Thursday, December 4, 2008

YUK... NGE- BLOG

Image and video hosting by TinyPic Lomba Review

Hari Gini Nggak Punya BLOG.... Alamak...


Assalamualaikum Indonesia

Bagaimana kabar semua ? pastinya tetap sehat dan selalu optimis, walau ekonomi dunia sedang menuju sekarat. Tapi untuk urusan tulis menulis pasti nggak ada matinyakan? Perkenalan diriku dengan BLOG karena sedang semangat-semangatnya belajar komputer dan seluk beluk internet. Waktu ke toko buku ada sekumpulan anak muda asyik membaca buku tentang blog. Dengan rasa penasaran karena diriku hobi baca aku ikutan membaca buku tersebut. Sebenarnya semua kegiatanku sehari-hari aku tulis dalam sebuah buku, karena ada blog semua kegiatan, karya-karyaku bahkan semua tulisan mengenai pekerjaan aku tulis di blog. Apalagi kalau ada kegiatan yang menimbulkan kesan mendalam... kayak anak muda aja yah...
Blog-qu telah banyak membantu, contohnya waktu aku tugas ke luar daerah, kebetulan karena mendadak aku nggak bawa laptop yang notabene semua tulisanku ada di sana. Karena katanya panitia menyediakan perangkat komputer. Sampai di tempat tugas ada yang harus aku kerjakan, nah...loh data nggak punya dan tugas harus selesai hari itu juga. Pakai Hp pastinya mahal dong nyuruh orang rumah bacakan data-dataku, yang ada malah bibirnya dower kali. Untung aku ingat pernah menyimpan semua data-data pekerjaanku di BLOG. Nah tahukan kelanjutannya! Selesailah tugas yang harus ahu kerjakan bahkan teman-teman banyak terbantu dengan BLOg aku itu.
Katanya pula dengan BLOG kita bisa menghasilkan uang, nah untuk yang satu ini aku belum ngerti tuh... mungkin dengan ikutan berbagi ilmu dengan para BLOGER yang sudah SUHU pasti aku bisa tambah uang belanja nih.
Jadi .....
YUK....KITA NGEBLOG...






Tuesday, November 18, 2008

PUISI UNTUK HARI GURU



Menyambut hari guru 25 November 2008,terlintas kenangan indah bagaimana aku ditempa menjadi seorang pendidik di sekolahku SPGN 4 Jakarta Utara. Tawa, canda, dan duka mengiringi langkahku untuk mantap menjadi pendidik.

KUUKIR CINTA DALAM LEMBAYUNG JINGGA
Berjuang atas nama kebodohan
Berperang tuk kemunafikan
Bertempur tuk kepongahan

Kau ukir nama kami bersama pagi
Melambai degup jantung di hari
Kala kau sapa dengan canda
Membasuh kaki yang terluka

Tuk berlari menembus putihnya kejora
Menapak laksana perwira
Terpekik semangat membahana
Melecut sukma di dada
Kala ingin kami rebut segala asa
Tuk bertarung di arena

Kau beri apa yang kau punya
Bahkan waktu yang ada
Hingga tak ada tersisa dan celah
Untuk keluarga di rumah

Guru
Kan selalu kuukir dan ku jaga
Namamu hingga lembayung jingga

(Untuk guruku di SPG 4 Jakarta Utara, Kalian membuatku cinta pendidikan)

LOMBA MENULIS DAN MEMBACA PUISI







GO .... SMA YAPPENDA
GO .... SMPN 266
YOU LIKE IT POETRY READING?
YOU WANT GO TO TAILAND?

Setelah menunggu dengan hati berdebar, karya puisi yang dikirimkan oleh siswa SMA Yappenda berjumlah 26 karya akhirya didapat 2 karya yang lolos untuk mengikuti semifinal yang diselenggarakan di Wisma Makara UI tanggal 13 - 15 November 2008. yaitu Riski Wulandari dari kelas XII Bahasa dan Alda Meiza Fadliansyah kelas XII IPS 1. Wow bagaimana yah dapat mengalahkan beratus karya puisi? tanya saja dengan Riski dan Alda.
Karena aQ juga membimbing siswa SMPN 266 yang juga masuk semifinal dari 33 karya puisi yang dikirimkan,
yaitu Tities Putris Maya dan M.Rezanesa Descarian, maka kerjaku ganda untuk mempersiapkan anak-anak handal ini tampil sebagus mungkin. Bisa nggak yah itu pertanyaannya? Dalam kamus AQ " Kita pasti bisa Tuhhhhhh!walau kerja ganda tapi aku tetap menomor satukan kerja pokokku yaitu mengajar. apalagi anak kelas XII akan menghadapi UN.
Karantina NO WAY... katanya. tapi ketika melihat megahnya wisma tempat karantina rasanya terbayar sudah jerih payah menulis puisi. Ungkapan kekaguman juga diungkapkan Tities yang anak Cilincing bahwa ia merasa mimpi bisa sampai Wisma ini. apalagi Reza yang pendiam merasa dirinya jadi punya kelebihan,jadi timbul keberaniannya. Bersama ibu Ratna Dewi yang memang akan dipersiapkan untuk regenerasi mendampingi anak lomba kami siap bertempur. Bagaimana Bu Dewi We are the CAMPIONS

