POWER POINT
Materi ini sudah pernah ditampilkan di blog, hanya ada beberapa kendala sehingga tidak bisa didownload semoga berguna.
All With Bunda *Na*Ra (Kalian ada karena Aku ada!) Bunda selalu di hati dan menemani
Monday, October 7, 2013
Wednesday, September 25, 2013
Puisi Stop Bullying
Kita bukan Kita
(by Bunda NaRa)
Jalan ini penuh sesak oleh airmata
Airmata pengiring sahabat tercinta
Laksana lagu ada irama dalam tangisnya
Karena sahabat tak pantas ada di sana
Kau terlanjur ada dan memaksa
Ketika tak kau beri apa yang kau punya
Kau tertegun tak percaya
Ketika tangan kukuh mengangkat wajah
Menghantam dada dan kepala
Tak ada kata untuk menjawab
Tak ada waktu untuk melawan
Tak ada tenaga untuk membalas
Karen dikeliling ada perisai lawan
Membuat ciut nyali diraga
Walau dalam daerah yang berkawan
Semua dibilang atas nama pendidikan
Semua dikata atas nama pembinaan
Pukulan tak pernah diajarkan
Bentakan tak pernah ditugaskan
Hantaman tak pernah dikurikulumkan
Tapi ada uian atas nama disilin dan peraturan
(untuk kekerasan di dunia)
APRESIASI SASTRA
Mari belajar menganalisis dan Mengapresiasi sastra
1. Baca dan cermati hikayat diberikut ini !
Hikayat Bakhtiar
Mari belajar menganalisis dan Mengapresiasi sastra
1. Baca dan cermati hikayat diberikut ini !
Hikayat Bakhtiar
Ada seorang raja, terlalu besar kerajaannya dari segala raja-raja. Syahdan maka baginda pun beranak dua orang laki-laki, terlalu amat baik parasnya, gilang gemilang dan sikapnya pun sederhana. Hatta maka berapa lamanya, dengan kodrat Allah, subhanahu wa ta'ala, maka baginda pun hilanglah, kembali ke rahmatu'llah. Arkian maka anakda baginda pun tinggallah dua bersaudara. Setelah demikian, maka mufakatlah segala menteri dan hulubalang dan orang kaya-kaya dan orang besar-besar menjadikan anak raja, menggantikan ayahanda baginda. Setelah sudah naik di atas tahta kerajaan dan berapa lamanya, maka berpikirlah saudaranya,katanya: "Jikalau kiranya saudaraku ini kubiarkan menjadi raja, bahwasanya aku ini tiadalah menjadi raja selama-lamanya. Maka baiklah aku menyuruh memanggil segala perdana menteri dan hulubalang dan orang besar-besar dan orang kaya-kaya sekaliannya." Setelah berhimpunlah segala menteri dan hulubalang, rakyat hina dina sekaliannya, maka baginda pun bertitah: "Hai, segala menteri dan hulubalang dan orang besar-besar dan orang kaya dan tuan-tuan sekaliannya, pada bicaraku ini, jikalau kakanda selama-lamanya menjadi raja di dalam negeri ini, bahwa aku pun tiadalah menjadi raja selamalamanya, melainkan marilah, kita langgar dan kita keluarkan akan kakanda, supaya negeri itu terserah kepadaku".
