Tuesday, March 10, 2009

SELAMAT ULANG TAHUN



MAKNA HARI ULANG TAHUN BAGI- KU?





Ulang tahun artinya bertambah satu tahun umur kita. bagaimana bila pada hari ulang tahun kita, orang terdekat lupa hari itu? Kecewa, sedih, atau marah? karena bisa-bisanya dia lupa hari lahir pasangannya. Selasa, 10 Maret 2009 aku berulang tahun. Suamiku lupa hari itu, hingga bunyi alarm di Handphone yang sengaja aku pasang untuk mengingatkan aku dan aku diamkan sampai ia melihat bunyi di handphone. Saat itu baru ia tahu bahwa hari ini aku berulang tahun. Marah, sedih, kecewa, atu kesal...? Tidak juga karena bagiku bukan orang lain yang harus mengingat hari lahirku, tetapi diriku, karena sudah bertambah usiaku. Aku yang harus menyadari apa yang harus kulakukan memasuki usia yang bertambah, bukan orang lain bahkan orang terdekat juga...! Rasa sedih, kecewa, apalagi marah bukan lagi persoalan karena hari itu adalah sebuah perjalanan panjang lagi buat kita yang memasuki pertambahan usia, bila diingat mintakan doa. Hari ini aku merasa sendiri entah mengapa, ada rasa yang mengganjal di hati , ada kekosongan di jiwa ini. Tapi kenapa yah...? kan aku tidak sedih, tidak kecewa? hingga sore menjelang aku tak tahu jawabnya. Aku hanya merasa aku bukan siapa-siapa dan aku belum bermakna buat semua. Sepertinya aku harus introspeksi diri nih... kata Ariel Peterpan... sih... "ADA APA DENGANMU?"
Puisi ini untuk mengingatkanku akan sebuah kata "Selamat" yang mungkin dilupa oleh orang terdekat kita.
LAGU SEKEPING HATI
Selamat
belum terucap
belum teringat
separuh raga disana
separuh nafas sudah dibagi
mengapa terlupa
mengapa tak terkenang
ada yang salah?
ada yang pergi?
selamat
hingga dering baru terjaga
ketika
separuh raga sudah merana
separuh jiwa sudah terluka
selamat
masihkah ada?
semoga

My Happy Birthday



Happy Birthday for Me... 10 Maret 2009

I was forty years old today

Selasa 10 Maret 2009, tepat usiaku penuh 40 tahun. Angka nol di belakangnya menandakan bahwa aku sudah beranjak akan senja, jadi.... kedewasaan, kepedulian, kesabaran, dan juga keimanan mesti full. Subuh tadi setelah sholat aku memohon pada-Nya agar selalu diberikan kesabaran yang lebih banyak dari pada tahun-tahun sebelumnya. Karena kesabaran yang aku punya masih terlalu sedikit. Aku juga memohon kepada-Mu agar keimananku dipertebal diberi kemudahan agar aku bisa menunaikan kewajibanku sebagai muslim menginjakkan kaki di tanah suci. Aku rindu panggilan-Mu Ya Rabb.. aku ingin bersujud di tanah suci-Mu, aku rindu menatap matahari dan sholat lima waktuku di Masjidil Haram. Memasuki usia 40 keinginan itulah yang paling dalam di hati ini.
Kehidupan yang aku jalani kini bersama keluargaku diberikan kemudahan oleh-Mu, Kau berikan aku semua, tapi rasanya aku belumlah cukup dan mungkin tak akan pernah cukup untuk selalu bersujud di hadapan-Mu ya Allah. Ada rasa yang hampa ketika aku mengingat semua perjalanan hidup ini, penuh dosa dan segala yang Kau benci. Ampunan-Mu selalu kupanjatkan pada-Mu ya Rabbi.. ya.. Allah sekali lagi di usia ini berikan keimanan yang cukup, berikan aku keimanan yang akan mengubur semua dosaku selama bertahun-tahun yang telah aku perbuat agar aku selalu ingat akan perintah dan larangan-Mu.
Ya... Rabbi rasanya aku belum cukup diberikan kesabaran, aku memohon pada-Mu berikan aku kesabaran yang berlebh agar aku dapat membimbing suamiku untuk dekat pada-Mu, agar aku dapat meyakinkan bahwa keimanan yang tinggi mutlak dimiliki oleh pemimpin keluarga agar dapat membawa dan membimbing istri serta anaknya untuk selalu dekat dengan-Mu. Berikan aku kesabaran yang berlebih agar aku dapat mendidik anak-anakku untuk selalu dekat dengan-Mu.
Ya... Rabbi junjungan hamba begitu banyak yang aku minta, begitu banyak yang aku mohon kiranya Engkau mendengar doaku....

