Thursday, April 22, 2010

UNSUR INTRINSIK PUISI

Unsur Intrinsik Karya Sastra adalah usur yang secara organik membangun karya sastra dari dalam. Unsur tersebut jalin-menjalin secara struktural sehingga terwujud sebuah karya sastra
1. TEMA
Tema ialah persoalan pokok yang hendak disampaikan oleh penyair.
Contoh tema :
• Tema diri: berdasarkan pengalaman diri.
• Tema cinta: cinta akan kekasih, ibu bapa, tanah air, bangsa dan negara.
• Tema masyarakat: memaparkan simpati dan nasib masyarakatnya di samping saranan penyajak tentang langkah-langkah mengatasinya.
• Tema alam: gambaran alam seperti keindahan dan pencemaran alam.
• Tema semangat perjuangan / nasionalisme: semangat pahlawan negara
• Tema ketuhanan & keagamaan: soal kesedihan, kematian, kesedaran dan sebagainya.
2. NADA
Nada ialah alunan lembut, keras, rendah atau tinggi yang terhasil daripada pelbagai jenis bunyi dalam sesebuah sajak yang berhubung erat dengan perasaan, pemikiran dan sikap penyair yang diungkapkan dalam puisinya.
Nada juga berhubung rapat dengan tema, persoalan, rima, jenis dan bentuk sesebuah puisi itu.
Macam-macam nada dalam puisi:
• Nada melankolik: nada murung yang menggambarkan suasana hati yang sedih. Tekanan suara lebih rendah dan perlahan serta sesuai untuk puisi yang bertemakan penderitaan, kehampaan dan kerinduan.
• Nada romantik: menggambarkan suasana hati yang tenang dan menyenangkan. Tekanan suara agak tinggi dan diselangi oleh tekanan suara rendah dan perlahan. Sesuai untuk puisi yang bertemakan peristiwa indah dan menggembirakan.
• Nada patriotik: menggambarkan suasana hati yang penuh bersemangat. Tekanan suara lebih tinggi, pantas atau cepat. Sesuai untuk puisi yang bertemakan perjuangan, bercita-cita tinggi, besar dan mulia.
• Nada sinis: menggambarkan suasana hati yang kurang senang. Tekanan suara agak rendah dan perlahan, iaitu bersesuaian dengan puisi yang bertemakan hal yang tidak disukai atau kurang dipersetujui.
• Nada protes: menggambarkan suasana hati yang penuh pertentangan atau pemberontakan. Tekanan suara lebih tinggi dan pantas. Sesuai untuk puisi yang bertemakan ketidakadilan dan ketajaman.
nada dan suasana terkait dengan makna dan pilihan kata-kata yang digunakan penyair.
Perhatikan puisi di bawah ini !
Sepi di sini sepi batu dan sepi gunung
Sepi hutan-hutan hijau melengkung
Padang-padang ilalang sejauh mata merenung
di atasnya mengambang rawan suatu calung
Bandingkan dengan rima dan irama puisi berikut

Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembs kulitku
aku tetap meradang menerjang

dari contoh puisi di atas terasa pebedaan rima dan irama, serta nada dan suasana yang dibangun oleh penyair. Pada puisi pertama tersirat suasana santai dan tenang, sedangkan pada puisi kedua terdapat nada keras dan penuh semangat.
Pilihan kata : sepi di sini sepi batu dan sepi gunung
Akan melahirkan nada dan suasana yang berbeda dengan pilihan kata : Biar peluru menembus kulitku, Aku tetap meradang menerjang
3. BUNYI (Rima dan Irama)
Keindahannya terlaksana melalui kata atau rangkai kata yang dipilih, teratur dan berfungsi dalam keseluruhan sajak tersebut.
Irama: alunan lembut dan keras bunyi yang berulang secara teratur, imbangan kata dalam baris, dan panjang pendek baris sebuah sajak yang baik.
Rima: menambah kerapian bentuk dan memperkaya kesan muzik bahasa. Pengulangan bunyi vokal dalam baris yang sama dikenali sebagai asonansi. Pengulangan bunyi konsonan dalam satu baris pula dikenali sebagai aliterasi.
4. SIMBOL (KIASAN)
Ialah kata-kata tertentu yang digunakan untuk menyatakan sesuatu di luar erti kata-kata itu sendiri.

5. GAYA BAHAS
Bahasa digunakan untuk memindahkan perasaan dan pemikiran penyair.Bahasa yang ekonomis datang daripada pembentukan baris-baris yang ringkas dan penggunaan kata yang terbatas, tetapi padat mendukung makna.
Bahasa puisi bersifat konotasi, iaitu mempunyai makna kebih daripada satu, kaya, jauh dan luas pengertiannya. Bahasa denotasi pula mempunyai makna yang khusus seperti di dalam kamus.
Bahasa yang digunakan dalam puisi sangat khas. Untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya, penyair menggunakan kata, frasa, bermakna kias dan bermajas. Kata kias dan gaya bahasa digunakan untuk memperjelas atau menghidupkan puisi.
Perhatikan kutipan puisi berikut !
Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang letih
Di atas jasad yang pedih (“Siluet”)

Setiap perjuangan yang akan menang
selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian
dan para jagoan kesiangan (“Memang Selalu Demikian Hadi”)
TYPOGRAFI
Adalah susunan baris atau bait puisi serta penulisan huruf