Hari pertama Kamis, 13 November 2008 kami tiba lebih awal pukul 08.00 WIB. diantar suamiku yang berbaik hati dan tidak sombong. kami tiba di Wisma Makara UI.Masih sepi dan baru ada beberapa peserta yang tampak, bahkan panitia juga belum ready tuh. Isi absen terus dikasih snack lumayan buat ganjel perut. Acara pembukaan dimulai pukul 10.00 WIB. dibuka oleh yayasan Sejiwa bapak Yusuf. kemudian dilanjutkan dengan materi psikologi oleh dosen psikologi UI Mbak Ratna Juwita. permainan mencari teman dan berbagi cerita terasa bermanfaat untuk siswa. Mereka jadi tahu bagaimana harus bersosialisasi.

Acara selanjutnya, pelatihan tiap bidang lomba, untuk puisi ada di ruang Tanjung. Materi tentang membaca puisi dismpaikan oleh Bang Rizal seorang penyair terkenal. Dengan gaya yang khas penyampaian pelatihan jadi tidak membosankan, disamping itu juga saya dan Bu Dewi sebagai guru Bahasa Indonesia jadi dapat masukan untuk mengajarkan cara membaca puisi yang bisa diterima siswa.
pelatihan berlangsung hingga pukul 17.00 WIB. Setelah itu semua peserta bersih-bersih makan malam pukul 19.00 WIB, dan kumpul kembali pukul 20.00 WIB di pinggiran kolam renang SO..SWEET banget yah, romantis lagi tuhh.
Mbak Diena ketua yayasan SEJIWA menjadi mentornya. malam itu kupas-kupasan masalah BULLYING di sekolah. ada juga yang cape terutama anak Band. tapi banyak juga yang semangat tuh soalnya merekakann DUTA BULYING.
Hari kedua Jumat, 14 November 2008 pukul 09.00 WIB, kami berkumpul di ruang aula untuk mendengarkan materi 'Media Massa' yang dibawakan Mbak Debra Yatim, seorang wartawan senior yang banyak malang melintang di media massa.
Materi tentang media massa juga menjadi momentum siswa untuk berkarya melawan BULLYING di sekolah.kan DUTA BULLYING. hari ini pelatihan buat peserta adalah menulis atau reproduksi ulang karya puisi.WAHHHHHH bahaya nih kata Fadli dan Tities lagi nggak ada inspirasi, tapi jangan ragukan Riski, ia sudah siap dengan seabrek puisi yang ia tulis di buku tulisnya. Tapi jangan suruh Riski berbicara, karena sifatnya yang pendiam membuat susah ntuk bicara. Tapi ia sudah menunjukkan kemampuannya membaca puisi walau belum maksimal.Kalau cerita Reza lain lagi, anak ini intropert, tapi jangan ditanya konyolnya, banyak yang ingin berkawan dengan Reza.
Alda Meiza Fadliandyah, tadinya ia diberi kamar dengan siswa perempuan, karena panitia melihat namanya kok kayak perempuan yah.
malam itu tanggal 14 November 2008, kerja keras dijalankan, sampai malam kita berlatih untuk tampil besok di final. penampilan terbaik harus dipersembahkan.
GO... FADLY
GO ... RISKI ... HIDUP YAPPENDA
GO .... REZA
GO .... TITIES.... JAYA 266
Hari ketiga, ini hari yang membuat merinding semua body-Qu. Panas dingin sudah melanda sendi-sendi di tubuh. aduh... perjuangan belum selesai siapa yah diantara 'Laskar Pelangi itu yang akan menang. Mudah-mudahan kami datang tidak sia-sia.
Penampilan pertama Reza, aduh penampilan terburuk yang ia punya tidak maksimal. tapi sutralah Reza sudah berusaha semaksimal mungkin. Riski berkesempatan tampil yang ketiga, ia lupa judul puisi yang harus dibacakan. tapi oke juga sih penampilannya. Penampilan keempat Tities, aku menyuruh ia menyanyikan tiga baris dari puisinya itu dilagukan, karena aku pikir Tities punya bakat menyanyi. Berhasil.... taktik-ku dapat mencuri perhatian juri. Memang harapan Laskar Pelangi hanya pada Tities dan Alda setelah penampilan Reza dan Riski yang kurang maksimal.

Setelah penjurian Band-band dari beberapa SMA Top, pukul 15.30 WIB, pengumuman pemenang, hati ini jadi tambah nggak karuan deh. pelan tapi pasti juri membacakan pemanang lomba mulai dari juara ketiga yang diraih oleh Dwi dari Mts 17, kemudian pemenang kedua..... dari SMP 266 aduh bangga dan terharu banget, hati ini melambung nggak percaya. Akhirnya kami bisa juga merebut juara itu 'PERJUANGAN YANG TIDAK SIA-SIA'. Ini berkat kerja keras, perjuangan dan juga.... bintang utama TITIES PUTRIS MAYA.. Makasih yah Ties, sudah mengobati duka dan luka hati Bunda.

Monday, October 13, 2008

Iedul Fitri 1429 H















LEBARAN ? Minal Aidin Walfaizin ‘ Maaf Lahir dan Batin Yah!
LEBARAN ? Rekreasi bersama Keluarga
LEBARAN ? Mudik Yukkkkkkk........................................................


