pembaca untuk maju dalam pendidikan

Monday, September 17, 2012

PENGUMUMANAN

TIPS MEMBACAKAN TEKS PENGUMUMAN

Berbicara ternyata tidak semudah menulis, perlu keberanian untuk melakukannya. Apalagi bila berbicara itu kita lakukan di depan orang yang belum kita kenal. Cara membuka percakapan agar tidak terkesan basa basi perlu diketahui. Berikut ini tips membacakan teks pengumuman.
1.       Ucapkan setiap fonem, kata, atau frasa dengan lafal yang benar agar mudah dan jelas dipahami orang
2.       Lafalkan kata secara tepat, karena kesalahan pelafalan dapat mengubah makna
3.       Lagu kalimat (intonasi) hendaknya bervariasi. Tinggi rendah, lambat-cepat, dan keras lembutnya suara harus benar-benar diperhatikan
4.   Pemberian jeda atau perhentian sementara yang tepat. Jeda adalah perhentian sebentar untuk mengambil nafas
Misalnya :
a.       Pemilik  mobil/ B 1943 OUE/ diharap/ ke tempat parkir//
b.      Mahasiswa baru/ belajar di gedung baru//
c.       Mahasiswa / baru belajar/ di gedung baru//

Pengumuman yang di tulis tentulah berbeda dengan pengumuman yang dilisankan. Pengumuman tertulis hendaknya memakai kalimat yang efektif dan komunikatif. Pengumuman seperti itu mudah dipahami dan tidak menimbulkan kesalahan pemahaman bagi pembacanya. Kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, kjelas, dan sesuai dengan tata bahasa yang benar. Sedangkan kalimat yang komuniaktif  adalah kalimat yang menggunakan kata-kata atau istilah yang tepat dan mudah dimengerti oleh pembacanya.
Perhatikan contoh berikut :
1.       Bagi kelas yang tidak mengikuti lomba akan dikenai sanksi.
2.        

IMBUHAN

PROSES AFIKSASI

Kali ini mari kita bahas Afiksasi yang terdapat dalam bahasa Indonesia dan penggunaannya dalam kalimat.
Afiksasi adalah bentuk kata berimbuhan yang terdiri atas prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), konfiks (gabungan awalan-akhiran), dan simulfiks (awalan dan akhiran). Dalam proses imbuhan dapat berakibat perubahan jenis kata, bentuk kata, dan makna kata.
misalnya :
Kata Duduk
  • Jenis kata    :  Kata kerja : Duduk
  • Makna kata  : Proses
  • Bentuk         : kata dasar
Setelah mendapat afiksasi ke-an, maka ada perubahan yaitu : Kedudukan
  • Jenis kata     : Kata Benda
  • Makna kata  : sesuatu yang di-
  • Bentuk kata  : kata jadian
1. Prefiks (awalan)
    Imbuhan Me (N), Pe (N),be (N), di-,  ter-, ke-,  yang terletak di depan kata
    Misal : me (N) + pukul = memuku 
2. Infiks (Sisipan)
    Imbuhan -el, -er, ir, yang terletak di tengah sebuah kata
    Misal : -er + gigi         = gerigi
               -el + gembung = gelembung
3. Sufiks (akhiran)
    Imbuhan -an, -i, -kan, -nya, -man, -wan, -wati
    Misal  : peluk + an = pelukan
                marah + i   = marahi
                terang + kan = terangkan
4. Konfiks (gabungan)
    Imbuhan me (N)-kan, pe (N)-an, Me(N)-i, yang terletak bersama-sama di awal dan akhir suatu kata.
    Misal  : me (N)-kan + terbang = menerbangkan
                pe(N)-an + tanggung jawab  = pertanggungjawaban
                me(N) -i + garam = menggarami
5. Simulfiks (gabungan)
    Imbuhan me (N)-kan, pe (N)-an, Me(N)-i, be(N)-an yang terletak di awal dan akhir suatu kata. secara  bertahap
    Misal : peluk + -an = pelukan + ber = berpelukan
               salam + -an = salaman + ber = bersalaman



Thursday, September 6, 2012

PASCASARJANA UNTUK GURU INDONESIA

Semester 3 di UI nya Indra


Tulisan ini seperti halnya tulisan lain adalah pengalaman untuk saya bagikan pada semua teman khususnya guru dan juga pembaca blog saya. Harapan di hati, tulisan ini bisa berguna apalagi seiring pemasukan sertifikasi (ha...haa..haa), guru perlu meningkatkan profesionalismenya.