PADAMU AKU BERSUJUD

Tuhanku
Dalam sujudku aku memohon padaMu
Hitam yang tercoreng tak akan pernah kulupa
Kelamnya sikap tak akan pernah kukenang
Tuhanku
Dalam himpun sepuluh jariku aku meminta padaMu
Sirami aku kasihMu
Sejukkan hati agar bisa menerima
Rendam nista agar bisa larut terbuang
Tutup mata dari kepongahan
Tuhanku
Diribaanmu aku bersujud
Jadikan aku manusia
Jadikan aku tamuMu
Berikan kemudahan untuk semua
Tuhanku
Aku lilin yang tinggal setengah
Aku kapas yang mulai menghitam
Aku air yang mulai keruh
Tuhanku
dipintuMu aku bersimpuh

Sunday, February 22, 2009

PERSAHABATAN PART II












MY STORY AND MY FRIEND
Continuing my story about friendship, eventually I had to visit a friend in Devi Zubaidah Tampubolon Sawangan Depok. Biasalah even if no agreement can I mengunjunginya. But before I make a promise never eh .... I even accomplished continuously. Today is Sunday, February 21, 2009, husband and I planned to deliver the husband to see my uncle's house they will buy in the area of Parung Bogor. Morning we leave for 10 minutes by car pamanku. Travel is tiring to see a home contract that we will buy, fun phone I ask Devi home address and the location of our house. Apparently only about 5 kilometers to the place where Devi's house that I visit. Cars spur us to Devi's house, even though very tired but I will because once vibrant friend who met with escape making the palace outside Jakarta. Tired feel that we have, because the house Devi was very comfortable with a yard wide, the page where the car is enough for 5 fruit mobil.meet old friend especially if that friend is someone who fills the corner of the heart moan moan in grief and love, oh ... it's got like a priceless gift. Maybe I was deskripsiku meeting and lunch at Devi istananya a beautiful and comfortable. With greeting a friendly host, meaning tired trip in Tanjung - Priuk-Depok. The atmosphere of the house is truly soothing and cheery smile of the host to add this convenient heart. That day and I shed Devi stories about day and news stories and the friends who abandoned Devi. Sometimes we laugh, sometimes resentful ulah with our friends that we talked ... that is the color of life (but we do not gossip loh ... foreverglo but infotament so many stale gossip we ..!). But I am so sad ...,because time Devi mother meet me? Do try the mama say I see the time? Mama I said "Look ..., Art Your Body same as Ade (call for Devi)? 'What ...? oh my GOD ... Devi is the mother means I also get a 'sexy, cute, Deboy, and Bohay .......!!! Sad ..yah realy? I believe I was ... I cook .. I am the same body? But after a tough new image we are aware that I am ... My Body .... its real ... same as Devi. Means I have to subtract the extra dinner, a lot of sports ... Devi met the main mother have to look slim .... I can not ... Anibody ..... can help me? What is wrong with me? Yard plants with a wide Mangga, Nangka, Cashew nut (klutuk) is red, the papaya tree laden fruit, the durian and the tree still tall same as son (he added five more years can be harvested a period ...?). The state of the field it makes my son and nephew berlarian, let them play safely at most hit by the trees. Devi the host invites me to harvest cashew bijinya, so make buy to Jakarta. I urge the time to reap a half jackfruit with force (hopefully I nangkanya Devi Ikhlas harvest ...!), Devi was busy looking for ... poniard, vessel head Bu De our direct search sharp objects. Do not be one that I do not know themselves that this chopper would he, he ... he .. he ... with the help of a machete that was good cooperation between the husband and the husband Devi direction can (to cut the jackfruit from the tree) Good ... my husband finally deliver jackfruit is home to us (try to buy if the tuh ....?), for this one "Tanks De yah ... Returned from the palace Devi various in mind and really beloved husband. my husband said we can do later in retirement and old places like that? Alhamdulillah I am and my husband was the same, hopefully the love of God for the way we love to knit thread later with the children and grandchildren in a comfortable and beautiful. Duh ... so sweet ... and the romantic narcis yah? I dreamed of a husband san will buy the land at the field for the children and grandchildren and we can running in the gardening, hopefully yah

