Thursday, December 24, 2020

Pasien Covid-19 Pasti Sembuh

Berjemur salah satu usaha menghilangkan  Virus Covid-19????

Kamis, 24 Desember 2020
Hari ketiga di Wisma Atlet
Pagi pukul 06.00 WIB



Tidak terasa sudah 3 hari aku dan ponakanku Selli di Wisma Atlet untuk isolasi karena kami terpapar virus corona. Awal masuk Wisma Atlet Selasa, 22 Desember 2020. Akhirnya merasakan juga bagaimana jadi pasien dan tinggal di Wisma Atlet. Hal yang tidak terbayangkan sebelumnya dan ini nyata adanya. 
Hari ini masih pagi aku terbangun sholat Subuh dan membuka jendela masih pagi masih pukul 05.00 WIB di bawah belum banyak pasien yang berolahraga. Hari ini jadwal kami ubah biasanya langsung turun dan naik kembali karena lift yang antre jadilah kami ubah jadwal yaitu:
Pukul 07.00 makan pagi + minum obat
Pukul 08.00 turun dan berjalan 5 putaran mengitari wisma atlet.
pukul 09.30 cari posisi untuk berjemur sampai pukul 10.10.
Baru naik ke kamar untuk mandi dan mencuci pakaian. Kami harus mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari karena pakaian itu sudah kami pakai bertemu para pasien, menjaga supaya virus yang masih ganas itu tidak menempel di pakaian. Nah, itu jadwalnya. Jadi kami ke ruang perawat untuk ambil makan pagi dan obat. 
Menu makan pagi dan obat-obatnya
Obat pagi 3 tablet.

Makan pagi sudah, minum obat sudah waktunya untuk olah raga dan berjemur. Lift di tower 6 ini yang berfungsi hanya 1 jadilah kami harus sabar menunggu 30 menit untuk turun ke lobi. Pakaian kami sudah seperti atlet yang siap tempur untuk Sea Games hehehehe. Pokoknya niat sudah pasti keliling wisma 5 putaran. 
Sepatu sudah sama dengan gelang "Pink"

Baru satu putaran bertemu dengan Bang Ano dan Kak Immah yang sudah meet up di lapangan. Aku ajak mereka bergabung untuk mengitari wisma. sayangnya Imah ga sanggup karena penyakit "gerd" sehingga gampang lelah. Matahari sudah tidak malu-malu dan pasien Covid sudah banyak yang cari posisi untuk berjemur. Aku dan Seli tetap dengan niat semula mengitari wisma 5 putaran baru berjemur. Kami hanya jalan saja sambil memperhatikan sekeliling. Duh, semakin banyak yang jadi pasien kapan corona berlalu yah sudah lelah dengan semua ini.
Lima putaran sudah kami lakukan kemudian cari posisi untuk berjemur. Imah sudah ambil posisi dengan kursi yang didapatnya. Yuk, mulai berjemur deh kami seperti biasa foto-foto untuk pertemuan ini.



Iseng mumpung bertemu aku wawancara Imah dan bang Ano seputar pengalaman menjadi orang yang terpapar virus yang mematikan ini. Semoga ini jadi pembelajaran yang berharga buat kami dan juga orang-orang di sekitar kami agar tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan.





Nah, bagaimana? Semoga pengalaman kami tidak menimpa orang lain. Tetap waspada dan jaga kesehatan yah. Kami lalai sehingga virus itu ikut di tubuh kami. Selesai berjemur pukul 10.10 waktunya naik ke kamar lagi. Seperti baisa lift nya antre dan yang naik banyak ga menjadi sosial distanching. Sayang banget dah yang kasihan kalau ada perawat yang ikutan walau baju mereka hazmat tapi kasihan harus berdesakan dengan kami yang sudah terpapar.
Sampai di lantai 20 mampir dulu ke ruang dokter mau tensi darah dan mau konsul karena perutku masih panas. Ternyata kami para pasien diwajibkan tensi pukul 06.00 oalaaaa ga tahu dok, maafkan yah. Alhamdulillah tensiku baik yang tidak diketahui oksigen dalam darah. Kayaknya harus beli deh alat ini biar ga tergantung sama dokter. Balik ke kamar sambil menenteng snak yang sudah disiapkan. Alhamdulillah makanan tidak sampai kelaparan semua serba disediakan oleh pemerintah. Snaknya  lumayan deh.

