Tuesday, December 29, 2020

Virus Corona Membawaku Liburan

Rumah Sakit Darurat Covid-19

Hari kedelapan di Wisma Atlet

Selasa, 29 Desember 2020

Hari ini sudah memasuki hari kedelapan kami di Wisma Atlet. Rutinitas yang sama dan berulang sepanjang hari membuat kebosanan melanda. Padahal kalau di rumah yah sama saja sih tetapi bisa berkumpul dengan keluarga tercinta itu yang utama. Pagi-pagi seperti biasa sesendok madu sudah masuk ke tengorokan agar memaniskan hidup selama di isolasi, eaaaaaaa... manisnya hidup kita yang tentukan.Kalimat bijak yang bisa diterapkan selama isolasi di Wisma Atlet. Pagi ini seperti baisa makana pagi sudah siap. Walau kata sebagian pasien makanannya ga bikin selera, bagiku makanan itulah yang mengantarkan aku utuk sembuh dari Covid. Gegara covid ini beragam jadwalku berantakan. Boro-boro mau libuaran, mau ikut kegiatan dengan teman-teman saja jadi terlepas semua.  
Pagi-pagi ada telepon dari Halodoc tetapi dokter itu menyapa keponakanku Prita. Yah, karena kemarin waktu PCR Selli pakai nomorku untuk daftar. Biasalah menanyakan apakah Seli isolasi mandiri dan berbagai pesan yang menguatkan. Sarapan yang berulang walaupun nasi hanya separuh masuk, tetapi sayuran aku habiskan. Obat ada 5 macam dan semua sudah aman masuk ke mulut. Selain obat dari RSDC aku juga konsumsi Lin Hua dan ester C yah, hitung-hitung prepare sendiri biar imun bertambah.
Siap untuk lari pagi. Yuk kita mulai dengan sepatu olah raga yang akan membawa kita menyusuri jalan.

Seger deh si eneng dengan pink semoga pinki bisa mengantarku keliling 10 putaran deh. Yo ayo yo semangat untuk kita biar sehat. Turun dari lift di taman sudah banyak manusia. Walah kok angin ga bersahabat yah. Angin bertiup lumayan kencang, kaki jadi berat untuk melangkah. Matahari malah masih malu-malu padahal sudah pukul 08.30 atau hampir meninggi. Niat jalan keliling Wisma tetap kami lakukan setelah kemarin ga sempat keliling wisma. Kaki melangkah di mulai dari penanta tower 6. Angin yang kencang membuat jalan kami jadi berat. Putaran kelima aku ajak Selli untuk istirahatkan kaki dulu.Lumayanlah biar ga pegal.


Lanjut lagi niatnya yah bisa 8 putaran sekalian menunggu matahari yang amsih malu-malu, mungkin kesal dengan angin yang juga ikut eksis. Sepertinya boleh juga deh mejeng daripada berat melangkah gegara angin yang kencang, Aku minta Selli foto aku di sudut-sudut tanaman.



Bagaimana posenya lumayankan biarpun bukan foto model. Kenangan aku ga mau balik ke sini lagi.
Puas keliling walau hanya dapat 7 putaran aku naik Ke lantai 3. Janjian sebenarnya dengan Imah, Bang Ano, dan Bang Joned. Eh, yang ada di lanati 3 hanya ada bang Ano bang Joned masih diinfis, imah ga sabar dengan matahari. Untungnya ada ibu muda yang instruktur senam jadilah ikutan senam dengannya lumayan tambah keringat.

Lumayan juga ikutan senam gratis lagi. Ah, makasihlah yah Bu udah ikutan senam. Lanjut istirahat berjemur sudah pukul 10 lumayanlah ada panas yang menyengat juga. Susu beruang juga siap masuk ke tengorokan.

Pukul 10.30 penjemuran usai sudah siap kembali ke kamar istirahat, mandi cuci-cuci baju deh. Semoga apa yang dilakukan pagi ini bisa berguna dan membuat imut terus meningkat. Oh, yah teman-teman Kappija yang dimotori bang Afdal seperti biasa pagi-pagi menyapa. Alhamdulillah menjadi penyemangat buat kami serasa terus dijaga dalam persahabatan.
Istirahat di kamar dan makan siang yang menunya masih seperti kemarin sayur wortel, ayam, ikan, dan tahu. Sore janjian mau bertemu semua pasien Covid Kappija. Siang ada kiriman kopi gula aren dan roti garlic dari anak dan adikku. Lumayan rotinya bikin kenyang dan kopi gulennya makyus karena dibuat dengan cinta.


Sore bertemu pasien covid Kappija di lantai 12. Bang Joned sudah datang dan duduk dengan tiang infusnya. Ga lama bang Ano dan imah. Lengkap sudah deh CK. Tak lama teman-teman Kappija ikutan tvideo call. Cerita sana sini dan kami bubar pas azan magrib. Selamat istirahat.

Menikmati senja bersama pasien Klaster Karumbie. Sejarah mencatat aku dan ketiga kawanku berjuang untuk mengusir Covid yang membuat kami harus kehilangan kebersamaan di akhir tahun bersama keluarga.








Akhir di tahun 2020 yang akan menjadi kenangan Allah menegur agar kami peduli atas kesehatan sendiri.