RUMAHKU ISTANA-KU

Melanjutkan ceritaku tentang persahabatan, akhirnya aku berkesempatan untuk mengunjungi sahabatku Devi Zubaidah Tampubolon di Sawangan Depok. Biasalah kalau tanpa perjanjian malah aku bisa mengunjunginya. Padahal sebelumnya aku pernah membuat janji eh.... malah nggak kesampaian terus. Hari itu Minggu, 21 Februari 2009, rencananya aku dan suami akan mengantar paman suamiku untuk melihat rumah yang akan mereka beli di daerah Parung Bogor. Pagi jam 10 kami berangkat dengan mobil pamanku. Perjalanan yang melelahkan untuk melihat rumah kontrakan yang akan kami beli, iseng-iseng aku telepon Devi menanyakan alamat rumah dan lokasi rumahnya dari tempat kami. Rupanya hanya berjarak kira-kira 5 kilometer rumah Devi dengan tempat yang aku kunjungi.
Mobil kami pacu ke rumah Devi, walau lelah sangat tapi aku bersemangat sekali karena akan bertemu sahabatku yang melarikan diri dengan membuat istana di luar Jakarta. Lelah yang kami rasakan terbayar sudah, karena rumah Devi ternyata nyaman sekali dengan pekarangan yang luas, halaman tempat mobil yang cukup untuk 5 buah mobil.Bertemu teman lama apalagi bila teman itu adalah seseorang yang mengisi sudut hati tempat berkeluh kesah dalam suka dan duka, oh... rasanya seperti mendapat hadiah yang tak ternilai. Mungkin itu deskripsiku pertemuan aku dan Devi siang itu di istananya yang asri dan nyaman. Dengan sambutan tuan rumah yang ramah, apalah artinya lelah dalam perjalanan Tanjung – Priuk- Depok. Suasana rumah yang benar-benar menyejukkan dan senyum riang sang tuan rumah menambah nyaman hati ini. Hari itu aku dan Devi menumpahkan cerita mengenai hari-hariku dan berita serta cerita teman-teman lain yang ditinggalkan Devi. Kadang kami tertawa, kadang sebal dengan ulah teman kami yang kami bicarakan... itulah rona hidup ( tapi kami nggak gosip loh... Cuma curhat aja, lagian udah banyak infotament jadi gosip kami basi..!).
Tapi aku jadi sedih loh, waktu ketemu mamanya Devi? Apa coba yang mama katakan waktu melihat aku? Kata mama aku “Look..., Seni Your Body same as Ade (panggilan untuk Devi) ? ‘What...? oh my GOD... kalau Devi mother dah bilang gitu berarti bener dong aku juga jadi ‘Bahenol, Demplon, Deboy, and Bohay.......!!! Sedih nggak tuh...? Tadinya aku nggak percaya... masak sih.. bodi aku sama? Tapi setelah liat foto kami berdua baru aku sadar ternyata... My Body ....its real... same as Devi. Berarti aku harus ekstra kurangi makan malam, banyak olahraga... pokoknya ketemu Devi mother lagi harus kelihatan langsing.... bisa nggak yah... Anibody .....can help me? What wrong with me????
Pekarangan yang luas dengan tanaman Mangga, Nangka, Jambu biji (klutuk) yang berwarna merah, Pohon pepaya yang sarat buah, serta pohon durian yang masih seukuran anakku (katanya lima tahun lagi bisa dipanen... Masa sih?). Keadaan yang lapang itu membuat anakku dan keponakan berlarian, biarlah mereka aman bermain paling-paling yang ditabrak pohon-pohon.
Devi sang tuan rumah mengajak aku untuk panen jambu bijinya, lumayanlah buat oleh-oleh ke Jakarta. Waktu aku mendesak untuk memanen nangkanya dengan setengah memaksa ( mudah-mudahan Devi Ikhlas nangkanya aku panen...!), Devi pun sibuk mencari golok..., wadah gawat nih gara-gara maksa Bu De kita ini langsung cari benda tajam. Jangan salah bukan aku yang nggak tahu diri ini yang mau dia golok, he...he..he... dengan pertolongan golok itulah kerjasama yang baik antara suamiku dan Abah suami Devi dapat terbantu ( untuk memotong nangka dari pohonnya) Good... my husband kerjasamamu akhirnya mengantarkan nangka itu ke rumah kita (coba kalau beli berapa tuh....?), untuk yang satu ini “Tanks yah De... Pulang dari istana Devi beragam pikiran berkecamuk di benakku dan suami tercinta. kata suamiku bisa nggak kita nanti tua dan pensiun di tempat seperti itu? Alhamdulillah ternyata pikiranku dan suami sama, mudah-mudahan Tuhan kasih jalan untuk kami merajut benang kasih hingga nanti bersama anak cucu di tempat yang nyaman dan asri. Duh... so sweet... romantis dan narcis banget yah? I and My Husband have a Dreams.... so... ? I hope so