ENJABEMEN
Adalah pemotongan kalimat atau frasa akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya
Nada dan Suasana Nada dan suasana adalah keadaan yang dibangun oleh penyair dalam membangun puisinya

Menentukan Tema dan Makna dalam sebuah puisi

Tema puisi adalah gagasan utama atau gagasan pokok yang disampaikan penyair kepada pembacanya.
Tema dalam sebuah puisi tidak bersifat tunggal.
Tema dalam karya satra diungkapkan dalm beberapa pernyataan
Makna puisi dapat dipahami melalui pemahaman kata-kata (kata kias atau lambang) yang digunakan.
Isi puisi tidak dapat diketahui dengan cara mengartikan kata perkata, karena puisi merupakan kesatuan

DIKSI DALAM PUISI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)". Seorang pengarang pastilah akrab dengan hal ini, lebih-lebih seorang pengarang puisi atau penyair. Puisi menuntut seorang penyair untuk dapat mengungkapkan gagasan kreatifnya secara ringkas namun berdaya guna menghasilkan efek tertentu pada pembaca. Dalam hal puisi, tentu saja, efek yang dimaksud tersebut akan sangat bergantung kepada daya apresiasi pembaca atas karya puisi dimaksud
Diksi tentu tak bisa dilepaskan dari kosa kata. Agar seorang penyair mampu mengolah diksi, ia dituntut memiliki perbendaharaan kata yang cukup kaya serta upaya yang tekun dan tak kenal menyerah untuk mencari kemungkinan-kemungkinan bentukan komposisi kata yang unik, segar, dan menyarankan kebaruan pada kadar tertentu

PUISI BARU

DISTIKON
adalah puisi dua seuntai, dalam bait terdapat dua untai atau dua larik dalam tiap bait puisi.
Contoh distikon :
KUCARI JAWAB

Di mana air, di dasar kolam
Kucari jawab teka-teki alam

Di kawan awan kian ke mari
Di situ juga jawabnya kucari

Di warna bunga yang kembang
Kubaca jawab, penghilang bimbang

(J.E.Tatengkeng)

TERSINA, adalah puisi tiga seuntai

Contoh tersina :

DAMAI
(Rona Uli)

Selalu kulihat peperangan
Selalu kulihat pertikaian
Dimana kudapat kesenangan
Semua orang cinta damai
Tetapi mengapa ada keributan
Masih ada silang sngketa di hati
Dimanakah hati mereka
Yang rela melukai saudaranya
Melemahkan jiwa raga

QUATRAIN, adalah puisi empat seuntai

BERPISAH
(Rizki Amelia)
Berat rasanya untuk melangkah
Menghindar dari kenyataan ini
Yang kulalui bersamamu
Hanyalah sebuah cerita dan kisah

Rasa ini menyesak di dada
Perlahan-lahan kumelangkah
Berjalan, berlari-lari
Itupun hanya akan membuatku luka

Tak ingin kuberpisah darimu
Namun apa dayaku melakukannya
Kita adalah manusia
Yang suatu saat akan berpisah


QUINT, adalah puisi lima seuntai
TINGGALLAH
karya :Gilang Ramadhan
Entah, bagaimana akan kukatakan nanti
Darah semua sudah gersang
Tak ada sbatang rumput yang tumbuh disitu
Di luar pawai kematian terus bersambungan
Oh…insan, jangan datang lagi kemari

Daerah sudah kering semat, tugu
Jangan bicara lagi pada jabat penghabisan
Lari-larilah kependakian
Ini daerah kematian
Tinggalkanlah, cepat, tinggalkan

Aku tak ingin seperti ini
Ada orang bertangisan
Ada tersimpan duka di dada
Ada rasa tertinggal yang dalam



SEKTET, adalah puisi enam seuntai
Contoh Sektet
Gemuruh di hati
(Dwi Supriati)

Gemuruh di hatiku
Merada sendirinya
Langit menjadi cerah
Dan udara tak lagi menyesakkan dada
Mungkin karena telah kutemukan
Definisi lain dari cinta

Makna tak lagi berasal dari pertemuan
Dan rasa rindu yang membuatku bahagia
Merasuk dalam jiwa yang gelisah
Merapat dekat di hati
Selalu bersemanyam dan tertata di dunia
Untuk selama-lamanya

SEPTIMA, adalah puisi tujuh seuntai
Contoh Septima

Bintang
(Jamaludin)

Kau terangi malamku
Disaat aku membutuhkanmu
Kau isi hari gelapku
Kau beri cahayamu
Dan kau hantarkan keindahanmu
Berikan cahayamu
Terimakasih untukmu

OKTAV, adalah puisi delapan seuntai
Contoh aktavo :

Warna hutanku
(Bunda NaRa)

Ada asap membungkus hutanku
Ada kemuraman disetiap nafas bangsaku
Tak lagi indah tanahku
Tak lagi hijau atap rumahku
Kalau ada rasa yang punah
Adalah kebisuan pemegang janji
Kalau ada resah
Adalah kami penduduk negeri

SONETA

Adalah bentuk puisi baru yang berasal dari italia. Kata soneta berarti suara atau Tatin Sono. Makna pengertian Soneta adalah syair bersuara.
Syarat-syarat soneta :
a. jumlah barisnya ada 14 buah, yang terbagi menjadi dua kutrain yang merupakan oktav dan dua tersina yang merupakan sektet.
b. Bersajak abba//abba//cdc//dcd. Jadi merupakan saja peluk.
c. Ada peralihan buah pikiran atau pernyataaan dalamnya yang dimulai pada sekstet dan disebut volta.
d. Buah pikiran yang terdapat di dalam oktav merupakan persoalan, buah pikiran yang terdapat dalam sekstet merupakan jawab.
Biasanya oktav melukiskan keindahan alam, yang digunakan semacam sampiran dalam pantun sebagai gambaran yang akan ditegaskan dalam sekstet,
Bila dengan 14 baris itu uraian penulis belum selesai, boleh ditambah dengan coda (tambahan), jumlah barisnya genap dari 2 sampai 14.