Monday, December 28, 2020

Penyembuhan Pasien Covid-19

Satu Minggu di Wisma Atlet

Senin, 28 Desember 2020

Sudah satu minggu aja kami di Wisma Atlet. Pembaca mungkin bosan juga yah baca keseharian atau rutinitas kami yang memang seperti itu. Pagi sarapan, lari keliling wisma, jemur makan dan istirahat. Bosan memang melanda untungnya aku dan Selli sering kali meminta anak-anak untuk telepon atau kami habiskan di kamar bermain Games dan nonton Tik tok yang lucu-lucu. 


Tuh menu makannya masih sama kan tidak banyak perubahan. Yah, namanya juga pasien Covid yah begitu deh sarapannya yang penting cukup gizi. Iseng-iseng aku foto lorong-lorong ke kamarku. Semoga menjadi kenangan dan amit-amit deh kalau harus balik lagi ke Wisma Atlet walaupun makanan dan tempat tidurnya enak no wayyyyy balik lagi.

Lorong menuju kamarku


Pagi ini sebelum berolahraga aku sudah janjian sama Immah dan Bang Ano mau menengok Bang Joned salah satu Kappija klaster Karumbie juga yang positif dan baru bisa masuk kamar karena ada penyakit bawaan yaitu diabetes. Kondisinya memang memprihatinkan dibandingkan kami bertiga. Aku bawakan susu beruang dan madu semoga kedatangan kami membantu kesembuhan Bang Joned.





Bekal kesembuhan seorang pasien adalah suport dan pertemuan dengan teman atau keluarga. Mereka bertiga rumahnya jauh di daerah selatan Jakarta ada yang di Ciputat, Bintaro, dan Pamulang. Beruntung aku dekat jadi bisa sering-sering jumpa anak-anakku yang membawa kiriman makanan juga obat-obatan. Ini mah emak yang nyusahin yah guys.

Klaster Karumbie sudah berkumpul ada 4 orang Kappija dan satu orang keponakanku yang jadi ikut merasakan jadi pasien Covid gara-gara ikut kegiatan Kappija. Karena Bang Joned masih lemah jadi olah raga pagi ini kami sepakat di lantai 3 sekalian berjemur. Aku usahakan jalan dan olah raga ringan supaya keluar keringat. 
Yuk, olahraga lihat Bang Joned yang masih lemas saja semangat olah raga paling tidak ada yang dikeluarkan yaitu keringat. sesekali kami senam-senam ringan lumayan untuk mengeluarkan keringat dan mengusir si Virus.
Perbincangan seputar pengalaman dan juga permintaan buat bang Affan yang selalu rela membelikan kami para pasien makanan. Hasilnya berkat video itu bang Affan mengirimkan bear brand satu kotak isi 30 guys. Alhamdulillah. banget deh.
Curhatan sesama pasien covid ini luar biasa deh. tapi memang benar kami pasien covid perlu ekstra makan dan minuman yang bergizi. Akhirnya aku minta anakku untuk antar keperluan yang aku minta dan dia mau mengantarkan satu dus bear brand.  Abang Ray terima kasih yah, Nak. mau antar pesanan mamah. Rindu sebenarnya mau memeluknya tapi kondisi dan aku sayang anakku.

Terima kasih ya nak. Sore sambil antar kiriman aku antar ke kamar immah di lantai 6 dan janji ketemu bang Ano di kamar immah. Kami dapat kabar Bang Ano hasil PCR nya masih positif artinya belum boleh pulang. Duh bikin ga bisa tidur aja deh. 


Alhasil siang ini aku ga bisa tidur karena memikirkan kok bisa sih PCR kedua sudah sehat tapi masih aja positif. Ini di luar perkiraan kok bang Ano yang segar bugar aja masih saja positif bagaimana dengan kami yang datang dengan kondisi sakit.
Semakin dipikirkan membuat hati ga tenang yah wesss lah pasrah yang penting yuk, makan malam sudah siap.

Istirahat cukup dan makan yang bergizi tambah imun naik. Itulah yang ada di benakku. Ada lagi tambahan pekerjaan yaitu editing buku yang diberikan Christina. Buku yang harusnya 200 halaman ini kok dibuat penulisnya 475 halaman aduhhhh bagaimana pangkasnya bikin mumet aja. Nah, daripada mumet baiknya menuliskan keseharianku di hari ketujuh semoga malam ini bisa tidur dengan nyenyak. Jangan bosan baca ceritaku yah.

Saturday, December 26, 2020

Covid-19 Pasiennya Harus Gembira dan Semangat!