                                            Tuh snaknya deh tambah imun kan?

Snak sudah habis dan aku tambah dengan yakult juga vitamin lainnya tidak lupa madu juga masuk ke perut. Kemudian aku mandi dan mencuci pakaian yang kami pakai untuk olahraga. Karena disediakan air panas, lumayan pakaian kami rendam dengan air panas biar kumannya mati.
Tak lama makan siang sudah siap dan kali ini makananku berbeda karena tensi yang lumayan tinggi jadi makanan aku dibedakan dengan kepunyaan Selli. Yang terpenting makan supaya imun tambah dan mengusir si Corona dari tubuh.
Sore, Pukul 17.00
Aku dapat telepon dari anakku ia datang mengirimkan makanan. Aku pesan bakso yang panas dan tentu saja titip sambal biar makan baksonya nendang. Sore ini rencana mau jalan mengitari wisma urung karena bakso yang masih hangat perlu segera dimakan biar tidak dingin. Oh, yah temanku di Kappija 21 yaitu Bang Affan juga mengirimkan makanan Tiramisu. Benar-benar rezeki sore hari selain itu Defri juga mengirimkan madu. Hanya Defri tidak tahu aku diisolasi di wisma atlet. Semakin sedikit yang tahu semakin membuatku aman saja karena menjadi pasien Covid pastinya jadi artis dadakan jadi perbincangan orang banyak. 


Bukan itu saja, mamahku juga ga tahu kalau aku jadi pasien di wisma atlet. Yah, semoga mamah ga tahu jadi membuatku tidak bersedih membayangkan mamah memikirkan kami nanti. Bukan itu saja suamiku juga ga tahu, biarlah nanti jadi pikirannya lagi. Pokoknya hari ini makanan kami banyak sekali, rezeki dari orang-orang tersayang.


Makanan dari Wisma bahkan belum aku makan. Hari ketiga hanya demikian ceritaku semoga 10 hari nanti kami dapat melewatinya dengan penuh semangat. Untuk Pasien Covid-19 kita harus semangat lakukan dengan hati yang gembira. Jika kalian datang sendiri tanpa keluarga di Wisma Atlet ini, ingatlah kamu beruntung karena keluarga tak ikut serta. Yang di luar jangan sampai terpapar yah. lakukan protokol kesehatan agar terhindar dari virus corona. 
Waktunya tidur setelah seharian berjemur keliling Wisma dan tentu saja makan. Kegiatan ini ga bakalan aku lakukan kalau aku isolasi diri di rumah.

Saturday, December 19, 2020

Ciri-Ciri Covid-19 dan Penyembuhannya

Aku Terpapar Virus CORONA (Karumbie yang Memerah)



