Wednesday, September 10, 2008

Ramadhan 1429 H


PUASA DI BULAN RAMADHAN 1429 H

Memasuki ramadhan hari ke-10, kami sekeluarga bisa berkumpul. yah... karena putri cantik kami Natasha sudah bisa dibawa pulang dari pondok pesantrennya.Anakku Raynaldi yang kini berusia 11 tahun, hingga hari ke-10 belum batal puasanya. Mudah-mudahan kami sekeluarga diberi kesehatan oleh Allah SWT, Amien.Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari kewajiban puasa yang ditetapkan syariat yang ditujukan dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah . Walau setiap Ramadhan menjelang sebulan penuh ibu-ibu harus sibuk dengan dua kegiatan di dapur yaitu menyiapkan makanan berbuka, dan makanan untuk sahur, namun sebanding dengan semangat anak-anaknya untuk melaksanakan puasa.
Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri dan sebagainya.


Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita menahan diri untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, karena mematuhi perintah Allah. Begitu juga isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya ketika masa berpuasa demi mematuhi perintah Allah SWT.

Berikut beberapa hal mengenai bulan Ramadhan dan mengapa kita harus menyambutnya dengan "Gembira" penuh "suka cita", tulisan ini saya ambil dari tulisan Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi.mudah-mudahan kita dapat menyambut lagi bulan Ramadhan tahun depan.

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an. Allah k berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)
Pada bulan ini para setan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.
Rasulullah n bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِقَتْ أَبْوَابُ النِّيْرَانِ وَصُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Bila datang bulan Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan dibelenggulah para setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah k berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” (Al-Qadar: 1-5)

Penghapus Dosa
Ramadhan adalah bulan untuk menghapus dosa. Hal ini berdasar hadits Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لَمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at (yang satu) menuju Jum’at berikutnya, (dari) Ramadhan hingga Ramadhan (berikutnya) adalah penghapus dosa di antaranya, apabila ditinggalkan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Perlu diingat, ibadah puasa Ramadhan akan membawa faedah bagi kesehatan ruhani dan jasmani kita apabila dilaksanakan sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan, jika tidak, maka hasilnya tidak seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia belaka.

Allah SWT berfirman "Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf:31)

Nabi SAW juga bersabda "Kita ini adalah kaum yang makan apabila merasakan lapar, dan makan dengan secukupnya (tidak kenyang)."

Bulan penuh berkah dan ampunan janganlah kita lewatkan dengan sia-sia, karena di depannya ada janji Allah untuk meraih kemenangan.semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang/kelompok lain tanpa mau bergeser dari perbuatan kita sendiri yang mungkin jelas kesalahannya. Semoga Allah SWT senantiasa menerima shiyam kita dan amal shaleh lainnya dan mudah-mudahan tarhib ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita sekalian sehingga membuka peluang bagi terwujudnya Indonesia yang lebih baik, lebih aman, lebih adil dan lebih sejahtera

Wednesday, August 20, 2008

Dirgahayu Indonesia ke- 63




















Perayaan 17-an di rumah
Indonesia ulang tahun yang ke-63. sudah semakin dewasa, sudah semakin tua untuk tahu bahwa Negara kita sudah merdeka. Perayaan ulang tahun Indonesia setiap tahun semarak sekali, namun memang kemeriahan terkadang hanya diisi dengan lomba-lomba yang kurang membangkitkan rasa kebangsaan, nasionalisme, dan persatuan. Tengok saja lomba-lomba yang diadakan di setiap tempat pasti tidak ketinggalan panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba gigit sendok, atau lomba sepak bola dengan kostm yang dbuat lucu layaknya pertunjukkan komedi. Makna perayaan hari ulang tahun itu sendiri tidak dirasakan oleh para generasi muda. Lihatlah mereka hanya tertawa-tawa atau sibuk untuk mengalahkan lawan yang sudah jelas lawan mereka itu adalah kawan sendiri atau bahkan ada saudara sendiri. Harusnya kemerihan itu ditandai dengan bangkitnya Indonesia dari keterpurukan, bangkitnya Indonesia dari kemiskinan,bangkitnya Indonesia dari rasa malu… malu untuk tidak bias menjamin kehidupan masyakatnya. Bangkit dari sikap emosional yang melanda sehingga tidak ada lagi bullying yang menghiasi headline berita di media massa.


Tahun ini perayaan ulang tahun ke- 63 RI, dirayakan dengan tasyakuran warga kompleks kami “Perumahan MeWah” pada malam tanggal 17. atau hari Sabtu malam Minggu tanggal 16 Agustus 2008 tepat setelah kami mngatakan acara Nisfu Sya’ban. Setiap keluarga menyumbangkan penganan yang sebelumnya sudah ditugaskan. Ada yang memasak urap sayuran (Kel. Pak Hardana), ada yang memasak bacem tempe dan bacem tahu (Kel. Pak Supanto), ada yang memasak ayam goreng (Kel. Pak Widodo), ada yang memasak Bebek panggang (Kel. Pak Solihin), ada yang memasak bakso (Kel. Pak Jumroni, ada yang memasak gorengan (Kel. Pak Budi),ada yang menyumbang rebusn kacang tanah (Kel. Pak Ibad), ada yang menyumbang ikan baker (kel. Pak Wasnata), ada yang menggoreng emping dan menyumbang minuman gelas (Kel. Pak Iwan) yang istrinya Ita adalah adik kandungku rumahnya persis di sebelahku. Bagaimana dengan keluargaku (Kel. Pak Surya), kami masak tumpeng yang ala kadarnya dan sedikit pisang goreng serta bakwan jagung. Tapi kami tidak mempersoalkan siapa penyumbang terbanyak, pokoknya malam itu kompleks kami bersma keluarganya dan anak-anak dapat makan bersama.
Sehabis ba’da Isya tikar dan karpet kami gelar di jalanan depan rumah kel Iwan dn Kel Jumroni tak lupa doa kami panjatkan dipimpin oleh Pak Ibad yang kami nobatkan jadi pak ustad. Doa untuk ketentraman kompleks, kesehatan warga kompleks, dan untuk kekeluargaan yang terjalin.
Makan malam bersama ternyata menyenangkan juga, walau perut sudah penuh tapi semua lahap menyantap hidangan yang tersedia. Sehabis menyantap hidangan acara bincang-bincang seru kami lakukan. Ternyata banyak manfaat yang bisa kami petik dari perayaan 17-an bersama tetangga. Mudah-mudahan doa kami terkabung dengan sedikit warga tapi damai sejahtera.
Tepat tanggal 17 Agustus anak-anak kompleks bergembira dengan lomba yang diadakan, walau sederhana namun mereka terlihat bergembira dan bersemangat. Tidak ketinggan para ibu-ibu juga turut meramaikan dengan lomba menggiring bola pakai terong yang diikat di pinggang, seru …? Pastinya. Heboh punya deh. Sayangnya saya tidak berkesempatan ikut karena harus mengunjungi si buah hati my princess di pondoknya.


Perayaan 17-an di Pondok Pesantren At Taqwa Putri


Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2008 putri tercintaku Natasha menerima raport dan ada perayaan 17-an juga di sekolahnya. Memang agak terlambat pembagian raportnya karena aku sudah tahu ia naik kelas, jadi sehabis upacara di sekolah (SMPN 266) aku langsung pergi ke pondok pesantren At Taqwa Putri. Bagiku kebahagian mutiaraku yang utama.

Lelah yang kurasakan sehabis upacara terbayar sudah karena putriku Natasha rangking ke-3 di kelasnya. Alhamdulillah aku panjatkan kehadirat-Nya. Doa-doaku dikabulkan-Nya. Di pondok perayaan 17-an tak kalah meriah, ada panggung untuk pertunjukkan pentas seni anak pondok. Ada story telling, pidato dalam bahasa Arab, pementasan marawis, dan Qosidah. Pertunjukkan yang heboh adalah pertunjukkan drama dengan tema ‘perjuangan KH. Noer Ali. Pendiri pondok pesantren At Taqwa’. Kalau ditanya seru pasti seru habis. Karena anakku Raynaldi antusias sekali, ia berdiri paling depan dekat dengan panggung. Matanya tak lelah menatap anak-anak pondok bermain drama.

Perayaan 17-an di SMPN 266


Perayaan hari ulang tahun RI di SMPN 266 dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008 dengan berbagai perlombaan. Lomba yang diadakan ternyata menguras kocek kas kelas. Bayangkan saja setiap kelas harus menghias kelasnya dengan semeriah-meriahnya. Bahan-bahan untuk menghias kelas pastinya diambil dari siswa di kelas. Kasihan memang, tapi itulah lomba harus ada pengorbanan. Selain menhias kelas ada lomba egrang, membuat gapura mini,PBB,membacakan teks UUD 45,Vokal Grup, dan tak ketinggalan memasukkan bola ke keranjang(Bola basket).

Sayangnya saya tidak dapat hadir karena harus mengantarkan hasil lomba anak-anak ke yayasan Sejiwa. Jadi kehebohan acara saya dengar dari cerita guru-guru.
Peringatan detik-detik proklamasi atau upacara bendera kami laksanakan pada hari Minggu, 17 agustus 2008. upacara di mulai pukul 07.00. suasana khidmat mewarnai upacara kali ini, dengan komandan upacara seorang siswi bernama Fitri kelas IX. Suaranya yang lantang menandai dimulainya upacara memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Negara ini. Pembina upacara, pastinya ibu kepala sekolah, Dra. Endang Nurhayati, M..M

Perayaan 17-an di SMA Yappenda



SMA Yappenda merayakan hari ulang tahun ke-63 RI dengan mengadakan berbagai macam lomba. Lomba dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2008. pagi hari terlihat kesibukan di setiap kels untuk loma menghias kelas, segala macam pernik-pernik hiasan 17-an dirangkai membentuk hiasan yang indah di kelas. Ada juga lomba adzan di musholah.
Sabtu tanggal 16 Agustus diadakan festival band.
Sejumlah band-band dari siswa berlaga di ajang ini mempertunjukkan kebolehannya memainkan dawai gitar dan gebukan drum. Di sela-sela acara ada lomba vocal yang juga diikuti oleh siswa-siswa yang mewakili kelasnya. Suaranya? Aduh macam-macamlah. Ada yang fals, ada yang oke punya, ada yang banyak gaya.