PANEN NANGKA DI RUMAH DEVI







Monday, February 16, 2009

PERSAHABATAN







TEMAN, SAHABAT, FREN, OR SOBAT


Apapun namanya, pertemanan, atau persahabatan susah untuk ditemukan dan dibina. Teman yang mau menerima kita, yang selalu ada untuk kita wah.... hari gini masih ada nggak yah? Pertanyaan itu yang selalu aku cari jawabnya. Masih adakah persahabatan yang tulus di belantara kehidupan yang individualis dan egois ini apalagi di kota Jakarta? yang merupakan sumber segala egoisme manusia.
Sejak muda dulu... yah ketika masih bau kencur, di SD aku berteman dengan siapa saja, tak jarang teman itu kadang jadi musuh hanya karena hal sepele, misalnya tidak menegur atau tidak memberikan mainannya. Pertemanan di usia itu sungguh lucu, karena hari ini bermusuhan besok kami sudah baikan lagi tandanya dengan mengaitkan jari kelingking ke teman tersebut.
Menginjak remaja atau SMP pertemananku karena kami harus selalu bersama ke sekolah. Dengan becak langganan. Namanya Marhayani, rambutnya panjang dan cerewet sekali. Tapi asyik juga kalau sudah bermain. Di SMP inilah kami mulai menghargai dan tahu artinya pertemanan.
Di SMA aku sudah tidak tahu lagi kemana arah pertemanan, karena adanya intrik dan saling menyaingi baik mengenai lawan jenis maupun pergaulan, tapi syukurlah teman-temanku terbilang banyak, kata orang aku ini mudah berteman.
Menjadi mahasiswa pertemanan aku awali di tempat kost. Mulanya aku Kost dengan Indah teman waktu SMA. Tapi pertemanan yang sesungguhnya sewaktu Indah mengajak teman kelasnya bernama Muslimah, anak seorang pengusaha berdarah Betawi. Sifatnya yang tidak sabaran, mudah marah, tapi royal jadi bumbu pertemanan kami. Hingga sekarang aku dan Muslimah atau yang biasa aku sapa Imah selalu saling mengisi dan mengabari.
Pertemanan juga aku lakukan di dunia kerja. Di tempat aku mengajar SMA Yappenda aku mengenai Sri Utami ini temanku waktu kuliah, pembawaannya yang kalem, lembut, serba ketakutan dan bingung jadi ciri khasnya. Karena sama-sama mengajar mata pelajaran yang sama jadi aku banyak berinteraksi dengan Wiwi panggilan untuknya.Tapi jangan salah justru Wiwilah yang bisa jadi pemimpin, karena ia menjabat sebagai ketua RT di lingkungannya yang terkenal dengan para preman. Kok.. bisa yah, Nah pertanyaan itu juga terlontar dari mulut ini kok.. Wiwi bisa jadi ketua RT? Tapi dengan kelembutan dan sikapnya yang sok tahu terbukti Wiwi bisa memimpin lingkungan RTnya. Buktinya hingga saat ini warganya aman-aman saja tuh punya bu RT Wiwi.
Selain itu ada juga Sri Rahayu, orang Solo yang bersuara Bass seperti orang dari daerah Seberang. Kami menyebutnya kelas berat, karena bodynya yang berat dan keinginan serta kemauannya yang juga berat. Karena ia yang paling tua diantara kami berempat , maka kami membiasakan memanggilnya Mbak. Temanku ini walau kelihatan gagah tapi rapuh, apalagi kalu bicara mengenai perasaan, airmatanya gampang banjir membasahi pipinya yang bohay.... Mbak jangan sering menjatuhkan airmata yah apalagi di depan orang yang menindas kita, seberat apapun yang Mbak rasakan pasti ada jalan keluarnya. Juga jangan terlampau baik yah sama orang, karena tidak setiap orang ngerti dan paham niat baik kita itu. OKE...! Tapi kalau mengenai makan, apalagi traktir-mentraktir, ibu satu ini luar biasa royalnya. Tempat makan mahal jadi tujuan pentraktirannya, menu favorit kami masakan Japan di restoran Yuraku, Kelapa Gading. Apalagi kalau sudah menyangkut penampilan, aduh.... ada aja idenya buat heboh tampilan dengan perhiasan yang cukup rame dikenakan (katanya hasil kreasinya loh.. boleh juga yah!). Nah kalau ada baju atau apapun yang dipakainya sudah nggak muat, yang ketiban rejeki aku dan Wiwi, karena pasti kami kebagian jatah baju dan celananya yang masih bagus dan pasti mahal punya jatuh ke tangan kami. Untuk yang satu ini Makasih yah Mbak.