Ini ceritaku bersama 3 Bidadariku, Tasya, Olivia, dan Prita. Biasanya kami selalu pergi berempat di masa pandemi ini dari hotel ke hotel mereka menemani aku kegiatan. Aku diberikan fasilitas satu orang satu kamar, jadi aku selalu mengajak mereka. Sepanjang pindah dari hotel ke hotel, aman-aman saja, tentu saja karena kami benar-benar menjaga protokol kesehatan. walau tidur ramai-ramai tapi aku benar-benar tahu bahwa kami dalam kondisi yang fit.  Bahkan kami sudah sampai ke Semarang, Solo,  dan Anyar, kami jalani berempat. Yah, ber-4 hingga datanglah satu masa, jika Allah sudah berkehendak. Teguran Allah agar aku tahu diri dan mengistirahatkan tubuhku.
Sabtu, 12 Desember 2020, waktu Subuh tepatnya pukul 05.00, kami ber-4 sudah siap untuk menjelajah hutan Karumbie bersama rombongan organisasiku Kappija 21. Awalnya kami ber-4 saja di mobilku hingga cek point kami di KM 57, Kak Manis yang tadi ada di mobil lain pindah ke mobilku. Nah, disitulah awal mula kisah ini. sepanjang jalan aku ngobrol tanpa sosial distanching padahal aku tahu Kak Manis sedang sakit dan tidak kepikiran dia dalam kondisi yang tidak fit benar yang aku tahu dia hanya kecapaian saja. Kami ngobrol dalam 3 jam perjalanan dari KM 57 sampai Hutan Karumbie dengan mobil yang ber AC. Kebayangkan udara hanya ada di sekitar mobil saja. 
Sampai lokasi di hutan Karumbie, Kak Manis semakin terlihat sakit dan lelah. Dia banyak duduk dan tidak mengikuti acara. Aku yang kebagian jadi MC masih segar bugar memandu acara yang kami buat meriah. Bahkan aku sempat ke hutan naik mobil buaya dan bersenang-senang di hutan. Pukul 15.00 WIB, acara selesai dan kami pulang ke tempat masing-masing. Semua akan pulang ke Jakarta kecuali aku dan anak-anakku akan menginap di Bandung. Kak Manis dan tambah satu lagi Kak Lika ikut mobilku. sepanjang jalan kami ngobrol ngalor ngidul sampai berpisah di pintu tol Cileunyi karena Kak Manis harus pindah mobil. aku dan anak-anak, 3 bidadari dan kak Lika melanjutkan perjalanan ke Bandung turun di  Tol Pasteur. Kak Lika turun di Pasteur dan kami ke hotel di Setiabudi. Badanku sudah ga enak mulai demam. Mandi air panas mudah-mudahan meringankan tubuh yang mulai ga enak, mungkin cape setelah kegiatan di hutan yang lumayan menyita tenaga. Anak-anak habis Isya pergi jalan-jalan menikmati Bandung. Tubuhku mulai berontak ingin rehat. Esok paginya aku masih mencari nasi kuning dengan Oliv di luar hotel. Rasa mulut sudah tak nyaman apalagi WAG banyak yang membuatku jadi was-was. Rencana anak-anak mau menghabiskan waktu di Bandung akhirnya anakku Tasya ngebut pulang ke Jakarta. Perasaanku sudah mulai tak enak. Badan lemah dan kepala pusing. Rasanya tak karuan jadinya aku sudah berpikir jangan-jangan aku kena Covid 19. Innalilahi, aku sudah menangis membayangkan anak-anakku, 3 bidadariku, teman-temanku di Kappija seandainya benar. Seandainya aku menjaga protokol kesehatan dengan baik dan jaga jarak mungkin tak seperti ini.
Tiga hari dapat kabar kak Manis masih demam dan PCR hasilnya POSITIF rasanya dunia semakin bergemuruh aku bayangkan anak-anakku ini Ya Allah. Badanku sendiri sudah lemah dan tengorokan berdahak. Hari Jumat dapat kabar lagi adik Kak Manis  yaitu Bang Ano juga POSITIF, semakin menciutkan nyali, kami sudah membuat KLASTER BARU!!!!!!  KLASTER KARUMBIE.