Tapi kemeriahan acara festival dinodai dengan aksi brutal siswa-siswa yang bergoyang bagai orang kerasukan, tidak mengenal batas kesopanan. Mereka bergoyang dengan saling sikut dan saling pukul. Padahal ada sekelompok siswa SD Yappenda yang menyaksikan aksi mereka. Maka ketika bapak Kepala sekolah bernyanyi bersama bntang tamu alumni SMA Yappenda yaitu Siti Mardiah menyanyikan lagu poco-poco, saya mengajak siswa-siswa SD bergoyang poco-poco mengikuti gerakan kaki. Namun, apa lacur siswa-siswa saya yang mengaku dirinya siswa SMA ternyata tidak dapat diajarkan untuk berlaku sopan dan tertib, kalau sudah begini salah siapa?

Monday, August 11, 2008

Puisi Bullying Siswa SMA Yappenda Jakarta















Ini Sebuah ‘Tanda’
(by Suprianto)
Untuk SMA Yappenda

Kerangkeng amarah para praja
Kekejian di raga menjadi penanda
Gejolak jiwa dibawa ke peti
Kematian ini sangat merugi

Direkayasa
Diada-ada
Semua atas nama lembaga
Membentuk perisai diri agar tak bersalah

Meratap tangis isak tertahan di hati
Di pintu mayat para praja
Mengindahkan hati terbang tinggi
Dalam kepongahan institusi
Dalam hati merutuk segala
Meski perih panas membara
Memperjuangkan palu hukuman penjagal
Atas nama keadilan yang hampir mati
Di negara yang sudah tak berharga diri


Ketika Senja Merona Merah
(Karya Alda Meiza Fadliansyah)
Untuk putih abu-abu yang masih bertaur di jalan

Zal …
Maaf baru kugores pena ini
Cerita yang putus karena engkau pergi

Zal ...
Masih kulihat darah di dada
Membasahi putih abu-abu kita
Mengancam nafas yang setengah
Untuk kemudian...
Kau rebah dengan senyum yang tak pernah ada

Zal ...
Harusnya kita tak disana
Harusnya kita tak pernah ...
Berkelompok, berbaur tanpa arah
Karena baru kini kutahu itu sia-sia
Hanya membuat terpengal waktu muda kita

Zal ...
Ketika kau terima berita yang ada
Genggamku bilang tak usah
Tapi matamu menyorot asa untuk berbisa
Mengajakku tarung bersama
Zal...
Kutahu itu bukan kita
Kuyakin itu bukan segala
Namun, sorotmu tajam menggoda tak kuasa
Bagimu maju atau malu diterima

Zal…
Ketika pagi itu kita siakan segala
Yang katamu untuk melawan sebisa
Namun, aku tahu itu mengada-ada
Dengan besi yang terentang
Dengan pisau yang mencencang
Dengan bilah yang siap menghantam

Zal ...
Masih kudengar teriakan dari seberang dengan lantang
Teriakan tanda menyerang
Sampai akirnya kau kalah dengan sebatang bilah
Ratapku melengking tajam

Zal...
Siang itu jadi bisu
Semua terdiam dengan mata merona merah,
Dan terdiam dalam kata
Hanya lenguh nafas memburu tak puas diri
Kemudian langakah cepat karena sirine membahana

Zal ...
Masih basah gundukan itu
Ketika kulihat tangan sepuh merangkum bunga
Bulir airmata tak sanggup kusentuh
Dekap hangat tak lagi kurasa
Zal...
Selamat jalan
Agar tenang setelah panas


Rasa Itu
(karya : Siti Alawiyah)
Dalam pengalaman batin

Bisikan yang menggema kencang
Angin-angin telah menguasai nafsu
Dan kekecewaan yanga ada di dada

Kehidupanku
Setiap kata telah membungkus kesedihan
Menggoret luka dalam diam
Ketika tangan yang kotor hendak menjangkau

Apa yang terbentuk dibenak?
Apa yang dirasa oleh seringai ganas
Apa tak ada batas untu berlaku adat
Dalam kesopanan dan kedewasaan

Kata yang terlontar melecehkan kaumku
Bentuk yang ada dari fisik itu
Adalah kekerasan ragawi

Tak adakah yang aman untuk bergaul
Tanpa sentuhan yang tak diingin
Tak adakah nilai yang dianut
Agar mereka dapat larut
Dalam kesopanan tanpa kekerasan


Rintihan Hari
(karya Ma’wa)

Ketika hari menjadi terang
Alam bernyanyi lirih
Sepercik air membasahi tubuh
Mengantarkan diri ke dalam asa

Tajamnya pedang telah menggoreskan luka di hati
Mengiris-iris jiwa menjadi kepingan

Bagai dicambuk
Hari meronta
Tiada suara
Tiada rintihan

Ada yang terluka dalam pagi
Ada yang teraniaya dalam riuh gemuruh
Suara sumbang mengantarkan jasad yang ada
Karena pagi tak ramah pada sesama
Sesama penuntut ilmu yang muda

Ada seruan dengan lantang
Meneriakkan kenaikan yang tak perlu
Namun, selongsong peluru membungkam
Untuk kemudan tak bersuara lagi

Mereka dianiaya
Mereka diperdaya
Mereka para laskar calon sarjana
Diam dan sia-sia


Air Tenang Itu Menjadi Besar
(Karya Surya)

Air itu tadinya tenang
Air itu tadinya surut
Namun
Riaknya kini bergelombang
Ketika tangan-tangan kasar mengaduk
Dalam kebijakan
Yang menyengsarakan negeri

Air yang tenang kini bergelombang
Air yang surut kini pasang ke permukaan
Bergerombol di jalan meneriakkan keadilan
Mengepalkan tangan mengecam kebatilan

Air yang tenang kini bergejolak
Di setiap sudut jalan dan lorong kota
Ingin mengambil apa yang masih bisa
Harga diri untuk sesuap nasi


Sampit yang Kukenang(
karya Putri Rahmi)


Hilirnya waktu mengenangi jiwa dan hati
Senja malam tak terlihat
Bagaikan bunga tumbuh mekar
Berwarna-warni di sekeliling
Tapi itu hanya terlihat dalam renungan
Hati dan keinginan

Tragedi yang kulihat, kudengar, dan kusaksikan
Bagaikan padi yang gersang
Termakan hama kebuasaan
Sampit yang kukenang...
Mematikan asa dalam diri anak-anak negeri

Sampit yang kukenang
Membuat hati dan jiwa meringis sepi
Mengenangi hati dengan air mata duka
Penuh duka dalam tangis tiap bunda

Sampit yang kukenang
Menorehkan cerita yang tak usang
Karena ada sesal yang mendalam
Tentang daerah yang tumbuh alam kepongahan
Hingga tak ada kata mengalah

Sampit yang kukenang
Ada serangkum doa terpanjatkan
Ada setangkup pesan tersiratkan
Untuk kedamaian dan ketentaraman
Untuk keriangan yang telah hilang

Sampit yang kukenang
Akan panen dengan kuningnya padi
Akan ramainya anak-anak bertelanjang kaki
Menapak hari untuk bekal nanti
Menghias Sampit dengan celoteh penuh janji
Janji untuk kedaimaian abadi



Hujan Airmata
(Karya: Nina Nabila)

Terang terbalut dalam kegelapan
Bintang tersaput kabut tebal
Bulan bersembunyi enggan keluar
Tak seperti waktu-waktu dulu

Ketika semua penduduk gempita dalam canda
Ketika masih ada nasi di pinggan
Ketika air tak lagi harus di dorong
Ketika gubuk liarnya berdiri kokoh

Kala senja turun menghampiri
Rata gubuk dengan amarah sang penguasa
Mereka bekerja dengan amarah
Menggigit nurani yang renta


Dalam Remang Malam
(Karya Rizky Wulandari)
Untuk STIP Marunda

Di lorong itu bila malam tiba
Jeritan tak terkendali
Menghentak para tunas untuk berdiri
Memanggul benda dengan harga mati
Tak mendengar ayun tangan akan diberi
Melayang, menghantam,memukul
Biasa terjadi
Padahal mereka bukan pejabat negeri
Darah mengucur bukan terperi
Hanya inisial tanda ngeri
Bahwa mereka mulai bergigi
Mewakili para senioritas
Mewakili para penguasa
Mewakili para algojo dunia

Di remang malam
Hukuman dijalankan
Memaksa kehendak untuk taat
Memukul nurani untuk menurut
Sekali tak terpenuhi
Suara-suara mengiris luka
Yang lain hanya tertawa
Hingga hukuman berkesudah

Di lorong itu bila senja merangkak
Suara bag..big...bug....
Terasa berirama, memainkan tempo instrumentalia
Sekali lagi bag...big...bug...
Senyum puas para algojo muda


Jangan Lantang Bersuara
(Karya : Dina Maisari)

Kala provokator bersuara
Tebesit hati melampiaskan amarah
Rasa dendam bergejolak di dada
Terasa menususk di dalam raga

Kala pelajar berbaris tergesa-gesa
Menyerbu datang ke tempat lawan
Senjata genggam di tangan
Suara bersahutan lantang terdengar

Saling hujat, saling sikut, saling mencaci
Menjadi menu pembuka
Ada seringai puas untuk menyerbu segera
Agar lega dirasa terbuka

Kala bergelimpangan pelajar menghias jalan
Penuh darah dan habis nyawa
Hanya senyum sinis diterima
Bagi mereka itu pantas agaknya

Kala hati ini bertanya
Kemanakah hilang nurani
Dimanakah terbang akal budi
Siapa yang harus menjawab ini


Adakah Kau Dengar?
(karya: Nur Apiyanti)

Teriakan-teriakan karena rasa sakit
Tidak terdengar oleh insan di luar
Tendangan-tendangan mendera menghujam

Genggaman-genggaman tangan mendera
Seakan menutup mulut yang akan bersuara
Hanya angin dan udara saksi semua
Tentang seongok kisah di sana

Mengapa?
Mereka bertahan untuk sebuah cita-cita
Dalam balutan seragam yang bernilai di mata
Mereka kuat untuk sebuah asa
Karena Bunda memberi doa
Rintihan Hati Para Pahlawan
(Karya : Asep M)

Ketika raja siang telah muncul dari persembunyian
Menyinari seluruh alam semesta
Dengan wajah yang bercahaya
Menyambut datangnya pagi

Seluruh insan bernyawa
Menyambut dengan hati gembir
Akan tetapi seorang siswa praja
Berbaring di atas alas

Sunggh malang seorang siswa praja
Karena tidak dapat merasakan sinar yang hangat
Sianar yang dapat membuat insan menari
Sinar yang dirindukan oleh semua insan

Akibat pertengkaran lidah yang terjadi
Sehingga kaum praja saling bertengkar
Mengapa semua harus terjadi...
Ada apa dengan kaum praja

Apakah seperti ini kau praja sekarag
Menggunakan narkoba
Mabuk-mabukkan
Dan menikmati dunia gemerlapan

Apa yang terjadi pada negara kita
Kalau para praja hanya seperti
Akan negara kita dapat gembira
Dapat meneruskan para pahlawan