RESENSI

RESENSI

Apa itu Resensi?
Singkatnya, Resensi adalah pertimbangan, pembicaraan atau ulasan sebuah buku (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Resensi berasal dari bahasa Belanda, recensie. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan review. Kata tersebut sendiri berasal dari kata Latin ‘revidere’ dan ‘resence’, artinya melihat kembali, menimbang atau menilai. Di negeri kita, resensi sering diistilahkan dengan timbangan, tinjauan, atau bedah buku, dll. Sedangkan menurut Webster Collegate Dictionary (1995), review adalah “a critical evaluation of a book” Karena pada hakikatnya resensi haruslah menjelaskan apa adanya suatu buku; baik kelebihan ataupun kekurangannya. Jadi resensi bukanlah tulisan yang menjual buku. Tidak ada pesan sponsor bagi resensi buku; karena itu resensi yang baik hanya mengungkafkan apa yang dibaca oleh presensi secara kritis.
Tujuan Resensi
• Membantu pembaca menentukan perlu tidaknya membaca karya tersebut
• Membantu pembaca perlu tidaknya membeli karya tersebut
• Membantu pengarang dan penerbit memperkenalkan karya-karya terbaru mereka
Unsur-unsur resensi
1. Identitas buku
mendeskripsikan bukuyang diresensi. Terdiri atas:
judul buku :
pengarang :
Penerbit :
tahun terbit :
jumlah halaman :
jenis kertas :
gambar sampul :
cetakan :
2. Permasalahan dan pemecahan
bagian ini menyajikan permasalahan yang relevan dengan buku
3. Isi buku
bagian ini berisi ulasan isi buku secara garis besarnya. Penyajiannya diupayakan menarik agar pembaca tertarik membaca buku yang diresensi
4. Kelemahan dan kelebihan
bagian ini menyajikan kelemahandan kelebihan isi buku dilihat dari unsur intinsik karya, serta pendapat resensator tentang isi buku
6. Kelayakan buku untuk diperkenalkan
bagian ini menyajikan pendapat resensator terhadap karya untuk diperkenalkan pada masyarakat

Contoh Resensi

Judul : Atas Nama Malam
Pengarang : Seno Gumira Ajidarma
Tebal : 167 halaman
Terbit : januari 1999

Sebagian besar cerita dalam buku ini berkisah tentang orang-orang malam: kehidupan dan percintaan yang berlangsung di malam hari. Apakah hidup memang menjadi lain pada waktu malam? Apakah malam hanya berarti gelap, atau merupakan suatu makna? Buku ini tidak hanya berkisah tentang cinta, tetapi tentang sisi gelap dalam kehidupan manusia yang selalu mempunyai rahasia. Gelap tidak selalu berarti jahat, gelap adalah gelap, di mana segala sesuatu hanya nampak remang-remang.
Ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, penulis cerita pendek yang mendapat South East Asia (SEA) Write Award 1997 dari Kerajaan Thailand, Penghargaan Penulisan Karya Sastra 1997 (Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi), dan Hadiah Sastra 1997 (Negeri Kabut). Bukunya Saksi Mata diterjemahkan Jan Lingard sebagai Eyewitness, mendapat Dinny O'Hearn Prize for Literary Translation 1997 di Australia.
Kumpulan cerpen lain dari penerbit buku ini, Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, disambut baik dan mengalami cetak ulang.