Iedul Fitri 1429 H, ritual keluarga kami seperti biasa selalu terjadi. Hari terakhir di bulan Ramadhan kami sekeluarga besar H.M.Basin berbuka puasa bersama di rumah orang tuaku. Doa dan pujian kepada Allah SWT kami panjatkan karena kami sekeluarga dapat menyelesaikan Ramadhan dengan sehat dan bahagia. Hidangan untuk merayakan esok hari disajikan. Ada ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, dan tentu saja kerupuk biar kriuk-kriuk.
Cucu-cucu ibuku yang berjumlah 6 orang berkumpul penuh suka cita menyantap hidangan yang ada.
Pagi ied yang teduh pun kami jelang sholat ied kami lakukan di masjid Jami Al Khoiriyah di daerah kami. Pulang sholat seperti biasa menyambangi tetangga untuk bermaaf-maafan. Setelah itu langsung ke rumah orangtuaku di daerah Cilincing kira-kira 10 menit perjalanan dari rumahku.
Hari ketiga Syawal, kami peruntukkan rekreasi keluarga ke Bandung. Jalanan masih belum padat tapi sesampai di Bandung wah benar-benar padat, macet apalagi di Dago tempat outlet-outlet bertebaran. Walau sudah lebaran tapi masih banyak saja orang yang berbelanja. Kami pun ikut-ikutan berbelanja walau hanya kaos-kaos saja, cukuplah. Niatku makan mie kocok kesampaian juga dengan harga Rp 8000 perut ini sudah kenyang.
Rekreasi kami lanjutkan ke daerah Lembang untuk mandi air panas di Ciater. Sayangnya selama prjalanan buah hatiku, jagoan kecilku Raynaldi demam, muntah-muntah dan benar-benar sakit.
Untungnya sampai Ciater badannya sudah sehat dan kami berkesempatan mandi.

MUDIK KE PALEMBANG- BATURAJA- DUSUN KARANG AGUNG
7 SYAWAL 1429 H


Tahun ini kami berkesempatan pulang kampung, walaupun tidak pas hari raya tapi sudah membuat sibuk juga. Bersama suami kedua anakku, adik ipar dan anakknya Selly, serta adikku Budi beserta istrinya tidak ketinggalan keponakanku Fadli, kami berangkat ke Palembang pada hari Selasa, 7 Oktober 2008. tepat pukul 06.30. berangkat dengan mobil Toyota Yaris kami. Bayangkan 8 orang di mobil sedan sekecil itu plus tas-tas koper bawaan kami. Tapi hanya sampai tempat suamiku kerja di Cikande serang. Setelah itu kami berganti mobil Xenia milik perusahaan suamiku, kali ini nafas kembali lega. Berangkat pukul 10.30 sampai Palembang pukul 01.00, mampir dulu melihat Jembatan Ampera kebanggaan Wong Palembang. berapa jam yah.... kira-kira 15 jam lah. Lumayanlah untuk penyegaran kaki. Malam itu kami berkesempatan mengunjungi Jembatan ampera karena anakku ingin tahu.


Jembatan Ampera di waktu malam penuh cahaya warna-warni indah sekali.


Pagi Rabu, 8 Oktober kami berziarah ke makam nenek dan kakek, setelah itu mengunjungi keluarga bapakku di Dwikora II.
waktu dzuhur kami habiskan di majid Agung Palembang. Wah masjid yang benar-benar agung karena memadukan konsep oriental Cina di sudut-sudut bangunannya. bayangkan saja Beduknya kental dengan ornamen Cina.

Perjalanan kami lanjutkan ke sentra pengrajin songket di sini anakku Raynaldi terkesan sekali dengan cara menenun songket. Antusias sekali dia untuk mengetahui proses membuat kain songket, sungguh pengalaman yang tak akan dilupakan buat anakku. Ia jadi tahu perjuangan sebuah maha karya anak negeri.

Hari Kamis, 9 Oktober kami harus berpisah dengan Palembang karena perjalanan akan kami lanjutkan ke Baturaja tempat adik-adik ibuku tinggal. Perjalanan yang ditempuh selama 4 jam tidak terasa karena sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan pedesaan yang cantik dan mempesona.
Tiba di Baturaja kami langsung menuju dusun Karang Agung karena anakku ingin sekali mandi di sungai. Rasanya tak sabar melihat air sungai yang jernih mengalir. Hingga magrib tiba anak-anakku masih mandi di sungai. Katanya enak sekali mandi di sungai. Nah pengalaman mandi di sungai dan naik rakit menyeberangi sungai untuk ke ladang merupakan pengalaman terindah anak-anakku. Ternyata mudik itu mengasyikkan yah namun bolong juga nih kantong....