Teman kami satu lagi masih tergolong kelas berat juga , yaitu Devi Zubaidah Tampubolon, Peranakan Padang- Batak jadi nya super kelas berat juga. Tapi walaupun berat suara temanku yang satu ini lembut mendayu-dayu, kalau di telepon merdu banget.... tapi kalau lihat orangnya yah nggak sebandinglah sama suaranya yang imut dan merdu. Bodynya yang aduhai berat sehingga ada nama indah buat panggilannya yaitu Devi Demplon Deboy. Nah.... kebayangkan bagaimana sexinya kedua temanku ini. Sayangnya Devy tidak bersama kami lagi, Ia mengundurkan diri dan menetap di Depok tempat ia ditugaskan sebagai PNS. Kata orang rumahnya di Depok Super luasnya. Mungkin untuk ukuran kami yang tinggal di Jakarta dengan luas tanah 800 meter persegi terbilang luas sekali yah... Katanya juga rumahnya itu di belakang sekolah tempatnya mengajar jadi tinggal menerobos pintu belakang sampailah di sekolahnya. Aku belum juga berkesempatan ke rumahnya. Suatu hari pasti aku akan melihat temanku ini. Selain ketiga temanku ini di tempat kerja masih ada lagi teman-temanku yang lain yang juga mengisi hari-hariku, tapi mereka bertiga yang banyak mengisi relung hati ini dengan pertemanan. Aku tidak tahu sampai kapan kami bisa saling mengisi, karena semakin laju waktu dan kesibukan, serta misi dan visi yang berbeda pertemanan ini semakin jauh untuk digapai.
Pertemanan juga aku dapatkan sewaktu aku terpilih mewakili DKI untuk program persahabatan Indonesia-Japan bulan Jlui tahun 2001. Rombongan kami berjumlah 21 orang dari seluruh Indonesia Sabang sampai Merauke. Selama 40 hari di sehati dengan empat kawanku dari beberapa daerah.


Tuesday, January 27, 2009

" LIBURAN- HOLIDAY"