Setelah demikian sembah mereka sekalian itu, maka baginda pun berpikirlah di dalam hatinya, katanya: "Benarlah seperti kata menteri sekalian ini dan siapakah lagi kudengarkan katanya?" Setelah sudah berkata demikian di dalam hatinya, maka baginda pun masuklah ke dalam istananya. Maka sekalian mereka itu pun masing- masing pulang ke rumahnya. Hatta maka berapa lamanya, maka kedengaranlah kepada baginda tuan wartanya itu. Maka ia pun berpikirlah di dalam hatinya: "Tiada berkenan rupanya saudaraku ini akan daku. Jikalau ia hendak jadi raja, masakan dilarangkan dia, niscaya akulah, yang merayakan dia. Tetapi apakah akan daya aku ini. Jikalau demikian, baiklah aku pergi membuangkan diriku barang ke mana membawa untungku ini." Setelah sudah ia berpikir demikian itu, seketika maka hari pun malamlah. Maka baginda pun sembahyanglah. Setelah sudah, maka ia pun lalulah masuk ke dalam tempat peraduan hampir isterinya, seraya bertitah kepada isterinya: "Hai, adinda, adapun akan hamba ini sangatlah bencinya saudara hamba akan hamba. Maka oleh karena itu, maka hamba hendak pergi membuangkan diri barang di mana ditakdirkan Allah ta'ala. Maka tinggallah tuan hamba baik-baik memeliharakan diri tuan-hamba". Maka bercucuranlah air mata baginda. Kelakian maka sahut isterinya: "Mengapatah maka kakanda berkata demikian itu?" Maka titah istrinya: "Adalah hamba ini mendengar kabar bahwa saudara hamba itu memanggil segala menteri, hulubalang dan orang besar-besar dan orang kaya, diajaknya mufakat melanggar kakanda ini, karena ia hendak menjadi raja di dalam negeri ini. Maka itulah sebabnya, maka hamba hendak membuangkan diri barang ke mana. Maka tinggallah tuan baik-baik". Setelah isterinya mendengar kata suaminya demikian itu, maka isterinya pun segeralah bangun menyembah kaki baginda, serta dengan air matanya bercucuran, serta katanya: "Walau ke langit pun kakanda pergi, adinda ikut juga." Setelah demikian, maka titah baginda: "Segeralah adinda berkemas-kemas, pagi-pagi esok hari kita berjalan barang ke mana dikehendaki Allah ta’ala, kita pergi membawa untung kita. Tetapi akan tuan jangan menyesal kelak." Maka sahut tuan puteri itu: "Jangankan demikian, jika kalau kelautan api sekalipun, hamba pergi juga, lamun dengan kakanda." Syahdan maka kedua suami isteri itu pun berkemas-kemaslah. Setelah hari siang, maka keduanya pun berjalanlah, seraya menyerahkan dirinya kepada Allah, subhanahu wa ta'ala, keluar negeri, masuk hutan, masuk padang, terbit padang, masuk rimba belantara, terbit rimba belentara. Hatta maka berapa lamanya baginda dua suami isteri itu berjalan, maka ia pun sampailah kepada suatu padang yang luas. Maka baginda dua suami isteri pun berhentilah di sana. Adapun tatkala baginda dua suami isteri berjalan itu, bahwa isterinya itu telah hamil delapan bulan. Kelakian maka genaplah bulannya itu. Maka pada ketika yang baik dan hari yang baik maka tuan puteripun hendaklah bersalin, maka katanya: "Aduh, kakanda, lemahlah rasanya segala tulang sendi hamba ini, kalau-kalau genaplah gerangan bulannya hamil hamba ini." Hatta baginda pun berdebarlah hatinya mendengar kata isterinya Itu. Seraya disambutnya isterinya, maka katanya: "Allah, subhanahu wa ta'ala juga, yang amat menolong akan hambanya itu!" Maka dengan kodrat Allah, subhanahu wa ta'ala, maka seketika Itu juga berputeralah tuan puteri itu seorang laki-laki dengan indahnja juga. Sebermula adapun anaknya itu terlalu amat baiknya dan gilang gemilang warna mukanya dantiadalah dapat ditentang nyata lagi. Sumber : Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952 (dengan penyesuaian ejaan)
1. Apakah isi Hikayat Bakhtiar tersebut?
2. Ubahlah hikayat tersebut ke dalam bentuk cerpen.
Baca dan cermati teks drama berikut!, kemudian ubahlah ke dalam bentuk cerpen!
Sobrat Bagian Enam Di bukit kemilau.
Terdengar suara kentungan dibunyikan sebagai tanda para kuli penambang emas mulai bekerja. Tampak masuk para kuli penuh semangat. Mereka bertelanjang dada. Mandor Bokop : (teriak) Kalian antre yang tertib! Sudah ambil duit, ambil blincong dari bakul! (kepada Mandor Burik) Panggil satu-satu!
Mandor Burik : (memanggil) Samolo! Sentono! Kartijo! Kardun! Marjun! Duweng! Kamran! Sobrat! Doyong! Sadang! Epeng! Damirin! (memanggil terus) Semua kuli telah memegang blincong dan bakul Mandor Bokop : (teriak) Dengarkan semua! Aku Mandor Bokop, penjaga Bukit Kemilau. Bukit Kemilau ini milik Tuan Balar. Kalian beruntung menjadi pekerjanya. Nanti kalian masuk kawasan Bukit Kemilau! Tetapi, jangan terlalu jauh sebab ke selatan masih ada Hutan Burun yang masih perawan. Banyak binatang buas, babi hutan, dan harimau! Juga, banyak rawa berlintah! Lintahnya sebesar ibu jari! Ngerti?
Para Kuli : (serentak) Ngerti!