Akhirnya aku putuskan untuk PCR apapun hasilnya aku harus siap dengan segala resiko semoga anak-anakku tidak terkena virus mematikan kasihan mereka gara-gara aku kena imbasnya. Selli ponakanku ikut Swab tapi swab antigen, dia batuk pilek dan demam juga sama denganku. Kami lakukan  tes di drive tru karena aku trauma dengan orang banyak. Setelah mengantre cukup lama kira-kira 15 mobil tiba giliranku PCR. Pertama-tama hidung dimasukkan alat seperti cotton bud dikorek-korek hingga pangkal hidung, kemudian rongga mulut sampai tengorokan. Pulang ke rumah aku mulai jaga jarak dengan anak-anakku. Aku tak mau mereka kena imbas dari sakitku yang menular ini. Setiap aku habis memegang sesuatu di rumah langsung aku semprot cairan disinfektan, pokoknya aku meminimalisir keadaan rumah jangan sampai tertular. Kegiatan lebih banyak aku lakukan di dalam kamar. Sesekali ke luar kamar kalau anak-anakku tidak di ruang tamu. Dua hari kemudian atau hari Senin, 21 Desember 2020 sore hasil PCR ku keluar, aku COVID-19. Ya, Allah aku sudah menjaga tubuhku ternyata sakit ini ga pandang bulu. Seminggu di rumah aku merasa ini harus diakhiri, dengan bantuan teman dari BNPB Pak Joko aku memutuskan untuk diisolasi di Wisma Atlet. Tetapi aku tak mau dijemput oleh ambulance, membayangkan kehebohan di lingkunganku akhirnya aku diantar anakku Raynaldi ke Wisma atlet, oh ya Selli ikut juga karena dia sudah positif seperti aku. 


Prosedur ke wisma atlet tidak susah membawa surat hasil PCR dan KTP kemudian kami diperiksa. Karena aku sudah berumur di atas 50 tahun jadi banyak yang diperiksa mulai ambil  tensi darah, ambil darah, periksa ekg atau jantung. Selli dipanggil dulu untuk dapat kamar, aku meminta dokter agar diperbolehkan satu kamar dengan Selli. Dokter dan para perawatnya sangat baik, mereka melayani dengan sabar. Selain itu paramedis masih muda-muda.Tak berapa lama aku pun masuk kamar. Kami sudah kaya mau vacansy atau liburan dengan bawaan koper dan pernak-pernik menginap, maklum 14 hari kami akan menghuni wisma atlet ini.  Tidak terbayang kalau sendiri datang tak ada teman untungnya ada Selli ada teman mengobrol.



Kami masuk kamar tepat pukul 14.13 WIB. Oh, Ya kamar kami 62031 atau ada di Tower 6 lantai 20 kamar 31. Kami sudah dikasih nasi box untuk makan siang, Alhamdulillah jadi cerita kelaparan sepertinya tidak akan terjadi deh. Masuk kamar mulai bebenah pakaian ke lemari. Oh, Ya kamar kami ada ruang tamu, dua kamar yang satu tempat tidurnya dua dan satu lagi tempat tidurnya satu. Aku kamar yang besar dan Selli kamar yang kecil. Sore atau pukul 16.30 WIB kami lihat di bawah atau di pelataran taman sudah banyak pasien covid yang berolahraga. Ada yang bermain volley, senam, dan lari-lari mengitari wisma atlet. Kami memilih berjalan kaki mengitari wisma atlet kemudian duduk melihat para pasien beroleh raga. Pokoknya suasana pada sore itu sungguh ramai. Duh, aku masih trauma keramaian, apa virus mereka sudah mati atau mereka sudah sehat yah??

Oh, ya sore itu kami pergi ke Roof top Tower 5 di lantai 32. Ternyata pemandangan dari roof top indah sekali dan banyak orang yang menghabiskan sore di Roof top. Katanya menunggu matahari terbenam. Cara ini jadi salah-satu pengusir rasa jenuh dan juga bosan bagi pasien Covid, jadi dibuat happy dengan foto-foto saja biar lupa sama si Covid.hehehehehehe.