Wednesday, September 10, 2008

Ramadhan 1429 H


PUASA DI BULAN RAMADHAN 1429 H

Memasuki ramadhan hari ke-10, kami sekeluarga bisa berkumpul. yah... karena putri cantik kami Natasha sudah bisa dibawa pulang dari pondok pesantrennya.Anakku Raynaldi yang kini berusia 11 tahun, hingga hari ke-10 belum batal puasanya. Mudah-mudahan kami sekeluarga diberi kesehatan oleh Allah SWT, Amien.Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah . Walau setiap Ramadhan menjelang sebulan penuh ibu-ibu harus sibuk dengan dua kegiatan di dapur yaitu menyiapkan makanan berbuka, dan makanan untuk sahur, namun sebanding dengan semangat anak-anaknya untuk melaksanakan puasa.
Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri dan sebagainya.


Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, karena mematuhi perintah Allah. Begitu juga isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya ketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah SWT.

Berikut beberapa hal mengenai bulan Ramadhan dan mengapa kita harus menyambutnya dengan "Gembira" penuh "suka cita", tulisan ini saya ambil dari tulisan Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi.mudah-mudahan kita dapat menyambut lagi bulan Ramadhan tahun depan.

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah k berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)
Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Rasulullah n bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah k berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (Al-Qadar: 1-5)

Penghapus Dosa
Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Perlu diingat, ibadah puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan ruhani dan jasmani kita apabila dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak, maka hasilnya tidak seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia belaka.

Allah SWT berfirman "Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf:31)

Nabi SAW juga bersabda "Kita ini adalah kaum yang makan apabila merasakan lapar, dan makan dengan secukupnya (tidak kenyang)."

Bulan penuh berkah dan ampunan janganlah kita lewatkan dengan sia-sia, karena di depannya ada janji Allah untuk meraih kemenangan.semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera

Wednesday, August 20, 2008

Dirgahayu Indonesia ke- 63




















Perayaan 17-an di rumah
Indonesia ulang tahun yang ke-63. sudah semakin dewasa, sudah semakin tua untuk tahu bahwa Negara kita sudah merdeka. Perayaan ulang tahun Indonesia setiap tahun semarak sekali, namun memang kemeriahan terkadang hanya diisi dengan lomba-lomba yang kurang membangkitkan rasa kebangsaan, nasionalisme, dan persatuan. Tengok saja lomba-lomba yang diadakan di setiap tempat pasti tidak ketinggalan panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba gigit sendok, atau lomba sepak bola dengan kostm yang dbuat lucu layaknya pertunjukkan komedi. Makna perayaan hari ulang tahun itu sendiri tidak dirasakan oleh para generasi muda. Lihatlah mereka hanya tertawa-tawa atau sibuk untuk mengalahkan lawan yang sudah jelas lawan mereka itu adalah kawan sendiri atau bahkan ada saudara sendiri. Harusnya kemerihan itu ditandai dengan bangkitnya Indonesia dari keterpurukan, bangkitnya Indonesia dari kemiskinan,bangkitnya Indonesia dari rasa malu… malu untuk tidak bias menjamin kehidupan masyakatnya. Bangkit dari sikap emosional yang melanda sehingga tidak ada lagi bullying yang menghiasi headline berita di media massa.


Tahun ini perayaan ulang tahun ke- 63 RI, dirayakan dengan tasyakuran warga kompleks kami “Perumahan MeWah” pada malam tanggal 17. atau hari Sabtu malam Minggu tanggal 16 Agustus 2008 tepat setelah kami mngatakan acara Nisfu Sya’ban. Setiap keluarga menyumbangkan penganan yang sebelumnya sudah ditugaskan. Ada yang memasak urap sayuran (Kel. Pak Hardana), ada yang memasak bacem tempe dan bacem tahu (Kel. Pak Supanto), ada yang memasak ayam goreng (Kel. Pak Widodo), ada yang memasak Bebek panggang (Kel. Pak Solihin), ada yang memasak bakso (Kel. Pak Jumroni, ada yang memasak gorengan (Kel. Pak Budi),ada yang menyumbang rebusn kacang tanah (Kel. Pak Ibad), ada yang menyumbang ikan baker (kel. Pak Wasnata), ada yang menggoreng emping dan menyumbang minuman gelas (Kel. Pak Iwan) yang istrinya Ita adalah adik kandungku rumahnya persis di sebelahku. Bagaimana dengan keluargaku (Kel. Pak Surya), kami masak tumpeng yang ala kadarnya dan sedikit pisang goreng serta bakwan jagung. Tapi kami tidak mempersoalkan siapa penyumbang terbanyak, pokoknya malam itu kompleks kami bersma keluarganya dan anak-anak dapat makan bersama.
Sehabis ba’da Isya tikar dan karpet kami gelar di jalanan depan rumah kel Iwan dn Kel Jumroni tak lupa doa kami panjatkan dipimpin oleh Pak Ibad yang kami nobatkan jadi pak ustad. Doa untuk ketentraman kompleks, kesehatan warga kompleks, dan untuk kekeluargaan yang terjalin.
Makan malam bersama ternyata menyenangkan juga, walau perut sudah penuh tapi semua lahap menyantap hidangan yang tersedia. Sehabis menyantap hidangan acara bincang-bincang seru kami lakukan. Ternyata banyak manfaat yang bisa kami petik dari perayaan 17-an bersama tetangga. Mudah-mudahan doa kami terkabung dengan sedikit warga tapi damai sejahtera.
Tepat tanggal 17 Agustus anak-anak kompleks bergembira dengan lomba yang diadakan, walau sederhana namun mereka terlihat bergembira dan bersemangat. Tidak ketinggan para ibu-ibu juga turut meramaikan dengan lomba menggiring bola pakai terong yang diikat di pinggang, seru …? Pastinya. Heboh punya deh. Sayangnya saya tidak berkesempatan ikut karena harus mengunjungi si buah hati my princess di pondoknya.