Liburan Akhir Tahun di Wisma Atlet

Hari keenam di Wisma Atlet, Minggu, 27 Desember 2020

Sudah hari keenam saja aku isolasi di Wisma Atlet. Hati harus gembira supaya imun kita terjaga. Kalimat itu selalu aku dengar dan baca di medsos. Waktu belum menjadi pasien Covid, kalimat itu biasa saja karena memang tidak merasakan. Setelah jadi pasien Covid, kalimat itu memang sangat memotivasi karena hidup kami yang sempat schok karena terpapar padahal sudah menerapkan protokol kesehatan, rasanya malu dan sedih berkepanjangan. Hati boro-boro gembira, yang ada malu, takut, dan juga sedih (ini lebih pada karena ga bisa kemana-mana yang tadinya aktivis ke luar rumah hehehehe). Beberapa kegiatanku yang otomatis penghasilan tambahanku hilang sejalan dengan isolasi yang aku lakukan di Wisma Atlet. Ini demi kebaikan untuk semua dan aku juga yakin Allah teramat sayang padaku. Beberapa kegiatan di hotel juga terpaksa aku cancel dan panitianya harus japri menanyakan kehadiranku, aku cuma bisa bisang belum bisa ikut demi kebaikan bersama.  Biasanya kegiatan ke Hotel aku selalu memboyong keluargaku sekalian liburan keluarga. Pastinya pundi-pundi penghasilan tambahanku berkurang karena pemasukan cancel semua. Yah, mau dibilang apa lagi memang aku sedang disayang Allah disuruh istirahat.
Tiba-tiba WA ku ada pesan yang buat jantungku berhenti. WA dari petugas Puskesmas tempat aku tinggal di Rorotan. "Waduh gawat dong kalau puskesmas tahu nanti laporan ke Rt kemudian RT ke rumahku dan RAMAIIIIIII deh berita " Eh, bu Seni kena Covid loh, itulah karena sering banget kegiatan di hotel." 
Aku ragu membalas pesan dari petugas puskemas. Aku ga mau lingkunganku menjadi GEMPAR dan ujung-ujung biasalah tetangga pasti bergunjing dan akhirnya menjauhkan keluargaku. Padahal Covid bukanlah aib yang harus ditutupi dan dijauhkan dari lingkungan. Maka kalimat pasien Covid harus gembira, itu betul banget. Teman-teman yang menjauh dan tak mau dekat lagi saja sudah aku bayangkan deh jadi PARNOOO. Biarlah sedikit yang tahu semoga tetangga dan rekan kerjaku ga ada yang tahu kondisiku. Selain malas untuk dikasihani juga malas untuk bercerita. Mereka pastinya berpikir itu akibat aku kegiatan dari hotel ke hotel. Duh, tetangga kok gitu sih.
Akhirnya dengan pertimbangan yang aku singkirkan yang Parno, aku jawab saja pesan dari puskesmas.




Sebenarnya memang tugas dia, mengingat ada warganya yang terpapar Covid. Aku aja yang takut kalau petugas puskesmas ke rumahku dan buat heboh tetangga.

Urusan dengan puskesmas beres sarapan dulu dengan menu yang gampang ditebak pasti sayurnya ada wortel dan lauknya ayam. Hemmmm setiap pagi sarapan berat begini pulang isolasi makin bengkak deh badan. Katanya makan aja buat gizi biar cepat sehat. Nah, kalimat memotivasi itulah yang aku ikuti. Walau nasi hanya separuh tapi lauk dan sayur aku makan semua.
Menu sarapan yang berat banget.

Perut sudah terisi waktunya olah raga. Niatkan hari ini mau keliling 10 putaran semoga kaki ga cape. Sebelum berangkat bawa minum satu botol, susu beruang, buah apel, dan roti semoga semua bisa masuk perut hahahahaha. Mulai star dari tugu Tower 6 jalannya biasa aja ga mau lari karena diisolasi saja udah lari dari kenyataan hahahahahaha. 

Habis lari 8 putaran waktunya berjemur. Katanya matahari yang bagus di pukul 10. Nah, matahari akdang menyengat kadang teduh yah ditungguin sajalah namanya niat berjemur. Lagi pula cepat-cepat masuk kamar juga ngapain. Untuk mengusir bete kalau berjemur, bisa nih trik aku diterapkan yaitu main games hahahahaha, dijamin deh ga bete sambil berjemur. Puas berjemur naik ke kamar, alhamdulillah liftnya ga ramai. Kalau sudah lebih 6 orang aku suka parno sendiri takut karena kami memang pasien Covid dan ga tahu siapa yang paling banyak virusnya.  Wisma Atlet memang tersebar virus lah semua pasien covid. Jadi kalau habis berjumpa dengan mereka apalagi di lapangan yang orangnya banyak, pakaian yang kita kenakan wajib dicuci jangan dibiarkan gantung dan pakai lagi.
Snack Wisma Atlet

Waktunya snack dan santai, sebelumnya yah mandi dulu sambil berendam pakaian. Setelah urusan mandi selesai baru deh menikmati snack ala Wisma Atlet. Lumayan cukup gizi ini mah. Santai sambil baca WA dari keluarga dan lihat medsos yang isinya liburan para teman-teman, duhh jadi sedih lagi deh ga bisa liburan.
Istirahat cukup ga terasa sudah tengah hari waktunya makan siang dan minum obet. Yah, begitulah rutinitas yang kami jalani di Wisma Atlet. Mungkin setiap orang berebda tapi itulah versiku. Oh, yah yuk aku kenalkan dengan kondisi kamar di wisma Atlet. Yang sudah pernah amsuk pastinya sudah paham tapi katanya tiap tower beda juga loh.



Sebelum tidur biasanya zuhur dulu dan berdoa untuk kesembuhan.

Pukul 17.00 WIB 
Aku berkesempatan kow kow dengan teman Kappija di dekat lapangan. Yah daripada di kamar ga ada kegiatan. Rencana sih sambil menunggu kiriman anakku, yah karena makanan di Wisma kurang kuah jadi aku suka sekali ngerepotin anakku untuk bawa soto atau bakso biar makan ada kuahnya. Sambil ngobrol kami bahas teman-teman ex Karumbie yang belum PCR juga bahas yang sedang viral tentang Wisma Atlet. Paling tidak menghibur dirilah dengan cerita remeh remeh.


