Wednesday, May 21, 2014

BAPAKKU INSPIRASI HIDUP

Bapak dan Aku

Sudah lama jari ini ingin menulis tentang Bapak", orang yang menjadi motivator dalam hidupku. Masih aku ingat ketika Bapak masih bekerja sebagai Polisi, waktu itu usiaku masih remaja SMP kelas 2. Aku hobi berpetualang dengan beberapa teman, liburan sekolah kami berencana naik gunung salak dan kemping di lembahnya. Hebatnya Bapak memperbolehkan aku ikut haking walau dia tahu teman-temanku yang berangkat semuanya laki-laki. Hanya ada aku dan seorang teman wanita. Kata Bapak waktu itu biar aku kuat dan juga Bapak percaya padaku. Kepercayaan yang tidak aku sia-siakan. Lagi pula Bapak tahu dengan siapa aku berteman (waktu aku remaja, teman-temanku kebanyakan laki-laki, malah teman dan guru bilang aku tomboy). Pesan Bapak pulang harus tepat waktu, aku ijin lima hari maka harus pulang dengan waktu yang diijinkan.
Namun, waktu yang dijanjikan aku langgar, karena keenakan berkemah aku lupa waktu lebih satu hari. Alasan yang aku bilang ke Bapak waktu itu "Maaf Pak keretanya mogok pecah ban" hahahahahahah. Kalau ingat jadi lucu mana ada kereta mogok dan pecah ban, memang mobil!!!. Bapak yang saat itu baru pulang kerja masih lengkap pakaian polisi dan pistol yang dia letakkan di atas meja, Bapak menatapku cukup dua kata "SENI ASIATI'. Kalau sudah begitu aku tahu Bapak marah. Dengan menunduk aku ceritakan keterlambatan aku pulang. Bapak tidak marah tapi menghukumku untuk menuliskan pengalaman selama kemping di gunung salak dalam satu buku!! (belakangan hukuman Bapak ini membuatku jadi senang menulis)
Masa remajaku hampir hilang ketika aku memutuskan menjadi pemain sinetron katanya sih nanti jadi artis di TVRI (dulu hanya ada TVRI). Setiap pulang sekolah aku buru-buru ke TVRI untuk rekaman. Bapak mengijinkan dengan satu syarat raportku tidak kebakaran dan aku hatus berprestasi. Makanya ketika teman-teman bermain di jam istirahat aku sibuk mencatat dan TIDUR. yah karena kurang tidur harus rekaman dan pulang malam aku selalu kekurangan waktu tidur.
Pegalaman di SMA ini membuatku kehilangan indahnya masa SMA (artis tidak jadi eh pengalaman indah hilang). Kutinggalkan masa SMA, tadinya aku mau jadi dokter tapi ketika niat aku utarakan Bapak bilang : Gaji Bapak tidak cukup untuk kamu kuliah di kadokteran. malah Bapak menyarankan aku jadi GURU. Kata Bapak aku pantas jadi GURU karena aku suka sekali bicara dan mengajarkan teman. Mulanya terpaksa aku ikuti saran Bapak, namun ternyata pilihan Bapak tidak salah. Ketika teman-teman masih sibuk mencari pekerjaan aku sudah mengajar di SMA swasta waktu itu usiaku masih 19 tahun. Aku pun langsung diangkat menjadi PNS sebelum ijazah S1 aku terima.
Bapak dan aku seperti mata uang bersisian. semua suka dan dukaku Bapak lebih tahu dibandingkan pendampingku. Banyak ceritaku bersama Bapak, orang yang hadir dan menjadi motivatorku

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah memberikan komentar dan masukan

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...