Perayaan 17-an di Pondok Pesantren At Taqwa Putri


Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2008 putri tercintaku Natasha menerima raport dan ada perayaan 17-an juga di sekolahnya. Memang agak terlambat pembagian raportnya karena aku sudah tahu ia naik kelas, jadi sehabis upacara di sekolah (SMPN 266) aku langsung pergi ke pondok pesantren At Taqwa Putri. Bagiku kebahagian mutiaraku yang utama.

Lelah yang kurasakan sehabis upacara terbayar sudah karena putriku Natasha rangking ke-3 di kelasnya. Alhamdulillah aku panjatkan kehadirat-Nya. Doa-doaku dikabulkan-Nya. Di pondok perayaan 17-an tak kalah meriah, ada panggung untuk pertunjukkan pentas seni anak pondok. Ada story telling, pidato dalam bahasa Arab, pementasan marawis, dan Qosidah. Pertunjukkan yang heboh adalah pertunjukkan drama dengan tema ‘perjuangan KH. Noer Ali. Pendiri pondok pesantren At Taqwa’. Kalau ditanya seru pasti seru habis. Karena anakku Raynaldi antusias sekali, ia berdiri paling depan dekat dengan panggung. Matanya tak lelah menatap anak-anak pondok bermain drama.

Perayaan 17-an di SMPN 266


Perayaan hari ulang tahun RI di SMPN 266 dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008 dengan berbagai perlombaan. Lomba yang diadakan ternyata menguras kocek kas kelas. Bayangkan saja setiap kelas harus menghias kelasnya dengan semeriah-meriahnya. Bahan-bahan untuk menghias kelas pastinya diambil dari siswa di kelas. Kasihan memang, tapi itulah lomba harus ada pengorbanan. Selain menhias kelas ada lomba egrang, membuat gapura mini,PBB,membacakan teks UUD 45,Vokal Grup, dan tak ketinggalan memasukkan bola ke keranjang(Bola basket).

Sayangnya saya tidak dapat hadir karena harus mengantarkan hasil lomba anak-anak ke yayasan Sejiwa. Jadi kehebohan acara saya dengar dari cerita guru-guru.
Peringatan detik-detik proklamasi atau upacara bendera kami laksanakan pada hari Minggu, 17 agustus 2008. upacara di mulai pukul 07.00. suasana khidmat mewarnai upacara kali ini, dengan komandan upacara seorang siswi bernama Fitri kelas IX. Suaranya yang lantang menandai dimulainya upacara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Negara ini. Pembina upacara, pastinya ibu kepala sekolah, Dra. Endang Nurhayati, M..M

Perayaan 17-an di SMA Yappenda



SMA Yappenda merayakan hari ulang tahun ke-63 RI dengan mengadakan berbagai macam lomba. Lomba dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2008. pagi hari terlihat kesibukan di setiap kels untuk loma menghias kelas, segala macam pernik-pernik hiasan 17-an dirangkai membentuk hiasan yang indah di kelas. Ada juga lomba adzan di musholah.
Sabtu tanggal 16 Agustus diadakan festival band.
Sejumlah band-band dari siswa berlaga di ajang ini mempertunjukkan kebolehannya memainkan dawai gitar dan gebukan drum. Di sela-sela acara ada lomba vocal yang juga diikuti oleh siswa-siswa yang mewakili kelasnya. Suaranya? Aduh macam-macamlah. Ada yang fals, ada yang oke punya, ada yang banyak gaya.

Tapi kemeriahan acara festival dinodai dengan aksi brutal siswa-siswa yang bergoyang bagai orang kerasukan, tidak mengenal batas kesopanan. Mereka bergoyang dengan saling sikut dan saling pukul. Padahal ada sekelompok siswa SD Yappenda yang menyaksikan aksi mereka. Maka ketika bapak Kepala sekolah bernyanyi bersama bntang tamu alumni SMA Yappenda yaitu Siti Mardiah menyanyikan lagu poco-poco, saya mengajak siswa-siswa SD bergoyang poco-poco mengikuti gerakan kaki. Namun, apa lacur siswa-siswa saya yang mengaku dirinya siswa SMA ternyata tidak dapat diajarkan untuk berlaku sopan dan tertib, kalau sudah begini salah siapa?