Ternyata ditungguin hingga Magrib anakku belum datang juga jadi naik dulu untuk Sholat Magrib baru kalau ada telepon kami turun lagi. Alhamdulillah anak-anakku tipe anak yang penurut sayang dengan Mamahnya yang sakit. Mereka mau mengantarkan apa saja yang aku butuhkan. Hari ini giliran anak pertama yang mau aku repotkan untuk mengantarkan pesananku.  Terimakasih yah Ayu Asha.

                                        Anakku Natasha yang rela mengantarkan kiriman

Kiriman bakso kuantarkan ke lantai 6 tempat imah dan barter dikasih kurma oleh Imah. Trus telepon Bang Ano lama ga diangkat. akhirnya aku dan Selli mengantarkan ke kamarnya mana towernya beda. Ada untungnya sih kami jadi olah raga malam dan pulang dari tower 5 menikmati malam di Wisma yang pukul 07.00 sudah sepi banget sedikit yang duduk itu pun paling 5 orang. Nah, kita nikmati malam yah di luar tower.







Friday, December 25, 2020

Pejuang Covid-19 Harus Gembira

Kegiatan Isolasi untuk Pasien Covid-19

Hari kelima, Sabtu, 26 Desember 2020

Hai, para pembaca dan mungkin ada juga pejuang covid. Hari ini hari kelima aku dan keponakan serta dua temanku dari Kappija 21, isolasi di Wisma Atlet. Banyak cerita yang semestinya bisa dibagikan oleh kami. Kebetulan aku tuh ga bisa diam dan harus terus menulis. Teman-teman di Kappija yang memang tahu keberadaanku dan sakitku, mereka salaing menyemangati bahkan ada yang mengirim makanan. Di sela waktu istirahat yang cukup aku harus menulis agar tidak hilang kisahku menjalani isolasi di Wisma Atlet. Pagi ini ada pengumuman di WAG pasien untuk tensi dan cek oksigen pukul 06.00. Eh, ternyata antre jadi menunggu deh  di kamar dulu, biar ga antre masih trauma kalau di dekat orang banyak.
Alhamdulillah tensi baik-baik saja malah cenderung agak rendah 100/90 dan oksigen 98. Artinya hari ini kami bisa berolah raga tanpa takut kehabisan oksigen dan pusing.





Berikut rutinitas yang akhirnya bisa berdamai denganku selama isolasi mandiri. Mungkin setiap pasien tidak sama tapi inilah yang aku lakukan.

  1. Tiap pagi  Pukul 06.00 WIB, sebelum makan aku minum madu satu sendok makan (lumayan biar manis hidup kita hehehehe).Ambil Sarapan yang disediakan oleh Wisma Atlet. Bentuknya nasi kotak dan sudah lengkap nasi+lauk+ buah pokoknya mantappppp.
  2. Terus minum 5 obat dari RSDC yang disediakan. Kalau pagi lebih banyak ada 5 obat yang harus diminum. 
  3. Setelah 10 menit minum obat dari RSDC aku minum obat yang aku bawa dari rumah sebenarnya rekomendasi teman-teman kebanyakan vitamin aja. ini yah: Halofit (ini rekomendasi dari halodoc katanya sudah cukup vitamin C, D, dan zinc bentuknya kaplet ada urutan hari jadi ga salah kalau mau minum), Lin Hua Qingwen katanya Lianhua Qingwen merupakan salah satu dari enam obat herbal Cina atau Traditional Chinese Medicines (TCM) yang dilaporkan efektif untuk melawan virus corona.Lianhua Qingwen merupakan obat herbal Cina yang sangat terkenal. Obat dengan kandungan 13 bahan herbal ini telah banyak digunakan untuk mengatasi pilek dan flu. Lianhua Qingwen dilaporkan memiliki efek memulihkan pada pasien dengan gejala ringan, terutama dalam meredakan demam, batuk, dan kelelahan. Tak sampai di situ, Lianhua Qingwen juga disebutkan membantu mengurangi perburukan kondisi pasien. Nah, karena rekomendasi itu aku belilah. Aku beli di toko online Shopie. setiap hari aku minum 3 x 2 kaplet. Disuruhnya sih 4 kaplet tapi aku kurangi takut sama ginjal juga harus mengolah begitu banyak obat dan vitamin yang harus aku minum. selanjutnya, aku minum Ester C (ini vitamin yang biasa aku minum sehari-hari sih), karena masih batuk waktu konsul ke dokter aku disarankan minum obat batuk Sanadril karena masih ada dahak. Hari kelima ini dahakku sudah tidak ada tapi batuk masih. Kalau ini sih gegara makan lengkeng hampir satu kilogram hahahahaha keenakan.
  4. Pukul 08.00 WIB turun ke lobi dan ke lapangan untuk keliling  wisma 5 putaran (ini yang biasa, hari ini putarannya tambah 2x jadi hari ini aku dan Seli keliling 7 putaran).
  5. Jam 9.30 jemur dan minum susu beruang + Yakult + air putih 1 botol selama keliling. Nah, selama keliling minuman ini + HP dibawa-bawa ikut juga keliling. 
  6. Pukul 10.10 selesai jemur naik ke kamar makan Snack dan minum madu lagi sama buah.
  7. Pukul 12.00 makan siang dan minum obat kemudian sholat dan istirahat.
Nah,rutinitas yang aku lakukan semoga dapat meningkatkan imun dan juga menumbuhkan perasaan gembira berharap virus ini pergi dari tubuh kami.
💪🏿💪🏿💪🏿💪🏿❤️❤️❤️❤️