Mandor Bokop : (kepada Mandor Burik) Kamu jaga mereka. Aku mau tidur! (berbisik) Tadi malam aku berjudi sampai pagi!
Mandor Burik : (teriak) Jangan berhenti sebelum kentungan bunyi! Para kuli menyanyikan semboyan mereka.
Para Kuli : (serempak) Sekali kerja, tetap kerja. Biji emas di mana-mana! Namun, Doyong tampak meringis-ringis. Ia menepi, ia dibentak Mandor Burik.
Mandor Burik : (membentak) Hei! Kembali ke tempatmu! Kuli! Apa kamu tuli? Kembali ke tempatmu! Doyong : Sebentar, istirahat!
Mandor Burik : Apa? Istirahat? Enak saja kamu, apa kamu sudah lupa perintah Mandor Bokop, heh? Jangan berhenti sebelum kentungan bunyi!
Doyong : Sebentar saja, Mandor! Mandor Burik : (menendang Doyong) Enak saja sebentar-sebentar! Cepat kerja, kuli!Sobrat melihat kelakuan kasar Mandor Burik terhadap kawan sekampungnya. Ia memburu mendekat.
Sobrat : Mandor, jangan ditendang-tendang begitu! Dia kawanku, Mandor! (mendekati Doyong) Kamu tidak apa-apa, Yong?
Doyong : Agak mulas, mana aku agak mencret. Mandor sialan!
Mandor Burik : Apa kamu bilang?
Doyong : Dia dengar, Brat!
Mandor Burik : Ayo, kembali kerja! Orang lain juga kerja!
Sobrat : Dia sakit perut, Mandor. Dia agak mencret
Mandor Burik : Alah, alasan saja! Dasar pemalas!
Doyong : Saya sakit perut, Mandor! Mandor burik : Kembali kerja, atau kulecut dengan cambuk ini! (mengeluarkan cambuk dan hendak mengayunkannya)
Sobrat : Jangan, Mandor! Biarkan saja dulu, Mandor. Apa Mandor tidak pernah sakit perut?
Mandor Burik : Apa kamu bilang? (melecut) Jangan bilang begitu! Di kampungmu kamu bisa bilang apa saja, tetapi di sini lain.... Ini tanah Bukit Kemilau dan aku penjaganya! Kembali ke tempatmu, kuli!
Sobrat : Tidak mau!
Mandor Burik : (marah) Itu bukan kata yang pantas, kuli kontrak. Mampus kamu! (melecut) SOBRAT MENCOBA MELAWAN
Sobrat : Kita bertarung secara jantan, Mandor! Mandor Burik : Apa kamu bilang? Sobrat : Kita bertarung secara jantan, Mandor!
Mandor Burik : Boleh saja... apa maumu? Sobrat : Beri aku cambuk! Mandor Burik : Enak saja! rasakan! (melecutkan cambuk)
Doyong : (berteriak) Sobrat sama Mandor berkelahi!!! Mandor burik dan sobrat berkelahi. Kuli-kuli berkumpul, melingkar, sambil menyanyikan semboyan. Awalnya, Mandor Burik berjaya dengan cambuknya. Namun, cambuknya berhasil direbut Sobrat. Dengan satu kali ayunan dan pitingan, Mandor Burik tak berkutik. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Pause (Tukang warung memandang tajam)
Tukang warung : Apakah kau tidak gembira, (Ibu pergi ke kursi dan berkata). Ibu : Ia berteriak "ibu" (lalu duduk)
Tukang Warung : Tentu dia akan berbuat sesuatu. Ayah : (jalan, tiba-tiba) Sesuatu telah terjadi. (Ibu tiba-tiba berteriak)
Gadis : Berhenti, Ibu! T
ukang Warung : Ada apa ini, apa yang telah kalian lakukan? (tukang warung dan anaknya mundur)? Kenapa kau memandang seperti itu? Apakah dia tidak menceritakan bahwa dia anakmu?
Gadis : Tidak.
Tukang Warung : Apa yang telah kalian lakukan? Di mana dia sekarang?
Ayah : Jangan ada suara! (pause)
Ibu : Dia berteriak "ibu". Kau terus saja memukulnya!
Tukang Warung : Apa yang kalian telah lakukan? Kalian telah .... (tukang warung memandang, terus mundur mau pergi)
Anak : (melihat Gadis) Lihat di tangannya, Ayah! Tukang Warung : Kau telah ... (lari) Gadis : Berhenti. Ibu! Ayah : Tenang-tenang, jangan ribut. (jatuh)
Gadis : Mereka akan memasukkan saya dalam penjara.