Akan hati para pahlawan senang
Akankah para pahlawan gembira
Melihat para praja sekarang
Hanya airmata dan rintihan hati yang dirasa


PAHLAWAN
Karya Ellian Gadman

Disini ku melangkah
Dihantui rasa takut

Tangisan air mata dijalanan
Mungkinkah ini kan berakhir

Masih adakah pahlawan di kota ini
Yang dapat menghentikan pertarungan para pelajar

Masih adakah keadilan di kota ini
Walau darah bercucuran disana-sini

Berhamburan sejuta nafas terakhir
Dunia dapat berhenti berjalan

Mungkinkah dapat bersuci kembali
Walau sudah berpindah dunia


KEKERASAN
Karya Riza Ferdian

Kekerasan.............
Mengapa hal itu harus ada dan terjadi
Beribu-ribu orang yang telah jatuh
Menjadi korbannya

Kini hal itu semakin marak
Mulai dari kalangan tinggi
Menengah, hingga bawah,
Semua melakukan itu
Seakan-akan hal itu sudah
Menjadi tradisi bangsa ini

Malu............
Diri ini malu bila harus mengakui
Inilah bangsa ku
Sedangkan didalam bangsa ini
Terus menerus terjadi kekerasan
Apa yang harus kita banggakan dalam bumi ini
Sedangkan hal-hal yang tidak baik
Selalu dilakukan tiap hari dan semakin bertambah
MALAM YANG TERKENANG
Karya Achmad Bilallian

Indahnya malam ini
Tak seindah kunang-kunang
Hanyut menyapu kalbu
Gelap menjadi perhiasan malam

Sayang keindahan ini tak menyentuh hati mereka
Mereka para penjilat
Yang hanya ingin kesenangan
Diatas penderitaan orang lain

Indahnya malam ini
Kini dirusak sudah oleh para penjilat
Mereka mengambil yang bukan hak mereka


Penyesalan
(Karya : Julian Supriyanto)

Di balik air mata ibu
Banyak tersimpan hal yang tersembunyi
Di lembaga yang disebut pendidikan
Tetapi menjadi tempat untuk kekerasan

Para praja yan selalu disiksa
Tubuh terasa hancur
Darah berceceran
Dan tak kuasa aimata berlinang

Senior yang selalu menindas
Selalu berkuasa
Membuat para praja tak mau kembali ke tempatnya

Ibu yang melahirkan
Terdiam dalam tangis penyesalan


Di balik Tembok Pendidikan
(Karya: Indra)

Sekolah yang dikatakan lembaga pendidikan
Tetapi dibuat untuk penghajaran
Pkulan yang memilukan,menyakitkan,menyedihkan
Dan linangan airmata penyesalan

Ketika diharuskan belajar
Tetapi mereka malah dihajar
Senior-senior yang garang
Menghapus mimpi pelajar

Akankah terhapus
Setelah semua telah merasuk


Tangisan Sang Tertindas
(Karya : Yunita)

Raut wajah bahagia
Kini tak lagi tampak
Hanya kesedihan
Yang kini mewarnai

Walau zaman sudah maju
Tetapi bagi mereka sama saj
Ingin rasanya berontak
Apa daya hanya rakyat jelata

Rakyat jelata yang tak bisa apa-apa
Ketika kekerasan menghantamnya
Ketika keponggahan menghampirinya

Tikus yang makan tanaman
Tidak sadar akan hal itu
Hanya kepuasan semata
Untuk mengumbar hasrat sang penguasa


Dengarlah
(Karya : Kokom Komariyah)

Kau tak seperti berlian
Yang memancarkan sinarmu
Rakyat-rakyat mejerit
Sang penguasa bertahan

Apa yang terjadi
Sang penguasa...
Kau memejamkan matamu
Angis mengiris jiwa

Sejuta harapan hari
Mengisi kecemasan raga
Keringat-keringat membasahi negeri
Harapan yang tak terdengar

Mana janjimu...
Kekerasan kau jadikan alasan
Demi mencari kepuasan raga
Dimana sang penguasa berlian

Kekerasan yang Tak Berujung
(Karya : Bintari)

Waktu berganti hari demi hari
Kekerasan yang terjadi
Terus-menerus menghampiri

Para penerus negeri
Tak dapat lagi bersatu
Hanya dengan satu kesalahan
Dengan hal yang tak wajar
Apa yang sebenarnya terjadi
Apakah dengan satu kesalahan
Persahabatan akan putus

Akau berharap tak ada lagi suasana mencekam
Bertemakan kekerasan
Hadir di sini


Bullying
(Karya: M. khairun Tamami)

Kekerasan di pendidikan
Kini merajalela
Kekeasan di sekolah
Kini bergelora

Selalu ditindas
Selalu diacuhkan
Selalu dilecehkan
Oleh semua yang bertauah

Tak ada yang suka
Ada yang selalu merasa
Dikucilkan, dilecehkan, dianiaya
Oleh sesama

Arogansi kakak kelas atas nama senior
Lingkungan sekitar atas nama keadaan
Tak ada belas kasih
Tak ada uluran tangan
Karena semua tak berpihak


Tangisan Tak Berpihak
(Karya : M. Hafiyyan)

Detik demi detik
Hari demi hari
Tangisan selalu terdengar
Tangisannya selalu terdengar
Merintih penuh kesakitan

Mereka dianiaya
Mereka disiksa
Hingga tak berdaya
Oleh tangan-angan penuh dosa

Tertawanya...bahagianya
Kini tak terasa
Mereka diam dalam tangis
Mereka merana dalam duka

Apakah harus beini
Apakah harus selalu menerima
Apakah ini sebagian dari ujian
Untuk sukses di masa depan?

Tangis yang ada tak pernah berpihak!

Puisi Bullying Siswa SMP 266 Jakarta



Bullying
(karya : Devyana Rianti Ningrum)
Kelas VII.2


Bullying kini jadi berita
Terdengar di mana-mana
Terjadi di setiap masa
Terpampang di sudut harian kota

Semua mengalami
Semua menjalani
Semua mengamati
Semua menghakimi

Namun,
Semua pula yang tak peduli
Untuk menghentikan
Untuk menyudahi
Dan untuk merasa peduli

Bullying jadi legenda
Legenda fisik yang terluka
Legenda moral yang terkoyak
Legenda sosial yang tercabik-cabik

Sepertinya harus waspada
Sepertinya harus dihentikan
Agar tidak lagi dimulai
Agar segera dihentikan
Dengan kunci keimanan
Dengan alat kasih sayang
Dengan sarana persatuan
Karena kita satu naka-anak negeri
Yang ingin bangkit
Dari keterpurukan


Kekerasan
(karya : Devyana Rianti Ningrum)
Kelas VII.2

Himpitan ekonomi
Desakan naluri
Sesaknya moral
Rusaknya peradaban
Pemicu kekerasan
Membuat hidup laksana bara
Membuat hati laksana Sang sangkala

Kacau diri merajalela
Tak kenal siapa di muka
Tak tahu siapa yang ada
Dalam rumah
Sang suami melempar tangan di muka
Sang istri melontar kata kasar di telingga

Anak yang terluka jadi teraniaya
Tertekan dalam hidup penuh amarah
Ada kekerasan di dean mata
Tak kuasa berlari karea tak bis memilih
Hanya airmata penanda gelisah


Masih Ada!

(Karya Shinta Carolin VIII.2)

Kekerasan dalam pendidikan
Kini merajalela
Kekerasan dalam sekolah
Kini makin bergelora

Derai airmata
Jeritan di hati
Tak bisa terungkapkan

Selalu ditindas,
Selalu diacuhkan
Oleh semua yang ikut serta

Tak ada yang suka
Ada yang selalu merasa dikucilkan
Oleh teman-temannya
Ada yang selal dilecehkan
Oleh keadaan

Arogansi Kakak kelas atas nama senior
Lingkungan sekitar atas nama keadaan
Tak ada belas kasih
Tak ada uluran tangan
Karena semua tak berpihak


Tangisan para Pelajar
(karya Yulia Fransisca)


Begitu banyak airmata
Terbuang sia-sia
Kekerasan yang melanda
Awal terpuruknya pendidikan

Pelajar-pelajar yang tak berdaya
Menjadi sasaran keadaan
Begitu banyak nyawa
Melayang karena tak lindungan

Aku hanya bisa berkata
Adakah keadilan untuk mereka yang teraniaya

Mengapa semua itu harus terjadi
Pada pelajar- pelajar kami
Haruskah mereka menerima kekerasan ini

Oh Tuhan
Lindungi pelajar kami
Yang tidak berdaya ini
Ampunilah dosa-dosa yang telah mereka perbuat


Tentang Aku
(Karya Irmawati)

Begitu kejam hidup ini
Sekejam hari-hari yang kukira
Sangat indah malah hari
Yang paling menyakitkan bagiku

Sudah lama kuberharap
Agar semua cepat berakhir
Namun kesakitan ini
Tak kunjung reda


Aku tahu semua ini
Akan berakhir tapi
Kapan - kapan semua
Akan berakhir


Dimana Tempatku?
(Karya Mifta Huljanah)

Dimana aku berada
Disitulah aku melihatnya
Aku seoramg pelajar
Ingin menjadi anak pintar

Tetapi lingkungan ini
Dan sekolah lainpun sama
Terdapat dan terlihat kekerasan
Tetapi itu bukan masalah

Aku akan tetap belajar
Supaya menjadi terpelajar
Semoga menjadi orang pintar
Hingga cita –cita tercapai


Derai Airmata
(Karya Fia Riyana.A VIII.5)

Berderai air matanya
Satu per satu menetes
Membasahi pipinya
Ketika kekerasan menerpa dirinya
Disaat dia menuntut ilmu

Namun apa daya
Dia hanya bisa terdiam
Menatapi kepedihannya
Dan menahan rasa sakitnya

Mengapa kekerasan harus
Menerpa dirinya
Akankah kekerasan akan
Hilang dari hidupnya

Oh… Tuhan
Bantulah dirinya
Agar lepas dari kekerasan ini
Agar dia bisa menuntut
Ilmu dengan tenang

Oh…Tuhan
Ubahlah kekerasan itu
Menjadi sebuah senyuman
Baginya
Untuk s’lamanya


Atas Nama Kekerasan
(Karya Ummi Sulis VIII.2)

Kita sebagai siswa
Sering melihat kekerasan
Baik fisik maupun non fisik
Yang sering terjadi di sekolah

Entah kapan semua itu harus berakhir
Kita semua sebagai generasi muda
Harus menjadi generasi muda
Harus menjaga budaya Indonesia

Bukan dengan kekerasan
Bila hal itu terjadi
Terus menerus
Dan tak pernah berakhir