Apapun yang aku lakukan sebisa mungkin harus dengan perasaan gembira. Makanan yang diberikan memang sesuai standar gizi dan itu harus kami makan agar gizi tercukupi. Perawat-perawatnya ramah dan penuh perhatian. Hal ini juga dapat menumbuhkan motivasi untuk sehat.
                                            Kesempatan foto dengan dokter yang akan istirahat. 

Ini obat-obatnan dan vitamin yang aku minum

    
                                            Makan pagi saja tercukupi gizinya luar biasa

    
                                            Terima kasih ya Dok kalian memang luar biasa.

Pulang dari olah raga biasanya habis berjemur dulu sekitar pukul 10.10. Kali ini lebih siang pukul 10.30  karena matahari masih malu-malu kataya habis hujan tadi pagi jadi matahari enggan cepat muncul. Aku biasakan kalau habis keluar dari kamar apalagi bertemu orang banyak yang semuanya adalah pasien Covid, aku selalu ganti baju dan cuci baju yang tadi dikenakan. Jadi kalau keluar kamar dua kali pagi dan sore jadi baju habis dipakai yah dicuci. Untungnya di Wisma Atlet ada shower air panas jadi pakaian yang basah denga keringat maupun yang tadi habis turun ke lobi ambil kiriman aku rendam air panas dulu pakai pembersih disinfektan. Setelah itu di rendam pakai rinso cair. Lumayan cape sih tapi ini semua demi kebaikan aku dan keponakanku. Awalnya Seli agak malas, tapi aku edukasi bahwa di sekitar kita sekarang ini semua adalah pembawa virus dan kita sudah merasakan ga enaknya demam dan sesak napas. jadilah dia mengerti dan selalu mencuci pakaiannya sendiri.

Wisma Atlet ini memang luar biasa untuk isolasi pasien Covid. Oh, ya di WAG Kappija dibicarakan juga siapa pengagas Wisma Atlet yang bekas tempat menginap atlet Asian Games jadi Rumas Sakit Darurat Covid. ini perbicangan di WAG.
Ini info dari Bang Affan Pasaribu di WAG
Teringatnya tentang Wisma Atlit, pengusul pertama gedung tersebut digunakan sebagai tempat isolasi penanganan covid-19 oleh Yayat Supriyatna ahli perkotaan, membandingkannya dengan penanganan covid di wuhan - china.
Yayat itu teman sekolah aku smp di medan, dan masih tetap komunikasi sampai sekarang 😄

Ini dari Bang Afdal yang alumnus ITB
Kang Yayat Sarjana Fisip Unpad dan S2 Planologi di ITB.
Cucok la bicara Tata Kelolal Kota dan Perkotaan..👍

Siapapun yang merekomendasikan Wisma Atlet menjadi tempat isolasi para pasien pastinya sudah memikirkan supaya tidak semakin banyak menyebarkan virus. Coba kalau isoman di rumah pasti gatel mau keluar rumah katanya sebentar, tapi ada tetangga ajak ngobrol jadi ikutan. Belum lagi kalau ada tukang sayur lewat trus beli ini itu dan ngobrol. Duh betapa susah untuk menjalankan prokes yah guys. 
Banyak pencerahan yang aku dapatkan semenjak isolasi di Wisma Atlet mengenai penanganan Covid ini. Mungkin ke depannya virus ini jadi biasa dan kita membiasakan untuk perilaku sehat dengan konsumsi vitamin dan rajin berolah raga.

Virus Covid-19 dan Cara Isolasi Diri yang Happy

Happy dan Gembira Isolasi Diri di Wisma Atlet


Jumat, 25 Desember 2020

Hari keempat aku dan keponakanku isolasi di Wisma Atlet. Rasanya kok waktu lama sekali yah baru hari keempat. Semakin dirasa lama semakin bete ntar pikiran. Jadwal sudah enak kami buat. Katanya harus tensi pukul 06.00, ternyata ruangan poli klinik tidak ada perawat. Sarapan juga belum ada jadi balik lagi ke kamar. Pukul 07.00 balik lagi niat mau tensi lagi biar ga dicari-cari perawat, eh kata perawat nanti saja siang. Untungnya sarapan pagi sudah tersedia. Oh, ya untuk yang memiliki keluhan hipertensi kotak makanannya berbeda. Tutup kotak warnanya hijau dan ada namanya jadi dibedakan. Biasanya perbedaan ada di rasa yang dikurangi garam juga sayur ada kuahnya. Aku memang minta kuah sayur dan juga tensi masih tinggi.
Menu sarapan hari keempat

Habis sarapan masih pagi untuk turun karena matahari yang baik untuk berjemur itu pukul 10.00 katanya sih. Iseng-iseng menghibur diri ikutan nyanyi di Tik tok hahahaha suara pas-pasan duet dasyat dengan Raisa yang penting Happy saja. 