Sumber: Buku drama Orang Asing, judul asli Irthunia, karya Rupert Brook, disadur oleh D. Djajakusuma
3. Jelaskan watak-watak tokoh berdasarkan dialog yang diucapkan setiap tokoh.
4. Tuliskan hubungan latar dengan watak para tokoh dalam penggalan drama tersebut
Bacalah penggalan drama berikut.
Adun : "Betul Lin. Aku masih punya orang tua dan adik-adik. Namun, aku pun ikut merasakan kesedihanmu dan satu hal itu aku tidak setuju, jangan menganggap pamanmu sebagai orang yang tidak adil."
Tini : "Ah ... bohong. Aku memang menumpang di rumah paman. Aku tak punya orang tua. Aku merasa selalu disakiti karena pamanku membedakan perlakuan kepadaku dan kepada anaknya. Kalau ada masalah antara aku dan Mila, anak pamanku itu, selalu dia yang dimenangkan paman ..."
Nita : "Tenanglah, Tin. Aku merasakan kesedihanmu. Aku tahu, kamu terlalu menuruti perasaanmu. Belum tentu pamanmu seperti yang kamu duga karena kesedihanmu, engkau membayangkan yang tidak-tidak." Andri : "Benar, Tin, kamu harus bersabar."
a. Ungkapan kekecewaan diungkapkan oleh tokoh …. ......
b. Jelaskan dengan kalimat pendukung!
Bacalah petikan novel berikut.
Si Jamin terpelanting ke sisi jalan trem, kepalanya berlumuran darah. Beberapa orang yang menaruh kasihan mengangkat Si Jamin akan dibawa ke rumah sakit miskin di Glodok. Anak itu pingsan. Polisi cepat memeriksa asal mula kecelakaan itu. Nomor trem dan nama-nama pegawai yang mengemudikan dicatat. Setelah itu trem meneruskan perjalanannya. Orang banyak pun bubar. Unsur utama yang terdapat dalam penggalan novel tersebut adalah …. Bacalah cupilkan cerpen "Setrum" berikut. Cik Ledo sukar menerima itu. Walau kadang ada teror atau ada bujukan, ia tetap tak mau menerima kenyataan rumah dan kampungnya ditenggelamkan. "Apa pun yang terjadi, aku tak akan pindah. Demi Tuhan, titik! Aku tak rela!" kata Cik Ledo pada orang-orang berseragam dinas yang menyarankannya secepatnya meninggalkan kampung untuk pindah ke tempat yang disediakan sebagai kediaman pengganti atau ke tempat yang bisa dipilih sendiri.
5. Unsur instrinsik yang menonjol dalam cerpen tersebut adalah ....
Politeknik Media Kreatif Jakarta Srengseng Sawah
Sudah lama tidak menulis di blog, bukan malas justru kebanjiran job menulis. Rasanya tahun 2013 ini dikejar dateline menulis, dihantui keinginan menulis, dan nafsu untuk menulis, hahahaha yang terakhir lebay dot com. Tahun ini adalah tahun kedua Prodi Broadcast di Polimedia. Tahun pertama mahasiswa Polimedia prodi Broadcast sukses dengan nilai yang memuaskan, walau tentu saja ada yang susah mendongkrak nilai karena malas bertemu diriku yang kece ini di kelas.
Mahasiswa Broadcast tahun kedua cukup banyak ada tiga kelas dengan setiap kelas harus berbagi napas dengan 30 orang. Luar biasa antusias mahasiswa tahun ini sangat jarang yang terlambat. Aku yang biasanya suka kesal dengan mahasiswa terlambat jadi ikut hanyut semangat pagi. Tahun ini pula harus aku lepas prodi Fotogarfi, bukan malas karena mahasiswanya malas juga, tapi karena si 'Waktu' yang tidak bisa berbagi. Yah waktu aku hanya dua hari di Polimedia berbeda dengan tahun kemarin yang tiga hari.
Ada cerita seru dan mungkin mengesankan atau mungkin mengesalkan bagi mahasiswa dan dosen. Ruang kelas dengan gedung megah di Tower ternyata minim fasilitas dan benar-benar menyuruh dosen 'Stand Up Comedy'. Untungnya para dosen sudah piawai jadi stand up 4 jam pun tak ada masalah. Minggu ketiga perkulihan dengan prasana yang juga belum tersedia, ada aksi dari mahasiswa broadcast, mereka berganti kostum dengan kostum main alias benar-benar tak pantas untuk dipakai kuliah. Sayangnya saya tak punya dokumen tersebut. Padahal inilah sejarah pergelutan mahasiswa yang menuntut hak dengan cara berbeda, cara "Broadcast'.