Maka kita akan
Tercoreng dari mata dunia
Hindarilah kekerasan
Bawalah kedamaian


Dunia Ini Ada Kekerasan
(Karya Dwi Jayanti Nur Rohmi)

Haruskah……….
Kekerasan harus terjadi
Di dalam dunia pendidikan

Haruskah………..
Guru-guru mendidik anak muridnya
Dengan menggunakan kekerasan

Kekerasan yang terjadi
Melalui perkataan maupun fisik
Apakah dengan kekerasan
Mereka bisa mendidik kami

Apakah kekerasan……………
Harus selalu diberlakukan
Baik di dalam pendidikan
Maupun pertemanan…………

Seharusnya kekerasan itu
Dapat diberantas
Dan tidak kembali lagi
Ke dalam kehidupan


JERITAN HATI
(Karya : Fitri.A.N)

Hari-hariku begitu mencekam
Tiada hari bagiku
Menakutkan, semuanya itu
Tiada yang mengenakkan

Andai saja tubuh ini
Bisa menjerit pasti dia akan menjerit
Andai saja hati bisa merintih
Pasti dia akan merintih kesakitan

Kapan semua siksaan
Ini berakhir dari rumah
Ku mengadahkan wajah ini
Untuk masa depan yang indah

Namun apa dikata nasibku
Seperti ini, bukan mendapatkan
Pendidikan malah mendapatkan
Walau jalan masih panjang
Terkadang terlintas rasa
Untuk PUTUS ASA


Kecewa
(Karya Diah Ayu Choirunnisa)

Banyaknya…….
Kekerasan di dunia pendidikan
Banyaknya…….
Kekerasan di dalam sekolah

Bercucuran air mata
Para siswa menjerit dalam hati
Kekerasan dalam sekolah
Semakin marak

Kekecewaan para guru-guru
Kekerasan dalam sekolah semakin merata
Kekecewaan orang tua siswa
Kegelisahan orang tua dan siswa semakin menjerit

Akankah kekerasan ini dapat punah?
Akankah kekerasan ini tidak terulang kembali?
Mungkinkah maraknya kekerasan dapat terhindari ?

Ya Tuhan………..Akankah kekerasan ini akan hilang?
Ataukah akan terus berlanjut


HATI YANG TERLUKA
(Karya : Lilis Sri Nurmala Sari)

Niatku ingin menuntut ilmu
Demi masa depanku yang indah
Namun kini
Itu semua terkubur bersama mimpiku

Semua itu tak seperti yang ku kira
Inginnya ku mendapat pendidikan
Malah siksaanlah
Yang kudapat

Kekerasan selalu mendera
Dalam hidupku
Kapan kekerasan
Itu hilang dalam hidupku

Ku ingin semua berakhir
Ingin kulupakan semua
Namun rasa sakit dihati
Tak bisa hilang

Inilah akhir dari
Hati yang terluka
Semoga semua berjalan
Seperti yang kuharap


Ini Kisahku
(Karya : Nevia Shinta)

Senin, 28 Juli 2008 awal aku masuk sekolah aku sangat senang
Aku sangat senang bisa sekolah
Karena aku hanya orang miskin
tidak seperti orang lain yang hidup selalu senang

Setiap hari aku sekolah dengan sepedaku
Yang sederhana tanpa mengenal rasa lelah
Tetap semangat untuk belajar

Aku hanya manusia biasa mempunyai cita-cita
Banyak cobaan yang ku alami yang begitu menyakitkan
Teman-temanku membenciku
Hanya karena aku miskin,
Hampir setiap hari aku menerima kekerasan ,hinaan, dan celaan

Tapi aku harus kuat menahan ini semua
Karena aku tahu
Ini semua pasti
Awal dari keberhasilanku
Aku menjadi orang sukses

Dan aku membela menolong dan membantu
Kaum yang lemah
Agar jangan
Mendapat kekerasan , hinaan dan celaan
Yang seperti aku alami



CAHAYA HIDUP YANG HILANG
(Karya : Dwi Agustiani)

Hilang sudah kebebasanku
Hilang sudah keceriaanku

Kini yang tersisa hanyalah
Hitam pekat dalam hidupku

Entah kemana perginya
Cahaya hidupku
Yang kini ada hanya
Diriku yang tak berdaya
Diriku yang lemah

Aku hanya bisa meratapi hidup
Karena mendapatkan perilaku
Yang tak seharusnya ku dapatkan

Perilaku yang membuatku menjadi begitu sakit
Kekerasan, ya kata yang tepat untuk
Kejadian yang sedang kualami ini


Dalam Dilema
(Karya : Rahmawati)

Dan janganlah….
Engkau membuat kekerasan
Karena itu merusak pendidikan

Hindarkanlah……….
Kekerasan dalam dunia pendidikan
Dan jadikan pendidikan nomor satu

Janganlah…………
Engkau merusak dunia pendidikan
Karena pendidikan sangat penting

Janganlah…………….
Engkau menanam kekerasan
Tanamlah persaudaraan

Dan tanamlah……………
Persaudaraan agar menjadi anak
Yang berguna bagi nusa dan bangsa


KISAHKU
(Karya : Mia Budi Handayani)
Kelas : VIII-2

Hari-hari di sekolah
Begitu indah, seindahnya
Cita-citaku namun semua
Cita-citaku sudah terkubur

Orang yang seharusnya
Memberi pendidikan
Padaku malah siksaan
Lah yang dia berikan padaku

Sakit hati ini bila ku ingat
Apa yang telah dia lakukan
Padaku kapankah penderitaan
Ini akan segera berakhir

Tanda Tanya besarlah
Yang ada dalam hidupku
Sekarang aku ingin semoga
Semua segera berakhir


Stop ! BULLYING
(Karya : Selawati)
Kelas : VIII-2

Oh……….Guru……….ku
Kau adalah pahlawan
Tanpa tanda jasa
Tapi kenapa kau
Melakukan dengan
Kekerasan………..

Jangan kau membimbimg
Kami dgn kekerasan
Kami tahu kau melakukan
Itu kedisiplinan kami

Tapi caramu salah
Itu semua membuat
Kami tertekan

Bahwa…………..
Ada yg membuat kami tak berdaya
Kau adalah pelatih dan pembina
Tolong rangkul kami
Dengan kelembutan yang indah


Kita bukan Kita
(Karya M. Rezanesa Descarian)

Jalan ini penuh sesak oleh airmata
Airmata pengiring sahabat tercinta
Laksana lagu ada irama dalam tangisnya
Karena sahabat tak pantas ada di sana

Kau terlanjur ada dan memaksa
Ketika tak kau beri apa yang kau punya
Kau tertegun tak percaya
Ketika tangan kukuh mengangkat wajah
Menghantam dada dan kepala

Tak ada kata untuk menjawab
Tak ada waktu untuk melawan
Tak ada tenaga untuk membalas
Karena dikeliling ada perisai lawan
Membuat ciut nyali diraga

Walau dalam daerah yang berkawan
Semua dibilang atas nama pendidikan
Semua dikata atas nama pembinaan
Pukulan tak pernah diajarkan
Bentakan tak pernah ditugaskan
Hantaman tak pernah dikurikulumkan
Tapi ada ujian
Untuk nilai disiplin dan peraturan


Mau Tauran?
(Karya Adisti Permita)

Pagi ini amatlah cerah
Kubuka jendela dan terbentang suasana
Pagi yang indah untuk semua kawan di dunia
Berpacu menuntut ilmu dan cita

Langkah kita hai kawan
Panjang dan penuh aral
Mari isi dengan segala
Ilmu yang sempurna
Dan bakti untuk negara

Jauhkan hai kawan dari kesesatan
Yang menorehkan luka untuk ibunda
Maukah kawan untuk tauran?
Hal yang tak berguna tak ada dalam cerita
Marilah kawan tinggalkan kekerasan
Ucapkan pada dunia kata yang luar biasa

Say No To Bullying
Karena itu kan sia-sia
Untuk langkah yang kita punya
Untuk martabat bangsa yang tertanam di dada

Kawan
Mau tauran?
Setelah banyak yang hilang
Keriangan,
Kesenangan,
Dan kawan-kawan yang tak bersalah


Kekerasan?!!
(Karya : Tities Putri)


Kekerasan....
Apa yang membuatmu timbul?
Apa yang membuatmu ada?
Apa yang membuatmu merajalela

Orang kejamkah?
Orang gilakah?
Orang tak berpendidikankah?
Orang isengkah?

Seribu satu jawaban kunanti
Karena aku ingin semua ini lenyap
Hilang, pergi, hancur selamanya
Hingga tak ada lagi kekerasan mewabah
Karena kita masih manusia
Jangan sampai berjiwa binatang


Apa peyebabnya?
(Karya : Tities Putri)

Anak-anak kecil kini banyak jadi mangsa kekerasan
Tanpa alasan tanpa penyebab
Mungkinkah kelalaian orangtua
Yang tak memberi ajaran nilai?

Kutanya pada semua yang mendengar
Pada semua yang merasa
Apa penyebabnya?
Karena akan aku catat sebagai doa

Yah doa untuk orang-orang yang di sana
Yang memakai kekerasan sebagai senjata
Agar mereka dapat berhenti
Untuk mengusir kekerasan
Dalam dirinya
Semoga....?

Cerita Pagiku
(Karya : Tities Putri)

Tamaran-tamparan sering singgah di pipiku
Cacian dan makian jadi bumbu sesudahnya
Oleh mereka yang tak suka aku ada
Walau aku tak meminta

Hidup nyaman kini jadi angan
Hidup tentram kini jadi idaman
Karena detik yang kulalui
Harus ditebus dengan makian

Wednesday, July 23, 2008

Monday, July 14, 2008

KONTRAK MATA PELAJARAN


Tahun ajaran baru dimulai tahun 2008 - 2009 aku berkesempatan mengajar di kelas XI Bahasa mata pelajaran Sastra Indonesia. Karena sudah melaksanakan SKM (Sekolah Kategori Mandiri) maka setiap guru harus dan wajib membuat Kontrak Mata Pelajaran. Nah supaya tidak hilang dan berceceran apalagi ini tergolong baru, maka aku taruh di blog ini. Tadinya dibuat dalam format tabel. Tapi karena di blog nggak bisa maka yah apa adanyalah yang penting tersimpan aman.