Monday, August 11, 2008

Puisi Bullying Siswa SMA Yappenda Jakarta















Ini Sebuah ‘Tanda’
(by Suprianto)
Untuk SMA Yappenda

Kerangkeng amarah para praja
Kekejian di raga menjadi penanda
Gejolak jiwa dibawa ke peti
Kematian ini sangat merugi

Direkayasa
Diada-ada
Semua atas nama lembaga
Membentuk perisai diri agar tak bersalah

Meratap tangis isak tertahan di hati
Di pintu mayat para praja
Mengindahkan hati terbang tinggi
Dalam kepongahan institusi
Dalam hati merutuk segala
Meski perih panas membara
Memperjuangkan palu hukuman penjagal
Atas nama keadilan yang hampir mati
Di negara yang sudah tak berharga diri


Ketika Senja Merona Merah
(Karya Alda Meiza Fadliansyah)
Untuk putih abu-abu yang masih bertaur di jalan

Zal …
Maaf baru kugores pena ini
Cerita yang putus karena engkau pergi

Zal ...
Masih kulihat darah di dada
Membasahi putih abu-abu kita
Mengancam nafas yang setengah
Untuk kemudian...
Kau rebah dengan senyum yang tak pernah ada

Zal ...
Harusnya kita tak disana
Harusnya kita tak pernah ...
Berkelompok, berbaur tanpa arah
Karena baru kini kutahu itu sia-sia
Hanya membuat terpengal waktu muda kita

Zal ...
Ketika kau terima berita yang ada
Genggamku bilang tak usah
Tapi matamu menyorot asa untuk berbisa
Mengajakku tarung bersama
Zal...
Kutahu itu bukan kita
Kuyakin itu bukan segala
Namun, sorotmu tajam menggoda tak kuasa
Bagimu maju atau malu diterima

Zal…
Ketika pagi itu kita siakan segala
Yang katamu untuk melawan sebisa
Namun, aku tahu itu mengada-ada
Dengan besi yang terentang
Dengan pisau yang mencencang
Dengan bilah yang siap menghantam

Zal ...
Masih kudengar teriakan dari seberang dengan lantang
Teriakan tanda menyerang
Sampai akirnya kau kalah dengan sebatang bilah
Ratapku melengking tajam

Zal...
Siang itu jadi bisu
Semua terdiam dengan mata merona merah,
Dan terdiam dalam kata
Hanya lenguh nafas memburu tak puas diri
Kemudian langakah cepat karena sirine membahana

Zal ...
Masih basah gundukan itu
Ketika kulihat tangan sepuh merangkum bunga
Bulir airmata tak sanggup kusentuh
Dekap hangat tak lagi kurasa
Zal...
Selamat jalan
Agar tenang setelah panas


Rasa Itu
(karya : Siti Alawiyah)
Dalam pengalaman batin

Bisikan yang menggema kencang
Angin-angin telah menguasai nafsu
Dan kekecewaan yanga ada di dada

Kehidupanku
Setiap kata telah membungkus kesedihan
Menggoret luka dalam diam
Ketika tangan yang kotor hendak menjangkau

Apa yang terbentuk dibenak?
Apa yang dirasa oleh seringai ganas
Apa tak ada batas untu berlaku adat
Dalam kesopanan dan kedewasaan

Kata yang terlontar melecehkan kaumku
Bentuk yang ada dari fisik itu
Adalah kekerasan ragawi

Tak adakah yang aman untuk bergaul
Tanpa sentuhan yang tak diingin
Tak adakah nilai yang dianut
Agar mereka dapat larut
Dalam kesopanan tanpa kekerasan


Rintihan Hari
(karya Ma’wa)

Ketika hari menjadi terang
Alam bernyanyi lirih
Sepercik air membasahi tubuh
Mengantarkan diri ke dalam asa

Tajamnya pedang telah menggoreskan luka di hati
Mengiris-iris jiwa menjadi kepingan

Bagai dicambuk
Hari meronta
Tiada suara
Tiada rintihan

Ada yang terluka dalam pagi
Ada yang teraniaya dalam riuh gemuruh
Suara sumbang mengantarkan jasad yang ada
Karena pagi tak ramah pada sesama
Sesama penuntut ilmu yang muda

Ada seruan dengan lantang
Meneriakkan kenaikan yang tak perlu
Namun, selongsong peluru membungkam
Untuk kemudan tak bersuara lagi

Mereka dianiaya
Mereka diperdaya
Mereka para laskar calon sarjana
Diam dan sia-sia


Air Tenang Itu Menjadi Besar
(Karya Surya)

Air itu tadinya tenang
Air itu tadinya surut
Namun
Riaknya kini bergelombang
Ketika tangan-tangan kasar mengaduk
Dalam kebijakan
Yang menyengsarakan negeri

Air yang tenang kini bergelombang
Air yang surut kini pasang ke permukaan
Bergerombol di jalan meneriakkan keadilan
Mengepalkan tangan mengecam kebatilan

Air yang tenang kini bergejolak
Di setiap sudut jalan dan lorong kota
Ingin mengambil apa yang masih bisa
Harga diri untuk sesuap nasi


Sampit yang Kukenang(
karya Putri Rahmi)


Hilirnya waktu mengenangi jiwa dan hati
Senja malam tak terlihat
Bagaikan bunga tumbuh mekar
Berwarna-warni di sekeliling
Tapi itu hanya terlihat dalam renungan
Hati dan keinginan

Tragedi yang kulihat, kudengar, dan kusaksikan
Bagaikan padi yang gersang
Termakan hama kebuasaan
Sampit yang kukenang...
Mematikan asa dalam diri anak-anak negeri

Sampit yang kukenang
Membuat hati dan jiwa meringis sepi
Mengenangi hati dengan air mata duka
Penuh duka dalam tangis tiap bunda