Alhamdulillah dengan isolasi di Wisma Atlet aku ga takut keluargaku tertular selain itu makanan dan juga kondisi kesehatan terkontrol. Coba kalau aku di rumah aja bisa-bisa tambah sakit hihihihihi.
Sehabis makan malam, kami istirahat pokoknya tidur benar-benar harus 8 jam jangan kurang biar imun semakin meningkat. Okelah sepertinya dulu saya kurang merasakan enak tidur karena maniak kerja apalagi kalau sudah menulis duhhhh bisa begadang. Ternyata Allah menengurku dengan begitu sayangnya.
Rabu, 23 Desember 2020
Hari pertama aatau tepatnya pagi pertama di Wisma Atlet. Kubuka jendela sudah banyak pasien Covid yang berolahraga padahal masih pukul 06.00. Pagi ini aku dan ponakan akan jalan pagi kemudian berjemur. Ketika melewati ruangan dokter ternyata ponakan harus EKG kemarin dia belum dan juga mengambil jatah makan pagi juga obat. Tuhhhhh bagaimana ga enak, makan tinggal makan, tidur ber AC dan semua fasilitas kesehatan tersedia. Dokter dan susternya ramah-ramah semoga lelah mereka jadi lillah. Allah yang membalasnya. 
Yuk, kita olahraga dan berjemur hari masih pukul 07.00 cukup buat jalan-jalan santai mengitari wisma atlet. Kami bertemu para perawat yang memakai baju hazmat, duh kebayang panasnya mereke memakai baju itu. Aku meminta foto bersama mereka buat kenang-kenangan deh.


Habis dua kali putaran, kami cari tempat did epan buat berjemur. Katanya sih yang bagus pukul 10.00 untuk menguatkan imun, tapi ga apalah buat sinar ultra violet aja biar tambah.

Pukul 8.30 kami balik ke kamar karena si perut mulai bernyanyi. Sayangnya lift yang berfungsi hanya 1 jadi harus menunggu 20-30 menit untuk balik ke kamar yah, harus sabar. Sampai ruang kami siap untuk bersantap dan minum obat. Obat yang kami minum agak sama mungkin bukan obat yah hanya vitamin untuk menambah imun. Bismilllahirahmannirahim semoga virus menghilang secepatnya.
Sambil menunggu pukul 10.00 Kami membaca-baca WAG dan membalas yang bisa dibalas, walau sedih melihat status teman-teman yang berkumpul bersama keluarganya. 
Pukul 09.45 kami ke rooftop di tower 6 mungkin bukan rooftop yah hanya tempat seperti lapangan dan di situ sepi hanya ada 1 orang yang berjemur. Kami pun cari posisi kemudian berjemur sambil memandang keadaan kota Jakarta.

Banyak yang ingin aku ceritakan. Anak-anakku sering menelepon mungkin bersalah karena mamanya harus terisolasi. Ini demi kebaikan semuanya.
Siang waktunya istirahat. Aku dan Selli tidur siang. Benar-benar waktu yang membuatku istirahat. Allah memang menegurku, coba kalau ga sakit, mungkin siang ini aku dah keliling Jakarta entah berlibur kemana. Allah memang Maha Baik.
Sore, pukul 16.30 aku terbangun sholat ashar dan kuintip jendela di bawah sana sudah banyak pasien covid yang berolahraga. Rasanya selalu ingin ikut, coba kalau di rumah mana ada acara olah raga sore, pastinya aku sudah di depan TV dan melihat tontonan yang ga jelas.


Aku bergegas mengajak Seli turun, siap untuk meramaikan jagat Wisma atlet. Kami berjalan santai mengitari halaman Wisma sambil melihat pasien yang berolaharaga Volley. Mataku melihat satu keluarga dengan anaknya yang masih bayi. Ya, Allah virus ini menyerang siapa saja.


Sambil berjalan santai aku memandang keadaan sekeliling, sepertinya jika di sini kami para pasien covid merasa bahwa penyakit ini hal yang biasa, hanya perlu istirahat dan juga menjaga tubuh agar bugar.


Sore ini aku minta dibawakan sabun pencuci baju. Kami harus menjaga kebersihan dengan mencuci baju setiap kami melakukan aktivitas. Aku sih menjaga saja karena lingkungan kami sekarang mengisolasi diri penuh dengan orang-orang yang juga terpapar virus covid-19. Anakku menitipkan di penjaga pintu tower. Tinggal menerendamnya.
Sambil berjalan kami sempatkan mampir atau mengeksplore tower tempat kami tinggal. Aku mengajak Selli ke Roof top di lantai 12. Katanya di sana bisa melihat Jakarta. Sampai lantai 12 sudah ada juga beberapa orang yang santai memanfaatkan Roof top. aku dan Selli mengabadikan moment sore itu dengan berfoto. Yah, apalagi yang bisa menghibur selain kegiatan berfoto. 