YAYASAN PENDIDIKAN PENGAJARAN DEWASA
SEKOLAH MENENGAH UMUM
SMA YAPPENDA
Status : Terakreditasi “A” SK.No.Ma.000098/I/2005
Jl.Swasembada Timur V/10 Jakarta Utara
KONTRAK MATA PELAJARAN
Mata Pelajaran : Sastra Indonesia
Kode Mata Pelajaran : SASI – 03 – 01 - 05
Pengajar : Dra. Seni Asiati
Semester : Ganjil
Standar Kompetensi :
1. Mendengarkan
Memahami penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama

Kompetensi Dasar ke 1 ( SK 1 ) :
1.1 Mengidentifikasi penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama

Indikator ( KD 1.1 ) :
1.1.1 Menentukan tokoh dan perannya dalam pementasan drama
1.1.2 Menyimpulkan sifat tokoh berdasarkan dialog tokoh dalam pementasan drama drama disertai alasannya
1.1.3 Menentukan latar dan fungsi latar dalam pementasan drama

Kompetensi Dasar ke 2 ( SK 1 ) :
1.2 Menganalisis kesesuaian penokohan, dialog, dan latar dalam pementasan drama

Indikator ( KD 1.2 ) :
1.2.1 Menganalisis kesesuaian penokohan dengan isi cerita dalam pementasan drama
1.2.2 Menganalisis kesesuaian dialog dengan isi cerita dalam pementasan drama
1.2.3 Menganalisis kesesuaian latar dengan isi cerita dalam pementasan drama

Standar Kompetensi :
2. Berbicara
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam kegiatan bercerita, berdeklamasi, dan membawakan dialog drama

Kompetensi Dasar ke 1 ( SK 2 ) :
2.1 Menceritakan secara lisan narasi yang berasal dari cerita pendek atau novel yang pernah dibaca

Indikator ( KD 2.1 ) :
2.1.1 Menentukan perwatakan (karakterisasi) tokoh dalam cerpen atau novel dengan menunjukkan kata-kata atau kalimat yang mendukung
2.1.2 Menjelaskan latar yang mendukung emosi tokoh
2.1.3 Menentukan tema dan amanat dikaitkan dengan masalah sosial budaya dalam teks

Kompetensi Dasar ke 2 ( SK 2 ) :
2.2 Mendeklamasikan puisi dari berbagai angkatan dengan menggunakan volume suara dan irama yang sesuai
Indikator ( KD 2.2 ) :
2.2.1 Mendeklamasikan puisi dengan lafal, intonasi, gerak, mimik, dan penghayatan yang sesuai
2.2.2 Mendiskusikan lafal, intonasi, gerak, dan penghayatan dalam pendeklamasian puisi

Standar Kompetensi :
3. Membaca
Memahami cerita pendek, novel, dan hikayat

Kompetensi Dasar ke- 1 ( SK 3 ) :
3.1 Menganalisis nilai-nilai yang terdapat dalam cerita pendek

Indikator ( KD 3.1 ) :
3.1.1 Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerpen dengan bukti-bukti yang mendukung
3.1.2 Mengidentifikasi konflik dalam cerpen
3.1.3 Menyimpulkan perwatakan (karakterisasi) dalam cerpen dengan bukti yang mendukung
3.1.4 Menjelaskan latar yang digunakan pengarang dan fungsinya untuk mendukung penokohan
3.1.5 Menganalisis nilai-nilai yang terdapat dalam cerita pendek
3.1.6 Menghubungkan nilai-nilai tersebut

Kompetensi Dasar ke- 2 ( SK 3 ) :
3. 2 Mengidentifikasi pelaku, peristiwa, dan latar dalam novel

Indikator ( KD 3.2 ) :
3.2.1 Mengidentifikasi perwatakan (karakterisasi) dalam cerpen/novel dengan bukti yang mendukung
3.2.2 Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam novel dengan bukti-bukti yang mendukung
3.2.3 Mengidentifikasi latar yang digunakan pengarang dan fungsinya untuk mendukung penokohan
Kompetensi Dasar ke-3 (SK 3 )
3.3 Mendeskripsikan relevansi hikayat dengan kehidupan sekarang
Indikator ( KD 3.2 )
3.3.1 Menentukan tokoh-tokoh dan karakternya dalam hikayat
3.3.2 Menentukan latar dalam hikayat
3.3.3 Menentukan tema hikayat
3.3.4 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam hikayat
3.3.5 Menghubungkan nilai budaya dalam hikayat dengan nilai budaya sekarang
Standar Kompetensi :
4. Menulis
Mengungkapkan pengalaman dalam puisi, cerita pendek, dan drama
Kompetensi Dasar ke- 1 ( SK 4 ) :
4.1 Menulis puisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan

Indikator ( KD 2.1 ) :
4.1.1 Mengekspresikan perasaan dalam bentuk puisi dengan menggunakan diksi, majas, rima, dan irama, serta disesuaikan bentuk, dan isi puisi
4.1.2 Menulis puisi berdasarkan objek yang dilihat atau berdasarkan pengalaman
Kompetensi Dasar ke- 2 ( SK 4 ) :
4.2 Menulis cerita pendek berkenaan dengan kehidupan seseorang dengan sudut penceritaan orang ketiga

Indikator ( KD 2.2 ) :
4.2.1 Menulis cerpen berkenaan dengan kehidupan seseorang dengan mengembangkan:
- penokohan
- alur
- latar
- sudut pandang orang ketiga

Kompetensi Dasar ke- 3 ( SK 4 ) :

4.3 Menulis drama pendek berdasarkan cerita pendek atau novel

Indikator ( KD 4.3 )
4.3.1 Mengekspresikan gagasan dalam bentuk drama dengan mengembangkan:
- tema
- penokohan
- alur
- latar
4.3.2 Menulis drama pendek berdasarkan cerita pendek atau novel yang dibaca
4.3.3 Menganalisis penulisan drama dengan memperhatikan ejaan dan tanda baca

Standar Kompetensi :
5. Kesastraan
Menguasai komponen-komponen kesastraan dalam menelaah berbagai karya sastra

Kompetensi Dasar ke 1 ( SK 5 ) :
5.1 Mengaplikasikan komponen-komponen kesastraan dalam menelaah berbagai karya sastra
Indikator ( KD 5.1 ) :
5.1.1 Membedakan teks ragam prosa biasa dan prosa naratif
5.1.2 Menganalisis teks prosa biasa dan prosa naratif untuk mengetahui plot, penokohan, latar, dan tema
5.1.3 Menulis teks ragam prosa biasa dan prosa naratif

Kompetensi Dasar ke 2 ( SK 5 ) :
5.2 Menggunakan komponen kesastraan teks drama (pelaku dan perwatakan, dialog dan perilaku, plot dan konflik) untuk menelaah karya sastra drama

Indikator ( KD 5.2 ) :
5.2.1 Mengidentifikasi komponen kesastraan dalam teks drama karya satrawan Indonesia dari suatu periode
5.2.2 Menentukan jenis drama
5.2.3 Menentukan bentuk drama
5.2.4 Menentukan unsur-unsur intrinsik drama

Kompetensi Dasar ke -3 ( SK 5 ) :
5.3 Menganalisis puisi berdasarkan komponen bentuk puisi (bait, larik, rima, irama) dan isi (pengindraan, pikiran, perasaan, imajinasi)

Indikator ( KD 5.3 )
5.3.1 Mengidentifikasi komponen puisi yang terdapat dalam puisi Indonesia
5.3.2 Menentukan ciri formal puisi
5.3.3 Menentukan isi puisi

Standar Kompetensi :
6. Mendengarkan
Memahami kegiatan pementasan drama

Kompetensi Dasar ke- 1 ( SK 6 ) :
6.1 Menganalisis pementasan drama berkaitan dengan isi, tema, dan pesan

Indikator ( KD 6.1 ) :
6.1.1 Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik drama
6.1.2 Menentukan tokoh dan perannya
6.1.3 Menentukan konflik drama dengan menunjukkan data yang mendukung
6.1.4 Menentukan latar dan peran latar

Kompetensi Dasar ke -2 ( SK 6 ) :
6.2 Membuat resensi tentang drama yang ditonton

Indikator ( KD 6.2 ) :
6.2.1 Menulis resensi drama dengan pemperhatikan unsur-unsur resensi
6.2.2 Mendeskripsikan identitas drama (judul, pengarang, sutradara, produser, tahun produksi)
6.2.3 Membuat sinopsis mengemukakan kelebihan dan kekurangan drama
6.2.4 Membuat simpulan resensi drama

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata pelajaran Sastra Indonesia dilaksanakan selama 30 jam tatap muka dan 30 jam tugas terstruktur dengan pembagian setelah 15 jam tatap muka dilaksanakan UTS yang meliputi materi pertemuan 1- 15 dan diakhir semua materi yang tersaji siswa harus menempuh UAS dengan materi semua pertemuan. Tugas tidak terstruktur 1 dikumpulkan siswa pada awal bulan September 2008. Tugas tidak terstruktur 2 dikumpulkan siswa pada awal bulan Desember 2008.


KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. TATAP MUKA

No Materi Pembelajaran / Indikator keterangan
1 tokoh dan perannya dalam pementasan drama
sifat tokoh berdasarkan dialog tokoh

2 latar dan fungsi latar dalam pementasan drama
kesesuaian penokohan dengan isi cerita dalam pementasan drama
kesesuaian dialog dengan isi cerita dalam pementasan drama
3 kesesuaian latar dengan isi cerita dalam pementasan drama
4 perwatakan (karakterisasi) tokoh dalam cerpen atau novel dengan menunjukkan kata-kata atau kalimat yang mendukung
5 latar yang mendukung emosi tokoh
tema dan amanat dikaitkan dengan masalah sosial budaya dalam teks
6 peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerpen dengan bukti-bukti yang mendukung
konflik dalam cerpen
7 perwatakan (karakterisasi) dalam cerpen dengan bukti yang mendukung
8
latar yang digunakan pengarang dan fungsinya untuk mendukung penokohan
9
nilai-nilai yang terdapat dalam cerita pendek Menghubungkan nilai-nilai tersebut
10 Mengekspresikan perasaan dalam bentuk puisi dengan menggunakan diksi, majas, rima, dan irama, serta disesuaikan bentuk, dan isi puisi
11 Menulis puisi berdasarkan objek yang dilihat atau berdasarkan pengalaman
12 Menulis cerpen berkenaan dengan kehidupan seseorang dengan mengembangkan:
- penokohan
- alur
- latar
- sudut pandang orang ketiga
13 Mengekspresikan gagasan dalam bentuk drama dengan mengembangkan:
- tema
- penokohan
- alur
- latar
14 Menulis drama pendek berdasarkan cerita pendek atau novel yang dibaca
15 Menganalisis penulisan drama dengan memperhatikan ejaan dan tanda baca
16 UTS
17 Membedakan teks ragam prosa biasa dan prosa naratif
18 Menganalisis teks prosa biasa dan prosa naratif untuk mengetahui plot, penokohan, latar, dan tema
19 Menulis teks ragam prosa biasa dan prosa naratif
20 komponen kesastraan dalam teks drama karya satrawan Indonesia dari suatu periode
21 jenis drama
bentuk drama
22 unsur-unsur intrinsik drama