Kali aja pulang dari Wisma Atlet bisa jadi penyanyi bukan narasumber lagi. Pukul 08.00 aku dan Selli yang setia menemani ya iyalah kalau ga setia mau sama siapa dia hihihi untungnya ada anak itu jadi ada teman untuk keliling Wisma Atlet. Dari kemarin setiap lewat IGD dan keliling wisma banyak anak-anak yang masih kecil ikutan di isolasi. Aku ga tahu apa karena orang tuanya positif dan anaknya tidak ada yang merawat makanya jadi ikutan isolasi juga. Kalau sudah begitu aku bersyukur karena kedua anakku negatif dan tidak ikutan dirawat walaupun mereka sudah besar. Aku tinggalkan pun tak payah untuk mengurus karena mereka sudah bisa mengurus diri sendiri. Namun dmeikian mereka tetap harus isolasi mandiri di rumah karena saran dokter masa inkubasi belum lewat dan mereka kontak dengan aku selama ini. Yah, aku tahu anak-anakku pasti bisa menjaga dirinya.
Sepatu sudah dikenakan. Sepatu pink dengan baju kaos pink juga siap menemani olah raga hari keemapt. Seperti biasa lift lama nunggu. Lift hanya satu dan manusia di Tower 6 ini banyak loh jadi begitulah harus sabar. Daripada menunggu isi dengan video deh lumayan rekaman untuk dokumentasi pribadi.

Turun di lobi menengok keadaan sudah banyak pasien yang berolah raga. Ada pemandangan mengharukan ketika aku melihat para petugas kesehatan yang beristirahat terlihat kelelahan, karena setiap hari bukan berkurang pasien covid justru bertambah. Kasihan yah mereka mungkin edukasi untuk protokol kesehatan yang masih kurang sehingga bertambah terus pasien.

Hari ini rupanya hari Natal, bahkan petugas medis yang Nasrani saja harus merayakannya di RS Darurat Covid. Coba bayangkan pakai hazmat dan merayakan di tengah virus yang mematikan. Semoga imun mereka tidak ikutan turun sehingga tetap ada buat kami. terima kasih yang tak terhingga yah. Kalian memang luar biasa. Allah yang akan membalas kalian semua untuk kami para pasien yang masih saja bandel. 


Puas melihat sekeliling kami mulai star dari tanda di Tower 6 dan cuzzzzzz jalan santai 5 putaran. Banyak juga yang sekadar berjalan atau menghabiskan waktu dengan berolah raga. Ada yang bermain voli ada yang duduk-duduk menunggu matahari. Pokoknya kegiatan yang tidak hanya di kamar saja. Sepanjang kami berjalan ambulance keluar masuk ke Wisma suara sirenenya terdengar terus. Ya Tuhan terus saja bertambah. Entah sampai kapan ini akan berakhir. Ada juga beberapa yang membawa koper karena sudah 14 hari diisolasi. Pulang 1 datang 10 begitu terus. Panas matahari sudah mulai membakar. Kaos pink yang aku kenakan sudah mulai basah dengan keringat. Sebelumnya aku dan Selli berbekal air mineral yang banyak bisa didapatkan di Wisma pokoknya kita ga akan kekurangan air mineral apalagi makanan.
Wisma Atlet juga bersolek merayakan Natal. Beberapa banner ucapan Natal dipasang di berbagai sudut. Aku tahu maksudnya agar para pasien yang Nasrani tetap semangat walaupun ber Natal di tengah isolasi di Wisma Atlet. Setelah aku hitung-hitung sepertinya aku dan Selli akan bertahun baru di Wisma Atlet. Hari ini keluhanku hanya batuk sedikit, perut sudah tidak panas.



Lima putaran sudah kami lakukan, waktunya cari posisi yang pas untuk berjemur. Sudah ada Immah yang berjemur. Semoga kami yang "Klaster Karumbie"  tidak bertambah lagi. Tetapi pagi ini mendengar kabar Bang Joned juga POSITIF. Duh, kasihan anak-anaknya masih kecil, semoga istri dan anak-anaknya tidak terpapar. Belum dengar apa dia ikut isolasi di Wisma Atlet atau tidak. Beberapa yang ikut ke Karumbie NEGATIF. Alhamdulillah semoga tidak bertambah banyak Klaster Karumbie.



Happy bertemu walau pagi saja

Hari ini berjemur diniatkan sampai pukul 10.10 seperti biasa. Namanya usaha mumpung sinar matahari gratis ga bayar juga berjemur ga ada yang larang dan ga ada yang tanya. Coba kalau di rumah pasti banyak tetangga yang bingung "Kok tumben Bu Seni jemur lama banget" hahahahahaha. Pokoknya dengan isolasi di Wisma Atlet jadi ikut merasakan dan bebas untuk membersihkan virus dengan sinar matahari yang luar biasa.
Pulang dari berjemur masih antre juga di lift, duh kapan yah ga antre. Sebenarnya lift ada 4 tetapi yang berfungsi hanya ada 1 dan itu dipakai oleh ratusa pasien yang menempati tower 6 sampai lantai 24. Kalau dihitung pastinya ratusannya. Sempat intip-intip IGD yang masih banyak pasien Covid dengan tingkat gejala yang lumayan berat. Bersyukur aku dan Selli hanya diberi demam dan sedikit batuk. Semoga imun kami bisa kuat dan menghilangkan virus.
Sampai di kamar tidak teras sudah pukul 11. Lumayan juga kegiatan sepagi ini sampai siang. Sudah ada snack yang disediakan. Luar biasa deh sampai snack juga dipikirkan oleh pemerintah. Yang pasti jika imun tidak naik yah pastinya makanan dan snacknya ga dimakan tuh sama pasien. Ayo, semangat habis makan snack ntar pukul 12.00 WIB kita makan siang terus sholat dan tidur deh hehehehe. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan.