Aku sebagai dosen miris juga melihat aksi mereka, karena menurutku harusnya aksi mereka di hadapan pimpinan kampus bukan pada dosen. Harapan muncul ketika Direktur melihat aksi mereka dan akan memenuhi tuntutan mahasiswa. Aku sendiri sebagai dosen beraksi juga tidak memberikan modul kuliah, hehehehehe.
Monday, June 10, 2013
EDITOR YANG LONG TIME
Tidak berapa lama, aku mendapat tugas tambahan menjadi editor PJOK yang awalnya dipegang oleh Pak Purnomo Pudir I. Pekerjaanku yang ini sia-sia karena ternyata yang aku kerjakan bukan buku PJOK yang akan dipakai. (alamak apa pula ini). Tapi tak ada yang sia-sia, karena dengan menjadi editor PJOK aku banyak belajar tentang ilmu kesehatan dan menjaga kesehatan.
Menjadi editor buku kurikulum 2013 membuatku mengenal para epjabat Kemdiknas, mulai dari Kepala Puskur bapak Ramon. Staf ahli menteri bapak Alkaf Alkatiri (yang ini punya cerita sendiri, nanti yah aku ceritakan di story berikut).Juga aku mengenal bapak Cipto (ini jabatannya apa yah?). Tidak itu saja aku juga banyak terlibat dengan para epjabat dan staf dari Puskurbuk, bahkan Pak Eri Utomo yang tadinya aku ga tahu apa jabatannya menjadi teman yang asyik dikala kejenuhan melanda. ternyata pa Erry yang aku eknal itu adalah Kepala Puskur Dikdas (nah Loh nanti aku banyak ini minta bantuan beliau).
Ini ceritaku seorang editor yang tercebur di kurikulum 2013. Hari itu di bulan Februari 2013 sore pukul 16.00 HP berdering kulihat dilayar nomor ponsel temanku Kristin seorang dosen dan pegawai Puskur. Dia mengajakku untuk datang ke Polimedia membantu Kristin mengedit buku pelajaran tematik SD. Awalnya aku ragu karena harus ke Polimedia untuk menginap. Tapi karena naluri seorang guru yang KEPO buanget ingin tahu 2013 akhirnya walau tanpa kesepakatan bagaimana nilai upah yang kuterima, akhirnya aku minta ijin Kepsek yang dengan legowo (apa terpaksa ) mengijinkan aku untuk cuti 2 hari (Kamis dan Jumat) itupun dengan senyum manis minta ijin dengan Dasto sang Sidikor agar biasalah titip jariku.
Sehabis Magrib dengan seijin suami aku pacu si Moni ke Polimedia tepatnya ke Wisma Polmed. Di sana sudah menunggu rekanku Dardji si Embah yang tadinya bangga dengan ditunjuknya dia menjadi editor. Bagaimana yah perasaannya ketika tahu aku juga ikutan jadi editor? di ruang atas wisma sudah ada Direktur Polimedia Bapak Bambang, Inggris dosen editor, dan Kristin. Jadilah malam itu aku membantu Kristin mengedit tematik SD kelas IV. Hari kedua di Wisma datanglah rombongan para penulis buku mata pelajaran. Mereka yang nantinya akan menjadi penulis. Awalnya tidak ada namaku di deretan editor buku mapel. Direktur Polimedia mengenalkan para penulis dan namaku ada untuk menjadi editor buku Seni Budaya katanya karena namaku sama SENI (bisa aja).
Awalnya kami para editor penuh semangat menjalankan tugas negara yang katanya dikejar Dealine. Tidurpun kurang, bahkan kadang lupa untuk pulang. Pernah aku pulang pukul 23 WIB, sudah dipastikan yah sampai berapa aku di rumah. Bahkan tetanggaku mengira aku baru pulang kampung karena sampai rumah sudah menjelang pagi. (aduh... malu banget). Mulai saat itulah waktuku tercurah untuk menjadi editor buku kurikulum 2013. Penulisku yang awalnya 4 orang yang datang dari berbagai lapiran penulis, ada yang guru, penulis di penerbitan, hingga pelatih seni. tinggal mereka juga tidak ada yang di Jakarta. Penulis awal Seni Budaya yaitu: Seni Rupa :Harry Sulastianto, Seni Musik : Encep Seni Tari : Nana Supriyatna (yang kini sudah almarhum), dan Seni Teater : Sekar Galuh. Mereka datang dengan konsep penulisan yang berbeda-beda yang membuat aku dan bu Ratni (Supervisor Editor) sakit kepala. Ada di antara penulis yang tidak bisa diajak kerjasam dalam satu tim, maunya keinginan dia saja. Kalau sudah begini aku serahkan pada mereka maunya bagaimana.