SASTRA LAMA

DONGENG

Dongeng, merupakan suatu kisah yang di angkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, menjadi suatu alur perjalanan hidup dengan pesan moral, yang mengandung makna hidup dan cara berinteraksi dengan mahluk lainnya. Dongeng juga merupakan dunia hayalan dan imajinasi, dari pemikiran seseorang yang kemudian di ceritakan secara turun-temurun dari generasi kegenerasi. terkadang kisah dongeng bisa membawa pendengarnya terhanyut kedalam dunia fantasi, tergantung cara penyampaian dongeng tersebut dan pesan moral yang disampaikan. Kisah dongeng yang sering diangkat menjadi saduran, dari kebanyakan sastrawan dan penerbit lalu dimodifikasi menjadi dongeng ala moderen. Salah satu dongeng yang sampai saat ini masih diminati anak-anak ialah kisah 1001 malam, sekarang kisah asli dari dongeng tersebut hanya di ambil sebagin-sebagian, kemudian di modifikasi dan ditambah, bahkan ada yang di diganti sehingga melenceng jauh dari kisah dongeng aslinya. sekarang kisah aslinya seakan telah ditelan oleh usia zaman dan waktu.
Macam-macam dongeng
1. Mythe
Mythe berasal dari kata Yunani, Mythos yaitu dongeng yang menceritakan kehidupan makhluk halus atau hantu, seperti jin, kuntilanak, setan, dan lain sebagainya.
Misalnya:
Setan Penanggalah
Hantu Wewe Gombel
2. Fabel atau Dongeng Binatang
Ialah dongeng yang menceritakan binatang yang hidup sebagai manusia, berbuat dan berbicara seperti manusia. Pada umumnya fabel mempunyai pesan pendidikan.
Misalnya:
Pelanduk yang Jenaka
Harimau dengan Manusia
3. Legenda
Ialah dongeng yang berisi tentang terjadinya nama-nama tempat: gunung, sungai, danau, dan sebagainya.
Misalnya :
Terajadinya Danau Toba
Banyuwangi
4. Dongeng jenaka atau orang Pandir
Dongeng ini sengaja mengemukakan kebodohan seseorang. Apa yang dikemuannya serba salah sehingga menimbulkan kejenakaan. Setipa daerah di Indonesia mempunyai tokoh ini.
Misalnya :
Pak Pandir, Pak Kadok, Lebai Malang (dari Melayu)
Joko Kendil, Joko Bodo (dari Jawa)
Ni Pandir, Simamora Nakotok (dari Batak)
Sempader, Aram Jadah (dari Gayo)
Si Kabayan, Bapa Leco, Aki Bolong (dari Sunda)
5. Sage
Ialah dongeng yang mengandung sejarah
Misalnya:
Hang Tuah
Joko Tingkir

HIKAYAT

Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Tokoh utama dalam hikayat ialah raja, permaisuru, putra raja yang gagah berani.
Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.
SEJARAH
Penulis sejarah dalam prosa lama ialah pegawai istana yang hanya menulis hal yang baik tentang asal usul raja dan kaum bangsawan serta kejadian-kejadian penting. Yaitu tentang
Contoh sejarah:
Sejarah Melayu – dituis oleh Tun Sri Lanang
Silsilah Bugis

SASTRA INDONESIA

BENTUK KESUSATRAAN

    1. Prosa
Adalah bentuk sastra yang dinyatakan bebas. Cara ini tidak memiliki ikatan yang luar biasa. Kata prosa diambil dari bahasa Latin orates provorsa, yang berarti ucapan langsung
Bntuk Prosa:
(1) Prosa Lama
a.       Dongeng
b.      Hikayat
c.       Sejarah
(2) Prosa Baru
      a. Roman
      b. Novel
      c. Cerita Pendek
      d. Drama
      e. Resensi
      f. biografi dan otobiografi

                  B. Puisi
 Adalah bentuk sastra yang treikat dengan aturan bait, rima, irama,bait, dan larik.
Bentuk Puisi :
(1)   Puisi Lama
a.       Mantera
b.      Bidal
c.       Pantun Kilat /Karmina
d.      Pantun
e.       Pantun Berkait
f.       Talibun
g.       Seloka
h.      Gurindam
i.        Syair
(2)   Puisi Baru
a.       Distikon
b.      Terzina
c.       Quatrain
d.      Quint
e.       Sektet
f.       Septime
g.       Oktavo/Stanza
h.      Soneta

Monday, April 19, 2010

SOAL UJIAN SEKOLAH PRAKTIK SASTRA


YAYASAN PENDIDIKAN PENGAJARAN DEWASA

SEKOLAH MENENGAH ATAS
SMA YAPPENDA
Status : Terakreditasi “A” SK.No.Ma.000098/I/2005

Jl.Swasembada Timur V/10 Jakarta Utara

SPESIFIKASI UJIAN PRAKTIK SEKOLAH

Tahun Pelajaran 2009 – 2010


                                                            Mata Pelajaran             :   Sastra Indonesia
                                             Program Studi              :    Bahasa
                                    Jumlah Soal                  :    5
                                          Bentuk Soal                  :   Lisan
                                          Bentuk Penilaian           :  Praktik  
Standar Kompetensi Lulusan              :    
Mendengarkan
Siswa mampu memahami penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama, serta memahami puisi terjemahan yang dilisankan

   Uraian Kompetensi                         :     Mengidentifikasi tokoh, dialog, dan latar dalam pementasan drama ; menganalisis kesesuaian penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama
   Materi                                            :     Unsur intrinsik pementasan drama

   Indikator Soal                                 :    
   Diputarkan sebuah video pertunjukkan drama siswa dapat:
  1. menentukan tokoh-tokoh dan watak tokoh dalam pementasan drama
  2. menentukan jumlah adegan dalam pementasan dan menggambarkan secara singkat latar setiap adegan
  3. menentukan setting yang terdapat dalam setiap adegan
  4. memberikan pendapat mengenai kesesuain latar dalam setiap adegan di pementasan drama
  5. menceritakan kembali isi cerita dalam pementasan drama yang ditonton

   Nomor Soal                                   : 1, 2, 3 , 4, 5     

Uraian Soal                                    : -  

1.      Tulislah tokoh dan watak tokoh dalam pementasan drama yang telah Anda tonton!
2.      Ada berapa adegan yang terdapat dalam pementasan drama tersebut? Gambarkan secara ringkas  setiap adegan!
3.      Dimanakah setting cerita dalam pementasan drama tersebut!
4.      Apakah latar dalam setiap adegan mendukung cerita dalam pementasan tersebut? Jelaskan pendapatmu!
5.      Ceritakan kembali isi cerita drama (maksimal 350 kata) dengan memperhatikan kaidah penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar!     
Jakarta, April 2010
                  Mengetahui,                                                                                                   Penulis Soal
               Kepala Sekolah