Sampit yang kukenang
Menorehkan cerita yang tak usang
Karena ada sesal yang mendalam
Tentang daerah yang tumbuh alam kepongahan
Hingga tak ada kata mengalah

Sampit yang kukenang
Ada serangkum doa terpanjatkan
Ada setangkup pesan tersiratkan
Untuk kedamaian dan ketentaraman
Untuk keriangan yang telah hilang

Sampit yang kukenang
Akan panen dengan kuningnya padi
Akan ramainya anak-anak bertelanjang kaki
Menapak hari untuk bekal nanti
Menghias Sampit dengan celoteh penuh janji
Janji untuk kedaimaian abadi



Hujan Airmata
(Karya: Nina Nabila)

Terang terbalut dalam kegelapan
Bintang tersaput kabut tebal
Bulan bersembunyi enggan keluar
Tak seperti waktu-waktu dulu

Ketika semua penduduk gempita dalam canda
Ketika masih ada nasi di pinggan
Ketika air tak lagi harus di dorong
Ketika gubuk liarnya berdiri kokoh

Kala senja turun menghampiri
Rata gubuk dengan amarah sang penguasa
Mereka bekerja dengan amarah
Menggigit nurani yang renta


Dalam Remang Malam
(Karya Rizky Wulandari)
Untuk STIP Marunda

Di lorong itu bila malam tiba
Jeritan tak terkendali
Menghentak para tunas untuk berdiri
Memanggul benda dengan harga mati
Tak mendengar ayun tangan akan diberi
Melayang, menghantam,memukul
Biasa terjadi
Padahal mereka bukan pejabat negeri
Darah mengucur bukan terperi
Hanya inisial tanda ngeri
Bahwa mereka mulai bergigi
Mewakili para senioritas
Mewakili para penguasa
Mewakili para algojo dunia

Di remang malam
Hukuman dijalankan
Memaksa kehendak untuk taat
Memukul nurani untuk menurut
Sekali tak terpenuhi
Suara-suara mengiris luka
Yang lain hanya tertawa
Hingga hukuman berkesudah

Di lorong itu bila senja merangkak
Suara bag..big...bug....
Terasa berirama, memainkan tempo instrumentalia
Sekali lagi bag...big...bug...
Senyum puas para algojo muda


Jangan Lantang Bersuara
(Karya : Dina Maisari)

Kala provokator bersuara
Tebesit hati melampiaskan amarah
Rasa dendam bergejolak di dada
Terasa menususk di dalam raga

Kala pelajar berbaris tergesa-gesa
Menyerbu datang ke tempat lawan
Senjata genggam di tangan
Suara bersahutan lantang terdengar

Saling hujat, saling sikut, saling mencaci
Menjadi menu pembuka
Ada seringai puas untuk menyerbu segera
Agar lega dirasa terbuka

Kala bergelimpangan pelajar menghias jalan
Penuh darah dan habis nyawa
Hanya senyum sinis diterima
Bagi mereka itu pantas agaknya

Kala hati ini bertanya
Kemanakah hilang nurani
Dimanakah terbang akal budi
Siapa yang harus menjawab ini


Adakah Kau Dengar?
(karya: Nur Apiyanti)

Teriakan-teriakan karena rasa sakit
Tidak terdengar oleh insan di luar
Tendangan-tendangan mendera menghujam

Genggaman-genggaman tangan mendera
Seakan menutup mulut yang akan bersuara
Hanya angin dan udara saksi semua
Tentang seongok kisah di sana

Mengapa?
Mereka bertahan untuk sebuah cita-cita
Dalam balutan seragam yang bernilai di mata
Mereka kuat untuk sebuah asa
Karena Bunda memberi doa
Rintihan Hati Para Pahlawan
(Karya : Asep M)

Ketika raja siang telah muncul dari persembunyian
Menyinari seluruh alam semesta
Dengan wajah yang bercahaya
Menyambut datangnya pagi

Seluruh insan bernyawa
Menyambut dengan hati gembir
Akan tetapi seorang siswa praja
Berbaring di atas alas

Sunggh malang seorang siswa praja
Karena tidak dapat merasakan sinar yang hangat
Sianar yang dapat membuat insan menari
Sinar yang dirindukan oleh semua insan

Akibat pertengkaran lidah yang terjadi
Sehingga kaum praja saling bertengkar
Mengapa semua harus terjadi...
Ada apa dengan kaum praja

Apakah seperti ini kau praja sekarag
Menggunakan narkoba
Mabuk-mabukkan
Dan menikmati dunia gemerlapan

Apa yang terjadi pada negara kita
Kalau para praja hanya seperti
Akan negara kita dapat gembira
Dapat meneruskan para pahlawan

Akan hati para pahlawan senang
Akankah para pahlawan gembira
Melihat para praja sekarang
Hanya airmata dan rintihan hati yang dirasa


PAHLAWAN
Karya Ellian Gadman

Disini ku melangkah
Dihantui rasa takut

Tangisan air mata dijalanan
Mungkinkah ini kan berakhir

Masih adakah pahlawan di kota ini
Yang dapat menghentikan pertarungan para pelajar