Tidak berapa lama, aku mendapat tugas tambahan menjadi editor PJOK yang awalnya dipegang oleh Pak Purnomo Pudir I. Pekerjaanku yang ini sia-sia karena ternyata yang aku kerjakan bukan buku PJOK yang akan dipakai. (alamak apa pula ini). Tapi tak ada yang sia-sia, karena dengan menjadi editor PJOK aku banyak belajar tentang ilmu kesehatan dan menjaga kesehatan.
Menjadi editor buku kurikulum 2013 membuatku mengenal para epjabat Kemdiknas, mulai dari Kepala Puskur bapak Ramon. Staf ahli menteri bapak Alkaf Alkatiri (yang ini punya cerita sendiri, nanti yah aku ceritakan di story berikut).Juga aku mengenal bapak Cipto (ini jabatannya apa yah?). Tidak itu saja aku juga banyak terlibat dengan para epjabat dan staf dari Puskurbuk, bahkan Pak Eri Utomo yang tadinya aku ga tahu apa jabatannya menjadi teman yang asyik dikala kejenuhan melanda. ternyata pa Erry yang aku eknal itu adalah Kepala Puskur Dikdas (nah Loh nanti aku banyak ini minta bantuan beliau).
Editor yang andal adalah editor yang selalu mengedepankan penulis sebagai satu-satunya pemberi konsep. Itulah yang aku pegang selama aku menajdi editor buku kurikulum 2013. Satu kata pun yang aku rasa kurang pas selalu aku diskusikan dengan penulis. Baik melalui telepon atau kami berbincang langsung membahas buku. Tapi kejadiannya tidak demikian dengan buku Prakarya yang akhirnya menjadi tanggung jawabku karena aku ditugaskan menjadi editor Prakarya. Para penulsinya hanya ramah di depan, di belakang ia menghina, menjatuhkan aku di depan para setter yang mereka adalah mahasiswa Polimedia. Gerombolan penulis prakarya itu adalah : Suci (yang katanya lahir di jepang dan anak diplomat yang tidak bisa berdiplomasi) penulis Pengolah, ada Dewi Handayani penulis Kerajinan. Erni guru Semut-semut yang gayanya manis banget ketika berbicara yang ternyata di belakang mengatakan akau ga becus ga bisa mengedit yang benar. Istilah yang mereka gunakan saja terjadi miskomunikasi, kalau mereka memang saling menghormati harusnya mereka membahasnya bersama denganku bukannya malah menghujat dari belakang.
Nona atau Christina Tulalessy adalah editor andal yang mengajarkan banyak hal padaku tentang bahasa. terima aksih yah Nona, ilmunya selalu aku ingat. Kata beliau kalau ada kata masing-masing makaThursday, March 7, 2013
PASCASARJANA-KU
AKU SEKARANG M.PD (Makin Percaya Diri)
Alhamdulillah ya Rabb, akhirnya perjuangan dua tahun tuntas sudah, penantian 4 jam menunggu detik-detik sidang tesis yang mendebarkan sudah berlalu. Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.30 Wib aku lulus menjadi magister pendidikan atau M.Pd. Nilainya juga tidak menegcewakan 86.78 atau A-.
Ada cerita dibalik M.Pd yang berhasil aku raih. Mau tahu ceritaku??? Ini ceritanya
Ada cerita dibalik M.Pd yang berhasil aku raih. Mau tahu ceritaku??? Ini ceritanya
Ini ceritaku ketika menjalani sidang tesis. Setelah
satu bulan setengah menunggu karena aku mendaftar sidang tgl 29 Januari, baru
tgl 1 Maret 2013 ada SMS yang isinya briefing untuk sidang tgl 6 Maret 2013
nanti. Tadinya seorang teman yang mendaftar sidang sebelum aku kok sudah di SMS
untuk sidang, karena aku penasaran maka, Rabu 29 Februari siang setelah
mengajar di Poltek, aku ke Kampus. Menyebalkan juga bertanya dengan staf TU di
Pasca, seorang wanita dengan wajah tanpa senyum membuatku kesal juga awalnya.