Sore, Pukul 17.30 WIB

Tidur cukup dan hari ini janjian sama Bang Ano dan Kak Immah untuk menikmati senja di Rooftop Tower 5 di lantai 32. Pukul 17.30. Japri mereka berdua ternyata Kak Immah sudah ada di bawah. Seperti biasa menunggu lift yang hanya beroperasi satu jadi lama juga. Lapangan sudah penuh dengan manusia atau tepatnya pasien Covid. Ada yang sekadar duduk atau bercengkerama dengan teman. Ada juga yang olahraga jalan kaki dan main voli. Pokoknya yang membuat gembira perlu dilakukan oleh pasien covid biar imun tidak turun. Kak Imah mengajak buat lihat bang Joned di IGD. Salah satu klaster Karumbie datang lagi ke Wisma Atlet. Pasien Covid yang datang di IGD banyak sekali sampai IGD penuh sesak ga bisa jalan. Imah mengambil titipan dulu di depan tempat penitipan. Kulihat banyak para pasien yang pesan makanan antar mungkin bosan dengan makanan dari Wisma. Kalau aku sih menunggu anak-anak yang membawa makanan. Bersyukur mereka pasti akan membawakan jika mamahnya minta dibawakan makanan. Tetapi baru sekali selama empat hari aku di Wisma Atlet. Lebih  ingin makan yang berkuah jadi minta dibawakan bakso yang banyak kuah. 
Bang Joned ternyata lagi ada tindakan pasang oksigen, untungnya kami berempat yang duluan di Wisma Atlet tidak perlu bantuan oksigen. Jadi kami masih terbilang pasien yang aman saja hanya perlu isolasi dan beristirahat. Sebelum naik ke Rooftop mejeng dulu sama immah di pembatas tower.


Naik ke lantai 32 di Tower 5 enak banyak lift jadi ga usah menunggu lama sudah sampai deh lantai 32. Tidak banyak yang menghabiskan senja di Rooftop, mungkin tidak tahu atau malas karena angin di rooftop lumayan kencang. Kalau aku sih lebih pada menikmati senja yang tidak biasa. Kalau bukan pasien covid mana bisa kita sampai di rooftop. Pemandangan dari Roof top apalagi kalau senja dan lampu-lampu mulai menyala rasanya tuh ahhhh mantappp.

Aku bawa tiramisu yang kemarin dikirimkan Imut dan bang Affan biar bisa dinikmati juga oleh immah dan Bang Ano. Memandang Jakarta dari sini memang berbeda. gedung-gedung yang ada di bawahnya terlihat kecil dan beragam kendaraan yang memenuhi Jakarta juga kecil yang besar hanya nyali kami yang bebas memandang ke bawah.
















Tuh indah-indahkan pemandangannya. Cobalah sesekali melihat dari ketinggian pastinya kita akan berdecak kagum karena begitu indah Jakarta kita ini. Puas menikmati senja dan angin juga mulai bertiup kencang pertemuan para pejuang Covid Karumbie disudahi kembali ke kamar masing-masing. Alhamdulillah selalu ada kegembiraan di tengah kegalauan. Kita bertemu hari kelima yah dan selalu tetap semangat.


Thursday, December 24, 2020

Pasien Covid-19 Pasti Sembuh

Berjemur salah satu usaha menghilangkan  Virus Covid-19????

Kamis, 24 Desember 2020
Hari ketiga di Wisma Atlet
Pagi pukul 06.00 WIB



Tidak terasa sudah 3 hari aku dan ponakanku Selli di Wisma Atlet untuk isolasi karena kami terpapar virus corona. Awal masuk Wisma Atlet Selasa, 22 Desember 2020. Akhirnya merasakan juga bagaimana jadi pasien dan tinggal di Wisma Atlet. Hal yang tidak terbayangkan sebelumnya dan ini nyata adanya. 
Hari ini masih pagi aku terbangun sholat Subuh dan membuka jendela masih pagi masih pukul 05.00 WIB di bawah belum banyak pasien yang berolahraga. Hari ini jadwal kami ubah biasanya langsung turun dan naik kembali karena lift yang antre jadilah kami ubah jadwal yaitu:
Pukul 07.00 makan pagi + minum obat
Pukul 08.00 turun dan berjalan 5 putaran mengitari wisma atlet.
pukul 09.30 cari posisi untuk berjemur sampai pukul 10.10.
Baru naik ke kamar untuk mandi dan mencuci pakaian. Kami harus mencuci pakaian yang dikenakan setiap hari karena pakaian itu sudah kami pakai bertemu para pasien, menjaga supaya virus yang masih ganas itu tidak menempel di pakaian. Nah, itu jadwalnya. Jadi kami ke ruang perawat untuk ambil makan pagi dan obat. 
Menu makan pagi dan obat-obatnya
Obat pagi 3 tablet.