        Drs. H.M Bakri Siknun.MM                                                                         Dra. Seni Asiati    

Laporan Citi Success Fund



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

          Setiap hari kita pasti berkomunikasi secara lisan. Komunikasi itu kita gunakan untuk menginformasikan sesuatu hal atau mendapatkan informasi dari orang lain. Kegiatan belajar mengajar yang terjadi di dalam maupun di luar kelas juga merupakan cara mendapatkan informasi. Teknik penyampaian informasi yang baik memungkinkan seseorang memahami apa yang diinformasikan.
Guru sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar haruslah memahami beragam metode atau teknik menyampaikan informasi kepada peserta didiknya. Hal ini dimungkinkan karena informasi yang disampaikan memiliki suatu tujuan yaitu agar peserta didik menuntaskan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dalam silabus.
Metode pembelajaran berisi berbagai cara/teknik menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Apabila dikaitkan dengan pengalaman belajar, metode berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang (Tarigan, 1980:260).
Metode diharapkan dapat mempermudah dan memperlancar proses kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sarana transformasi nilai dan ilmu pengetahuan dapat memberi nilai tambah bagi guru dan khususnya peserta didik. Bagi guru, penggunaan metode dan strategi yang bervariasi dan tepat dapat memberikan  rasa percaya diri yang lebih sehingga penguasaan kelas akan dapat berjalan dengan baik.
Berdasarkan kenyataan di atas, untuk mengatasi kendala seperti tersebut di atas, maka perlu dipikirkan cara penyajian dan model pembelajaran bahasa Indonesia pada pembelajaran keterampilan berbicara dengan multimedia pembelajaran berbasis ICT . ICT atau Teknologi Informasi dan Komunikasi yang kini berkembang, bisa menjadi salah satu alternatif bagi peserta didik untuk mengikuti perkembangan IT dengan dipadukan pembelajaran keterampilan berbicara. Pemanfaatan IT memungkinkan setiap peserta didik dapat berpatisipasi aktif dalam pembelajaran, karena bahan ajar dengan menggunakan media komputasi dikemas dalam bentuk interaktif dan bersifat edukatif.
Dalam pengembangannya penulis menggunakan metode survey dengan cara melakukan pengamatan secara langsung di lapangan. Hasilnya, ternyata  masih banyak peserta didik yang masih belum berani berbicara di depan kelas ataupun di depan umum. Cara penyampaian informasi yang masih belum baik serta perbendaharan kalimat yang masih sederhana. Padahal mereka tahu informasi apa yang ingin disampaikan.
Penggunaan Camtasia Studio adalah sebuah alternatif memanfaatkan IT dalam pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. Tidak menutup kemungkinan penggunaan Camtasia Studio juga bisa digunakan untuk pembelajaran mata pelajaran lainnya. Dengan memanfaatkan IT dalam hal ini penggunaan Camtasia Studio, menjadikan suasana belajar dan mengajar lebih inspiratif, aktraktif, dan menimbulkan rasa ingin tahu peserta didik.
Banyak kegunaan Camtasia Studio dalam segi berkomunikasi dengan IT.
Mengapa Camtasia?
ü      Menjangkau siapapun, dimanapun (peserta didik yang baru belajar IT bias dengan mudah menggunakan Camtasia Studio)
o       Dengan Menggunakan Camtasia Studio, kita dapat dapat menyampaikan informasi dengan kualitas terbaik , baik untuk penggunaan saat itu juga maupun untuk penggunaan pada saat pertemuan berikutnya
ü      Tidak perlu memiliki kemampuan Multimedia
o        Dengan Camtasia Studio setiap orang dapat membuat vidio secara profesional.
Karena pengoperasian yang mudahlah maka kami menggunakan Camtasia Studio sebagai media untuk meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik SMA Yappenda
1.2 Rumusan Masalah
a.   Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan IT dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi peserta didik SMA YAPPENDA Jakarta?
b.  Apakah penggunaan Camtasia Studio dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi peserta didik SMA Yappenda?
1.3 Tujuan Penelitian
a.   Untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan IT dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi peserta didik SMA Yappenda
b.  Untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta
c.   Penggunaan media IT Camtasia Studio dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia.
d.  Dokumentasi sekolah terhadap karya peserta didik
1.4 Manfaat Penelitian
      Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
      Untuk Guru:
a.     Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan IT dalam pembelajaran keterampilan berbicara, khususnya bagi peserta didik SMA Yappenda Jakarta;
b.    Keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta yang menjadi subjek penelitian dengan menggunakan Camtasia Studio ini mengalami peningkatan yang signifikan;
c.    Para guru bahasa Indonesia SMA  atau mata pelajaran lain untuk aspek berbicara peserta didik, diharapkan menggunakan Camtasia Studio dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain dengan memanfaatkan IT..
Untuk Peserta Didik:
a.    Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
b.    Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
c.    Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
d.    Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
e.    Memanfaatkan IT untuk sesuatu yang berguna dan bermakna
       