23 komponen puisi yang terdapat dalam puisi Indonesia
isi puisi
24 unsur-unsur intrinsik drama
25 tokoh dan perannya
26
konflik drama dengan menunjukkan data yang mendukung
27
latar dan peran latar
28 Menulis resensi drama dengan pemperhatikan unsur-unsur resensi
29 identitas drama (judul, pengarang, sutradara, produser, tahun produksi)
30
Membuat sinopsis mengemukakan kelebihan dan kekurangan drama
31 Menyunting resensi drama
32 UAS

B. TUGAS TERSTRUKTUR

No Materi Pembelajaran / Indikator keterangan
1 Menjawab soal mengenai tokoh dan peran tokoh serta sifat tokoh dalam pementasan drama yang ditayangkan guru di lembar tugas
2 Menjawab soal mengenai latar dan fungsi latar dalam pementasan drama
Menjawab soal mengenai kesesuaian penokohan dengan isi cerita dalam pementasan drama
Menjawab soal mengenai kesesuaian dialog dengan isi cerita dalam pementasan drama di lembar tugas
3 Menjawab soal mengenai kesesuaian latar dengan isi cerita dalam pementasan drama di lembar tugas
4 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang perwatakan (karakterisasi) tokoh dalam cerpen atau novel dengan menunjukkan kata-kata atau kalimat yang mendukung
5 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang latar yang mendukung emosi tokoh
tema dan amanat dikaitkan dengan masalah sosial budaya dalam teks
6 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerpen konflik dalam cerpen dengan bukti-bukti yang mendukung
7 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang perwatakan (karakterisasi) dalam cerpen dengan bukti yang mendukung
8
Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang latar yang digunakan pengarang dan fungsinya untuk mendukung penokohan
9
Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang nilai-nilai yang terdapat dalam cerita pendek Menghubungkan nilai-nilai tersebut
10 Mengekspresikan perasaan dalam bentuk puisi dengan menggunakan diksi, majas, rima, dan irama, serta disesuaikan bentuk, dan isi puisi
11 Menulis puisi berdasarkan objek yang dilihat atau berdasarkan pengalaman dalam lembar tugas

12 Menulis cerpen berkenaan dengan kehidupan seseorang dengan mengembangkan:
- penokohan
- alur
- latar
- sudut pandang orang ketiga
pengerjaan tugas di kertas folio
13 Mengekspresikan gagasan dalam bentuk drama dengan mengembangkan:
- tema
- penokohan
- alur
- latar
pengerjaan tugas di kertas folio
14 Menulis drama pendek berdasarkan cerita pendek atau novel yang dibaca
pengerjaan tugas di kertas folio
15 Menyunting penulisan drama yang ditulis teman dengan memperhatikan ejaan dan tanda baca
16 UTS
17 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang perbedaan teks ragam prosa biasa dan prosa naratif dalam lembar kerja yang dibagikan
18 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang teks prosa biasa dan prosa naratif untuk mengetahui plot, penokohan, latar, dan tema
19 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang teks ragam prosa biasa dan prosa naratif
20 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang komponen kesastraan dalam teks drama karya satrawan Indonesia dari periode angkatan 45 dan 66
21 Menjawab pertanyaan dalam lembar tugas tentang jenis drama dan bentuk drama
22 Menjawab pertanyaan dalam lembar tugas tentang unsur-unsur intrinsik drama
23 Menjawab pertanyaan dalam lembar tugas tentang komponen puisi yang terdapat dalam puisi Indonesia
Menjawab pertanyaan dalam lembar tugas tentang isi puisi perjuangan
24 Menjawab pertanyaan dalam lembar tugas tentang unsur-unsur intrinsik drama
25 Menjawab pertanyaan dalam lembar tugas tentang tokoh dan perannya
26
Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang konflik drama dengan menunjukkan data yang mendukung
27
Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang latar dan peran latar dalam pementasan drama
28 Menulis resensi drama dengan pemperhatikan unsur-unsur resensi
pengerjaan tugas di kertas folio
29 Menentukan unsur identitas drama (judul, pengarang, sutradara, produser, tahun produksi) dalam sebuah resensi drama
pengerjaan tugas di kertas folio
30
Membuat sinopsis mengemukakan kelebihan dan kekurangan naskah drama yang dibaca
31
Menyunting resensi drama yang dibuat teman
32 UAS

C. TUGAS TIDAK TERSTRUKTUR
1. Menonton pertunjukan drama rekaman secara langsung atau yang ditayangkan di televisi dan menganalisis unsur-unsur intrinsik dalam pementasan drama tersebut!
2. Berkelompok 3 orang dalam satu kelompok merekam dalam mendeklamasikan sebuah puisi karya sendiri dan merekamnya dalam bentuk VCD!

PENILAIAN
Penilaian diberikan dengan ketentuan :

1 Kehadiran
15 %
2 Afektif
10 %
3 Tugas 15 %
4 Psikomotor / Praktik 10 %
5 UTS 20 %
6 UAS 30 %
Jumlah 100 %


PENILAIAN AFEKTIF

DAFTAR PENILAIAN AFEKTIF
No Pernyataan Hasil Pengamatan Skor
4 3 2 1
1 Datang tepat waktu

2 Mengikuti Kegiatan dengan tertib
3 Membuang sampah pada tempatnya
4 Membersihkan tempat kegiatan
5 Merawat kebersihan diri
6 Menyelesaikan tugas tepat waktu
7 Berani menanggung resiko
8 Berbicara dengan sopan
9 Bersikap hormat terhadap guru
10 Berpakaian sopan

11 Berposisi duduk yang sopan
12 Menjalin hubungan baik dengan guru
13 Menjalin hubungan baik dengan teman
14 Menolong teman bekerja sama dalam kegiatan positif
15 Bersikap jujur


Jumlah


Nilai = Skor Perolehan x 100
Skor Maximal

43 : 60 X 100 = .......


KONTRAK MATA PELAJARAN

Mata Pelajaran : Sastra Indonesia
Kode Mata Pelajaran : SASI – 03 – 01 - 05
Pengajar : Dra. Seni Asiati
Semester : Genap
Standar Kompetensi :
7. Berbicara
Mengungkap-kan pikiran, dan perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan bercerita, bermain peran, dan berdiskusi

Kompetensi Dasar ke -1 ( SK 7 ) :
7.1 Memerankan tokoh drama atau penggalan drama
Indikator ( KD 7.1 ) :
7.1.1 Menentukan peran yang sesuai dengan tokoh dalam dalam teks
7.1.2 Memerankan drama/ penggalan drama sesuai dengan karakter tokoh
7.1.3 Memberi tanggapan atas pemeranan teman (kesesuaian karakter tokoh)

Kompetensi Dasar ke- 2 ( SK 7 ) :
7.2 Mengevaluasi teks drama atau pementasan drama dalam kegiatan diskusi

Indikator ( KD 7.2 ) :
7.2.1 Membahas kesesuaian pemeranan pelaku-pelaku
7.2.2 Memberi tanggapan atas pemeranan drama yang ditonton
7.2.3 Membuat ulasan pementasan drama
7.2.4 Mendiskusikan ulasan pementasan drama
Standar Kompetensi :
8. Membaca :
Memahami hikayat, novel, dan cerpen

Kompetensi Dasar ke- 1 ( SK 8 ) :
8.1 Menceritakan kembali sastra lama (hikayat) dengan bahasa masa kini

Indikator ( KD 8.1 ) :
8.1.1 Menulis sinopsis (isi) cerita secara kronologis
8.1.2 Menceritakan kembali sastra lama (hikayat) sesuai dengan urutan kronologis tanpa mengubah isi cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat
8.1.3 Mengungkapkan nilai-nilai dalam hikayat yang dapat diteladani

Kompetensi Dasar ke- 2 ( SK 8 ) :

8.2 Membandingkan naskah hikayat dengan cerpen

Indikator ( KD 8.2 ) :
8.2.1 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam cerpen
8.2.2 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam hikayat
8.2.3 Menghubungkan nilai budaya dalam cerpen dengan nilai budaya sekarang
8.2.4 Menghubungkan nilai budaya dalam hikayat dengan nilai budaya sekarang
8.2.5 Membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat dengan cerpen
Kompetensi Dasar ke- 3 ( SK 8 ) :

8.3 Menggubah penggalan hikayat ke dalam cerpen

Indikator ( KD 8.3 ) :
8.3.1 Menentukaan tema hikayat yang dibaca
8.3.2 Menentukan amanat
8.3.3 Menentukan latar cerpen
8.3.4 Menentukan isi hikayat
8.3.5 Mengubah hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memunculkan konflik tertentu dan penyelesaiannya

Standar Kompetensi :
9. Menulis :
Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman dalam kegiatan produksi dan transformasikan bentuk karya sastra

Kompetensi Dasar ke- 1 ( SK 9) :
9.1 Mengarang cerpen berdasarkan realitas sosial

Indikator ( KD 9.1 ) :
9.1.1 Mengekspresikan gagasan dalam bentuk cerpen berdasarkan realitas sosial dengan mengembangkan:
- penokohan
- alur
- tema
- latar
- sudut pandang
Kompetensi Dasar ke- 2 ( SK 9 ) :
9.2 Menyadur cerpen ke dalam bentuk drama satu babak

Indikator ( KD 9.2 ) :
9.2.1 Menentukan tema cerpen yang dibaca
9.2.2 Menentukan isi cerpen dan karakter tokoh-tokohnya
9.2.3 Mengubah cerpen ke dalam bentuk drama sesuai dengan kerangka yang dibuat

Kompetensi Dasar ke- 3 ( SK 9 ) :
9.3 Menggubah penggalan hikayat ke dalam cerpen

Indikator ( KD 9.2 ) :

9.3.1 Menentukaan tema hikayat yang dibaca
9.3.2 Menentukan amanat hikayat yang dibaca
9.3.3 Menentukan latar cerpen
9.3.4 Menentukan isi hikayat
9.3.5 Mengubah hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memunculkan konflik tertentu dan penyelesaiannya

Standar Kompetensi :
10. Kesastraan :
Menguasai komponen kesastraan dalam teks drama dan perkembangan genre sastra Indonesia

Kompetensi Dasar ke 1 ( SK 10 ) :
10.1 Mengidentikasi komponen kesastraan dalam teks drama

Indikator ( KD 10.1 ) :
10.1.1 Menentukan laporan kesastraan dalam teks drama berbentuk puisi atau berbentuk prosa
10.1.2 Membahas hubungan antarkomponen drama
10.1.3 Menilai komponen kesastraan dalam teks drama berbentuk puisi atau berbentuk prosa

Kompetensi Dasar ke 2 ( SK 10 ) :

10.2 Menganalisis perkembangan genre sastra Indonesia


Indikator ( KD 10.2 ) :
10.2.1 Menganalisis ragam karya sastra Indonesia dari setiap periode (puisi, prosa, drama)
10.2.2 Menemukan ciri-cri setiap periode (puisi, prosa, drama)
10.2.3 Mengelompokkan ragam karya sastra Indonesia setiap periode (puisi, prosa, drama) berdasarkan periodisasi sastra
10.2.4 Memaparkan para pengarang penting (puisi, prosa, drama) pada setiap periode dengan alasan
10.2.5 Menjelaskan perkembangan ragam karya sastra (puisi, prosa, drama) yang dominan dipengaruhi oleh aliran kesusastraan dalam periode tertentu
10.2.6 Menyimpulkan perkembangan sastra Indonesia

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata pelajaran Sastra Indonesia dilaksanakan selama 30 jam tatap muka dan 30 jam tugas terstruktur dengan pembagian setelah 16 jam tatap muka dilaksanakan UTS dan diakhir semua materi yang tersaji siswa harus menempuh UAS. Tugas tidak terstruktur harus dikerjakan siswa.........


KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. TATAP MUKA

No Materi Pembelajaran / Indikator keterangan
1 Menentukan peran yang sesuai dengan tokoh dalam dalam teks drama

2 Memerankan drama/ penggalan drama sesuai dengan karakter tokoh

3 Memberi tanggapan atas pemeranan teman (kesesuaian karakter tokoh)

4 Membahas kesesuaian pemeranan pelaku-pelaku

5 Memberi tanggapan atas pemeranan drama yang ditonton
karakter tokoh

6 Membuat ulasan pementasan drama

7 Mendiskusikan ulasan pementasan drama

8 Menulis sinopsis (isi) cerita secara kronologis

9 Menceritakan kembali sastra lama (hikayat) sesuai dengan urutan kronologis tanpa mengubah isi cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat

10 Mengungkapkan nilai-nilai dalam hikayat yang dapat diteladani

11 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam cerpen

12 Menghubungkan nilai budaya dalam cerpen dengan nilai budaya sekarang

13 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam hikayat
Menghubungkan nilai budaya dalam hikayat dengan nilai budaya sekarang

14 Membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat dengan cerpen

15 Mengekspresikan gagasan dalam bentuk cerpen berdasarkan realitas sosial dengan mengembangkan:
- penokohan
- alur
- tema
- latar
- sudut pandang

16 UTS
17 Menentukan tema cerpen yang dibaca
Menentukan isi cerpen dan karakter tokoh-tokohnya

18 Mengubah cerpen ke dalam bentuk drama sesuai dengan kerangka yang dibuat

19 Menentukaan tema hikayat yang dibaca
Menentukan amanat hikayat yang dibaca
Menentukan latar cerpen

20 Menentukan isi hikayat

21 Mengubah hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memunculkan konflik tertentu dan penyelesaiannya

22 Menentukan laporan kesastraan dalam teks drama berbentuk puisi atau berbentuk prosa

23 Membahas hubungan antarkomponen drama

24 Menilai komponen kesastraan dalam teks drama berbentuk puisi atau berbentuk prosa

25 Menganalisis ragam karya sastra Indonesia dari setiap periode (puisi, prosa, drama)

26 Memaparkan para pengarang penting (puisi, prosa, drama) pada setiap periode dengan alasan

27 Menemukan ciri-cri setiap periode (puisi, prosa, drama)

28 Mengelompokkan ragam karya sastra Indonesia setiap periode (puisi, prosa, drama) berdasarkan periodisasi sastra

29 Menjelaskan perkembangan ragam karya sastra (puisi, prosa, drama) yang dominan dipengaruhi oleh
30 aliran kesusastraan dalam periode tertentu

31 Menyimpulkan perkembangan sastra Indonesia

32 UAS

B. TUGAS TERSTRUKTUR

No Materi Pembelajaran / Indikator keterangan
1 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 3 orang dalam satu kelompok tentang peran yang sesuai dengan tokoh dalam dalam teks

2 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 5 orang dalam satu kelompok tentang Memerankan drama/ penggalan drama sesuai dengan karakter tokoh

3 Memberi tanggapan atas pemeranan teman (kesesuaian karakter tokoh)

4 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi maksimal 5 orang dalam satu kelompok tentang Membahas kesesuaian pemeranan pelaku-pelaku

5 Berdiskusi dengan membentuk kelompok diskusi 5 orang dalam satu kelompok tentang Memberi tanggapan atas pemeranan drama yang ditonton
karakter tokoh

6 Membuat ulasan pementasan drama

7 Mendiskusikan ulasan pementasan drama

8 Menulis sinopsis (isi) cerita secara kronologis

9 Menceritakan kembali sastra lama (hikayat) sesuai dengan urutan kronologis tanpa mengubah isi cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat

10 Mengungkapkan nilai-nilai dalam hikayat yang dapat diteladani

11 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam cerpen

12 Menghubungkan nilai budaya dalam cerpen dengan nilai budaya sekarang

13 Mengidentifikasi nilai yang terdapat dalam hikayat
Menghubungkan nilai budaya dalam hikayat dengan nilai budaya sekarang

14 Membandingkan nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat dengan cerpen

15 Mengekspresikan gagasan dalam bentuk cerpen berdasarkan realitas sosial dengan mengembangkan:
- penokohan
- alur
- tema
- latar
- sudut pandang
16 UTS
17 Menentukan tema cerpen yang dibaca
Menentukan isi cerpen dan karakter tokoh-tokohnya
18 Mengubah cerpen ke dalam bentuk drama sesuai dengan kerangka yang dibuat
19 Menentukaan tema hikayat yang dibaca
Menentukan amanat hikayat yang dibaca
Menentukan latar cerpen

20 Menentukan isi hikayat

21 Mengubah hikayat ke dalam bentuk cerpen dengan memunculkan konflik tertentu dan penyelesaiannya

22 Menentukan laporan kesastraan dalam teks drama berbentuk puisi atau berbentuk prosa

23 Membahas hubungan antarkomponen drama

24 Menilai komponen kesastraan dalam teks drama berbentuk puisi atau berbentuk prosa

25 Menganalisis ragam karya sastra Indonesia dari setiap periode (puisi, prosa, drama)

26 Memaparkan para pengarang penting (puisi, prosa, drama) pada setiap periode dengan alasan

27 Menemukan ciri-cri setiap periode (puisi, prosa, drama)

28 Mengelompokkan ragam karya sastra Indonesia setiap periode (puisi, prosa, drama) berdasarkan periodisasi sastra

29 Menjelaskan perkembangan ragam karya sastra (puisi, prosa, drama) yang dominan dipengaruhi oleh
30 aliran kesusastraan dalam periode tertentu

31 Menyimpulkan perkembangan sastra Indonesia

32 UAS

C. TUGAS TIDAK TERSTRUKTUR

1. Mementaskan naskah drama karya kelompok dan menggumpulkan dalam format VCD
2. Membuat sinopsis hikayat Bayan Budiman dan hikayat Malin Deman dengan kalimat sendiri dan dikumpulkan dalam bentuk print out dan copy di CD
3. Membuat kliping resensi novel karya sastra terjemahan dari web dan koran atau majalah.
PENILAIAN
Penilaian diberikan dengan ketentuan :

1 Kehadiran %
2 Afektif %
3 Tugas %
4 Psikomotor / Praktek %
5 UTS %
6 UAS %
Jumlah 100%

Wednesday, July 9, 2008

Holiday With Family



My Family Holiday

Liburan bersama keluarga? Wah pastinya menyenangkan, begitulah yang kami alami pada liburan sekolah kali ini. Kamis – Jumat, tanggal 4 – 5 Juli 2008, kami berkesempatan berlibur bersama keluarga. Tujuan liburan kali ini adalah kawasan wisata daerah Bandung Selatan. Terlebih dahulu aku cari tahu tentang kawasan wisata di daerah Bandung selatan, lewat internet dan hasil perbincangan dengan teman-teman. Melihat liputan tulisan di internet kayaknya seru juga liburan ke daerah Bandung selatan.
Hari itu Kamis, 4 Juli 2008 baru pukul 06.00 Wib, tapi aku sudah sibuk menyiapkan segala keperluan untuk liburan keluarga kali ini. Semua perlengkapan pakaian sudah tersusun rapi di tas besar. Tidak ketinggalan makanan ringan dan minuman yang siap singgah di perut kami selama perjalanan. Tepat pukul 08.00 Wib, kami melaju menuju Bandung Selatan dengan pasukan berjumlah 7 orang dipimpin oleh suami tercinta Surya Ginting, aku, Natasha, Raynaldi kedua buah hati kami, Reza ponakanku (putra kakakku Ida), Selly ponakanku ( putri pertama adikku Ita), dan dayang kami Onah.
Hey Bandung Selatan We Comming……!
Wah perjalanan yang mengasyikan karena kami akhirnya bisa berlibur juga. Suami tercinta yang akhirnya bisa meluangkan waktu untuk berlibur, anakku Natasha yang mondok bisa berkumpul untuk berlibur. Melewati tol Cipularang menuju Bandung. Sampai di pintu tol Kopo kemacetan sudah menghadang. Aduh kok Bandung ikut-ikutan macet sih? Jadilah mobil kami berjalan tersendat-sendat dengan kejenuhan akibat cuaca panas yang menyengat padahal kami sudah sampai Bandung, tapi kok udara panas yah? Anakku Raynaldi yang sering mendengar bahwa Bandung itu sejuk bertanya padaku mengapa udara panas?. Aku katakan karena hutan-hutan di daerah puncak dan sekitarnya habis di tebang untuk dijadikan perumahan dan villa-villa pribadi. Waktu tempuh dari tol Kopo ke daerah Ciwidey kira-kira hampir 2 jam. Lumayan lama yah untuk menuju kawasan wisata yang seharusnya mulus tanpa kemacetan rasanya pemerintah kabupaten Bandung harus memikirkan alternatif lain agar kawasan wisata yang indah dan penuh pesona tersebut tidak ditinggalkan dan menjadi objek yang menarik dan penuh kekaguman, bukan kekesalan karena macet untuk berwisata.
Kiri Kanan Banyak Pohon Strawberi…..
Wah…wah… strawberi, si merah asem, manis, dan kecut…

Sepanjang perjalanan di daerah Ciwidey rumah-rumah semarak dengan kebun strawberi. Si buah asem manis yang menggoda terlihat cantik dan menggoda untuk memetik. Terlihat di depan rumah penduduk tulisan yang berbunyi “ Strawberi Petik Sendiri”. Seru juga kali yah memetik buah strawberi sendiri. Sayangnya kami tidak berkesempatan untuk memetik sendiri, karena kami lihat buah strawberi belum begitu banyak yang merah, takut rugi aja kali yah… udara sejuk yang menerpa membuat anakku Natasha menganjurkan agar tidak menyalakan AC mobil. “ Sejuk Mah, jadi kita hirup dulu udara pegunungan” katanya antusias, boleh juga idenya. Yang pasti suamiku senang bukan main, apa pasalnya? “Rokok” jadi dengan tidak menyalakan AC mobil ia bisa leluasa merokok. Ah suamiku yang makin kurus karena racun nikotin rupanya tidak bisa hilang kebiasaan yang merugikan itu !