KEMBALI KE YOGYAKARTA

Liburan kali ini aku dan anakku diajak sahabatku Hajjah Muslimah berkunjung ke rumah yang baru dibangunnya di Yogyakarta. Tepatnya di desa Manis Renggo Kendal Jawa Tengah. Loh...loh jadi nggak ke Yogya dong. Yah walaupu rumah sahabatku itu di daerah Jawa Tengah, namun untuk ke kota Yogya hanya membutuhkan waktu sebentar hanya 30 menit. Karena jarak antara daerah Yogya dan Jawa Tengah walau beda propinsi namun tidak jauh. Lagi pula rumah sahabatku ini ada di belakang kawasan candi Prambanan. Jadi kalau keluar untuk bepergian kami akan melewati candi Prambanan.
Kami berangkat tepat di hari umat Kristiani merayakan Natal, yah Kamis, 25 Desember 2008. akhir tahun yang mengesankan. Aku bersama anakku Raynaldi dan sahabatku Hajjah Muslimah, bersama suaminya Haji Dombie, supir pribadinya, dan keponakan Hajjah Muslimah, Ai. Kami berangkat menggunakan mobil sahabatku Chevrolet Optima yang lumayan nyaman dan adem bener.
Sepanjang perjalanan menuju Yogya terasa liburannya. Kota Jakarta kami tinggalkan tepat ukul 06.00 Wib. Memasuki tol Cikampek jalan masih mulus dan lancar. Namun, keluar pintu tol Cikampek Kopo, jalan mulai tersendat, kendaraan macet total. Melihat hal itu kami putar haluan lewat Subang dan keluar Pemanukan namun, perjuangan kami untuk terjebak macet masih terus berlanjut hingga Brebes.
Sampai di Yogya pukul 24.00 Wib, benar-benar hari yang melelahkan. Malam itu mulailah kami merasakan hawa daerah Jawa Tengah . Rumah yang asri dan benar-benar mewah untuk ukuran orang kampung, gaya Betawi mewarnai teras depan rumah. Parkir yang luas untuk lima mobil. Ruang tamu yang lebar, kamar tidur ada tiga. Kamar utama yang bisa menampung dua tempat tidur besar, sertadapur yang benar-benar lapang. Sayang yah kalau tidak ditingali.
Hari kedua atau hari Jumat 26 Desember, kami mengunjungi Candi terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur. Wah... setelah 5 tahun tidak mengunjungi Yogya, baru kali ini lagi aku mengunjungi Candi Borobudur, tetap megah dan bebar-benar LUAR BIASA. Tiket asuk ke areal candi dibedakan, bila wisatawan lokal dikenakan tarip Rp 15.000, untuk wisatawan mancanegara dikenakan harga $ 10 atau setara Rp 110.000 lumayan juga yah. Apa bedanya yah, setelah saya cari tahu ternyata hanya pintu masuk dan guide yang disediakan oleh pengelola untuk mereka. Wisatawan mancanegara itu melewati ruangan yang ber AC dan nyaman. Memasuki adreal candi mulai terasa panas menyengat, dengan uang Rp 2000 aaku menyewa payung, lumayan tidak kepanasan. Rasa penasaran anakku akan Cndi Borobudur tak terbendung, ia dengan semangat naik tangga ke stupa satu persatu. Walau lelah yang amat sangat dan kaki mulai terasa pegal, aku tetap mengikuti kemana anakku melangkah. Bukan apa-apa manusia yang datang pada hari itu lumayan buanyakkk. Benar-benar mengisi liburan.
Hari kedua Sabtu, 27 Desember 2008, kami berkesempatan mengunjungi mall Ambarukmo Plaza. Hampir sama dengan mall yang ada di Jakarta banyak toko-toko pakaian dan juga food court. Kebetulan ada sale buku- di Gramedia, daripada nanti di perjalanan pulang BT aku membeli 5 buah novel.
Sore hari kami mengunjungi Malioboro. Pusatnya wisatawan ini benar-benar padat sekali. Bahkan tidak ada celah untuk berjalan nyaman. Kendaraan yang berseliweran di Malioboro dan daerah Yogya bernomor B atau D. Di Malioboro aku membeli kaos khas Yogya dengan kata-kata lucu dan ironis. Harga kaos yang standar dengan bahan seadanya bukan katun Rp 15.000 untuk segala ukuran. Kaos dengan bahan katun dan bermerek Semar harganya lebih mahal Rp 25.000, selain bahan juga kantung tempat kaos tersebut, dikemas dalam wadah tas kertas yang unik. Tak banyak yang berubah hanya semakin banyaknya pengamen jalan yang mangkal dan pedagang kaki lima yang hampir menutupi jalan.
Hari ketiga Minggu, 28 Desember 2008 kota Solo menjadi tujuan kami, selain mengunjungi keramat sahabatku yang meninggal dunia, kami berbelanja di pasar Klewer Solo. Niatnya ingin tahu harga baju batik dan motif batik di pasar yang terkenal ini. Di pasar Klewer pula aku mendapatkan baju batik yang unik dan sebuah daster untuk ibuku. Dari pasar Klewer kami berkeliling kota Solo yang kebetulan hari itu sedang mempersiapkan upacara Malam Satu Suro, jadi di mana-mana terlihat janur menghiasi sudut-sudut kota Solo. Wah .... meriah sekali kota Solo yah. Oh. Yah di Pasar Klewer ini juga kami makan bakso Solo, ternyata masih enak yang di Jakarta padahal harganya sama loh Rp 5000 perporsi dengan 4 bakso yang bulat.
Hari terakhir di kota Yogya Senin, 29 Desember 2008, kami kembali ke Malioboro tapi kali ini pagi hari pukul 10.00 kami sudah ada di Malioboro, dengan harapan masih pagi pasti masih sepi. Tapi... wah... hebat yah daya tarik Malioboro ini masih pagi tapi ramainya sudah luar biasa. Katanya sih karena bertepatan dengan liburan jadi yah begini deh. Aku jadi tidak sempat menikmati nasi pecel di depan pasar Bring Harjo. Karena tempat duduk yang kurang nyaman jadi nasi pecel yang menerbitkan air liur kami bungkus. Kali ini juga aku berbelanja 3 buah tas ransel batik, 3 buah tas sandang bating harganya relatif murah untuk tas ransel Rp 25.000, tas sandang Rp 15.000. kami juga berbelanja makanan khas Yogya, apalagi kalau bukan Bakpia Patuk. Kali ini kami konvoi menggunkan becak tidak tanggung-tanggung 8 becak yang kami sewa dengan sewa perbecak Rp 5000, untuk jarak yang lumayan jauh. Di toko atau pabrik Bakpia Patuk 25 sahabatku Hajjah Imah memborong hampir 50 dus Bakpia. Total harga yang ia keluarkan hampir dua juta rupiah.
Dari toko bakpia kami lanjutkan ke ke Kraton Yogya. Di sini karena tiket yang harus dikeluarkan sama dengan masuk ke Candi Borobudur Rp 15.000, karena rombongan kami ada 10 orang maka hanya anakku, anak hajjah Imah, dan keponakannya Ai yang masuk. Kata anakku di dalam mereka foto-foto dan hanya melihat kursi raja.