      
                                                                              BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Berbicara
      Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis.
      Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara. Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan peserta didik di SMA Yappenda Jakarta, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu peserta didik terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun peserta didik dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9)
      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Kridalaksana, ed. 1996:144) dijelaskan bahwa berbicara adalah “berkata; bercakap; berbahasa, atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dsb.) atau berunding”. Sementara itu, Tarigan (1983:15) dengan menitikberatkan pada kemampuan pembicara menyatakan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atas kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, seta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Sedangkan, sebagai bentuk atau wujudnya, berbicara dinyatakan sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasangagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
      Hal senada juga dikemukakan oleh Mulgrave (1954:3-4). Dia menyatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa atau katakata untuk mengekspresikan pikiran. Selanjutnya, dinyatakan bahwa berbicara merupakan sistem tanda yang dapat didengar dan dilihat yang memanfaatkan otototot dan jaringan otot manusia untuk mengomunikasikan ide-ide. Berbicara juga dipahami sebagai bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor fisik, psikis, neurologis, semantik, dan linguistik secara ekstensif sehingga dapat digunakan sebagai alat yang sangat penting untuk melakukan kontrol sosial.

2.2 Camtasia Studio
    Camtasia adalah software (perangkat lunak) yang dikembangkan oleh TechSmith Coorporation. Camtasia ini sendiri digunakan untuk merekam semua aktifitas yang ada pada desktop komputer. Software ini bisa kita manfatkan untuk membuat media pembelajaran berbasismultimedia dan e-learning. (http://www.blogcatalog.com/blog/tutorial-camtasia-studio/ff759b592ee1ab9607e1e34b1326b862)
    Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2000).
Zaman kini sudah berubah begitu berkembangannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, menuntut kita untu mengetahui dan mengikuti perkemabangan Zama. Era Globalisasi dan AFTA yang ditandai dengan perkembangan Teknologi Informasi merupakan salah satu tonggak kemajuan IT , berimbas pada dunia pendidikan. System komputerisasi yang kin digunakan menuntut pelajar dan guru untuk mau belajar IT.
Era Globalisasi merupakan tantangan dan konsekuensi untuk berpikir maju dan bersaing dalam segala hal. Untuk itu kita harus mempersiapkan peserta didik untuk mampu bersaing di era tersebut melalui penguasaan dan kehandalan SDM. Karena sekolahlah mereka bisa serta mampu bersaing, karena sekolah adalah senjata paling ampuh untukmemenangkan persaingan yang semakin kompetitif, dan tidak lagi dipandang sebagai biaya, akan tetapi merupakan investasi mutlak. (Warungilmu)
Teknologi Informasi sudah menjadi kebutuhan pokok setiap individu, lihat saja di setiap sudut dari mulai anak-anak hingga orang lanjut usia sibuk menggunkan Hand Phone (telepon genggam) selain untuk berkomunikasi juga memanfaatkan teknologi untuk menjelajah dunia maya.sekolah

BAB III
METODOLOGI

3.1 Metode Penelitian
    Penelitian ini dimulai dengan melakukan identifikasi masalah atau refleksi awal terhadap rendahnya tingkat keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta. Berdasarkan refleksi awal ditemukan penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta, yaitu penggunaan pendekatan pembelajaran dan metode yang tidak mampu membawa peserta didik ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata atau terlepas dari konteks dan situasi. Akibatnya, proses pembelajaran berlangsung monoton dan membosankan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran dan metode dengan memanfaatkan IT yang kini sedang berkembang di kalangan peserta didik, yang diduga mampu membawa peserta didik ke dalam situasi penggunaan bahasa secara nyata sehingga peserta didik memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi sehari hari.  
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan observasi, dilakukan analisis data yang diperoleh dari hasil keterampilan berbicara peserta didik SMA Yappenda Jakarta. Berdasarkan data dan hasil survey diperoleh data sebagai berikut.
a.       Keterampilan berbicara peserta didik  masih perlu dilakukan latihan untuk menumbuhkan sikap percaya diri
b.      Kemampuan IT peserta didik sudah baik karena peserta didik mengenal IT sehari-hari melalui pelajaran maupun kegiatan yang menyenangkan di rumah dan di luar rumah (Warnet)
3.2  Lokasi dan Subjek Penelitian
    Lokasi penelitian adalah kelas XI IPA  dan kelas XI Bahasa SMA Yappenda Jakarta. Subjek penelitian adalah peserta didik SMA Yappenda Jakarta yang terdiri atas 30 peserta didik kelas XI IPA dan 22 peserta didik kelas XI Bahasa, dengan rincian 24 peserta didik laki-laki dan 28 peserta didik perempuan.
3.3  Pemecahan Masalah
    Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan berbicara, khususnya keterampilan peserta didik SMA Yappenda Jakarta dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan  dan membacakan naskah berita dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif.
    Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal, SMA Yappenda Jakarta yang dinilai sudah mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dan membacakan naskah berita dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif baru sekitar 20% (10 peserta didik) dari 52 peserta didik. Data ini masih jauh dari standar ketuntasan belajar minimal secara nasional, yaitu 75%.