Aku masuk ke ruang TU Pacasarjana dengan maksud mencari tahu kok aku belum
dipanggil untuk sidang. Ada beberapa staf TU di sana karena yang pria sibuk
maka aku bertanya dengan seorang wanita berambut panjang bertahi lalat
(belakangan aku baru tahu namanya). “Mbak maaf mau tanya saya belum dipanggil
sidang yah”, tanyaku.
Dengan datar dan tanpa senyum si Mbak menjawab,”
Namanya siapa Bu?”. Aku jawablah namaku, kemudian dia mengatakan bahwa dirinya
kebetulan sedang ingin memberi kabar lewat SMS untuk aku agar datang Jumat
nanti untuk briefing.
Karena merasa aku sudah hadir di sana maka aku katakan, “
ga usah di SMS mba kan saya dah ada apa sih isi SMS nya?”,
Dengan ketus dan juga
tanpa senyum si Mba menjawab,” Nanti Bu, baca aja SMS nya”. Alamak mahal kali,
tak mau ia rupanya membagi informasi langsung maunya menggunakan teknologi yang
selalu ia genggam.
Tak berapa lama HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk.
Aku baca isinya tentang jadwal sidang dan briefing hari Jumat pukul 13.00,
katanya juga kalau sudah terima SMS mohon konfirmasi. Karena aku ada di sana,
maka aku konfrmasi secara lisan aku katakan pada si Mba Jutek, “Mba aku konfirm
yah”,
Esok harinya kamis, aku dikejutkan dengan dering HP,
dan kulihat no si Mbak yang SMS kemarin
katanya ‘Bu dah terima SMS belum?”,
Aku jawab “Sudah”.
Terus katanya lagi,”Kok
belum konfirm?”
Aku jawab lagi ,”Kan saya ada di sana waktu itu dan secara
lisan aku jawab ,”Mba aku konfirm yah”.
Terus kata si Mbak,”Harusnya SMS balik
Bu”. O.. alaalallallallllaaaa... ternyata hari gini birokrasi masih aja dipakai.
Yah sudahlah dengan jengkel dan mangkel, aku SMS aja, yang isinya: “Mba yang
terhormat setelah mendapat SMS saya konfirmasi untuk kehadiran saya nanti
briefing sidang tesis yah, terima kasih.” Hahahahahhah mau tertawa rasanya dengan
kelakuan si Mba. Kata temanku mungkin dia hanya melaksanakan prosedur saja biar
ada bukti fisik kalau sudah mengirim dan dapat konfirmasi dari peserta sidang.
Ah masak sih apa mungkin SMS di HPnya ditunjukkan ke koordinator? Menurut
pembaca mungkinkah? Karena saya lihat dia selalu mainkan HP di TU di sela-sela
kerjanya, entah siapa yang dia kirimkan SMS kan tidak mungkin tiap hari sidang.
Nah itu cerita sebelum sidang, mau tahu kelanjutan
cerita sidang tesisiku...??? baca lagi yah semoga ga bosen.
Hari itu Rabu, 6 Maret 2013, pagi itu aku berangkat
dengan semangat yang deg-degan, mampir dahulu ke rumah orangtua memohon restu.
Kebetulan ada adik ayahku yang datang dari Palembang untuk menengok ayahku yang
sudah sebulan ini sakit. Restu dan doa aku mohonkan agar aku dapat lancar
menghadapi sidang nanti.
Si Moni yang perkasa membawaku melaju ke Depok, yah
pagi nya aku masih mengajar di Poltek sekaligus masih jadi tim editor buku teks
kurikulum 2013. Pukul 10.00 setelah mengajar, aku lanjutkan mengedit buku di
ruang aula lantai 3. Pukul 12 aku pamit karena perjalanan ke kampus takut
macet, padahal aku peserta ke 18 dari 20 peserta sidang. Sampai di kampus masih
pukul 12.30, setelah registrasi perutku yang keroncongan meminta diisi. Aku
ajak satu kawanku tapi karena lagi etgang tak ada niatnya untuk makan. Jadilah
aku pergi makan seorang diri. Menu soto ayam aku pilih sambil tidak lupa
membelikan penganan untuk teman yang tegang.
Masih pukul 13.00 sehabis sholat dan memohon
petunjuk Allah SWT, aku berkumpul dengan sesama rekan di ruang perpustakaan.