Tujuan foto lebih pada mengabadikan moment yang memang aku ga mau mengulang lagi. iyalah siapa yang yang diisolasi lagi di Wisma Atlet, cukup sekali saja dan merupakan pengalaman yang luar biasa bagi hidupku.


Magrib tiba kami kembali ke kamar. Rutinitas minum obat dan menelepon keluarga mengabarkan keadaan kami yang baik-baik saja. Walau rasanya sedih harus berpisah dengan keluarga. Apalagi aku membaca di berita ada pasien Covid yang OTG karena kekurangan oksigen akhirnya tidak selamat, padahal dia baik-baik saja tidak seperti aku dan Selli yang dihajar dengan demam. Semangat yang ada di diri ini semoga tetap menyala sambil aku kasih semangat juga pada Selli.  Sehabis makan malam dengan menu nasi, sayur cap cay, ayam goreng, ikan dan buah jeruk, walau seleraku adalah nasi panas dan kuah sayur, tetap menu itu harus masuk ke perutku agar aku kuat. Obat yang diberikan atau vitamin sih, semakin banyak mungkin karena tadi pagi aku mengeluh sakit kepala dan juga perut yang masih panas. 



Perutku masih ga enak selain itu tadi siang aku sampai tak tertahankan buang air di celana. Duh, kok malah jadi BAB yah. Padahal makan sudah aku jaga ga gila dengan sambel. padahal selera makanku yah sambel. Waktunya tidur dan menulis cerita ini agar aku ga lupa. Selain itu semoga tulisan ini berguna.
Intinya jika terpapar Covid-19 jangan lalai untuk konsumsi makanan bergizi, kalau perlu minum susu, buah juga jangan lupa. tidur cukup dan juga minum air putih.



Saturday, August 1, 2020

PUISI KEMERDEKAAN

PUISI MERDEKA


Baca tiga puisi berikut!
kemudian kerjakan di bagian akhir dari teks puisi ini!

Puisi 1

Bambu Runcing

Karya: Bunda NaRa

Masih ingat bambu runcing

Menusuk tajam di ujung

Senjata pamungkas para pejuang

Mengoyak musuh tanpa ampun

Sambil berteriak MERDEKA

Senjata yang membebaskan Indonesia

 

Bambu runcing jadi saksi sejarah

Ketika darah tergenang

Mata terbelalak

Para pejuang terkapar

Bergelimpangan demi sebuah kata

MERDEKA

 

Mengapa tak ada senjata lain?

Mengapa harus bambu

Sebelum sempat menghantamkan ujung bambu

Timah panas lebih dulu menderu

Tak memberi ampun

Membungkam pekik merdeka

Yang tak sempat mereka teriakkan

 

Bambu runcing

Sejarah panjang bangsa Indonesia

Untuk meneriakkan kata

MERDEKA

(Bandung 1 agust 20)

  

Puisi Kedua

MERDEKA BELAJAR

Karya: Bunda NaRa

 

Merdeka

Merdeka

Terus digaungkan

Bukan karena masih ada penjajah

Bukan karena terbelenggu

Bukan karena miskin kata

Merdeka adalah ruh untuk bebas

Kalimat terpanjang

Untuk diartikan

 

Apa arti merdeka kini

Jika kerjamu tidak selesai

Tidak bisa apa-apa

Karena merdeka adalah usaha

Merdeka adalah bebas

Merdeka adalah kreativitas

 

Merdeka katamu

Bukan merdeka belajar

Jika lisanpun tak kamu gunakan

Jika tulisanpun tidak kau hasilkan

Jika tak ada karya kau tunjukkan

Jadi apa merdeka belajarmu

Jika kamu tak bisa apa-apa

Tak bisa menghitung empat lima ribu kata

Tak bisa berteriak

Aku masih muda

Aku pasti bisa

 