Makan pagi sudah, minum obat sudah waktunya untuk olah raga dan berjemur. Lift di tower 6 ini yang berfungsi hanya 1 jadilah kami harus sabar menunggu 30 menit untuk turun ke lobi. Pakaian kami sudah seperti atlet yang siap tempur untuk Sea Games hehehehe. Pokoknya niat sudah pasti keliling wisma 5 putaran. 
Sepatu sudah sama dengan gelang "Pink"

Baru satu putaran bertemu dengan Bang Ano dan Kak Immah yang sudah meet up di lapangan. Aku ajak mereka bergabung untuk mengitari wisma. sayangnya Imah ga sanggup karena penyakit "gerd" sehingga gampang lelah. Matahari sudah tidak malu-malu dan pasien Covid sudah banyak yang cari posisi untuk berjemur. Aku dan Seli tetap dengan niat semula mengitari wisma 5 putaran baru berjemur. Kami hanya jalan saja sambil memperhatikan sekeliling. Duh, semakin banyak yang jadi pasien kapan corona berlalu yah sudah lelah dengan semua ini.
Lima putaran sudah kami lakukan kemudian cari posisi untuk berjemur. Imah sudah ambil posisi dengan kursi yang didapatnya. Yuk, mulai berjemur deh kami seperti biasa foto-foto untuk pertemuan ini.



Iseng mumpung bertemu aku wawancara Imah dan bang Ano seputar pengalaman menjadi orang yang terpapar virus yang mematikan ini. Semoga ini jadi pembelajaran yang berharga buat kami dan juga orang-orang di sekitar kami agar tetap waspada dan menjaga protokol kesehatan.





Nah, bagaimana? Semoga pengalaman kami tidak menimpa orang lain. Tetap waspada dan jaga kesehatan yah. Kami lalai sehingga virus itu ikut di tubuh kami. Selesai berjemur pukul 10.10 waktunya naik ke kamar lagi. Seperti baisa lift nya antre dan yang naik banyak ga menjadi sosial distanching. Sayang banget dah yang kasihan kalau ada perawat yang ikutan walau baju mereka hazmat tapi kasihan harus berdesakan dengan kami yang sudah terpapar.
Sampai di lantai 20 mampir dulu ke ruang dokter mau tensi darah dan mau konsul karena perutku masih panas. Ternyata kami para pasien diwajibkan tensi pukul 06.00 oalaaaa ga tahu dok, maafkan yah. Alhamdulillah tensiku baik yang tidak diketahui oksigen dalam darah. Kayaknya harus beli deh alat ini biar ga tergantung sama dokter. Balik ke kamar sambil menenteng snak yang sudah disiapkan. Alhamdulillah makanan tidak sampai kelaparan semua serba disediakan oleh pemerintah. Snaknya  lumayan deh.

                                            Tuh snaknya deh tambah imun kan?

Snak sudah habis dan aku tambah dengan yakult juga vitamin lainnya tidak lupa madu juga masuk ke perut. Kemudian aku mandi dan mencuci pakaian yang kami pakai untuk olahraga. Karena disediakan air panas, lumayan pakaian kami rendam dengan air panas biar kumannya mati.
Tak lama makan siang sudah siap dan kali ini makananku berbeda karena tensi yang lumayan tinggi jadi makanan aku dibedakan dengan kepunyaan Selli. Yang terpenting makan supaya imun tambah dan mengusir si Corona dari tubuh.
Sore, Pukul 17.00
Aku dapat telepon dari anakku ia datang mengirimkan makanan. Aku pesan bakso yang panas dan tentu saja titip sambal biar makan baksonya nendang. Sore ini rencana mau jalan mengitari wisma urung karena bakso yang masih hangat perlu segera dimakan biar tidak dingin. Oh, yah temanku di Kappija 21 yaitu Bang Affan juga mengirimkan makanan Tiramisu. Benar-benar rezeki sore hari selain itu Defri juga mengirimkan madu. Hanya Defri tidak tahu aku diisolasi di wisma atlet. Semakin sedikit yang tahu semakin membuatku aman saja karena menjadi pasien Covid pastinya jadi artis dadakan jadi perbincangan orang banyak. 


Bukan itu saja, mamahku juga ga tahu kalau aku jadi pasien di wisma atlet. Yah, semoga mamah ga tahu jadi membuatku tidak bersedih membayangkan mamah memikirkan kami nanti. Bukan itu saja suamiku juga ga tahu, biarlah nanti jadi pikirannya lagi. Pokoknya hari ini makanan kami banyak sekali, rezeki dari orang-orang tersayang.


Makanan dari Wisma bahkan belum aku makan. Hari ketiga hanya demikian ceritaku semoga 10 hari nanti kami dapat melewatinya dengan penuh semangat. Untuk Pasien Covid-19 kita harus semangat lakukan dengan hati yang gembira. Jika kalian datang sendiri tanpa keluarga di Wisma Atlet ini, ingatlah kamu beruntung karena keluarga tak ikut serta. Yang di luar jangan sampai terpapar yah. lakukan protokol kesehatan agar terhindar dari virus corona. 
Waktunya tidur setelah seharian berjemur keliling Wisma dan tentu saja makan. Kegiatan ini ga bakalan aku lakukan kalau aku isolasi diri di rumah.

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...