Kawah Putih Gunung Patuha Berwarna Telur Bebek



Objek wisata pertama yang kami singgahi adalah Kawah Putih Gunung Patuha,mobil melaju menuju pintu. Biaya yang harus aku kenakan untuk 7 orang adalah Rp 85.000. katanya satu oaring dikenakan biaya Rp 10.000. mobil yang masuk dikenakan Rp 15.000. cukup mahal juga yah mudah-mudahan sebanding dengan pesona wisatanya. Jalan menuju kawasan wisata Kawah Putih ternyata lumayan jauh juga. Jalan yang terus menanjak, sehingga mobil kami praktis hanya bisa gigi 1 sampai tujuan. Wah ngos-ngosan juga yang kuda besi itu. Kiri kanan penuh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Udara sejuk bukan main, rasanya ingn dihirup sedalam-dalamnya untuk membersihkan racun polisi di tubuh akibat menghirup udara Jakarta yang tidak lagi ramah.

Kira-kira 5 kilometer mobil kami melaju ke kawasan wisata gunung patuha yang terus menanjak. Sampai kawah semua bergegas mencari WC umum. Wah akibat udara yang mulai menggigit tulang rusuk sampai tanggul jebol juga yah ..he..he..he. jalan masuk ke kawah cukup lebar juga, berbentuk tangga yang berbatu. Sampai ke kawah kami diserbu oleh bau belerang yang menyengat. Namun udara bertambah dingin, tidak lagi sejuk. Kawah Putih waktu kami datangi tidak berwarna putih tapi seperti warna telur asin hjau tidak ada putih-putihnya. Katanya bila udara cerah maka warna kawah menjadi hijau.
Tidak lama kami di sana, selain udara yang membuat tubuh menggigil kedinginan juga kawasan wisata tersebut kurang fasilitas yang memadai. Harusnya pengelola menyediakan lebih banyak pondokan-pondokan atau tempat untuk menikmati pesona kawah, sehingga pengunjung bisa bersantai menikmati Kawah Putih dengan rileks. Di tempat parkir mobil memang berjejer orang berdagang dengan menu andalan ‘Strawberi’, ada yang sudah dibungkus dengan wadah plastik. Ada juga yang siap di jus mengenai harga relatif murah dibandingkan di Jakarta. Satu wadah plastik kira-kira beratnya setengah kilogram dihargai Rp 5000. kalau di Jakarta mana bisa harga segitu.
Hot Natural Water Cimanggu



Melanjutkan liburan, mobil kami melaju menuju objek wisata tempat renang. Anakku Raynaldi sudah tidak sabar ingin berenang katanya. Jadilah kami masuk objek wisata kolam renang air panas alami ‘Cimanggu’ yang dikelola oleh Perhutani. Biaya yang kami keluarkan relative murah satu orang membayar Rp 5000 sudah bisa menikmati kesegaran air panas alami.
Kami menyewa sebuah saung yang sudah diberi alas tikar seharga Rp 10.000 sepuasnya. Terlihat kolam air panas yang masih mengepulkan asapnya seperti baru diangkat dari kompor, anakku Raynaldi dan ponakanku Selly tidak sabar ingin segera menceburkan diri. Anakku Raynaldi membuka pakaiannya hendak terjun ke kolam renang. Tapi …….. alamak Raynaldiku hanya mencelupkan kakinya saja. Katanya airnya panas sekali. Dengan rasa ingin tahu aku ikut ceburkan kakiku ke kolam. Ah… hangatnya terasa menyentak jantung, memang cukup panas. Kalau untuk merendam kaki masih tahan tapi kalau untuk merendam seluruh badan ….. aduh …. Mana tahan. Anakku Natasha, ponakanku Reza, dan dayang kami Onah dengan keinginan yang kuat untuk menghilangkan jerawat yang menempel di wajah segera menceburkan dirinya. Membasuh semua muka yang dihiasi jerawat. Natashaku tidak ketinggalan mencelupkan rambut hitamnya, tujuan Cuma satu… agar kutu-kutu yang ada di rambutnya pada mati semua,… memang bisa?
Puas menikmati air kolam renang tujuan kami selanjutnya ke peternakan rusa ’Ranca Upas’, namun keinginan yang menggebu tersebut surut ketika melihat objek wisata tersbt dari pintu masuknya sudah tidak menarik, apalagi hari sudah hampir senja dan kami juga belum mendapat penginapan yang sesuai. Dengan kecewa, mobil tidak kami belokkan ke objek wisata tersebut tapi turun menuju ciwidey untuk mencari penginapan. Sepanjang jalan memang banyak penginapan, namun dari depan terlihat kusam dan kumuh. Apalagi sinyal handphone tidak ada di handphone suami dan anakku Natasha. Dengan pertimbangan tidak ada penginapan yang layak dan sinyal yang juga tidak ada (takutnya nanti ada berita mendadak) mobil kami lajukan ke kota Bandung.
Masuk ke kota Bandung dihadang lagi oleh kemacetan dan jalan satu arah. Jadilah kami yang buta tentang kota Bandung hanya putar-putar kota Bandung sambil leher panjang melihat kalau-kalau ada hotel yang layak. Untungya aku ingat pesan temanku kalau mau cari hotel ke Jalan Pasir Kaliki aja banyak hotel. Mobil pun membelah jalan kota Bandung dengan tujuan Pasir Kaliki. Dengan modal tanya sana tanya sini sampailah kami di sebuah hotel.
Hotel Guci Pasir Kaliki




Namanya Hotel Guci, letaknya persis di depan jalan raya Pasir Kaliki. Tarip hotel yang masih terjangkau untuk ukuran kocek kami akhirnya kami ambil, dengan tambahan satu ekstra bed.
Ada yang lucu ketika kami membuka kamar hotel, ternyata ada pintu lain di sebelah kamar mandi dengan rasa ingin tahu aku buka ternyata pintu tersebut langsung menghubungkan ke kolam renang. Bisa dibayangkan dong bagaimana histerisnya jagoan kecilku melihat kolam renang di depan mata. Dengan terburu-buru Raynaldiku, Selly, Reza langsung terjun ke kolam, padahal hari sudah menjelang magrib. Tapi tidak berlangsung lama, karena air di kolam ternyata dingin menusuk.

Malam itu kami keliling kota Bandung tanpa tujuan pasti hanya ingin mencari makanan dan melihat outlet sekitar Bandung. Setelah lelah berkeliling akhirnya kami singgah di sebuah Mall yang di seberangnya terdapat outlet. Lumayan juga kami dapat boneka ulil berwarna hijau seharga Rp 59.000 untuk hiasan mobil kami, sebuah celana panjang sanati untuk Natasha seharga Rp 62.000 yang didiskon 30 % jadi berapa yah? Juga empat buah CD untuk Raynaldi dengan gambar-gambar yang lucu seharga Rp 20.500. Suamiku tidak ketinggalan dapat sebuah jaket seharga Rp 289.000. sudah lelah berburu kami balik ke hotel yah dengan acara putar-putar dan tanya sana-sini.
Sampai hotel sudah pukul 10.30.00 Wib, mata lelah kaki penat sekali tidak berlangsung lama kami terlelap di kota Bandung. Paginya acara sarapan pagi hanya diberi kupon makan untuk 3 orang, Natasha, Reza, dayang kami Onah yang menikmati fasilitas tersebut. Aku, suamiku, Raynaldi, dan Selly mencari makanan di luar. Belok ke kanan kami temukan tukang kupat tahu.lumayan juga seporsi hanya lima ribu rupiah sudah dapat mengenyangkan.
Pukul 10.00 kami cek out dari hotel untuk berkeliling lagi di kota Bandung kali ini satpam hotel memberi kami sebuah peta tapi dengan penggantian sepuluh ribu rupiah. Berbekal peta kota Bandung eh… kami tetap aja nyasar dan tidak tahu arah.
Tujuan kami Taman Hutan Raya Ir. H.Juanda. sampai sana kocek kami harus keluar Rp 23.000 untuk 6 orang dan mobil. Di dalam kawasan banyak pohon tinggi yang menjulang. Raynaldiku antusias skali ingin melihat Gua Jepang dan Gua Belanda. Sampai depan pintu gua kami sudh dihadang dengan kawanan pemandu yang langsung mengangsurkan senter untuk dipakai di dalam gua. Berkeliling gua rasanya bukan rekreasii walau dengan pemandu tapi di dalam gelap gulita jadi apa yang mau di lihat? Di pintu keluar kami harus merogoh kocek sewa senter satu senter seharga Rp 3000 plus pemandu aku harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 25.000, mahal jugakan untuk wisata yang gelap gulita! Perjalanan kami lanjutkan ke gua Belanda tapi dengan pesan pada anakku agar tidak ke dalam cukup di luar dan tidak asal menerima senter.
Lelah berkeliling Taman Hutan Raya kami lanjutkan untuk pulang. Di sebuah otutlet di jalan Asia Afrika kami makan siang dengan pilihan menu mie kocok, soto, batagor, dan bakso malang. Puas makan yang rasanya tidak nendang kami lanjutkan perjalanan untuk pulang kali ini kami akan lewat Puncak-Cianjur karena permintaan jagoan kami sebuah Samurai yang setahuku dijajakan di kawasan Cibodas. Benar saja di Cibodas Samurai bisa aku temukan dengan harga Rp 30.000. belanja oleh-oleh sedikit untuk tetangga kami pun pulang. Puncak memang indah namun kalau macet jengkel juga.


Kali ini sholat magrib kami jalani di masji At Taawun di Puncak Pas. Jalan turun ke Jakarta kami habiskan 4 jam, karena macet dari Pasar Cisarua hingga pintu tol……. BAYANGKAN! Kasihan suamiku harus rela kakinya pegang menginjak kopling dan rem.
Sampai Jakarta pukul 12.30 kami sampai rumah dengan kepenatan yang luar biasa, namun puas karena dapat berlibur bersama keluarga.

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...