Wednesday, September 7, 2016

LITERASI DAN EKOSISTEM SEKOLAH

MENUMBUHKAN BUDI PEKERTI DAN  MENDUKUNG PENINGKATAN LITERASI ANAK
DENGAN MEMAKSIMALKAN EKOSISTEM DALAM KELUARGA

Ditulis oleh
Dra. Hj. Seni Asiati, M.Pd

  1. Sediakan prasana dan sarana yang dapat dijangkau anak
  2. Libatkan semua anggota keluarga untuk membaca


Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup.
Sebagai ekosistem dalam keluarga, orangtua merupakan individu yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara anak dengan lingkungan. Ekosistem dapat dianggap sebagai suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara semua elemen lingkungan yang mempengaruhi satu sama lain. Sayangnya ekosistem keluarga kita belum terbangun karena penumbuhan budi pekerti belum menyentuh pembentukan kultur keluarga sebagai komunitas moral.
Orangtua sebagai bagian dari ekosistem keluarga masih belum menumbuhkan semangat literasi bagi anak sebagai pribadi yang sedang tumbuh. Contoh nyata dari tidak adanya ekosistem keluarga yang menjadikan  sebagai komunitas moral / budi pekerti adalah adanya inkonsistensi kebijakan. Perbedaan perlakuan dari ayah dan ibu yang berbeda memungkinkan pembentukan budi pekerti yang salah.
Literasi di rumah masih belum sepenuhnya menjadi pokok utama yang harus ditumbuhkan. Sementara ekosistem di keluarga mencangkup semua anggota yang berada dalam lingkungan rumah bahkan asiten rumah tangga dapat dilibatkan dalam gerakan literasi dalam keluarga. Ajari asisten rumah tangga untuk membacakan cerita bukan menonton TV bersama-sama saja.
Semakin majunya teknologi membuat anak malas untuk berinteraksi secara langsung dalam keluarga. Satu contoh ketika keluarga inti berkumpul santai di rumah, sangat jarang ditemukan ibu atau ayah yang mengajak anak untuk sama-sama membaca bahan bacaan yang ada misalnya berita yang terdapat di koran atau ibu sekadar mencuri waktu anak untuk membacakan cerita yang ada di majalah anak atau remaja. Bahan bacaan yang salah pada anak, pemicunya juga karena kurangnya interaksi dan peran orangtua untuk memilih dan terlibat dalam bahan bacaan anak. Tidak jarang anak membeli dan membaca sendiri bahan bacaan tanpa melibatkan orantua.
Tumbuhkan minat baca  pada anak dapat dengan berbagai cara. Cara termudah adalah  membaca dengan nyaring isi berita yang ada di koran sehingga anak menyimak apa  informasi yang dibacakan, sehingga tidak sibuk dengan ponsel atau game online yang semakin merantai pikiran anak. Ajak anak untuk mendiskusikan isi informasi ditinjau dari budi pekerti, baik atau buruk berita yang timbul.
 Kegiatan literasi selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003).
Budaya literasi merupakan suatu proses sekaligus hasil dari pergulatan (dialektika) antara apa yang dikehendaki (karsa), suasana batin (rasa), dan apa yang dilakukan (karya) manusia dalam rangka meningkatkan kualitas hidup. Ada pertautan antara tingkat penguasaan literasi dengan kualitas hidup masyarakat. Semakin maju masyarakat atau bangsa ditunjukkan dengan tingkat budaya baca-tulis yang tinggi pula. Budaya baca-tulis (sebagaimana firman Allah dalam al Quran surah al Alaq: Iqro) terbukti memberikan pencerahan untuk hidup yang lebih baik dan berkualitas.
Lingkungan keluarga yang akrab dengan literasi mendorong anak untuk tumbuh kembang dengan segala karsa, rasa dan ciptanya. Bacaan yang mendidik dan melalui pembiasaan dapat menumbuhkembangkan budi pekerti. Kebiasaan ibu atau bapak yang mendongengkan sebuah cerita ketika anak akan tidur menjadi kebiasaan yang baik untuk tumbuh kembang budi pekerti. Kesantunan dalam berbicara dan keteladanan yang didengar anak ketika seorang ibu membacakan dongeng menjadi makanan yang bergizi untuk otak.
Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd. dalam tulisannya dengan judul “Minat Baca dan Kualitas Bangsa” di Harian Kompas Selasa, 23 Maret 2004, menyatakan: “ Secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability). Rendahnya minat baca masyarakat menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah ini menjadikan kemampuan membaca rendah. Itulah yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini.”
Suherman dalam bukunya (2010:71) menuliskan “untuk menuju perubahan budaya (budaya membaca), langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mengubah paradigma jika kita ingin menggali lebih banyak manfaat dari membaca. Kita harus mulai menempatkan minset ke jalan yang benar bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan jika ingin bertahan hidup dalam persaingan global yang semakin ketat.”
Literasi dalam keluarga bila dimaksimalkan akan menjadikan bangsa ini khususnya anak Indonesia menjadikan baca-tulis sebagai budaya hidup  bukan gaya hidup. Budi pekerti anak akan lebih baik bila mereka lebih banyak mengonsumsi bacaan pilihan serta keteladanan orang-orang di sekitarnya. Keluarga, teman sebaya, sekolah dengan semua jajarannya, serta masyarakat luas sangat mempengaruhi budi pekerti anak. Masalah besar yang kita hadapi sekarang adalah minimnya sosok yang bisa diteladani oleh siswa. Ada kontradiksi antara dunia idealisme yang diterima di sekolah dengan realita dalam media elektronik dan media sosial. Siswa gamang dalam mengenali dirinya sendiri di tengah kegelisahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Apa yang mereka dengar, apa yang mereka baca menjadi suatu referensi untuk literasi siswa.
Budaya membaca memang menjadi mahal jika melihat kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat. Di tengah kebutuhan hidup yang semakin tinggi, masyarakat belum berpikir untuk menjadikan buku sebagai menu utama dalam daftar belanjanya. Hal ini dimaklumi karena rendahnya kualitas hidup masyarakat. Pengetahuan masyarakat rendah karena budaya membaca masyarakat rendah.
Sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan smasyarakat sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Cara dan strategi yang dibangun  akan mempengaruhi hasil literasi anak yang akan diperoleh secara maksimal jika memang dilaksanakan dengan melibatkan ekosistem keluarga. Semoga apa yang dilakukan dengan pelibatan ekosistem keluarga dapat menumbuhkan budi pekerti dan mendukung peningkatan literasi pada anak khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Budi pekerti yang baik tak akan memunculkan berbagai tindak kriminalitas di masyarakat. Sesuatu yang baik harus dimulai dari yang terdekat. Tidak ada salahnya membiasakan membaca disetiap kesempatan dan disetiap waktu.
Pada akhirnya budaya literasi dapat mengasah kepekaan (sensitivitas), ketajaman, dan kecendikiaaan akal dan hati yang dalam wujud kesehariannya disebut budi pekerti atau akhlak. Oleh karena itu, kita berupaya menumbuhkembangkan budaya baca-tulis agar anak Indonesia (dan kita semua) lebih tercerahkan akal dan hati kita sehingga mampu membangun keluhuran budi pekerti atau akhlakul karimah.




No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah memberikan komentar dan masukan

Back Home Pasien Covid

Good bye Wisma Atlet Hari ke-14 di Wisma Atlet "Menunggu Surat" Senin, 4 Januari 2021 Ini hari ke-14 di Wisma Atlet. Katanya kami ...