Merdeka belajar

Hasilkan kerja nyata

Bukan permintaan paksa

Kembangkan kreativitas

Bukan publisitas

Merdeka kataku

Kuhimpun kata menjadi kalimat bermakna

Kutorehkan menjadi jejak sejarah

Kusebarkan pada dunia

Lewat digital yang merambah

 

Merdeka belajar

Karyaku mengoncangkan dunia

Memuja

Memuji

Indonesia Raya

Bukan menjilat

Para penguasa

Bukan pinta

Untuk dipuja

(Bandung 1 agust 20)

 

Puisi ketiga

Berkibarlah Merah Putih
Karya: Bunda Nara

Merah putih

Teruslah berkibar

Teruslah membentang

Suci dan berani

Gagah dan ksatria

Tak kenal kata menyerah


Indonesia

Sudah merdeka

Merah putih sudah terkibar

Bukan berarti selesai semua tugas

Bukan berarti tak lagi berjuang

 

Merah darahku

Itu Indonesia

Putih tulangku

Itu Indonesia

Merah putih ada di jiwa ragaku

Tak akan berubah

Menjadi pelangi

Karena pejuangku

Mempertahankan

Merah putih

Sampai darah terakhir


Kibarkan terus merah putih

Gaungkan selalu Indonesia Raya

Hingga dunia tahu

Nusantaraku

Indonesia


Apa yang bisa kamu berikan

Untuk merah putihmu

Jangan bertanya

Apa yang merah putih berikan padamu



Bagaimana hasil bacaanmu?

Tentunya kamu dapat membaca dengan baik. 

Berikut laporan hasil baca. Kamu klik tautan untuk Asensi dan Hasil literasi


Literasi Kelas 7 

Literasi Kelas 8

Literasi Kelas 9


Thursday, July 9, 2020

Arti Merdeka Belajar di Tengah Pandemic Covid-19


Belajar Arti Merdeka


Baca Teks berikut dan KERJAKAN TUGAS LITERASI  diakhir teks!!!




Jika terdengar lagu Indonesia Raya apa yang akan kamu lakukan?
Tahukah kamu sebelum negara kita merdeka memekikkan kata "Merdeka" harus memperjuangkan nyawa. Perjuangan bangsa kita bukan dongeng, bukan omong kosong. Semua dilakukan agar bangsa kita tercinta ini bisa terbebas dari semua bentuk penjajahan.
Kemerdekaan berarti negara tersebut telah terlepas dari penjajahan dan memiliki hak dalam mengatur wilayahnya tanpa campur tangan negara yang menjajah. Kemerdekaan juga berarti suatu negara telah terlepas dari belenggu negara penjajah.