Satu persatu dipanggil untuk sidang, ada yang etrtawa bahagia, ada yang
menangis, ada yang tersenyum simpul. Rekan-rekanku yang belum sidang sibuk
menghapal, mencatat, dan berlatih. Aku sendiri bingung, mau ngapain yah.
Akhirnya kuputuskan untuk mengademkan hati aja biar tidak bertambah tegang.
Akhirnya saat itu datang juga tepat pukul 15.30 aku
maju sidang. Setelah berdoa Bismillah aku mulai prsesntasi, suaraku mantap dan
lugas, pertanyaan pertama dari pak Supeno, dekan Bahasa katanya”Eksperimen apa
yang Anda lakukan?” aku jawab dengan jelas dan pasti. Selesai. Pertanyaan
selanjutnya dari Prof Maryoto, katanya” Anda belajar SPSS dari siapa? Aku ajwab
prof Suparman dan baca buku. Trus katanya, kok angkanya tidak relevan, coba
diteliti lagi mungkin ada yang salah dalam memasukkan data yah”. Aku menurut
dan mengangguk karena hanya itu senjata selanjutnya.
Setelah semua peserta sidang selesai waktunya Yudisium. Semakin deg... deg...an nih. Ya Allah semoga sukses minimal dengan nilai yang tidak memalukan. Maklumlah ada 6 orang temanku yang aku buatkan Tesisnya , masa nilaiku di bawah mereka malunya nanti.
Setelah pesan dan kesan dari Bapak - bapak Profesor penguji dengan harapan agar kami dapat mengamalkan ilmu yang kami miliki, akhirnya ibu Sumaryati selaku sekretaris Pasca mengumumkan nilai kami. satu persatu diumumkan dan akhirnya tiba nilaiku. "Seni Asiati dengan nilai 86.78 predikat A-. Alhamdulillah Ya Rabb akhirnya aku lulus juga. Puji syukurku padaMu Zat yang Maha Mengetahui.
Nah bagaimana dengan pembaca? semoga pengalaman ini dapat memotivasi pembaca untuk maju dalam pendidikan
Monday, September 17, 2012
PENGUMUMANAN
TIPS MEMBACAKAN TEKS PENGUMUMAN
Berbicara ternyata tidak semudah menulis, perlu keberanian untuk
melakukannya. Apalagi bila berbicara itu kita lakukan di depan orang yang belum
kita kenal. Cara membuka percakapan agar tidak terkesan basa basi perlu diketahui.
Berikut ini tips membacakan teks pengumuman.
1.
Ucapkan setiap fonem, kata, atau
frasa dengan lafal yang benar agar mudah dan jelas dipahami orang
2.
Lafalkan kata secara tepat, karena
kesalahan pelafalan dapat mengubah makna
3.
Lagu kalimat (intonasi) hendaknya
bervariasi. Tinggi rendah, lambat-cepat, dan keras lembutnya suara harus
benar-benar diperhatikan
4. Pemberian jeda atau perhentian
sementara yang tepat. Jeda adalah perhentian sebentar untuk mengambil nafas
Misalnya :
a. Pemilik mobil/ B 1943 OUE/
diharap/ ke tempat parkir//
b. Mahasiswa baru/ belajar di gedung baru//
c. Mahasiswa / baru belajar/ di gedung baru//
Pengumuman yang
di tulis tentulah berbeda dengan pengumuman yang dilisankan. Pengumuman
tertulis hendaknya memakai kalimat yang efektif dan komunikatif. Pengumuman
seperti itu mudah dipahami dan tidak menimbulkan kesalahan pemahaman bagi
pembacanya. Kalimat efektif adalah kalimat yang singkat, kjelas, dan sesuai
dengan tata bahasa yang benar. Sedangkan kalimat yang komuniaktif adalah kalimat yang menggunakan kata-kata
atau istilah yang tepat dan mudah dimengerti oleh pembacanya.
Perhatikan
contoh berikut :
1.
Bagi kelas yang tidak mengikuti
lomba akan dikenai sanksi.
2.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Back Home Pasien Covid
Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...
-
Belajar Arti Merdeka Baca Teks berikut dan KERJAKAN TUGAS LITERASI diakhir teks!!! Jika terdengar lagu Indonesia Raya apa ...
-
STANDAR KOMPETENSI : Mendengarkan 1. Memahami informasi dari berbagai laporan KOMPETENSI DASAR : 1.1 Membedakan anta...
-
Wabah Covid 19 membuat siswa harus belajar di rumah. berbagai gaya mereka tunjukkan ketika mengerjakan. Seru pastinya ada yang tidura...