3.4 Rencana Tindakan
    Rencana tindakan yang akan dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik untuk meningkatkan kemampuan kelas XI SMA Yappenda Jakarta dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dan membacakan naskah berita dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif, dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:
Tahap Observasi dan Rencana Tindakan
1.   Guru melakukan survey data dengan menyebarkan angket untuk peserta didik kelas XI mengenai kemampuan berbicara peserta didik dan kemampuan IT
2.   Guru menganalisis hasil angket dan kemampuan peserta didik di kelas XI
3.   Guru menentukan pendekatan dan metode yang sesuai berdasarkan hasil angket
Tahap Pengenalan IT
1.  Berkolaborasi dengan guru IT guru mengenalkan media IT Power Point dan cara pengoperasiannya
2.  Guru IT mengenalkan Camtasia Studio dan pengoperasiannya pada beberapa Guru yang akan menjadi kolaborator dalam rencana tindakan
Tahap Pelaksanaan Kegiatan
1.      Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari dua orang peserta didik setiap kelompok menentukan tema yang akan dibuat
2.       Guru menugaskan setiap kelompok mengumpulkan materi pendukung berdasarkan tema yang telah ditentukan. Materi pendukung tersebut antara lain foto-foto yang mendukung informasi yang ingin ditulis usahakan menggunkan kamera digital atau kamera hanphone agar bisa digunakan di komputer, dan informasi dari internet
3.   Guru menugaskan tiap kelompok untuk menuliskan apa yang ingin disampaikan berdasarkan foto-foto yang telah dikumpulkan
4.      Setiap kelompok membuat sebuah presentasi dalam media power point dan memasukkan setiap gambar yang dimiliki
5.      Berdasarkan slide dan gambar yang telah sesuai tema, peserta didik menyusun informasi yang ingin disampaikan
6.      Guru memeriksa kesiapan media presentasi peserta didik dan bersama peserta didik memperbaiki kesalahan dan kekurang yang ada
7.      Bersama guru IT dan guru kolaborator, mengenalkan peserta didik pada media IT Camtasia Studio
8.      Peserta didik mempraktikkan media presentasi power point untuk mengisi suara peserta didik dengan menggunakan Camtasia Studio yang telah dipelajari dan menyimpannya
Tahap Evaluasi
1.      Peserta didik menyimpan hasil karyanya dalam bentuk CD
2.      Guru menyeleksi hasil karya peserta didik berdasarkan tema : pengalaman mengesankan atau membacakan berita
3.      Guru menayangkan hasil arya peserta didik di depan kelas dan bersama peserta didik melakukan penilaian silang
4.      Setiap kelompok menilai dua kelompok lain berdasarkan rubrik penilaian yang telah disepakati bersama (terlampir)
5.      Hasil penilaian direkap ulang
      Tahap Analisis dan Refleksi
                        Pada tahap ini, guru menganalisis data yang diperoleh berdasarkan unjuk kerja yang dilakukan peserta didik ketika menceritakan pengalaman yang mengesankan dan membaca naskah berita dengan pilihan kata dan kalimat yang efektif. Unsur-unsur yang dianalisis, yaitu kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata, keefektifan kalimat, kelogisan penalaran, dan kemampuan menempatkan gambar dan informasi yang sesuai. Berdasarkan hasil analisis data akan diketahui unsur-unsur mana saja yang masih menjadi hambatan peserta didik dalam menceritakan pengalamannya yang mengesankan dan membaca naskah berita.
Hasil analisis data tersebut juga sangat penting dan berharga sebagai bahan untuk melakukan refleksi bersama peserta didik.
Tahap Reward
1.      pada tahap ini kelompok yang mengumpulkan nilai terbanyak dari penilaian dua kelompok lain mendapatkan reward atau penghargaan
2.      pengharagaan yang diberikan adalah dalam bentuk pujian dan penambahan nilai 2 untuk terbaik ke-1 dan penambahan nilai 1 untuk terbaik ke-2
3.5  Tahap Camtasia Studio media presentasi Power Point
    Berikut ini adalah tahapan menggunakan Camtasia studio aspek berbicara tema menceritakan pengalaman mengesankan dan membacakan naskah berita yang diajarkan pada peserta didik SMA Yappenda Jakarta.
  1. Instal Camtasia Studio 5.1 (bisa didownload di internet, atau membeli cd driver yang banyak dijual di toko penyedia layanan IT)
  2. buka power point
  3. add mix volume pada pojok kanan
  4. tekan option pilih advance control
  5. buka power point klik camtasia add in option
  6. klik star
  7. at  end prsentasion pilih stop recording klik
  8. video frame rate 10
  9. klik capture layered windows
  10. klik record audio
  11. audio source pilih microphone only
  12. klik record di pojok kiri atas
  13. mulai merekam apa yang akan dibicarakan mulai dengan salam
  14. selesai rekam klik esc
  15. muncul save klik edit recording
  16. muncul project setting
  17. klik oke
  18. klik produce video as
  19. muncul production wizard
  20. klik flas
  21. klik next
  22. muncul recomended gambar flas klik swf/flv
  23. klik mana yang kita inginkan sesuai kebutuhan
  24. klik next
  25. klik template
  26. klik size sesuai kebutuhan
  27. next muncul video optionklik include
  28. muncul watermark
  29. next muncul produce video
  30. pilih nama penyimpanan kemudian buat rename sendiri sesuai kitaBAB IV
    PENUTUP