Pertanyaannya apakah kita sudah “merdeka”?
Dengan kemerdekaan, berarti bangsa Indonesia mendapatkan suatu kebebasan. Bebas dari segala bentuk penindasan dan penguasaan bangsa asing. Bebas menentukan nasib bangsa sendiri. Hal ini berarti bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berdaulat, bangsa yang harus memliki tanggung jawab sendiri dalam hidup berbangsa dan bernegara. Bangsa yang bebas menentukan kemana akan di bawa kapal besar yang bernama “Indonesia”.
Sebagai pelajar arti merdeka menempatkan pada bebas mendapatkan pendidikan dan menentukan kemana dan dimana kita dapat belajar. Tetapi apakah sebebas itu? Di tengah wabah Copid-19 kebebasan untuk bertatap muka dengan guru dengan teman sudah terbelenggu. Pemerintah menganjurkan sekolah dilakukan dengan “daring” atau belajar tanpa tatap muka. Bukankah kebebasan kamu sudah terengut? Kamu tidak bisa bebas kemanapun yang kamu suka, yang paling membosankan adalah kamu harus melakukan semua aktivitas dari rumah.
Terpikirkah olehmu mengapa semua itu harus dilakukan oleh pemerintah? Banyak rumor bilang virus itu tidak ada kita hanya ketakutan? Apalagi jika LITERASI tidak kamu lakukan. Kebebasan kamu memang tercabik dengan adanya pandemic covid -19 ini. Pemerintah mengambil langkah karena demi nasib bangsa dan anak-anak bangsa yang akan meneruskan kapal Indonesia. Belajar dari rumah, melakukan aktivitas di rumah, dan semua dilakukan di rumah menjadikan kita tidak merdeka. Semua yang kita lakukan akan merdeka jika kita tahu maksud dan tujuan semua itu. Demi kepentingan bersama demi kesehatan bersama dan demi negara kita tercinta.
Kita harus bersyukur karena pandemic ini terjadi ketika bangsa kita dan seluruh dunia sudah semakin maju dengan perkembangan teknologi komunikasi. Semua sudah diatur. Kebebasan yang terengut dapat kita merdekakan dengan terus menggali potensi diri. Kamu harus bersyukur, wabah ini terjadi ketika zaman  yang semuanya serba cepat dan tersedia. Sehingga sudah semestinya generasi kita mensyukuri untuk setiap nikmat kemerdekaan yang kamu alami dan rasakan semenjak terlahir ke dunia. Sesuai dengan apa yang telah Ir Soekarno katakan “Tuhan tidak mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasibnya”.
Nah, apa yang sudah kamu berikan untuk bangsa terutama lingkungan sekitarmu ketika kamu harus melakukan segalanya dari rumah? Ingat merdeka bukan berarti kita bebas tanpa aturan. Belajar dari rumah juga ada aturan. Merdeka belajar dari rumah adalah mengikuti semua jam pelajaran yang diberikan guru. Jadwal yang diberikan dan juga berpakaian sebagaimana mestinya sesuai dengan hari kamu bersekolah.Menyediakan semua kebutuhan pelajaran tanpa membebani orangtua.
Memang terasa membosankan dan mengada-ada, sebenarnya itu biasa saja karena memang kita sedang aktif belajar. Ketika pembelajaran usai kamu bebas lagi melakukan aktivitas. Bahkan kebebasan kamu rasakan ketika kamu mandiri untuk belajar. Guru yang kamu tanya hanya memberikan sedikit informasi tentang materi. Nah, disanalah arti penting sebuah kemerdekaan. Kamu dapat mengeksplorasi semua bahan bacaan dan kamu dapat mencoba semua yang bisa kamu lakukan.
Pahlawan bangsa kita dulu berjuang untuk merdeka. Mereka bahkan terengut kebebasannya di dalam penjara. Di dalam penjara dan para pejuang itu tetap berjuang walau kebebasannya terengut. Mereka berjuang dengan pena dan tinta. Para pejuang bersatu dan saling menguatkan untuk membawa kemerdekan bagi bangsa Indonesia.
Pandemic Covid-19 memang membuat resah dan menjadikan beberapa masyarakat terpuruk ekonominya.  Pandemic ini mengubah kebiasaan dan juga perkembangan emosi. Banyak masyarakat yang lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bangsa. Hal semacam itu yang harus selalu kita hindari. Saling menguatkan dan memberi motivasi untuk berjuang melawan covid-19. Jika semua saling menguatkan maka kita sudah menjadi bangsa yang merdeka dan bersatu. Jangan saling menyalahkan dan menjatuhkan. Semua yang kita lakukan sekecil apapun akan sangat bermanfaat buat semua.
Seperti kutipan yang pernah dikatakan oleh Bung Karno "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".
Hal tersebut menandakan, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Saat ini kita harus tetap berjuang melawan segala hal yang dapat menghambat bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju dan makmur.
Merdeka belajar dan merdeka berkreasi di tengah keterbatasan itu luar biasa. Kita harus memaknai kemerdekaan dengan baik.

Nah, bagaimana? Apa pendemic covid 19 merengut kemerdekaanmu?
Kamu dapat menuliskan  pengalamanmu Belajar Dari Rumah pada LINK LITERASI 
Kelas 7 KLIK Link  KELAS 7  
Kelas 8 KLIK Link  KELAS 8
Kelas 9 KLIK Link  KELAS 9
Tim Literasi Dugas akan memilih 5 terbaik dari tulisanmu.

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...