Alhamdulillah, tidak terasa sudah semester ketiga. Kegiatan rutin setiap hari Sabtu yang aku lakukan dari pukul 08.00 - 16.00 untuk mencoba menambah ilmu dan gelar… he..he..he.  Perjalanan Cilincing - Tanjung Barat alias rumahku ke kampus UNINDRA, awalnya memang melelahkan, namun seiring berjalannya waktu rasanya aku memang membutuhkan tambahan wawasan, bayangkan saja ternyata ilmu linguistik, sosiolinguistik yang aku terima di semester sebelumnya ternyata masih kurang. Semester 3 ini Psikolinguistik aku pelajari dengan dosen linguistik sewaktu di semester 1 lalu yaitu Prof. Dr. Basuki Suhardi, seorang pakar linguistik yang mumpuni.
Selain itu bertemu kembali dengan ibu Dr.Hj.Juniar Aji yang mengantarkan matakuliah Desain Kurikulum, alamak apa lagi nih masa kurikulum yang penting diajarkan oleh orang yang kurang menguasai, mau dibawa kemana ni gelar master nanti masa setengah mateng. Yah, apa mau dikata walaupun kurang namun ibu Juniar memberi ruang kepada kami untuk mencari bersama alias sharing tentang kurikulum bahasa.
Dosen ketiga menjadi dosen yang merangkap 2 mata kuliah yakni Dr.E.Zaenal Arifin, semester ini beliau mengajar mata kuliah Kajian wacana dan Seminar. Nah, kalau dosen yang satu ini pas ketika mengajarkan mata kuliah Kajian Wacana, untuk Seminar kayaknya karena karena kurang konsep maka kami langsung ke praktik presentasi seminar tesis yang akan kami ajukan nanti. Selama satu semester setiap Sabtu ada 2 orang teman maju untuk presentasi seminar, bersama-sama kami bahas mulai judul perumusan masalah hingga hipotesis. Walaupun agaknya kurang sreg dengan metode mengajar beliau tentang seminar, namun aku berharap mata kuliah seminar bisa aku terima dengan baik. Dosen terakhir adalah Direktur Pascasarjana yaitu Dr. Suparman, beliau mengajar Aplikasi Komputer, mata kuliah ini mengajarkan bagaimana menggunakan SPSS dalam menghitung sample dan hasil akhir yang dicapai.
Semester 3 ini memang makin mendewasakan dan mengegokan masing-masing teman di kelas, sifat dan watak yang mulanya tidak muncul makin terlihat, semoga tidak memunculkan sentimen dan persaingan dalam perolehan nilai.
Kuliah di Unindra membuat warna tersendiri dalam mendewasakan diriku. Semoga apa yang aku terima akan berguna untukku dan anak-anak didikku nanti. Oh ya aku membuat perhitungan kalkulasi biaya kuliah loh rinciannya sebagai berikut (tidak termasuk buku-buku)
Semester 1
Formulir                    : Rp    200.000
SPP                          : Rp 2.000.000
Dana Pengembangan : Rp 3.500.000
UTS                         : Rp    150.000
US                           : Rp    240.000
Jumlah                      : Rp 6.090.000

Semester 2
Daftar ulang             : Rp    200.000
SPP                        : Rp 2.000.000
UTS                       : Rp     150.000
US                         : Rp     240.000
Jumlah                    : Rp 2.590.000

Semester 3
Daftar ulang            : Rp    200.000
SPP                       : Rp 2.000.000
UTS                      : Rp     150.000
US                        : Rp     240.000
Jumlah                   : Rp 2.590.000

Semester 4
Daftar ulang           : Rp    200.000
SPP                      : Rp 2.000.000
Bimbingan Tesis    : Rp 2.000.000
Jumlah                  : Rp 4.200.000

Jadi jumlah keseluruhan uang kuliah di Pascasarjana UNINDRA tahun 2011-2012 adalah..........................
(TOLONG ISIKAN YAH GA TEGA NIH ISINYA SOALNYA JADI BERTANYA ADAKAH YANG LEBIH MURAH DARI INI?????????)



Wednesday, June 6, 2012

Rekreasi dan Prestasi

Rekreasi diantara Prestasi


Kedua buah hatiku sudah selesai Ujian nasional anakku yang pertama Natasha Anissa lulus dari SMA nya dengan nilai yang sesuai dengan kemampuannya. walaupun untuk jalur undangan belum bisa diterima, namun setidaknya cukup membahagiakan bila ia dengan penuh semangat mau untuk emlanjutkan pendidikan yang tinggi.
anakku yang kedua Raynaldi Krista lulus dari SMP nya dengan hasil yang cukup juga. 

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...