Hari Selasa,30 Desember 2008, subuh-subuh kami sudah siap untuk berangkat menuju Jakarta. Ah setelah empat hari di kota pelajar akhirnya waktu untuk pulang. Perjalanan pulang tak ada hambatan, lancar dan aman. Hanya mampir untuk makan pagi di daerah Kebumen.
Sampai Jakarta pukul 18.30. Akhirnya I am Go Home.....


"Jakarta Kebanjira "





Suasana Rumah dan Lingkungan yang sempat aku abadikan menggunakan Handphone. Asyik yah Banjirnya.....
BANJIR LAGI BANJIR LAGI......!

Musim hujan yang mulai datang sepertinya membawa rezeki buat kami. Bagaimana tidak rumah kami yang kami juluki Perumahan “Mewah Sekai” alias Mepet sawah sedikit ke kali harus rela dibersihkan dengan air yang menggenangi. Hari Rabu, 14 Januari minggu ke-2 di awal tahun. Setelah dua hari berturut-turut diguyur hujan rumah kami tergenang air. Mulanya tidak kami sadari karena jalan di depan rumah terlihat tidak masuk ke teras rumah. Tapi rupanya daerah sekitar dapur dan ruang keluarga yang lebih rendah dari jalan mendapat masukan air dari rebesan ubin keramik. Perlahan air mulai banyak masuk dan membasahi semua permukaan ubin keramik. Alhasil kami sibuk mengangkati semua barang-barang yang mudah basah, buku-buku, mesin cuci yang naik pangkat karena harus diganjal batu bata, dan lemari pajangan yang harus rela terendam dan airnya suamiku berkenan mengganjalnya dengan kayu.
Tapi anakku Raynaldi dan kedua keponakanku Selly dan Ilham yang hari itu tidak masuk sekolah berkesempatan mencari ikan dengan saringan kelapa milikku. Ikan-ikan kecil yang di dapat ditampungnya di sebuah ember. Mungkin bangga sekali yah berhasil mendapatkan ikan walaupun kecil-kecil. Namun, perjuangan mendapatkan ikan itu mungkin yang mengasyikkan yah? Baju dan celana yang basah serta tubuh yang kedinginan tidak dirasakannya. Tinggal kami para orangtua yang khawatir kalau-kalau mereka demam.
Tiga hari lamanya kami baru berhasil membersihkan rumah dengan susah payah dan tenaga yang terkuras. Hari Minggu, 18 Januari 2009 kami sudah dapat lega karena rumah sudah bersih. Namun........ ternyata perjuagan kami belum selesai, Senin pagi 19 Januari 2009, hujan turun tidak begitu deras, namun dampaknya terasa di siang harinya. Walau panas matahari menyengat tapi lagi-lagi rumah kami harus dibersihkan lagi oleh air. Kali ini lebih tinggi dari yang kemarin, bahkan ruang tamu nyaris terendam juga. Kali ini air yang datang katanya air kiriman dari Bogor. Jauh juga yah mungkin karena banyak air Bogor membagi-bagi rezeki yah. Kali ini anakku Raynaldi tak aku ijinkan bermain air, karena ia mulai flu dan matanya merah. Subuh-subuh Selasa 20 Januari 2009 pukul 04.00 aku membersihkan teras rumah yang airnya mulai surut. Sampai daun-daun, lumpur, sampah plastik, ilalang, kayu yang hanyut dan terdampar di teras kami aku bersihkan dengan harapan tak akan datang lagi.... yah mudah-mudahan.
Kalau ditanya dan diselidiki, mengapa banjir kerap mendatangi daerah pemukiman kami, yang masih banyak sawah terhampar? Mungkin jawabanya kita harus melihat bagaimana kebiasaan warga sekitar yang membuang sampah ke kali yang melintasi rumah mereka. Makin banyak sampah maka saluran air tersebut tak akan berfungsi. Atau masih ada kemungkinan lain? Entahlah ... yang pasti ayo kita jaga kebersihan jangan membuang sampah ke kali ! OKE