Masih adakah keadilan di kota ini
Walau darah bercucuran disana-sini

Berhamburan sejuta nafas terakhir
Dunia dapat berhenti berjalan

Mungkinkah dapat bersuci kembali
Walau sudah berpindah dunia


KEKERASAN
Karya Riza Ferdian

Kekerasan.............
Mengapa hal itu harus ada dan terjadi
Beribu-ribu orang yang telah jatuh
Menjadi korbannya

Kini hal itu semakin marak
Mulai dari kalangan tinggi
Menengah, hingga bawah,
Semua melakukan itu
Seakan-akan hal itu sudah
Menjadi tradisi bangsa ini

Malu............
Diri ini malu bila harus mengakui
Inilah bangsa ku
Sedangkan didalam bangsa ini
Terus menerus terjadi kekerasan
Apa yang harus kita banggakan dalam bumi ini
Sedangkan hal-hal yang tidak baik
Selalu dilakukan tiap hari dan semakin bertambah
MALAM YANG TERKENANG
Karya Achmad Bilallian

Indahnya malam ini
Tak seindah kunang-kunang
Hanyut menyapu kalbu
Gelap menjadi perhiasan malam

Sayang keindahan ini tak menyentuh hati mereka
Mereka para penjilat
Yang hanya ingin kesenangan
Diatas penderitaan orang lain

Indahnya malam ini
Kini dirusak sudah oleh para penjilat
Mereka mengambil yang bukan hak mereka


Penyesalan
(Karya : Julian Supriyanto)

Di balik air mata ibu
Banyak tersimpan hal yang tersembunyi
Di lembaga yang disebut pendidikan
Tetapi menjadi tempat untuk kekerasan

Para praja yan selalu disiksa
Tubuh terasa hancur
Darah berceceran
Dan tak kuasa aimata berlinang

Senior yang selalu menindas
Selalu berkuasa
Membuat para praja tak mau kembali ke tempatnya

Ibu yang melahirkan
Terdiam dalam tangis penyesalan


Di balik Tembok Pendidikan
(Karya: Indra)

Sekolah yang dikatakan lembaga pendidikan
Tetapi dibuat untuk penghajaran
Pkulan yang memilukan,menyakitkan,menyedihkan
Dan linangan airmata penyesalan

Ketika diharuskan belajar
Tetapi mereka malah dihajar
Senior-senior yang garang
Menghapus mimpi pelajar

Akankah terhapus
Setelah semua telah merasuk


Tangisan Sang Tertindas
(Karya : Yunita)

Raut wajah bahagia
Kini tak lagi tampak
Hanya kesedihan
Yang kini mewarnai

Walau zaman sudah maju
Tetapi bagi mereka sama saj
Ingin rasanya berontak
Apa daya hanya rakyat jelata

Rakyat jelata yang tak bisa apa-apa
Ketika kekerasan menghantamnya
Ketika keponggahan menghampirinya

Tikus yang makan tanaman
Tidak sadar akan hal itu
Hanya kepuasan semata
Untuk mengumbar hasrat sang penguasa


Dengarlah
(Karya : Kokom Komariyah)

Kau tak seperti berlian
Yang memancarkan sinarmu
Rakyat-rakyat mejerit
Sang penguasa bertahan

Apa yang terjadi
Sang penguasa...
Kau memejamkan matamu
Angis mengiris jiwa

Sejuta harapan hari
Mengisi kecemasan raga
Keringat-keringat membasahi negeri
Harapan yang tak terdengar

Mana janjimu...
Kekerasan kau jadikan alasan
Demi mencari kepuasan raga
Dimana sang penguasa berlian

Kekerasan yang Tak Berujung
(Karya : Bintari)

Waktu berganti hari demi hari
Kekerasan yang terjadi
Terus-menerus menghampiri

Para penerus negeri
Tak dapat lagi bersatu
Hanya dengan satu kesalahan
Dengan hal yang tak wajar
Apa yang sebenarnya terjadi
Apakah dengan satu kesalahan
Persahabatan akan putus

Akau berharap tak ada lagi suasana mencekam
Bertemakan kekerasan
Hadir di sini


Bullying
(Karya: M. khairun Tamami)

Kekerasan di pendidikan
Kini merajalela
Kekeasan di sekolah
Kini bergelora

Selalu ditindas
Selalu diacuhkan
Selalu dilecehkan
Oleh semua yang bertauah

Tak ada yang suka
Ada yang selalu merasa
Dikucilkan, dilecehkan, dianiaya
Oleh sesama

Arogansi kakak kelas atas nama senior
Lingkungan sekitar atas nama keadaan
Tak ada belas kasih
Tak ada uluran tangan
Karena semua tak berpihak


Tangisan Tak Berpihak
(Karya : M. Hafiyyan)

Detik demi detik
Hari demi hari
Tangisan selalu terdengar
Tangisannya selalu terdengar
Merintih penuh kesakitan

Mereka dianiaya
Mereka disiksa
Hingga tak berdaya
Oleh tangan-angan penuh dosa

Tertawanya...bahagianya
Kini tak terasa
Mereka diam dalam tangis
Mereka merana dalam duka

Apakah harus beini
Apakah harus selalu menerima
Apakah ini sebagian dari ujian
Untuk sukses di masa depan?

Tangis yang ada tak pernah berpihak!

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...