    4.1 Kesimpulan
    Program ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatakan kemampuan berbicara peserta didik dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Program ini diajukan karena melihat beberapa masalah yang sering terjadi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, antara lain :
    1. Peserta didik masih malu untuk berbicara di depan kelas
    2. Peserta didik kurang pandai menyusun kalimat dalam berbicara khususnya bercerita, menyampaikan informasi atau berkomunikasi secara lisan.
    3. Kurangnya pemahaman peserta didik terhadap isi materi pelajaran terutama aspek kemampuan berbicara
    Pemecahan dari masalah yang sering dialami guru dalam pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunkan media power point Camtasia Studio ternyata mampu meningkatkan kemampuan berbicara bahkan kemampuan menulis. Kemampuan berbicara ditingkatkan dengan cara mengulang presentasi yang dibuat secara kelompok dan mendengarkan langsung hasilnya sehingga peserta didik tahu kekurangan dari kemampuan berbicaranya.
    Selain itu memanfaatkan Camtasia Studio sebagai media untuk meningkatkan kemampuan berbicara peserta didik, menumbuhkan semangat untuk lebih menguasai IT untuk hal yang positif.
    Beberapa kelebihan menggunakan Camtasia Studio antara lain:
    1. Camtasia Studio memungkinkan peserta didik yang masih malu untuk berbicara menjadi percaya diri setelah melihat hasil rekamannya.
    2. Hasil karya peserta didik dapat menjadi referensi guru lain untuk mengembangkan kemampuan berbicara peserta didik juga sebagai penghargaan terhadap hasil karya peserta didik.
    3. Hasil karya peserta didik terbaik dapat menjadi media untuk pembelajaran di kelas
    4. Kegiatan ini dapat berlangsung karena setiap peserta didik akan tertantang untuk berbicara dengan bantuan Camtasia Studio.
    5. Selanjutnya peserta didik dapat membuat sendiri rekaman dalam bentuk lain, misalnya film pendek
    6. Memudahkan dan memberikan alternatif pembelajaran di luar kelas yang bermanfaat, menyenangkan,  bermakna bagi peserta didik
    7. Peserta didik mampu dan tidak malu lagi untuk berbicara di depan umum.
    8. Peserta didik dapat mengasah kemampuan berbicaranya dalam berbagai bentuk

    4.2 Saran
                Setiap tindakan dan kegiatan yang dilakukan pasti ada hambatan atau halangan yang mengiringinya. Berbagai kendala, hambatan, atau apapun halangan merupakan suatu cambuk untuk lebih baik lagi pada pelaksanaan yang berikutnya.
    Ada beberapa kendala dalam pelaksanaan penelitian ini, antara lain sulitnya mencari instruktur dan sofware pendukung penelitian.
    Kendala di lapangan antara lain :
    1.      Sumber daya manusia dalam hal ini siswa yang masih perlu pembinaan dan pengarahan intensif selama pelaksanaan kegiatan.
    2.      Aliran listrik yang kerap padam karena ada pemadaman bergilir, dan untuk waktu yang tidak tentu
    3.      Hardware yang kerap ada kerusakan pada saat pengoperasian, dan perbaikannya membutuhkan waktu lama menunggu teknisi yang memperbaiki.
    Karena berbagai kendala tersebut maka kami menyarankan :
    1.      Pada pelaksanaan menggunakan Camtasia Studio hendaknya melibatkan beberapa guru sebagai kolaborator yang berperan akatif dan tahu mengenai IT (minimal 5 orang guru terlibat di ruang kelas ), dengan asumsi 1 guru menghadapi 3 kelompok atau 6 orang siswa dengan jumlah siswa 30.
    2.      Atur waktu pelaksanaan dengan melihat jadwal pemadaman listrik ( lebih baik lagi bila dalam sekolah mempunyai generator sendiri, sehingga gangguan pemadaman dapat diatasi)
    3.      coba kembali semua perangkat IT, sebelum pelaksanaan dengan mengecek kabel, monitor, mouse, CPU, dan kelengkapan lainnya
         Hambatan dalam pelaksanaan kegiatan adalah sebuah bumbu agar kegiatan tersebut lebih bervariasi dan menarik, kegagalan karena kita pernah salah dan kesalahan bisa kita perbaiki untuk menghasilkan yang terbaik. Mudah-mudahan penelitian ini dapat berguna untuk memajukan pendidikan di Indonesia sehingga dapat menghasilkan para penerus bangsa yang bermutu.









    DAFTAR PUSTAKA

    Arifin, Zaenal E. 2003. Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: PT Grasindo
    Badudu, J.S. 1984. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta :  Gramedia
                Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka
    _________ 2001. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai  Pustaka
    _________.2004. Materi Pelatihan Terintegrasi Prinsip dan Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia.
    Hernowo.2004. Bu Slim & Pak Bil: Menggagas-Kembali Pendidikan Berbasiskan Buku. Bandung:Mizan Learning Center
    _______. 2005. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar Secara Menyenangkan. Bandung: Mizan Learning Center
    Syafrizal,Melwin.2005.Pengantar Jaringan Komputer.Yogyakarta: CV Andi Offset.
    Rachmat,Ujang Dkk. 2007.Pengembangan Bahan Ajar dan Bahan Ujian Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Depdiknas
    Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya
    Parera, Jos Daniel. 1996. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia, Landas Pikir dan Landas Teori. Jakarta: Grasindo
    Suyatno. 2005. Permainan Pendukung Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Grasindo
    Tarigan,Henry Guntur.1983. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa Bandung: Angkasa

    LAMPIRAN – LAMPIRAN


    1.      Kuesioner
    2.      Tabel Evaluasi Proses Pembelajaran
    3.      Hasil Penilaian
    4.      Foto-foto kegiatan
    5.      Biodata Penulis

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...