Monday, December 22, 2008

Happy Mother Day's

























22 Desember 2008


Hari Ibu di Indonesia




Bahagianya ibu-ibu di Indonesia , karena hari ini adalah hari Ibu. Memang ibu-ibu di kota besar bisa memaknai hari ibu dengan suka cita, karena mereka dapat menyaksikan pendapat beberapa seleritas di televisi dalam memaknai hari Ibu dari televisi sambil minum teh hangat, dan camilan yang dibeli di sebuah supermarket atau penganan yang disiapkan si bibik pembantu. Lalu bagaimana dengan ibu -ibu di desa dan daerah terpencil. Apakah makna hari ibu bagi mereka? masih bermaknakah hari Ibu untuk mereka, sementara mereka harus membanting tulang demi mencukupi kehidupan keluarga. Masih suka citakah mereka merayakan Hari ibu, ketika minyak tanah harus mereka antri dengan keringat dan lelah tertahan. Masih ditunggukah hari Ibu, ketika uang saku untuk transpostasi dan jajan anak mereka ke sekolah tak ada di tangan? Masih adakah senyum hangat ketika susu tak terbeli dan anak merengek meminta mainan.


Begitu kompleks permasalahan yang ada di pundak Ibu, jadi bagaimana makna hari ibu untuk mereka. Mungkin jawabnya : hari Ibu lebih bermakna jika ibu-ibu di Indonesia dapat memaknai kasih yang telah mereka berikan untuk anak -anak mereka.


Hari ini, Senin 22 Desember 2008, pagi aku masih masak, bebenah rumah dan mencuci pakaian. Rencana hari ibu kali ini aku dan anakku Raynaldi akan menonton film di Bioskop XXI Sunter. Sampai di bioskop teryata film yang ada tidak ada yang berkenan di hati. Dengan terpaksa kami menonton film Amerika yang berjudul "Hallowen". Menyesal.... tentu saja karena dari awal hingga akhir cerita hanya berisi kekerasan yang tidak pantas di tonton oleh anak-anak. Jadi bisa dibayangkanlah bila aku berusaha membuat anakku menutup mata bila ada tayangan kekerasan. Tahu sendiri apa jawaban anakku. "Kalau ditutup terus matanya rugilah bayar karcis nontonnya!" Aku berusaha membuat anakku mengerti bahwa tayangan itu tidak pantas ia lihat. Pulangnya karena uang cekak, kami hanya membeli Crepes isi coklat dan keju. Nikmatnya melihat anakku makan. Di perjalanan anakku Natasha menelepon. Surpise karena ia tidak pernah menelepon ke HP. Tapi karena ingin mengucapkan "Selamat Hari Ibu" padaku, ia rela menyisihkan uang jajannya menelepon ke HP. Makasih yah sayang, terima kasih untuk semuanya.


Untuk Mamaku yang masih tetap heboh, hebat dan seksi....



Selamat hari Ibu tanpa Mama aku tidak akan bisa seperti ini dan dapat memaknai kasih sayang seorang ibu. Terimakasih Ma... untuk semuanya.


Bunda

(By Bunda NaRa)


Kasih yang abadi akan tepatri selalu
Belaian sayang akan tersa menyeluruh
Ketika kau lemparkan cambuk kekuatan
untuk mengajakku melangkah ke masa depan

Bunda adakah yang lebih indah dari senyummu?
Bunda adakah yang lebih mulia dari pelukanmu?
Bunda adakah yang lebih hebat dari tegur marahmu

Kasih yang selalu di hati terukir selalu
Peluk mesramu kan selalu menjadi penghangat
Bunda makna kasih tak kan lekang oleh waktu

Bunda canda tawa tak kan punah oleh janji
Bunda segala yang ada adalah simpul kasihmu pengikatnya


Bunda...
Sayang terucap selalu di kelu ini














Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...